ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul “Makna Filosofis Tradisi Bagatik Tulak Bala Pada Masyarakat Nagari Koto Tinggi Kuranji Hilir Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman” disusun oleh Yoli Aprila, NIM 4521008, Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi 2025. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna filosofis tradisi bagatik tulak bala pada masyarakat Rumusan masalah dalam skripsi ini adalah: bagaimana latar belakang pelaksanaan bagatik tulak bala di Koto Tinggi? Bagaimana tata cara serta makna prosesi bagatik tulak bala pada masyarakat di Nagari Koto Tinggi Kuranji Hilir, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman? Bagaimana dampak tradisi tulak bala terhadap keyakinan masyarakat? Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research) dan menggunakan pendekatan filosofis dalam melakukan analisis terhadap prosesi tradisi bagatik tulak bala pada masyarakat. Latar belakang bagatik tulak bala menunjukkan bahwa tradisi bagatik tulak bala ini dilaksanakan satu kali dalam setahun. Bagatik tulak bala di pimpin oleh ulama yang paham tentang tulak bala tersebut. Tulak bala muncul sebagai usaha untuk menghindari bahaya yang mungkin terjadi dengan dilakukannya kegiatan zikir bersama-sama. Tulak bala merupakan wirid amalan orang-orang syattariyah. Pelaksanaan zikir dilakukan oleh kelompok penganut tarekat syattariyah dilakukan dua posisi yaitu posisi duduk dan berdiri. Tata cara prosesi tulak bala dilakukan dengan tiga tahap yaitu: pertama tahap persiapan, yaitu menyiapkan bahan atau alat yang diperlukan saat tulak bala dilakukan, seperti: obor, alat musik gandang tasa dan mempersiapkan daun-daunan seperti: daun sidingin sitawa, cikumpai cikarau, daun jiluang, dan jeruk nipis. Kedua tahap pelaksanaan, yaitu dimulai di Masjid, lalu masyarakat di arak keliling kampung sambil melafazkan “Laa ilaha illallah” dan memukul gandang tasa, membawa obor. Jika ada permintaan dari warga, maka rombongan akan berhenti dan berzikir di rumah tersebut dan di iringi dengan adzan. Ketiga tahap penutup, yaitu setelah di arak keliling kampung sampai ke laut, acara ditutup dengan membaca do’a tulak bala, diakhiri dengan pembacaan pawatih yaitu untuk mengenang jasa guru tersebut, dan ditutup dengan makan bersama di pantai. Simbol-simbol yang digunakan dalam tradisi tulak bala memiliki makna mendalam yang melambangkan perlindungan, keseimbangan spiritual, penyucian, dan kebersamaan. Setiap simbol tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai religius, harapan, dan kekuatan sosial yang membantu masyarakat menjaga keharmonisan dan melindungi diri dari bahaya. Tulak bala dapat membawa dampak positif terutama dalam asspek religiusitas, mempererat silaturahmi, serta menjaga kearifan lokal masyarakat. Tradisi ini juga menciptakan suasana damai dan memperkuat solidaritas serta keimanan masyarakat. Jadi secara keseluruhan, tulak bala adalah wujud upaya spiritual dan sosial yang terus dilestarikan sebagai warisan budaya serta sarana menjaga keselamatan dan keharmonisan masyarakat Nagari Koto Tinggi.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nanang Kasim, "Ritual Tulak Bala (Tradition of Warding Off Calamities in the Sinapa Piliang Community, Lubuk Sikarah District, Solok City)." This research aims to study the religious values embedded in the ritual tradition of Tulak Bala in the Sinapa Piliang community of Lubuk Sikarah District, Solok City. The Tulak Bala ritual is a traditional ceremony performed by the Sinapa Piliang community as an expression of gratitude for a bountiful rice harvest and as an effort to seek protection from God. The research questions in this thesis are: 1. How is the process of conducting the Tulak Bala ritual tradition in the Sinapa Piliang community? 2. What are the religious values contained in the Tulak Bala ritual tradition in the Sinapa Piliang community? This research uses a qualitative approach, with data obtained through observation, in-depth interviews, and documentation. The study concludes by describing the form of implementation of the ritual and the religious values embedded within it. The Tulak Bala ritual is conducted by the Sinapa Piliang community, taking place in Sinapa Piliang, specifically in Lubuk Sikarah. The ritual involves collective prayer around the rice fields, led by community elders. After praying, participants walk along the shoreline, sprinkling leaves of *setawar* and *sedingin* while reciting *tahlil* (remembrance of Allah), with the aim of seeking abundant blessings and a bountiful rice harvest. After the prayer, the ritual continues with a communal meal. The religious values contained in the Tulak Bala ritual are: first, the value of worship, which is reflected in the ritual process involving the recitation of prayers; second, the value of gratitude, expressed through a communal feast as a sign of thankfulness for a successful rice harvest; third, the value of sincerity, evident in the contributions of the fishermen and the local government, whether through food donations, labor, or time, all given selflessly without expecting a reward. This contribution is a form of sincerity for communal unity. Lastly, the value of kinship, as the ritual serves as an opportunity for social interaction among community members, traditional leaders, religious figures, and the local government.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul “Atik Tulak Bala Sawah Dalam Perspektif Generasi Z Di Korong Ladang Laweh Nagari Sicincin Kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat” yang disusun oleh Karmita, dengan NIM. 4618.014, Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Atik tulak bala sawah merupakan atik yang dilakukan di sawah dengan mengelilingi sawah disertai dengan bacaan dzikir dengan kalimat laa ilaaha illallah. Atik tulak bala sawah ini bertujuan untuk mengusir segala bala (musibah). Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui bentuk pelaksanaan atik tulak bala sawah dan perspektif generasi Z terhadap atik tulak bala sawah di Korong Ladang Laweh. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data observasi partisipan, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data dan penerikan kesimpulan. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pelaksanaan atik tulak bala sawah diawali dengan berkumpul di tempat yang telah disepakati (surau), berjalan sekeliling sawah, kembali ke lokasi awal (surau) dan ditutup dengan makan bersama. Adapun perspektif generasi Z terhadap atik tulak bala sawah, pertama berpandangan positif yaitu generasi Z menganggap bahwa Atik tulak bala sawah merupakan suatu tradisi yang termasuk ampuh untuk pemberantas hama padi atau bala yang menyerang tanaman padi. Kedua berpandangan negatif yaitu generasi Z berpandangan bahwa atik tulak bala sawah merupakan suatu tradisi yang kuno, serta menurut generasi Z untuk memberantas hama padi sekarang ini sudah ada obat-obat modern.