Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

24 hasil
Subjek: Makna
DaftarKartu
ResearchOpen AccessPDF tersedia

Fenomena Kosakata Multimakna (Homonim) Dalam Bahasa Media Massa Berbahasa Arab

2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian

<ul> <li> <strong>Tujuan Penelitian</strong></li> </ul> <p> Penelitian ini bertujuan mendekripsikan fenomena kata multimakna. Adapun jabaran dari tujuan tersebut adalah sebagai berikut:</p> <ol> <li value="NaN"> Mendeskripsikan bahasa media.</li> <li value="NaN"> Mendeskripsikan fenomena kata multimakna dalam bahasa media.</li> <li value="NaN"> Mendeskripsikan langkah-langkah yang dilakukan oleh ahli bahasa Arab dan kaedah-kaedah yang dipakai dalam memaknai sebuah kata.</li> <li value="NaN"> Mendeskripsikan penerapan bahasa media dalam kancah ilmu pengetahuan modern khususnya dalam PBA.</li> <li value="NaN"> Mendeskripsikan dampak yang terjadi dalam penerapan produk bahasa media dalam pembelajaran bahasa Arab.</li> <li value="NaN"> Mendeskripsikan sumber-sumber apa saja yang dapat dipakai dalam pembelajaran bahasa Arab melalui bahasa media.</li> </ol> <p> &nbsp;</p>

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Makna Sosial Quick Response Code Indonesian Standard (Qris) dalam Tindakan Bersedekah Masyarakat Di Masjid Raya Paraman Talang Nagari Tandikek Utara Kecamatan Patamuan Kabupaten Padang Pariaman

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Makna Sosial QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) dalam Tindakan Bersedekah Masyarakat di Masjid Raya Paraman Talang Nagari Tandikek Utara.” Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perkembangan teknologi digital yang telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam praktik bersedekah. Penggunaan QRIS sebagai media sedekah tidak hanya menjadi sarana untuk menyalurkan uang secara digital, tetapi juga memiliki makna sosial yang muncul dalam hubungan antara pemberi sedekah, pengurus masjid, dan kehidupan sosial keagamaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis makna sosial QRIS dalam tindakan bersedekah masyarakat di Masjid Raya Paraman Talang Nagari Tandikek Utara berdasarkan Teori Sosiologi Uang Prof. Damsar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap pengurus masjid dan jamaah yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QRIS dalam tindakan bersedekah memiliki makna sosial yang berkaitan dengan kepedulian, solidaritas, kepercayaan, kemudahan, partisipasi sosial, dan nilai keagamaan. Bagi sebagian masyarakat, QRIS dimaknai sebagai media yang praktis dan memudahkan seseorang untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial keagamaan melalui sedekah. QRIS juga dimaknai sebagai bentuk kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan dana sedekah dan sebagai simbol adanya perubahan dalam cara masyarakat melakukan tindakan sosial di tengah perkembangan teknologi digital. Namun, sebagian masyarakat lainnya masih memaknai sedekah tunai sebagai bentuk pemberian yang lebih dekat dengan kebiasaan, interaksi sosial, dan pengalaman keagamaan mereka. Berdasarkan Teori Sosiologi Uang Prof. Damsar, penggunaan QRIS dalam tindakan bersedekah menunjukkan bahwa uang tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi, tetapi juga memiliki makna sosial dan simbolik dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, makna sosial QRIS dalam tindakan bersedekah tidak terletak pada teknologi QRIS itu sendiri, tetapi pada makna yang diberikan masyarakat terhadap penggunaannya sebagai media untuk mewujudkan kepedulian, solidaritas, kepercayaan, ibadah, dan partisipasi dalam kehidupan sosial keagamaan. Penggunaan QRIS menjadi bagian dari transformasi praktik sedekah yang mempertemukan perkembangan teknologi digital dengan nilai-nilai sosial dan keagamaan masyarakat. Kata Kunci: Makna Sosial, QRIS, Tindakan Bersedekah, Masyarakat, Sosiologi uang

10 dilihat · 7 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

"Makna Penderitaan dalam Pemikiran Logoterapi Victor E. Frankl"

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Makna Penderitaan Dalam Pemikiran Logoterapi Victor E. Frankl” disusun oleh Maryules Hendra dengan NIM 4522011 program studi Aqidah Dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin Adab Dan Dakwah, UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi Pada Tahun 2026. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena Krisis makna hidup yang semakin mengemuka dalam masyarakat kontemporer. Yang mana Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak selalu diiringi dengan kedalaman makna terhadap hidup itu sendiri. Manusia kontemporer cenderung mengukur kebermaknaan hidup melalui kebahagiaan, kesenangan, dan keberhasilan material. Ketika standar tersebut tidak tercapai, penderitaan kerap dipandang sebagai bukti kegagalan hidup. Pandangan ini memperlihatkan kecenderungan nihilistik yang memandang hidup sebagai sesuatu yang pada dasarnya tidak memiliki makna intrinsik yang dapat memberikan efek samping terhadap individu berupa perasaan frustasi eksistensial, neurosis noogenik, bahkan depresi. Untuk itu Victor E. Frankl dengan analisis eksistensial dan pemikiran Logoterapi nya memberikan solusi untuk menemukan kembali makna hidup bahkan makna dibalik penderitaan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Menganalisis bagaimana makna hidup menurut Victor E. Frankl? 2. Mengidentifikasi bagaimana makna penderitaan menurut Victor E. Frankl? 3. Menjelaskan bagaimana implementasi praktik logoterapi Victor E. Frankl Dalam Menemukan Makna Penderitaan? Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan kepustakaan (Library Research). Di dalam metodologi penelitian filsafat, penelitian ini tergolong ke dalam model penelitian historis faktual mengenai tokoh. Sumber primer dalam penelitian ini adalah karya-karya Victor E. Frankl yang berhubungan dengan penelitian. Sedangkan sumber sekundernya adalah karya-karya pemikir lain yang berkaitan dengan pembahasan mengenai makna hidup dan makna penderitaan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Hakikat makna hidup menurut Victor E. Frankl adalah kesadaran manusia untuk menemukan dan merealisasikan nilai yang unik dalam setiap situasi kehidupannya lalu Makna penderitaan menurut Frankl bukan terletak pada penderitaan itu sendiri, melainkan pada respons eksistensial manusia dalam menghadapi penderitaan tersebut. Dalam praktiknya logoterapi menerapkan teknik seperti Socratic Dialogue, Dereflection, Paradoxical Intention, dan Logoanalysis hal ini merupakan sarana untuk mengaktualisasikan prinsip filosofis logoterapi bahwa manusia selalu memiliki kebebasan eksistensial untuk menentukan respons terhadap keadaan yang tidak dapat diubah.

6 dilihat · 8 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Pemaknaan Tato pada Masyarakat Nagari Panti Selatan Kecamatan Panti Kabupaten Pasaman

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini ditulis oleh Jela Faria Sri Harta, NIM 4622060, Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD), Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi dengan judul “Pemaknaan Tato pada Masyarakat Nagari Panti Selatan Kecamatan Panti Kabupaten Pasaman.” Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan pemaknaan tato di Nagari Panti Selatan, Kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman. Perbedaan pandangan tersebut dipengaruhi oleh nilai-nilai keagamaan yang berkmbang dalam masyarakat sehingga tato sering dikaitkan dengan perilaku yang menyimpang dari norma yang berlaku. Di sisi lain, terdapat individu yang tetap memilih menggunakan tato meskipun menyadari adanya penilaian negatif dari lingkungan sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa pemaknaan terhadap tato merupakan realitas sosial yang dibentuk melalui proses interaksi dan pengalaman masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Penelitian dilakukan di Nagari Panti Selatan, Kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi nonpartisipan, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas tokoh agama, tokoh masyarakat, masyarakat umum, pemuda, serta pengguna tato. Analisis penelitian ini menggunakan teori konstruksi sosial Peter L. Berger yang meliputi tahapan eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Nagari Panti Selatan memaknai tato sebagai perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam, bertentangan dengan nilai kearifan lokal, dipandang sebagai penyakit masyarakat yang dapat menimbulkan stigma sosial dan dianggap tidak memberikan manfaat dalam kehidupan. Berdasarkan analisis teori konstruksi sosial Peter L. Berger, pemaknaan tersebut terbentuk melalui proses eksternalisasi ketika masyarakat mengekspresikan keyakinan bahwa tato merupakan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam, objektivasi ketika masyarakat membangun pemahaman bersama bahwa tato bertentangan dengan nilai agama dan norma yang berlaku, serta internalisasi ketika pengguna tato menerima realitas sosial tersebut.

6 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Makna Ontologis Ritual Bakar Tongkang dalam Kepercayaan Masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi Riau

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Makna Ontologis Ritual Bakar Tongkang Dalam Kepercayaan Masyarakat Tionghoa Di Bagansiapiapi Riau” disusun oleh Taufik, NIM 4522002, Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, tahun 2026. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna ontologis yang terkandung dalam Ritual Bakar Tongkang dalam sistem kepercayaan masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi, Riau. Ritual Bakar Tongkang tidak hanya dipahami sebagai tradisi budaya yang dilaksanakan secara turun-temurun, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi spiritual yang memiliki makna mendalam mengenai hubungan manusia dengan dewa, leluhur, alam, serta keberlangsungan kehidupan. Penelitian ini berfokus pada pemahaman mengenai hakikat keberadaan tongkang, peran Dewa Kie Ong Ya dan Dewa Tai Sun Ong Ya, simbol pembakaran tongkang, serta makna simbolik dari arah jatuhnya tiang kapal dalam perspektif ontologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan (field research). Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara dengan tokoh masyarakat dan penjaga Kelenteng Ing Hok Kiong, serta dokumentasi terkait pelaksanaan Ritual Bakar Tongkang. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif-analitis, yaitu dengan menguraikan dan menafsirkan simbol, praktik ritual, serta pemahaman masyarakat terhadap makna yang terkandung dalam ritual tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ritual Bakar Tongkang memiliki makna ontologis yang berkaitan dengan hubungan antara realitas material dan spiritual masyarakat Tionghoa Bagansiapiapi. Tongkang tidak hanya dipahami sebagai benda fisik, tetapi sebagai simbol perjalanan leluhur, perjuangan hidup, dan media penghubung dengan dewa serta leluhur. Dewa Kie Ong Ya dan Dewa Tai Sun Ong Ya diyakini sebagai kekuatan spiritual yang memberikan perlindungan, petunjuk, dan kesejahteraan. Selain itu, pembakaran tongkang dimaknai sebagai simbol perubahan menuju kehidupan baru, sedangkan arah jatuhnya tiang kapal dipahami sebagai petunjuk keberlangsungan rezeki masyarakat. Dengan demikian, Ritual Bakar Tongkang bukan hanya tradisi budaya, tetapi juga sistem simbolik yang mencerminkan pandangan ontologis masyarakat Tionghoa Bagansiapiapi tentang kehidupan, spiritualitas, dan identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

3 dilihat · 3 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Makna Simbolik Ritual Bedah Ayam sebagai Praktek Pengobatan Spiritual Keagamaan di Nagari Salimpaung Kabupaten Tanah Datar

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Makna Simbolik Ritual Bedah Ayam Sebagai Praktek Pengobatan Spiritual Keagamaan Di Nagari Salimpaung Kabupaten Tanah Datar” yang ditulis oleh Zalfa Afriani NIM 4622047. Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, tahun 2026. Masyarakat Indonesia memiliki beragam sistem pengobatan tradisional yang berkembang sebagai bagian dari kearifan lokal mereka dan telah diwariskan dari generasi ke generasi. Penelitian ini di latarbelakangi oleh fenomena sosial di mana ritual bedah ayam tetap berlangsung sebagai praktek penyembuhan spiritual dalam konteks keagamaan di Nagari Salimpaung. Ritual ini tidak hanya mencerminkan sistem penyembuhan tradisional, tapi juga merepresentasikan konstruksi makna simbolis dan sistem pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun di Nagari Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Rumusan masalah yang dibahas yakni: 1) Bagaimana proses pelaksanaan praktek ritual bedah ayam di Nagari Salimpaung? dan 2) Bagaimana makna simbolik ritual bedah ayam sebagai praktek pengobatan spiritual keagamaan di Nagari Salimpaung? Dalam penulisan peneliti menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan etnografi dimana peneliti berusaha menggambarkan dan mendeskripsikan bagaimana proses pelaksanaan praktek ritual bedah ayam di Nagari Salimpaung? serta bagaimana makna simbolik ritual bedah ayam sebagai praktek pengobatan spiritual keagamaan di Nagari Salimpaung? Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Observasi yang peneliti gunakan adalah observasi partisipan dan wawancara tidak terstruktur. Informan kunci dalam penelitian ini adalah dukun, asisten dukun dan informan pendukung adalah pasien, Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori interaksionisme simbolik Herbert Blumer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) pelaksanaan ritual bedah ayam dilakukan melalui beberapa tahap, termasuk konsultasi dukun dengan pasien, persiapan media ritual berupa seekor ayam jantan, penyembelihan yang disertai pembacaan doa dan ayat-ayat Al-Qur’an, pembedahan dan penafsiran anatomi ayam, serta penyampaian kesimpulan dan rekomendasi pengobatan kepada pasien. 2) Makna simbolis yang ditemukan dalam ritual pembedahan ayam meliputi hati ayam sebagai simbol kondisi spiritual dan penyakit kronis, darah sebagai simbol kehidupan dan keseimbangan energi, jantung sebagai simbol vitalitas dan kekuatan hidup, empedu sebagai simbol keadaan emosional, usus sebagai simbol kesehatan pencernaan dan hubungan sosial, paru-paru sebagai simbol kesehatan pernapasan, serta kepala sebagai simbol kondisi mental dan kesehatan jiwa.

4 dilihat · 3 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Makna Filosofis Arsitektur Masjid Godang Koto Nan Ampek sebagai Representasi Integrasi Adat dan Syarak di Minangkabau (Analisis Hermeneutika Paul Ricoeur)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Makna filosofis Arsitektur Masjid Godang Koto Nan Ampek sebagai Representasi Integrasi Adat dan Syarak Di Minangkabau (Analisis Hermeneutika Paul Ricoeur)” yang disusun oleh Fadhila Indriani,NIM 4522001, Program Studi Akidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk arsitektur Masjid Godang Koto Nan Ampek serta memahami makna filosofis yang terkandung di dalamnya melalui pendekatan hermeneutika Paul Ricoeur. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teori hermeneutika Paul Ricoeur untuk memahami makna simbolik yang terdapat pada unsur-unsur arsitektur masjid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk arsitektur masjid memiliki keterkaitan yang erat dengan budaya Minangkabau dan nilai-nilai Islam. Bentuk atap gonjong, penggunaan material kayu, serta tata ruang bangunan mencerminkan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Selain itu, setiap unsur arsitektur pada masjid memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan nilai spiritual, kebersamaan, dan identitas budaya masyarakat Minangkabau. Keberadaan masjid tradisional ini juga menjadi bukti bahwa integrasi adat dan syarak masih terjaga dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa Masjid Godang Koto Nan Ampek tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai representasi nilai budaya, sejarah, dan filosofi masyarakat Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun.

3 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Makna Teologi Tradisi Malapeh Kawua Padi Pada Masyarakat Suku Koto di Jorong Garagah Nagari Simpang Kabupaten Pasaman

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul "Makna Teologi Tradisi Malapeh Kawua Padi Pada Masyarakat Suku Koto di Jorong Garagah Nagari Simpang Kabupaten Pasaman". Disusun oleh Erna Permata Sari, NIM 4522010, Penelitian ini dilakukan pada Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi tahun 2026. Adapun latar belakang penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami praktik keagamaan yang hidup dalam tradisi lokal, khususnya tradisi malapeh kawua padi pada masyarakat suku koto di jorong garagah. Ditengah arus globalisasi, banyak tradisi lokal mengalami pengikisan makna, padahal menyimpan nilai-nilai spiritual yang dalam. Tradisi malapeh kawua padi merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat yang sudah diperoleh dan hasil panen yang sudah didapatkan serta permohonan agar diberikan perlindungan antara Ninik Mamak, sumando dan Kemenakan Masyarakat Suku Koto. Penelitian ini mengangkat dua rumusan masalah, yaitu: (1) bagaimana pelaksanaan tradisi malapeh kawua padi: (2) apa makna teologi yang terkandung dalam tradisi malapeh kawua padi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi dan teori teologi kontekstual. Pendekatan etnografi digunakan untuk memahami langsung kehidupan masyarakat dan makna teologi dalam praktik tradisi malapeh kawua padi, sementara teori teologi kontekstual digunakan untuk bagaimana masyarakat memahami iman di dalam tradisi malapeh kawua padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tradisi malapeh kawua padi bukan sekadar aktivitas adat atau budaya, melainkan mengandung makna teologi yang mendalam sebagai bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat Suku Koto kepada Allah SWT atas hasil panen yang diperoleh. (2) Unsur-unsur dalam tradisi malapeh kawua padi, seperti doa, nazar, penyembelihan hewan, serta kegiatan makan bersama, diterapkan sebagai praktik keagamaan dan sosial yang mencerminkan nilai tauhid, rasa syukur, dan ketergantungan manusia kepada Tuhan. Melalui pendekatan teologi kontekstual, makna teologi dalam tradisi malapeh kawua padi menunjukkan bahwa nilai-nilai keimanan hidup dan terintegrasi dalam kehidupan sosial dan budaya lokal masyarakat Minangkabau.

4 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

MAKNA TEOLOGI PENYEMBELIHAN KERBAU PADA TRADISI BAKAUA DI NAGARI KUNCIR KABUPATEN SOLOK

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Makna Teologi Penyembelihan Kerbau Pada Tradisi Bakaua Di Nagari Kuncir Kabupaten Solok” disusun oleh Jelly Novita Sari, NIM 4521028 Program Studi Aqidah Dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin Adab Dan Dakwah Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi 2025. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami praktik keagamaan yang hidup dalam tradisi lokal, khususnya tradisi Bakaua di Nagari Kuncir. Ditengah arus modernisasi dan globalisasi, banyak tradisi lokal mengalami pengikisan makna, padahal menyimpan nilai-nilai spiritual yang dalam. Tradisi Bakaua merupakan wujud syukur masyarakat Minangkabau atas nikmat kehidupan serta permohonan perlindungan dari bala, yang diekspresikan melalui penyembelihan Kerbau sebagai simbol pengorbanan dan keberkahan. Penelitian ini mengangkat dua rumusan masalah, yaitu; bagaimana pelaksanaan penyembelihan penyembelihan Kerbau dalam tradisi Bakaua dan apa makna teologi yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi dan teori semiotika teologi. Pendekatan etnografi digunakan untuk memahami langsung kehidupan masyarakat dan makna simbolik dalam praktik penyembelihan, sementara teori semiotika teologi digunakan untuk membaca simbol-simbol keagamaan yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyembelihan Kerbau dalam tradisi Bakaua bukan sekedar aktivitas budaya, melainkan ekspresi teologis masyarakat terhadap Tuhan. Proses ini dipimpin oleh tokoh agama (Labai) dan melibatkan seluruh unsur masyarakat sebagai bentuk solidaritas sosial dan penguatan spiritual. Simbol-simbol seperti Kerbau, darah, doa, dan pembagian daging memiliki makna teologi sebagai bentuk komunikasi dengan tuhan dan penguatan iman. Melalui pendekatan semiotika teologi, ditemukan bahwa tradisi ini merupakan manifestasi dari kesadaran religius masyarakat yang terintegrasi dalam struktur sosial dan budaya Minangkabau.

8 dilihat · 4 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Makna Filosofis Tradisi Bagatik Tulak Bala Pada Masyarakat Nagari Koto Tinggi Kuranji Hilir Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Makna Filosofis Tradisi Bagatik Tulak Bala Pada Masyarakat Nagari Koto Tinggi Kuranji Hilir Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman” disusun oleh Yoli Aprila, NIM 4521008, Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi 2025. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna filosofis tradisi bagatik tulak bala pada masyarakat Rumusan masalah dalam skripsi ini adalah: bagaimana latar belakang pelaksanaan bagatik tulak bala di Koto Tinggi? Bagaimana tata cara serta makna prosesi bagatik tulak bala pada masyarakat di Nagari Koto Tinggi Kuranji Hilir, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman? Bagaimana dampak tradisi tulak bala terhadap keyakinan masyarakat? Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research) dan menggunakan pendekatan filosofis dalam melakukan analisis terhadap prosesi tradisi bagatik tulak bala pada masyarakat. Latar belakang bagatik tulak bala menunjukkan bahwa tradisi bagatik tulak bala ini dilaksanakan satu kali dalam setahun. Bagatik tulak bala di pimpin oleh ulama yang paham tentang tulak bala tersebut. Tulak bala muncul sebagai usaha untuk menghindari bahaya yang mungkin terjadi dengan dilakukannya kegiatan zikir bersama-sama. Tulak bala merupakan wirid amalan orang-orang syattariyah. Pelaksanaan zikir dilakukan oleh kelompok penganut tarekat syattariyah dilakukan dua posisi yaitu posisi duduk dan berdiri. Tata cara prosesi tulak bala dilakukan dengan tiga tahap yaitu: pertama tahap persiapan, yaitu menyiapkan bahan atau alat yang diperlukan saat tulak bala dilakukan, seperti: obor, alat musik gandang tasa dan mempersiapkan daun-daunan seperti: daun sidingin sitawa, cikumpai cikarau, daun jiluang, dan jeruk nipis. Kedua tahap pelaksanaan, yaitu dimulai di Masjid, lalu masyarakat di arak keliling kampung sambil melafazkan “Laa ilaha illallah” dan memukul gandang tasa, membawa obor. Jika ada permintaan dari warga, maka rombongan akan berhenti dan berzikir di rumah tersebut dan di iringi dengan adzan. Ketiga tahap penutup, yaitu setelah di arak keliling kampung sampai ke laut, acara ditutup dengan membaca do’a tulak bala, diakhiri dengan pembacaan pawatih yaitu untuk mengenang jasa guru tersebut, dan ditutup dengan makan bersama di pantai. Simbol-simbol yang digunakan dalam tradisi tulak bala memiliki makna mendalam yang melambangkan perlindungan, keseimbangan spiritual, penyucian, dan kebersamaan. Setiap simbol tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai religius, harapan, dan kekuatan sosial yang membantu masyarakat menjaga keharmonisan dan melindungi diri dari bahaya. Tulak bala dapat membawa dampak positif terutama dalam asspek religiusitas, mempererat silaturahmi, serta menjaga kearifan lokal masyarakat. Tradisi ini juga menciptakan suasana damai dan memperkuat solidaritas serta keimanan masyarakat. Jadi secara keseluruhan, tulak bala adalah wujud upaya spiritual dan sosial yang terus dilestarikan sebagai warisan budaya serta sarana menjaga keselamatan dan keharmonisan masyarakat Nagari Koto Tinggi.

2 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

MATI MEMPERTAHANKAN HARTA PERSPEKTIF HADIS: STUDI MA'ANIL HADIS

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini membahas fenomena "Mati Mempertahankan Harta" dari perspektif hadis. Penelitian ini berfokus pada meningkatnya kasus kematian akibat konflik harta di masyarakat modern, yang menunjukkan perlunya pemahaman etika dan moral Islam terhadap pengelolaan harta. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pemaknaan hadis terkait kematian saat mempertahankan harta dan relevansinya dengan konteks sosial saat ini. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka (library research). Data diperoleh dalam kitab sumber hadis, buku-buku fiqih, dan artikel ilmiah yang relevan. Analisis dilakukan dengan memanfaatkan metode ma’anil hadis untuk memahami makna dan konteks hadis, serta mengaitkannya dengan problematika sosial yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis yang membahas mati mempertahankan harta menekankan pentingnya membela hak milik seseorang secara beretika dan sesuai. Dalam situasi darurat, tindakan membela diri dan harta yang terancam diperbolehkan, bahkan dianggap sebagai syahid jika terjadi kematian. Selain itu, relevansi hadis ini dalam konteks modern terlihat pada kasus-kasus pembunuhan yang terjadi saat mempertahankan harta, yang sering kali melibatkan pertimbangan hukum dan etika. Penulis berharap Penelitian ini dapat memberikan wawasan tentang pentingnya pengelolaan harta dalam Islam dan konsekuensinya bagi kehidupan sosial masyarakat. Kata Kunci : Mati Mempertahankan Harta, Hadis, Pemaknaan

3 dilihat · 5 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Pemaknaan Masjid Bagi Kaum Muda di Masjid Al-Falah Jambu Air Bukitinggi Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Skripsi ini ditulis oleh Muhammad Rafli Nim 4621062 Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi dengan judul “Pemaknaan Masjid Bagi Kaum Muda Di Masjid Al-Falah Jambu Air Bukitinggi Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam”. Penelitian ini di latar belakangi makna masjid bagi kaum muda yang di gunakan tidak hanya sebagai tempat ibadah. Masjid bagi kaum muda berperan penting tidak hanya sebagai dari segi ibadah keagamaan saja, tetapi juga berperan penting terhadap sistem pendidikan maupun sistem sosial dan budaya. Serta dalam hal itu perlunya tindakan dari pengurus masjid untuk kembali memberikan pemahaman terhadap kaum muda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang menekankan pada berbagai aspek kedalaman informasi yang di peroleh melalui wawancara dan didukung oleh metode observasi lapangan dan dokumentasi. Lokasi penelitian ini di Masjid Al-Falah Jambu Air Bukitinggi Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam. Dalam pengumpulan data penelitian ini yang menjadi informan kunci adalah 5 orang kaum muda, dan informan pendukung 3 orang pengurus masjid dan 2 orang masyarakat setempat Jambu Air. Teori yang digunakan adalah teori Interaksionisme Simbolis. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan pemuda Masjid Al-Falah Jambu Air sering meramaikan masjid namun bukan untuk beribadah melainkan untuk melaksanakan kegiatan di luar kegiatan ibadah seperti bermain Tambua dan kegiatan hari besar islam. Hal ini membuktikan pemaknaan masjid bagi pemuda bukan pemaknanaan masjid sebagai tempat ibadah namun sebagai tempat ajang kegiatan kebudayaan, interaksi sosial, maupun sosialisasi.

3 dilihat · 3 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Makna filosofi dari Tari Tor-tor pada Pernikahan Masyarakat Suku Mandailing (Studi di Jorong Sigantang Nagari Batahan Kecamatan Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Makna Filosofi Dari Tari Tor-Tor Pada Adat Pernikahan Masyarakat Suku Mandailing (Studi Di Jorong Sigantang Nagari Batahan Kec Ranah Batahan Kab Pasaman Barat)” yang disusun oleh Mahlica Sarge Nim. 4520023 Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, UIN Syeck M. Djamil Djambek Bukittinggi, Tahun 2023/2024. Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya suatu adat dan kebudayaan yang berbeda-beda dari daerah lain yaitu perkawinan yang diiringi tari tradisional tor-tor. dimana dalam tarian ini memiliki ciri khas dan keunikan. Namun tidak semua rangkaian pelaksanaan tarian ini masyarakat apalagi generasi penerus Sigantang tidak mengetahui makna, simbol dan pesan yang terkandung dalam tari tor-tor tersebut, sehingga adat dari kesenian inilah yang memicu peneliti untuk mengulik makna filosofi yang merujuk pada ontology, epistemology, dan aksiology. Fokus penelitian dari skripsi ini adalah: 1). Bagaimana pelaksanaan dari tari tor-tor pada pernikahan masyarakat suku Mandailing di Jorong Sigantang?, 2). Bagaimana makna filosofi dari tari tor-tor pada pernikahan di Jorong Sigantang? Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan (field research), dengan pendekatan kualitatif menggunakan metode analisis-deskriptif. Adapun sumber primer dari penelitian ini adalah melaksanakan proses wawancara serta observasi langung mengenai penelitian, meliputi dokumentasi, video. Serta sumber sekundernya adalah buku, jurnal, skripsi, dll yang berkaitan dengan penelitian. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa di dalam pelaksanaan tari tor-tor disebut sebagai acara adat atau horja godang yang mempunyai gerakan diiringi dengan musik(margondang). Pelaksanaan horja godang ini sehari sebelum dimulai disiapkanlah gondang dua atau panaek gondang yang bertujuan membuka galanggang panortoran di halaman na bolak yang dibuka dengan pembukaan pencak silat, setelah itu mata ni horja dilaksanakan pukul 09.00 WIB terlebih dahulu menyembelih seekor kerbau maknanya sebagai bukti keluarga mangalehen golar (memberi gelar) pada kedua mempelai yang akan menjadi suami istri.

3 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Umroh Pada petani Lembah Gumanti

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar belakang dari penelitian ini ialah, Faktor - faktor yang mempengaruhi minat umroh pada petani di Kecamatan Lembah Gumanti adalah sebagai umat Islam tentu menginginkan untuk melaksanakan ibadah umroh ketanah suci. Banyak umat Islam yang menunaikan umroh setiap tahunnya, sehingga waktu untuk menunaikan ibadah umroh pun tidak ditentukan. Bahkan sudah banyak orang untuk menunaikan ibadah umroh secara berkali - kali, karena untuk melaksanakan umroh tidak perlu menunggu waktu lama untuk berangkat seperti Jemaah haji sehingga banyak masyarakat yang mengingikan berangkat berkunjung ke baitullah melalui ibadah umroh. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, kuesioner, wawancara, angket dan dokumentasi serta mengunakn SPSS26. Tahapan yang dilakukan dengan mengidentifikasi faktor – faktor internal dan eksternal melalui wawacara, angket dan kuesioner. Setelah itu dianalisis dengan menggunakan analisis tabel, bobot skor dan Spss26. Informan dalam penelitian ini adalah minat umroh masyarakat petani di Kecamatan Lembah Gumanti. Dari hasil penelitian yang dilakukan pada petani Kecamatan Lembah Gumanti. Dapat dikemunkakan faktor – faktor yang mempengaruhi minat umroh petani yaitu: 1) Pemahaman makna umroh berpengaruh terhadap minat umroh petani Kecamatan Lembah Gumanti Kebupaten Solok dibuktikan nilai uji Hipotesi H1 sig 0,48 0,05 yang berarti dimana H1 diterima sedangkan H0 ditolak maka dapat dikemukakan bahwa pemahaman makna umroh berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat masyarakat petani Lembah Gumanti. 2) Pemahaman toleransi sosial berpengaruh terhadap minat umroh petani Kecamatan Lembah Gumanti Kebupaten Solok di buktikan nilai uji Hipotesi H2 sig 0,000 0,05 dimana H2 diterima sedangkan H0 ditolak maka dapat dikemukakan pemahaman toleransi sosial berpengaruh positif dan signitif terhadap tingkat minat umroh petani Lembah Gumanti dan 3) Pemahaman makna umroh dan pemahaman toleransi sosial berpengaruh terhap minat umroh petani Kecamatan Lembah Gumanti Kebupaten Solok dibuktikan nilai uji Hipotesis H2 sig 0,000 0,05 dimana H2 diterima sedangkan H0 ditolak maka dapat dikemukakan bahwa pemahaman makna umroh dan pemahaman toleransi sosial berpengaruh positif dan signitif terhadap tingkat minat umroh petani Lembah Gumanti.

9 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Simbolisasi pelaksanaan ratik tolak bala pada masyarakat aie angek kecamatan x koto kabupaten tanah datar

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi atas nama Fanny Yunanda Nim: 461840, skripsi ini berjudul . Program Studi Ushuluddin Adab dan Dakwah UIN Sjech M. Djamil Djambek 2018 Penelitian ini di latar belakangi tentang simbol-simbol pelaksanaan ratik tolak bala pada masyarakat Aie Angek. Ratik tolak bala ini sudah dilakukan turun menurun bagi masyarakat aie angek tujuannya agar nagari terhindar dari musibah, bencana dan malapetaka. Untuk itu masyarakat melaksanakan ratik tolak bala untuk menghindarinya, namun dibalik pelasanaannya banyak sekali symbol yang terkandung didalamnya. Seperti; membawa obor, berkeliling, ceramah, berdoa, makan bersama. Ratik tolak bala dilakukan pada bulan Muharam dan dilakukan sekali dalam setahun. Masyarakat sampai saat ini masih mempertahankan ratik tolak bala. karna sangat membantu nagari aie angek terhindar dari segala bencana. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu menggambarkan apa adanya tentang suatu keadaan. Dengan kata Simbolisasi pelaksanaan ratik tolak bala pada masyarakat Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar. Adapun informan dalam penelitian ini yaitu pengurus-pengurus Tokoh Agama, Alim Ulama dan Masyarakat. Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi yang berkaitan dengan gambaran umum di Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar. Dari data yag terkumpul peneliti mengolahnya dengan menggunakan teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa. Rangkaian ratik tolak bala sebagai kebangaan bagi Tuanku, Alim Ulama, Tokoh Masyarakat. Rangkaian pelaksanaan ratik tolak bala sebelumnya mereka musyawarah bersama-sama setelah itu menentukan kapan di lakukan ratik talak bala, menyiapkan perlengkapan, malam harinya mereka berkelilig membaca doa ratik tolak bala, makan bersama sebagai ucapan terimakasih.

7 dilihat · 4 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Makna sosial Bungo lado dalam memperingati maulid nabi di surau Duku kecamatan VII Koto sungai sariak Kabupaten padang pariaman

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi atas nama kowirun, nim 4616012, prodi Sosiologi Agama, dengan judul "Makna sosial Bungo lado dalam memperingati maulid nabi di surau Duku kecamatan VII Koto sungai Sariak Kabupaten padang Pariaman". Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya tradisi Bungo lado dalam maulid nabi di surau Duku. Bungo lado adalah ranting pohon yang didekorasi dengan berbagai macam bentuk dan menjadikan mata uang sebagai daun rantingnya. Para pemuda yang tergabung dalam karang taruna berupaya dalam mengumpulkan uang. Setelah terkumpul, kemudian bekerja sama dengan tokoh masyarakat mencari dana yang akan dijadikan hiasan pohon Bungo lado. Tujuannya dibuat pohon Bungo lado untuk meningkatkan dan mempererat hubungan sesama manusia (Hablum minannas) dan hubungan dengan Allah SWT (Hablumminallah). Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Yaitu teknik pengumpulan data yang diperoleh dengan wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang dilakukan dengan tiga tahap. Pertama yaitu reduksi data, kedua penyajian data, dan ketiga dengan menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Bungo lado memiliki makna, pertama uang bermakna untuk memakmurkan korong surau Duku dalam arti membuat pohon Bungo lado. Kedua, simbol ranting bermakna menyempurnakan korong surau duku untuk bekerja sama dalam membuat pohon Bungo lado. Ketiga, simbol batang bermakna untuk menegakkan kekompakan dan semangat persatuan dari warga korong surau Duku dalam memperingati maulid nabi dengan membuat Bungo lado, hasil dari sumbangan yang diberikan oleh donatur, anak rantau, serta para tamu undangan.

4 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Pesan Dakwah dalam Film Rentang Kisah (Pendekatan Analisis Semiotika Roland Barthes)

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Skripsi atas nama REZA RAMADHANI HARAHAP, NIM 4318047, yang berjudul “PESAN DAKWAH DALAM FILM RENTANG KISAH (PENDEKATAN ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES)”. Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, 2021. Film Rentang Kisah menceritakan tentang perjalanan seorang mahasiswi asal Indonesia bernama Gita Savitri Devi yang sedang menempuh pendidikan di negara minoritas muslim, yaitu Jerman. Selain menceritakan tentang perjalanan Gita menempuh pendididkan di negara minoritas muslim, film ini juga menceritakan tentang bagaimana Gita bertahan hidup di luar negeri dengan keterbatasan ekonomi dan dihadapkan dengan masalah yang bertubi-tubi. Pesan-pesan ataupun simbol-simbol yang digambarkan dalam film ini, baik secara tersurat ataupun tersirat menyampaikan makna tersendiri. Simbol-simbol yang terdapat dalam film ini dianalisis menggunakan teori Roland Barthes yaitu makna denotasi, makna konotasi, dan makna mitos. Pesan dakwah sendiri ialah pesan yang terdapat dalam film Rentang Kisah, yang terdiri dari pesan Aqidah, pesan Syariah dan pesan Akhlak. Jenis penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dimana jenis penelitian ini berusaha mengumpulkan fakta, data, atau informasi dan mengeksplorasi tentang fakta, data dan informasi dengan teknik-teknik tertentu secara ilmiah. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis teks media dengan model analisis semiotik Roland Barthes. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai pesan dakwah dalam film Rentang Kisah, terdapat 6 simbol pesan dakwah yang tergambar dalam film tersebut. Yaitu pesan Dakwah Aqidah seperti mengajak kajian untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan mendapat hidayah untuk memeluk agama Islam. Pesan Dakwah Syariah seperti taat terhadap perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan mengenakan hijab sebagai seorang muslimah. Pesan Dakwah Akhlak seperti saling tolong menolong dan gemar untuk bersedekah. Dimana keenam simbol pesan dakwah di atas dianalisis berdasarkan pendekatan analisis semiotika Roland Barthes, yaitu dengan mengkaji tanda ataupun simbol dengan 3 makna, yaitu makna denotasi, makna konotasi, dan mitos.

9 dilihat · 4 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Makna Surau Bagi Milenial Muslim Di Kanagarian Bukik Batabuah Kecamatan Canduang Kabupaten Agam

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi atas nama Shevika Putriani NIM 4617.033 berjudul “Makna Surau Bagi Milenial Muslim Di Kanagarian Bukik Batabuah Kecamatan Candung Kabupaten Agam”. Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD),Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. 2021. Penelitian ini mengkaji tentang Makna Surau Bagi Milenial Muslim Di Kanagarian Bukik Batabuah Kecamatan Canduang Kabupaten Agam. Dalam penelitian ini peneliti membahas tentang bagaimana fungsi surau bagi remaja muslim di zaman 4.0 dan bagaimana remaja muslim memaknai simbol-simbol yang terdapat di surau. Generasi Milenial Muslim merupakan generasi muda muslim yang terikat bagaimana cara memandang dunia dengan keimanan dan modernitas bisa berjalan beriringan. Informasi dan data mengenai makna surau bagi milenial muslim akan mempertahankan kumpulan data yang dilakukan peneliti dengan mewawancarai remaja remaja milenial yang berada Di Kanagarian Bukik Batabuah yang di akan diawali dengan bapak wali Nagari Bukik Batabuah. Observasi yang akan digunakan oleh peneliti bisa dilihat saat melakukan observasi dilapangan. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif deskriptif yaitu mendeskripsikan suatu, gejala peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang. Informan dalam penelitian ini adalah remaja milenial muslim, pengurus Surau Nurul Hidayah serta tokoh masyarakat Bukik Batabuah. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berupa observasi. Wawancara. Dokumentasi. Kata Kunci: Makna Surau, Milenial Muslim

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail