Makna Ontologis Ritual Bakar Tongkang dalam Kepercayaan Masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi Riau
Skripsi ini berjudul “Makna Ontologis Ritual Bakar Tongkang Dalam Kepercayaan Masyarakat Tionghoa Di Bagansiapiapi Riau” disusun oleh Taufik, NIM 4522002, Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, tahun 2026. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna ontologis yang terkandung dalam Ritual Bakar Tongkang dalam sistem kepercayaan masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi, Riau. Ritual Bakar Tongkang tidak hanya dipahami sebagai tradisi budaya yang dilaksanakan secara turun-temurun, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi spiritual yang memiliki makna mendalam mengenai hubungan manusia dengan dewa, leluhur, alam, serta keberlangsungan kehidupan. Penelitian ini berfokus pada pemahaman mengenai hakikat keberadaan tongkang, peran Dewa Kie Ong Ya dan Dewa Tai Sun Ong Ya, simbol pembakaran tongkang, serta makna simbolik dari arah jatuhnya tiang kapal dalam perspektif ontologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan (field research). Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara dengan tokoh masyarakat dan penjaga Kelenteng Ing Hok Kiong, serta dokumentasi terkait pelaksanaan Ritual Bakar Tongkang. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif-analitis, yaitu dengan menguraikan dan menafsirkan simbol, praktik ritual, serta pemahaman masyarakat terhadap makna yang terkandung dalam ritual tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ritual Bakar Tongkang memiliki makna ontologis yang berkaitan dengan hubungan antara realitas material dan spiritual masyarakat Tionghoa Bagansiapiapi. Tongkang tidak hanya dipahami sebagai benda fisik, tetapi sebagai simbol perjalanan leluhur, perjuangan hidup, dan media penghubung dengan dewa serta leluhur. Dewa Kie Ong Ya dan Dewa Tai Sun Ong Ya diyakini sebagai kekuatan spiritual yang memberikan perlindungan, petunjuk, dan kesejahteraan. Selain itu, pembakaran tongkang dimaknai sebagai simbol perubahan menuju kehidupan baru, sedangkan arah jatuhnya tiang kapal dipahami sebagai petunjuk keberlangsungan rezeki masyarakat. Dengan demikian, Ritual Bakar Tongkang bukan hanya tradisi budaya, tetapi juga sistem simbolik yang mencerminkan pandangan ontologis masyarakat Tionghoa Bagansiapiapi tentang kehidupan, spiritualitas, dan identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.