ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Rohadatul Aisy, NIM. 2122286, Program Studi S1 PAI, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi Tahun Akademik 2022/2026. Skripsi ini berjudul “Konsep Pemikiran Ibnu Khaldun Tentang Metode Pembelajaran Dan Relevansinya Dengan Metode Pembelajaran Dalam Pendekatan Deep Learning”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya kemampuan peserta didik dalam memahami dan menganalisis materi pembelajaran secara mendalam, sebagaimana tergambar dari hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2025 dan studi Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022, sehingga diperlukan metode pembelajaran yang mampu mendorong pemahaman konseptual secara mendalam. Salah satu pemikir pendidikan Islam klasik yang secara serius mengulas persoalan metode pembelajaran adalah Ibnu Khaldun melalui karyanya Muqaddimah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep pemikiran Ibnu Khaldun tentang metode pembelajaran serta mengkaji relevansinya dengan metode pembelajaran dalam pendekatan deep learning. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber data primer yang digunakan adalah kitab Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, sedangkan sumber data sekunder berupa buku, jurnal, dan artikel ilmiah yang relevan. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi dan dianalisis dengan teknik content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pemikiran Ibnu Khaldun tentang metode pembelajaran mencakup tiga aspek, yaitu prinsip metode pembelajaran, bentuk metode pembelajaran berupa tadarruj (pentahapan), taqriri (pengulangan), dan malakah (penguasaan kompetensi), serta cara memilih metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi fisik dan psikis peserta didik. Hasil analisis relevansi menunjukkan bahwa pemikiran Ibnu Khaldun memiliki keterkaitan yang kuat dengan pendekatan deep learning, khususnya pada prinsip student-centered learning, mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemikiran Ibnu Khaldun tentang metode pembelajaran tidak hanya bernilai historis dalam tradisi pendidikan Islam, tetapi juga relevan sebagai landasan konseptual bagi pengembangan pembelajaran mendalam pada pendidikan modern. Kata Kunci: Ibnu Khaldun, Metode Pembelajaran, Deep Learning. ABSTRACT Rohadatul Aisy, Student ID Number 2122286, Undergraduate Study Program of Islamic Religious Education, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Sjech M. Djamil Djambek State Islamic University of Bukittinggi, Academic Year 2022/2026. This thesis is entitled “Ibn Khaldun’s Concept of Learning Methods and Its Relevance to Learning Methods within the Deep Learning Approach”. This research is motivated by learners’ persistently limited ability to comprehend and analyze learning material in depth, as reflected in the results of the 2025 Academic Competency Test (TKA) and the 2022 Programme for International Student Assessment (PISA), indicating the need for a learning method capable of fostering deep conceptual understanding. One classical Islamic education thinker who seriously examined the issue of learning methods is Ibn Khaldun, as elaborated in his work Muqaddimah. This study aims to describe Ibn Khaldun’s concept of learning methods and to examine its relevance to the learning methods within the deep learning approach. This research employs a qualitative approach with a descriptive method and a library research design. The primary data source is Ibn Khaldun’s Muqaddimah, while the secondary data sources consist of relevant books, journals, and scholarly articles. Data were collected through documentary study and analyzed using content analysis techniques. The findings show that Ibn Khaldun’s concept of learning methods comprises three aspects: the principles of learning methods, the forms of learning methods, namely tadarruj (gradation), taqriri (repetition), and malakah (mastery of competence), and the manner of selecting learning methods adjusted to learners’ physical and psychological conditions. The relevance analysis indicates that Ibn Khaldun’s thought is strongly connected to the deep learning approach, particularly to the principles of student-centered learning, mindful learning, meaningful learning, and joyful learning. It can therefore be concluded that Ibn Khaldun’s thought on learning methods holds not only historical value within the Islamic educational tradition but also serves as a relevant conceptual foundation for the development of deep learning in modern education. Keywords: Ibn Khaldun, Learning Methods, Deep Learning. خلاصة روضة العيش، برقم القيد الجامعي ٢١٢٢٢٨٦، من برنامج البكالوريوس في التربية الإسلامية، بكلية التربية وتأهيل المعلمين، جامعة الشيخ محمد جميل جمبيك الإسلامية الحكومية ببوكيت تنجي، للعام الجامعي ٢٠٢٢/٢٠٢٦م. وعنوان هذا البحث: ”مفهوم فكر ابن خلدون في طرق التعليم وعلاقته بطرق التعليم في مدخل التعلم العميق“. تنطلق هذه الدراسة من محدودية قدرة المتعلمين على فهم المادة التعليمية وتحليلها بعمق، كما يتضح من نتائج اختبار الكفاءة الأكاديمية لعام 2025 ونتائج البرنامج الدولي لتقييم الطلبة لعام 2022، الأمر الذي يستدعي طريقة تعليمية قادرة على تعزيز الفهم المفاهيمي العميق. ويُعد ابن خلدون أحد مفكري التربية الإسلامية الكلاسيكيين الذين تناولوا قضية طرق التعليم بجدية في كتابه "المقدمة". تهدف هذه الدراسة إلى وصف مفهوم ابن خلدون في طرق التعليم، وبيان مدى ارتباطه بطرق التعليم في مدخل التعلم العميق (Deep Learning). تعتمد هذه الدراسة على المنهج الكيفي بأسلوب وصفي، ونوعها دراسة مكتبية. ومصدر البيانات الأساسي هو كتاب "المقدمة" لابن خلدون، بينما تتكون مصادر البيانات الثانوية من الكتب والمجلات والمقالات العلمية ذات الصلة. جُمعت البيانات من خلال دراسة وثائقية، وحُللت باستخدام أسلوب تحليل المحتوى. وتشير نتائج الدراسة إلى أن مفهوم ابن خلدون في طرق التعليم يشتمل على ثلاثة جوانب، هي مبادئ طريقة التعليم، وأشكال طريقة التعليم المتمثلة في التدرج والتكرار والملكة، وكيفية اختيار طريقة التعليم بما يتناسب مع الحالة الجسدية والنفسية للمتعلم. كما تُظهر نتائج تحليل الارتباط أن فكر ابن خلدون يرتبط ارتباطًا وثيقًا بمدخل التعلم العميق، لا سيما بمبادئ التعلم المتمركز حول المتعلم، والتعلم الواعي، والتعلم ذي المعنى، والتعلم الممتع. وبناءً على ذلك، يمكن الاستنتاج أن فكر ابن خلدون في طرق التعليم لا تقتصر قيمته على الجانب التاريخي في التراث التربوي الإسلامي، بل يُعد أيضًا أساسًا مفاهيميًا مناسبًا لتطوير التعلم العميق في التربية الحديثة. الكلمات المفتاحية: ابن خلدون، طرق التعليم، التعلم العميق.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kemampuan literasi digital siswa pada mata pelajaran Informatika di era digital. Meskipun pendekatan pembelajaran Deep Learning telah diterapkan di sekolah, kemampuan literasi digital siswa perlu dikaji lebih lanjut untuk mengetahui kontribusi pendekatan tersebut terhadap peningkatan literasi digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi pendekatan pembelajaran deep learning terhadap kemampuan literasi digital siswa pada mata pelajaran informatika kelas X PPM Diniyyah Pasia. Rumusan Masalah dalam penelitian ini adalah agaimana tingkat pencapaian pelaksanaan pendekatan pembelajaran deep learning di kelas X PPM Diniyyah Pasia. Lalu, bagaimana tingkat pencapaian kemampuan literasi digital siswa kelas X PPM Diniyyah Pasia dan apakah terdapat hubungan positif yang signifikan antara pendekatan pembelajaran deep learning dengan kemampuan literasi digital siswa kelas X pada pokok bahasan kemampuan penggunaan komputer mata pelajaran informatika PPM Diniyyah Pasia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat kontribusi yang signifikan penggunaan pendekatan pembelajaran Deep Learning terhadap Terhadap Literasi Digital Siswa Pada Mata Pelajaran Informatika di Kelas X PPM Diniyyah Pasia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Data penelitian variabel pendekatan pembelajaran Deep Learning diperoleh melalui angket, sedangkan data kemampuan literasi digital diperoleh melalui dokumentasi nilai praktik siswa. Analisis data meliputi analisis deskriptif, uji normalitas, uji linearitas, uji One-Sample t-Test, dan uji korelasi Product Moment Pearson dengan bantuan IBM SPSS Statistics 27. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa: (1) pelaksanaan pendekatan pembelajaran Deep Learning memperoleh nilai rata-rata sebesar 85,18 dan berdasarkan uji One-Sample t-Test berada secara signifikan di atas nilai acuan 80 (Sig. = 0,000 0,05) sehingga H0 ditolak dan Ha diterima; (2) kemampuan literasi digital siswa memperoleh nilai rata-rata sebesar 89,92 dan juga berada secara signifikan di atas nilai acuan 80 (Sig. = 0,000 0,05) H0 ditolak dan Ha diterima; serta (3) terdapat hubungan positif yang signifikan antara pendekatan pembelajaran Deep Learning dengan kemampuan literasi digital siswa yang ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi Pearson sebesar 0,808 dengan nilai signifikansi 0,000 0,05 H0 ditolak dan Ha diterima.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bintan Aryahiyah Hasibuan, NIM 2522071 “Pengaruh Penggunaan Aplikasi Wordwall Dalam Model Pembelajaran Deep Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Informatika Kelas VIII di SMP N 1 Payakumbuh” Jurusan Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer (PTIK) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi 2026. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran Informatika di SMP Negeri 1 Payakumbuh. Selain itu, proses pembelajaran masih didominasi oleh penggunaan metode konvensional dengan bantuan aplikasi presentasi sehingga siswa kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah penggunaan aplikasi Wordwall dalam model pembelajaran Deep Learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan aplikasi Wordwall dalam model pembelajaran Deep Learning terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Informatika kelas VIII SMP Negeri 1 Payakumbuh. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dengan desain Nonequivalent Control Group Design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Payakumbuh. Sampel penelitian terdiri dari kelas VIII.2 sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII.4 sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data menggunakan tes hasil belajar berupa pretest dan posttest yang telah diuji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa pada kelas eksperimen yang menggunakan aplikasi Wordwall dalam model pembelajaran Deep Learning sebesar 87,97, sedangkan rata-rata hasil belajar siswa pada kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional sebesar 83,00. Hasil uji Independent Samples t-Test menunjukkan nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0,004 yang lebih kecil dari 0,05 (0,004 0,05). Dengan demikian, hipotesis kerja (H₁) diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan aplikasi Wordwall dalam model pembelajaran Deep Learning berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Informatika kelas VIII SMP Negeri 1 Payakumbuh.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Pendekatan Deep Learning yang diterapkan melalui Model Problem Based Learning (PBL) lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VII SMP Negeri 1 Bukittinggi. Asesmen diagnostik awal menunjukkan bahwa 78,125% siswa memperoleh skor di bawah 55 berdasarkan indikator pemecahan masalah Polya, dengan kelemahan paling menonjol pada tahap menyusun rencana dan memeriksa kembali. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain quasi experiment tipe Nonequivalent Control Group Design. Satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol, masing-masing berjumlah 32 siswa, dipilih melalui cluster random sampling dari populasi 160 siswa kelas VII. Kelas VII B sebagai kelas eksperimen memperoleh pembelajaran dengan Pendekatan Deep Learning dengan Model Problem Based Learning, sedangkan kelas VII D sebagai kelas kontrol memperoleh pembelajaran konvensional. Data dikumpulkan melalui pretest dan posttest menggunakan tes uraian berbasis indikator Polya yang telah divalidasi, kemudian dianalisis menggunakan N-Gain, dilanjutkan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji-t independent tehadap data N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata N-Gain kelas eksperimen mencapai 74% dalam kategori sedang dan memenuhi kriteria cukup efektif, sedangkan kelas kontrol hanya mencapai 34% dalam kategori sangat rendah dan memenuhi kriteria tidak efektif. Uji hipotesis menunjukkan t_hitung> t_tabel, yaitu 16,90 > 1,999 dengan Sig. 0,000 0,05, yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelas. Dapat disimpulkan bahwa Pendekatan Deep Learning dengan Model Problem Based Learning lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hafifah Salsa Nabila, NIM. 2522271, “Hubungan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dengan Hasil Belajar Siswa Kelas VII pada Mata Pelajaran Informatika di SMPN 5 Bukittinggi”. Skripsi. Program Studi Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, 2026.
Hasil belajar merupakan tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran yang mencerminkan penguasaan peserta didik terhadap pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Pencapaian hasil belajar yang optimal diduga berkaitan dengan penerapan pembelajaran mendalam (deep learning), yaitu pendekatan belajar yang menekankan prinsip meaningful learning, mindful learning, dan joyful learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang signifikan antara pembelajaran mendalam (deep learning) dengan hasil belajar siswa kelas VII pada mata pelajaran Informatika di SMP Negeri 5 Bukittinggi.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode korelasional. Populasi penelitian berjumlah 185 siswa kelas VII, dengan sampel sebanyak 112 siswa yang ditentukan menggunakan rumus Slovin melalui teknik proportionate stratified random sampling. Instrumen penelitian berupa angket skala Likert untuk mengukur variabel pembelajaran mendalam (X) dan dokumentasi nilai untuk memperoleh data hasil belajar siswa (Y). Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan program IBM SPSS versi 25.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pembelajaran mendalam (deep learning) dengan hasil belajar siswa, dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (0,000 < 0,05), sehingga H₀ ditolak dan Hₐ diterima. Namun, nilai koefisien korelasi Pearson sebesar -0,508 menunjukkan bahwa hubungan kedua variabel berarah negatif dengan tingkat keeratan sedang, artinya semakin tinggi skor pembelajaran mendalam siswa pada angket, cenderung semakin rendah nilai hasil belajarnya, begitu juga sebaliknya. Arah negatif ini tidak berarti pembelajaran mendalam menyebabkan turunnya hasil belajar, karena penelitian ini hanya melihat hubungan (korelasi), bukan sebab-akibat. Nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,258 menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam (deep learning) menyumbang sekitar 25,8% terhadap variasi hasil belajar siswa, sedangkan 74,2% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini, seperti motivasi belajar, minat belajar, kemampuan awal, dan lingkungan belajar.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRACT Riza Syahfitri, 2322114. An Analysis of Students’ Motivation, Students’ Engagement, and Students’ Critical Thinking in Reading Activity through Deep Learning Approach at SMPN 2 Bukittinggi. English Education Study Program, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, State Islamic University of Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, 2026. This study investigated the implementation of the Deep Learning approach in English reading activities to foster students’ motivation and engagement and to identify the aspect of critical thinking that was most developed. The study was conducted because students had limited opportunities to participate actively in meaningful reading activities, resulting in low motivation, limited engagement, and insufficient development of higher-order thinking skills. Therefore, this study aimed to examine how Deep Learning was implemented in reading activities and how it contributed to the development of students’ critical thinking. This study employed a mixed-methods approach using a convergent parallel design. The participants were two English teachers and ninth-grade students at SMP Negeri 2 Bukittinggi. Qualitative data were collected through classroom observations, semi-structured interviews, and documentation, while quantitative data were obtained through a reading test based on Krathwohl’s Revised Bloom’s Taxonomy (C4–C6). Qualitative data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, whereas quantitative data were analyzed using descriptive statistics with SPSS version 25. The findings revealed that the implementation of Deep Learning successfully promoted students’ motivation and engagement through meaningful reading activities, collaborative discussions, questioning, and active participation during classroom learning. Students showed greater interest, confidence, and involvement in constructing understanding from reading texts. Furthermore, the quantitative findings indicated that evaluating (C5) was the most developed aspect of critical thinking (M = 4.65), followed by creating (C6) (M = 3.53) and analyzing (C4) (M = 3.05). Overall, the Deep Learning approach created meaningful reading experiences that enhanced students’ motivation and engagement while supporting the development of critical thinking skills. ABSTRAK Riza Syahfitri, 2322114. Analisis Motivasi, Keterlibatan, dan Berpikir Kritis Siswa dalam Aktivitas Membaca melalui Pendekatan Deep Learning di SMPN 2 Bukittinggi. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, 2026. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendekatan Deep Learning dalam aktivitas membaca bahasa Inggris untuk menumbuhkan motivasi dan keterlibatan siswa serta mengidentifikasi aspek berpikir kritis yang paling berkembang. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya kesempatan siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan membaca yang bermakna sehingga motivasi, keterlibatan, dan kemampuan berpikir kritis siswa belum berkembang secara optimal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana Deep Learning diimplementasikan dalam aktivitas membaca dan bagaimana implementasinya berkontribusi terhadap perkembangan berpikir kritis siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain convergent parallel. Partisipan penelitian terdiri atas dua guru bahasa Inggris dan siswa kelas IX SMP Negeri 2 Bukittinggi. Data kualitatif dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, sedangkan data kuantitatif diperoleh melalui tes membaca berdasarkan Taksonomi Bloom Revisi Krathwohl (C4–C6). Data kualitatif dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña, sedangkan data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif dengan bantuan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Deep Learning mampu meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa melalui aktivitas membaca yang bermakna, diskusi kolaboratif, kegiatan bertanya, serta partisipasi aktif selama proses pembelajaran. Siswa menunjukkan minat, kepercayaan diri, dan keterlibatan yang lebih baik dalam membangun pemahaman terhadap teks bacaan. Selain itu, hasil kuantitatif menunjukkan bahwa aspek evaluating (C5) merupakan aspek berpikir kritis yang paling berkembang (M = 4,65), diikuti oleh creating (C6) (M = 3,53) dan analyzing (C4) (M = 3,05). Secara keseluruhan, pendekatan Deep Learning mampu menciptakan pengalaman belajar membaca yang bermakna sehingga mendukung peningkatan motivasi, keterlibatan, dan kemampuan berpikir kritis siswa.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis keterkaitan antara penerapan pembelajaran mendalam (Deep Learning) dan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran Informatika di SMPN 9 Pariaman. Penelitian ini didasarkan pada pentingnya pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII yang masih menunjukkan kecenderungan menerima informasi secara pasif. Kondisi tersebut menjadi semakin penting untuk dikaji seiring dengan penerapan kebijakan pendidikan melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 yang mengarahkan pembelajaran mendalam melalui prinsip mindful, meaningful, dan joyful. Namun, kajian kuantitatif yang secara khusus mengukur hubungan antara penerapan pembelajaran mendalam dan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran Informatika masih terbatas. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasional. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas VIII SMPN 9 Pariaman Tahun Ajaran 2025/2026 yang berjumlah 113 siswa. Penentuan sampel dilakukan menggunakan rumus Slovin dengan teknik proportional random sampling, sehingga diperoleh 53 siswa sebagai sampel penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui angket tertutup menggunakan skala Likert. Sebelum digunakan, instrumen terlebih dahulu diuji melalui uji validitas dengan teknik korelasi Product Moment Pearson dan uji reliabilitas menggunakan Cronbach's Alpha. Data penelitian selanjutnya dianalisis melalui uji normalitas, uji linearitas, dan uji korelasi Product Moment Pearson dengan bantuan aplikasi SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran mendalam memperoleh nilai rata-rata sebesar 94,75 dan termasuk dalam kategori baik. Kemampuan berpikir kritis siswa juga berada pada kategori baik dengan nilai rata-rata sebesar 100,47. Hasil analisis korelasi menunjukkan nilai koefisien sebesar 0,848 dengan nilai signifikansi 0,000 (p 0,05). Nilai tersebut menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan dengan tingkat hubungan yang sangat kuat. Koefisien determinasi sebesar 71,91% menunjukkan besarnya kontribusi hubungan antara penerapan pembelajaran mendalam dan kemampuan berpikir kritis siswa. Berdasarkan hasil tersebut, H₀ ditolak dan H₁ diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara penerapan Deep Learning dan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran Informatika di SMPN 9 Pariaman.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Marsa Tsurayya, 2322090. An Analysis of Teachers’ Roles in Implementing Deep Learning in English Classes at MAN Lima Puluh Kota. Thesis, English Education Department, Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi. Deep learning has become an important educational approach that emphasizes meaningful learning, collaboration, critical thinking, and the application of knowledge in real-life contexts. In line with the implementation of the Merdeka Curriculum, teachers are expected to enact the roles of activator, collaborator, and culture builder to support deep learning. However, studies that specifically examine how English teachers enact these roles in classroom practice remain limited. Therefore, this study aimed to analyze how English teachers enact the roles of activator, collaborator, and culture builder in implementing deep learning and to explore the challenges they experience while enacting these roles. This study employed a qualitative method with a case study design. The participants consisted of two English teachers as the main participants and twelve students as supporting participants at MAN Lima Puluh Kota. Data were collected through classroom observations, semi-structured interviews, and documentation. The data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña (2014), which includes data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that the teachers enacted the roles of activator, collaborator, and culture builder as an integrated pedagogical process in implementing deep learning. Rather than functioning independently, these roles complemented one another in promoting students’ meaningful engagement throughout English learning. The findings also showed that the challenges experienced by the teachers were primarily practical rather than conceptual, requiring them to continuously adapt their instructional practices to students’ diverse learning needs and classroom situations. These findings suggest that the successful implementation of deep learning depends not only on teachers’ understanding of their professional roles but also on their ability to integrate these roles and respond flexibly to classroom realities.