Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

64 hasil
Subjek: Behavior
DaftarKartu
ResearchOpen AccessPDF tersedia

POSITIVE AND NEGATIVE EXCESSES OF ONLINE GAMES AMONG MUSLIM ADOLESCENTS IN TANAH DATAR, WEST SUMATRA

2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian

This study aims to determine the factors and impact of online games on the behavior of Muslim adolescents in Jorong Tabek, Tanah Datar District, West Sumatra. The field methods used in this qualitative research were observation, interviews, focus group discussions, and the informants' documentation, which were determined by purposive sampling. The theoretical perspective of this research uses structuralfunctional and hipper-reality. The results of this study indicate that online games have negative and positive impacts on Muslim adolescents. For informants, online games have a positive impact because they are a medium of entertainment, relieve boredom, spend time, enrich friendships, and help them increase their English vocabulary. On the other hand, the informants also admitted that online games impacted negligence in performing prayers and other religious activities such as wirid and tadarus during Ramadan, negligence to studying, forgetting to eat, ignoring parents' words, and saying harsh words up to physical violence. The triggering factors that caused the informants to choose to play online games were boredom, lack of facilities and infrastructure to channel their hobbies, and the fact that the online game was currently viral.

7 dilihat · 4 unduhanSitasiDetail
ResearchOpen AccessPDF tersedia

Self-Control and Consumptive Behavior Control in Purchasing Internet Services for Social Networking Among Muslim Millennials

2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian

The need for internet services to support a lifestyle in social networking sometimes leads Muslim millennials to behave consumptively in shopping, even though they understand the bad impact. This study aims to prove whether Self-control is the right predictor to explain Consumptive Behavior Control and if so, how much Self-control can explain Consumptive Behavior Control, especially in the case of Muslim millennials in spending their money on buying internet packages for social networking needs. This research was a quantitative study with ex-post facto design and also based on a survey of a group of students from an Islamic university in West Sumatra, Indonesia in 2022. Data were collected from 97 respondents and analyzed by using Simple Linear Regression. The findings have shown that Self-control is a good predictor for consumptive behavior control at a moderate level. Self-control can increase consumptive behavior control in students in purchasing internet services for social media. Self-control explains the achievement of Consumptive Behavior Control of 68.9%. This finding contributes to education observers who always focus on studies about consumptive behavior among young people and contribute to strengthen the theory of consumer behavior which is always growing rapidly throughout all the time.

11 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ResearchOpen AccessPDF tersedia

Analisis Organizational Citizenship Behavior Dalam Upaya Peningkatan Mutu Dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri Di Indonesia

2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian

<p> <span class="fontstyle0">Posisi keterlibatan kerja sebagai mediator yang mempengaruhi manajemen talenta kepribadian dan </span><span class="fontstyle2">Grit </span><span class="fontstyle0">terhadap OCB menjadi aspek kebaharuan studi secara teoritis. Tujuan dari penelitian ini adalah Pengaruh keterlibatan kerja sebagai variabel mediating antara manajemen talenta, kepribadian dan </span><span class="fontstyle2">Grit </span><span class="fontstyle0">dengan </span><span class="fontstyle2">Organizational Citizenship Behavior. </span><span class="fontstyle0">Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal. Penelitian dilakukan melalui survei. Penelitian ini dilaksanakan pada 3 PTKIN yaitu UIN Padang, IAIN Bukittinggi dan STAIN Mandailing Natal</span></p>

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ResearchOpen AccessPDF tersedia

Ketidaksejalanan Perilaku dengan Keyakinan: Sebuah Potret Perilaku Produksi Muslim Minangkabau di Sumatera Barat

2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian

<p align="center"> Ketidaksejalanan Perilaku dengan Keyakinan: Sebuah&nbsp; Potret&nbsp; Perilaku Produksi&nbsp; Muslim Minangkabau di&nbsp; Sumatera&nbsp; Barat</p> <p> &nbsp;</p> <p align="center"> &nbsp;</p> <p align="center"> Oleh: Asyari Asyari</p> <p align="center"> Fakultas&nbsp; Ekonomi&nbsp; dan Bisnis&nbsp; IslamIAIN&nbsp; Bukittinggi Sumatera&nbsp; Barat</p> <p align="center"> asyari@iainbukittinggi.ac.id</p> <p align="center"> &nbsp;</p> <p align="center"> Abstrak</p> <p> Pertanyaan penting yang akan dijawab oleh penelitian ini adalah &nbsp;bagaimana potret perilaku&nbsp; produksi Muslim Minangkabau di Sumatera Barat dan adakah ajaran agama yang dianut dan diyakini membentuk serta mempengaruhi perilaku produksi mereka? &nbsp;&nbsp;Penelitian ini dilaksanakan di dua&nbsp; lokasi&nbsp; yang dipilih dengan pertimbangan historis dan budaya. Pendekatan yang&nbsp; dipakai adalah kuantitatif.&nbsp; Temuan penelitian ini di luar keyakinan umum tentang Muslim Minangkabau. &nbsp;Meski Muslim Minangkabau memiliki religiusitas&nbsp; yang baik namun &nbsp;religiusitas yang baik tersebut tidak terpantul dalam perilaku produksi mereka. Ajaran Islam tentang produksi tidak dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan ekonomi mereka. Keyakinan yang dianut dan ibadah yang dilaksanakan tidak membentuk dan mempengaruhi perilaku produksi. Agama dan perilaku menjadi dua hal yang tidak sejalan dalam kehidupan Muslim Minangkabau Sumatera&nbsp; Barat.</p> <p> &nbsp;</p> <p> Keyword: <em>Religiosity, Production Behavior, Moslem Minangkabau</em></p> <p> &nbsp;</p> <p> 1.Pendahuluan</p> <p> &nbsp;Sistem&nbsp; Matrilineal menjadi &nbsp;pendorong tumbuh dan berkembangnya kegiatan sektor pertanian di Minangkabau. Masyarakat Minangkabau menempatkan usaha memproduktifkan lahan sawah atau ladang&nbsp; sebagai bagian dari&nbsp; tanggungjawab untuk menjaga harta pusaka<a href="#_ftn1" name="_ftnref1" title="">[1]</a> dan memberikan manfaat bagi&nbsp; generasi&nbsp; selanjutnya (<em>hiduik bajaso mati bapusako</em>)<a href="#_ftn2" name="_ftnref2" title="">[2]</a>. &nbsp;Upaya memproduktifkan lahan tersebut didasari oleh ajaran Islam yang &nbsp;menjadi identitas yang kuat bagi masyarakat Minaangkabau.&nbsp; Ajaran Islam (<em>syara</em>&rsquo;) adalah adat dan adat&nbsp; adalah <em>syara</em>. Melaksanakan adat&nbsp; berarti melaksanakan&nbsp; <em>syara&rsquo;</em><a href="#_ftn3" name="_ftnref3" title="">[3]</a><em>.</em> &nbsp;Kegiatan di sektor produksi pertanian sebagai&nbsp; sektor usaha mayoritas penduduk Sumatera&nbsp; Barat &nbsp;pemilik etnis&nbsp; Minangkabau &nbsp;idealnya nilai&nbsp; agama yang dianut&nbsp; dan diyakini mewarnai perilaku mereka</p> <p> Penelitian dengan berbagai tema tentang masyarakat Minangkabau telah banyak dilakukan. Namun kajian yang secara&nbsp; sistematis dan mengunakan pendekatan akademik&nbsp; baru mulai di tahun 1970<a href="#_ftn4" name="_ftnref4" title="">[4]</a>. &nbsp;&nbsp;Penelitian&nbsp;&nbsp; tentang ekonomi Minangkabau berkisar pada sejarah, &nbsp;institusi dan tranformasi ekonomi serta potensi dan preferensi &nbsp;lembaga keuangan syariah &nbsp;di dalam masyarakat Minangkabau. Temuan penelitian sejarah ekonomi masyarakat Minangkabau mengungkap bahwa ekonomi di Minagkabau berjalan dengan &nbsp;sistem ikatan kekeluargaan. Sistem ini mampu mencegah sistem baru &nbsp;dari luar yang merusak aktivitas&nbsp; ekonomi dan hal itu&nbsp; tidak berlangsung lama. Setelah kolonialisasi &nbsp;&nbsp;Belanda, &nbsp;ekonomi di Minangkabau muncul dengan sistem baru yaitu sistem kapitalis<a href="#_ftn5" name="_ftnref5" title="">[5]</a>.</p> <p> Usaha produksi Pandai Besi di Sei Puar berhadapan dan berinteraksi &nbsp;dengan&nbsp; sistem &nbsp;pasar &nbsp;yang &nbsp;kental &nbsp;dengan &nbsp;semangat kapitalis<a href="#_ftn6" name="_ftnref6" title="">[6]</a>. Sistem Kapitalis menimbulkan berbagai dampak negatif.&nbsp; Institusi Pasar Tradisional di Masyarakat Minangkabau selain sebagai tempat jual-beli dan mencari nafkah, juga berfungsi sebagai tempat bertemu bagi anggota masyarakat. &nbsp;Pertemuan rutin yang berlangsung di pasar dapat menjaga nilai kebersamaan dan&nbsp;&nbsp; ikatan kekeluarga. Semua&nbsp; nilai ini menjadi kekuatan untuk mengorganisir perubahan dampak kapitalis yang muncul <a href="#_ftn7" name="_ftnref7" title="">[7]</a>. Institusi ekonomi dalam bentuk pagang gadai dalam masyarakat Minangkabau memiliki peran dalam mempertahankan kepemilikan dan penguasaan atas tanah. Selama&nbsp; priode&nbsp; 1973 sampai&nbsp; dengan&nbsp; 1983, &nbsp;ditemukan persentase&nbsp; petani yang&nbsp; menguasai&nbsp; tanah&nbsp; pertanian lebih kecil&nbsp; dari 0,5 Ha telah&nbsp; berkurang&nbsp; dari 49% menjadi&nbsp; 40%&nbsp; serta&nbsp; yang mengusahakan 0,5-01 Ha&nbsp; telah bertambah&nbsp; dari&nbsp; 28% menjadi&nbsp; 30% selama&nbsp; periode tersebut. Demikian pula&nbsp; persentase&nbsp; yang mengusahakan tanah&nbsp; seluas 1,0-3,0 Ha telah naik&nbsp; dari 21% menjadi&nbsp; 28% sedangkan yang menguasai&nbsp; lebih 3 Ha. &nbsp;&nbsp;Meskipun demikian,&nbsp; perubahan&nbsp; dalam&nbsp; kepemilikan dan penguasaan atas tanah tidak&nbsp;&nbsp; terdapat kecenderungan&nbsp; ke arah polarisasi sebagaimana terjadi di Pulau Jawa. Hal ini disebabkan oleh institusi pagang gadai dalam masyarakat Minangkabau &nbsp;berfungsi menyediakan&nbsp; dana untuk memenuhi keperluan tanpa menjual tanah yang dimiliki<a href="#_ftn8" name="_ftnref8" title="">[8]</a>.</p> <p> Masyarakat Minangkabau yang dikenal sebagai masyarakat&nbsp; yang kuat memegang ajaran agama dan adat dalam kehidupan menyambut &nbsp;kehadiran lembaga keuangan syariah&nbsp; dengan baik. Keputusan dalam memilih&nbsp; lembaga keuangan syariah untuk bertransaksi didominasi oleh keputusan agama<a href="#_ftn9" name="_ftnref9" title="">[9]</a>. Perubahan dan perkembanagan&nbsp; yang terjadi dalam Masyarakat Sumatera Barat juga mengubah &nbsp;alasan dan pertimbangan dalam memilih jasa&nbsp; lembaga keuangan syariah.&nbsp; Faktor&nbsp; agama&nbsp; tidak lagi penting sebagai pendorong mengunakan jasa lembaga keuangan syariah. Masyarakat&nbsp; sudah bergerak ke titik&nbsp; rasional secara ekonomi.&nbsp; Margin dan bagi hasil &nbsp;yang kompetitif serta&nbsp; layanan&nbsp; berkualitas menjadi pertimbangan dalam mengunakan jasa lembaga keuangan syariah<a href="#_ftn10" name="_ftnref10" title="">[10]</a>.</p> <p> Para peneliti baik dalam maupun luar negeri&nbsp; di atas telah mengungkap informasi tentang sejarah, institusi dan transformasi ekonomi dan perilaku ekonomi masyarakat Minangkabau. Namun pertanyaan adakah ajaran agama yang dianut dan diyakini membentuk dan mempengaruhi perilaku produksi mereka belum dapat dijawab secara tegas.&nbsp; Apakah ajaran agama dan adat dipegang dan diamalkan oleh masyarakat Minangkabau sebagaimana diungkap dalam adagium <em>adat basandi syara&rsquo;,&nbsp; syara&rsquo; basandi&nbsp; kitabullah,&nbsp; syara&rsquo; mangato&nbsp; adat&nbsp; mamakai </em>dapat dilihat nyata dalam perilaku&nbsp; produksi mereka?</p> <p> &nbsp;</p> <p> 2.Teori Perilaku Produksi Islami (sintesiskan)</p> <p> Kebutuhan&nbsp; kepada ekonomi Islam sebagai sistem ekonomi alternatif didorong oleh kelemahan&nbsp; sistem ekonomi konvensional. Lebih dari&nbsp; itu, ekonomi konvensional dan ekonomi Islam memiliki&nbsp; titik beda &nbsp;ajaran&nbsp; yang fundamental. Ajaran-ajaran &nbsp;ekonomi konvensional tidak sejalan dengan&nbsp; ketentuan ajaran Islam tentang&nbsp; sistem budaya dan politik. Paling tidak ada 3 bagian fundamental yang tidak sesuai&nbsp; dengan ajaran Islam; <em>pertama: </em>analisis perilaku individu dan perusahaan&nbsp; di konvensional didasari &nbsp;dan diukur secara&nbsp; matrialistik, <em>kedua</em>; kepuasan yang menjadi&nbsp; tujuan individu&nbsp; dicapai dengan semangat <em>selfishness</em> dan memaksimumkan&nbsp; kepuasan untuk kepentingan pribadi, <em>ketiga;</em>&nbsp; rasionalitas Islam menetapkan spektrum waktu tidak hanya di dunia tapi juga&nbsp; akhirat<a href="#_ftn11" name="_ftnref11" title="">[11]</a>. Pada kegiatan produksi, titik beda Islam dengan konvensional meliputi;&nbsp;&nbsp; konsep&nbsp; dasar dan tujuan&nbsp; melakukan kegiatan produksi serta cara&nbsp; mengelola faktor-faktor produksi.</p> <p> Dalam pandangan&nbsp; Islam, produksi bukan menciptakan barang atau&nbsp; jasa karena manusia&nbsp; tidak memiliki kemampuan menciptakan tapi hanya menjadikan sesuatu yang&nbsp; bermanfaat dan lebih berguna. Produksi diartikan sebagai kegiatan manusia&nbsp; untuk&nbsp; menciptakan dan memperbaiki kondisi fisik material untuk mencapai&nbsp; tujuan hidup<a href="#_ftn12" name="_ftnref12" title="">[12]</a>. &nbsp;Produksi&nbsp; disebut sebagai penyediaan barang dan jasa &nbsp;dengan memperhatikan nilai keadilan&nbsp; bagi masyarakat<a href="#_ftn13" name="_ftnref13" title="">[13]</a> &nbsp;dan bermotif <em>altruism</em><a href="#_ftn14" name="_ftnref14" title=""><em><strong>[14]</strong></em></a>.&nbsp; Pengertian&nbsp; tentang produksi telah mengalami evoluasi dimulai dari untuk&nbsp; kegiatan dengan motif&nbsp; mempertahankan&nbsp; sampai&nbsp; ke tujuan yang berkaitan&nbsp; dengan eskatologis/ukhrawi. Tujuan kegiatan produksi&nbsp; adalah untuk mencapai kesejahteraan ekonomi.&nbsp; Ekonomi&nbsp; konvensional memandang kesejahteraan ekonomi&nbsp; dengan ukuran uang&nbsp; dan sesuatu&nbsp; yang&nbsp; bersifat matrialistik. Dalam Islam kesejahteraan diperoleh dengan pendapatan yang sesuai dengan ketentuan ajaran Islam dan memberi&nbsp; manfaat&nbsp; pada banyak&nbsp; orang.</p> <p> &nbsp;Melalui kegiatan produksi,&nbsp;&nbsp; sumber daya&nbsp;&nbsp; alam yang&nbsp; dianugrahkan Tuhan dapat diolah dan dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai barang dan&nbsp; jasa yang kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Dengan terpenuhi kebutuhan,&nbsp; kesejahteraan dapat diwujudkan dan fungsi manusia sebagai khalifah dapat dijalankan dengan baik<a href="#_ftn15" name="_ftnref15" title="">[15]</a>. Sumber&nbsp; daya&nbsp; alam&nbsp; merupakan kekayaan&nbsp; alam ciptaan Allah&nbsp; untuk manusia. Salah satu&nbsp; sumber&nbsp; daya alam yang&nbsp; dapat&nbsp; dijadikan sebagai&nbsp; faktor dalam kegiatan produksi&nbsp; adalah&nbsp; tanah. Islam memiliki pandangan yang unik tentang pemanfaatan tanah sebagai&nbsp; faktor produksi<a href="#_ftn16" name="_ftnref16" title="">[16]</a>.&nbsp; Keunikan&nbsp; tersebut&nbsp; dapat&nbsp; dilihat&nbsp; dari dorongan Islam yang sangat kuat&nbsp; untuk memproduktifkan lahan-lahan yang kosong.&nbsp; Setiap&nbsp; tanah&nbsp; yang tidak dimanfaatkan&nbsp; atau diproduktifkan maka hak kepemilikannya&nbsp; menjadi&nbsp; gugur&nbsp; dan beralih kepada&nbsp; orang&nbsp; yang bersedia menggarapnya. Untuk mendukung agar setiap tanah dapat diproduktifkan, maka Islam membolehkan berbagai bentuk instrumen&nbsp;&nbsp; kerjasama untuk memproduktifkan tanah,&nbsp; seperti,&nbsp; muzaraah <em>(harvest-yeild profit sharing</em>),&nbsp; dan musaqah <em>(plantation management&nbsp; fee based)</em>.</p> <p> Bekerja dalam Islam adalah suatu kewajiban bagi&nbsp; yang mampu. Islam tidak membenarkan dan membolehkan&nbsp; sikap malas bekerja dengan alasan mengkhususkan waktu&nbsp; untuk ibadah kepada Allah. Islam mewajibkan bekerja&nbsp; untuk mencukupi kebutuhan hidup, kemaslahatan keluarga dan memakmurkan bumi<a href="#_ftn17" name="_ftnref17" title="">[17]</a>. Islam tidak menetapkan satu&nbsp; lapangan kerja secara khusus yang harus menjadi pilihan bekerja bagi seorang muslim. Islam hanya memberikan apresiasi&nbsp; kemuliaan kepada orang yang bekerja keras&nbsp; dalam memenuhi kebutuhan hidup<a href="#_ftn18" name="_ftnref18" title="">[18]</a>.Modal&nbsp;&nbsp; sebagai&nbsp; faktor produksi menurut Islam harus&nbsp; bebas dari&nbsp; sistem bunga.&nbsp; Islam menetapkan ketentuan tentang modal atau kekayaan, (1) modal/kekayaan harus diproduktifkan, (2)&nbsp; membayar zakat jika terpenuhi nisab dan haul, (3)&nbsp; pengunaan modal/kekayaan untuk hal yang bersifat sosial, (4) pengunaan modal yang tidak&nbsp; merugikan, (5)&nbsp; pemilikan modal/kekayaan yang sah, (6) pemanfaatan modal/kekayaan sesuai&nbsp; hak, dan (7)&nbsp; pengunaan berimbang. Ajaran-ajaran ini&nbsp; yang bila&nbsp; diterapan dengan baik akan dapat merupakan pemecahan terbaik&nbsp; bagi keburukan-keburukan kapitalis&nbsp; dan sosialis&nbsp; serta menjamin kebahagiaan, ketertiban dan keadilan<a href="#_ftn19" name="_ftnref19" title="">[19]</a>.</p> <p> Islam memberikan perhatian serius kepada upah tenaga kerja.&nbsp; Dalam Islam, pemberian upah kepada pekerja&nbsp; harus&nbsp; mempertimbangkan kebutuhan hidup&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; minimum dan kontribusi pekerja dalam proses produksi<a href="#_ftn20" name="_ftnref20" title="">[20]</a>. Pembicaraan al-Quran tentang tenaga kerja bertitik-tolak pada hak tenaga kerja yang&nbsp; terdiri dari;&nbsp; hak melaksanakan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya (QS.7:172),&nbsp; dan hak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan (QS.53: 39-41).Upah menjadi bagian penting dalam hubungan pemberi kerja (majikan) dengan pekerja.&nbsp; Bagi pekerja, upah menjadi&nbsp; sumber pendapatan dan dapat mempengaruhi&nbsp; daya beli untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jika&nbsp; dalam hubungan majikan dengan pekerja terdapat masalah upah maka akan berdampak pada pemenuhan kebutuhan pekerja. Pemenuhan kebutuhan pekerja yang bermasalah&nbsp; akan mempengaruhi produktivitas kerja dan hasil produksi. Selain itu,&nbsp; bagi majikan upah menjadi biaya&nbsp; dan sekaligus merupakan komponen <em>cost of production</em>.&nbsp; Mengingat pentingnya upah, Islam menegaskan bahwa upah harus ditetapkan dengan cara&nbsp; yang paling tepat tanpa menindas hak salah satu pihak. Setiap pihak memperoleh bagian sesuai dengan kontribusi dalam proses produksi.&nbsp; Pekerja memperoleh upah sesuai&nbsp; dengan pekerjaan yang dikerjakan dan majikan memperoleh keuntungan&nbsp;&nbsp; sesuai&nbsp; dengan modal dalam proses produksi <a href="#_ftn21" name="_ftnref21" title="">[21]</a>. Para&nbsp; ahli menyatakan bahwa&nbsp; upah yang adil adalah upah yang diberikan dengan mempertimbangkan terpenuhi kebutuhan pokok. Dalam Islam, upah pekerja&nbsp; haruslah&nbsp; cukup&nbsp; untuk&nbsp; menutupi kebutuhan-kebutuhan pokok<a href="#_ftn22" name="_ftnref22" title="">[22]</a>.</p> <p> Selain masalah&nbsp; upah, pola hubungan majikan dengan pekerja juga&nbsp; sangat penting.&nbsp; Islam menetapkan pola&nbsp; hubungan sebagai berikut; (1) majikan dengan pekerja berada dalam hubungan&nbsp; saudara dan tidak bertindak sebagai tuan dan memandang pekerja sebagai budak, (2) majikan dan pekerja mempunyai hubungan&nbsp; yang sama&nbsp; dalam pemenuhan kebutuhan&nbsp; pokok, (3) pekerja&nbsp; diberi tugas&nbsp; sesuai&nbsp; dengan kemampuannya. Hubungan majikan dengan pekerja&nbsp; adalah hubungan perjanjian kerja <em>(contractual)</em>.&nbsp; Islam menetapkan&nbsp; syarat sah sebuah perjanjian kerja<a href="#_ftn23" name="_ftnref23" title="">[23]</a>: (1) perkerjaan yang diperjanjikan termasuk pekerjaan yang halal, (2) manfaat kerja&nbsp; yang diperjanjikan diketahui&nbsp; degan jelas, (3) upah&nbsp; sebagai imbal jasa&nbsp; bagi pekerja&nbsp; harus&nbsp; diketahui&nbsp; dengan jelas.</p> <p> &nbsp;</p> <p> 3. Religiusitas dan Perilaku&nbsp; Ekonomi</p> <p> Sekalipun &nbsp;para peneliti bidang ekonomi telah melibatkan variabel religiusitas ke dalam berbagai analisis mereka, namun mereka belum memiliki kesepakatan tentang&nbsp; pengertian religiusitas.&nbsp; Religiusitas&nbsp; diartikan sebagai derajat&nbsp; keyakinan pada&nbsp; nilai-nilai agama dan pelaksanaan keyakinan itu dalam kehidupan oleh individu<a href="#_ftn24" name="_ftnref24" title="">[24]</a>. Religiusitas merupakan komitmen&nbsp; untuk&nbsp; mengikuti&nbsp; prinsip-prinsip yang diyakininya telah ditetapkan oleh Tuhan<a href="#_ftn25" name="_ftnref25" title="">[25]</a>.&nbsp; Religiusitas juga diartikan sebagai tingkat ketundukan&nbsp;&nbsp; terhadap praktik&nbsp; dan kepercayaan <a href="#_ftn26" name="_ftnref26" title="">[26]</a>.&nbsp; Religiusitas adalah&nbsp;&nbsp; derajat seseorang mengunakan&nbsp; nilai-nilai keagamaan, keyakinan dan praktik keagamaan dalam kehidupan sehari-hari<a href="#_ftn27" name="_ftnref27" title="">[27]</a>. Ahli di bidang psikologi&nbsp; memberikan pengertian religiusitas sebagai sesuatu yang dirasakan sangat dalam, yang bersentuhan dengan keinginan seseorang, membutuhkan ketaatan dan memberikan imbalan atau mengikat seseorang dalam masyarakat<a href="#_ftn28" name="_ftnref28" title="">[28]</a>. Dari berbagai definisi yang kemukakan para ahli dapat diringkas sebagai konsep yang berkaitan dengan keyakinan seseorang kepada Tuhan yang dimanifestasikan melalui ketaatan dan kepatuhan terhadap segala perintah-Nya<a href="#_ftn29" name="_ftnref29" title="">[29]</a>. Religiusitas lebih&nbsp; merupakan&nbsp; sikap dan&nbsp; perilaku<a href="#_ftn30" name="_ftnref30" title="">[30]</a>.</p> <p> Definisi yang dikemukakan&nbsp; di atas belum memperjelas dan mempertegas siapa yang dapat dikatakan religius&nbsp; dan bagaimana karakteristik seseorang yang dapat dikatakan religius.&nbsp; Untuk mengenal siapa dan bagaimana karakteritik orang yang religius, konsep tentang&nbsp; dimensi&nbsp; dan&nbsp; pengukuran religiusitas dibutuhkan. Perdebatan panjang di kalangan ahli tentang dimensi&nbsp;&nbsp;&nbsp; dan pengukuran religiusitas telah berlangsung lama<a href="#_ftn31" name="_ftnref31" title="">[31]</a>.&nbsp; Mulai&nbsp; dari pengukuran dengan mengunakan dimensi tunggal sampai ke multi dimensi. Awalnya&nbsp;&nbsp; kehadiran di tempat ibadah atau pada acara-acara ritual keagamaan <em>(attandence)</em> menjadi ukuran religiusitas<a href="#_ftn32" name="_ftnref32" title="">[32]</a>. Namun pengukuran&nbsp; ini mengandung kelemahan. &nbsp;Tidak selalu kehadiran orang ke tempat ibadah untuk beribadah tapi juga ada untuk tujuan mengisolasi diri.&nbsp; Dan juga masing-masing&nbsp; agama&nbsp; memiliki&nbsp; frekuensi kehadiran yang berbeda. Contoh, seorang muslim memiliki jumlah kehadiran&nbsp; yang lebih banyak&nbsp; dari&nbsp; pemeluk agama lain<a href="#_ftn33" name="_ftnref33" title="">[33]</a>. Sehingga pengukuran dengan mengunakan kehadiran &nbsp;di tempat ibadah akan membawa kepada kesimpulan yang salah dan hasil yang tidak memuaskan<a href="#_ftn34" name="_ftnref34" title="">[34]</a>.</p> <p> &nbsp;Selanjutnya, religiusitas&nbsp; diukur dengan&nbsp; dua&nbsp; dimensi <em>extrinsic</em> dan <em>intrinsic</em>.&nbsp; <em>Extrinsic</em> merupakan dimensi&nbsp; religiusitas&nbsp;&nbsp; sebagai motivasi seseorang&nbsp; mendukung keyakinan religius dan segala aktivitas duniawi, sedangkan <em>intrinsic</em>&nbsp; adalah&nbsp; keterlibatan&nbsp; seseorang&nbsp; dan memandang agama sebagai pedoman hidup<a href="#_ftn35" name="_ftnref35" title="">[35]</a>.&nbsp; Ahli berikutnya membuat ukuran&nbsp; religiusitas dengan&nbsp; tiga dimensi; dimensi <em>practice</em> dan <em>moral</em> serta&nbsp; <em>experience</em><a href="#_ftn36" name="_ftnref36" title="">[36]</a>. Pengukuran lainnya&nbsp; adalah mengunakan empat dimensi; <em>associational </em>(frekuensi keterlibatan&nbsp; seseorang dalam&nbsp; kegiatan ibadah dan doa), <em>communal </em>(pilihan dan frekuensi&nbsp; hubungan seseorang dengan orang lain), <em>doctrinal orthodoxy</em> (penerimaan intelektual&nbsp; terhadap&nbsp; doktrin-doktrin gereja)&nbsp; dan <em>devotionalism</em> (hubungan seseorang dengan&nbsp; Tuhan melalui meditasi) <a href="#_ftn37" name="_ftnref37" title="">[37]</a>. Berikutnya&nbsp;&nbsp; dilakukan pengembangan pengukuran religiusitas menjadi lima dimensi dengan menambah satu dimensi yaitu <em>consequence</em><a href="#_ftn38" name="_ftnref38" title="">[38]</a>.</p> <p> Para&nbsp; ahli mencoba melakukan pengembangan &nbsp;pengukuran religiusitas dengan mengunakan <em>islamic view</em>. Kemunculan islamic view ini didasari &nbsp;perbedaan tradisi antara Islam dengan agama&nbsp; lainnya. Dimensi religiusitas yang sesuai dengan ajaran Islam adalah dimensi&nbsp; yang tidak ada pemisahan dunia-akhirat, material-spiritual dan pikiran dengan tindakan.&nbsp; Secara&nbsp; khusus,&nbsp;&nbsp; model&nbsp; <em>religious&nbsp; extrinsic</em> dikritik sebagai model dimensi yang kontra produktif dengan ajaran Islam.&nbsp; Religius ekstrinsic berpotensi&nbsp; menimbulkan&nbsp; praktik keagamaan yang mengandung <em>riya</em> yang secara jelas dan tegas dilarang Islam<a href="#_ftn39" name="_ftnref39" title="">[39]</a>. Pengembangkan pengukuran religiusitas dengan mengunakan dimensi&nbsp;&nbsp; <em>belief</em> dan <em>practice</em>.&nbsp; Pengukuran dimensi ini tanpa&nbsp; membedakan&nbsp; mana yang&nbsp; diwajibkan atau hanya&nbsp; bersifat anjuran<a href="#_ftn40" name="_ftnref40" title="">[40]</a>. Namun ada pula&nbsp; yang menjadikan dua dimensi itu menjadi satu<a href="#_ftn41" name="_ftnref41" title="">[41]</a>. Selain itu ada juga ahli mengukur &nbsp;religiusitas dengan mengunakan dimensi instrinsik dan ekstrinsik. Religiusitas instrinsik adalah memandang agama&nbsp; sebagai pedoman hidup sedangkan religiusitas ekstrinsik merupakan motivasi seseorang&nbsp; mendukung keyakinan religius, bertindak dan berperilaku untuk tujuan&nbsp; duniawi<a href="#_ftn42" name="_ftnref42" title="">[42]</a>.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pengukuran dengan dua dimensi lainnya&nbsp; disampaikan dalam bahasa yang berbeda namun substansi sama&nbsp; yaitu, keyakinan kepada ajaran agama dan cara orang memanifestasikan ajaran Islam dalam tindakan<a href="#_ftn43" name="_ftnref43" title="">[43]</a>dan<em> religious altruism</em> dan <em>religious enrichment</em><a href="#_ftn44" name="_ftnref44" title="">[44]</a>. Selain itu ada juga&nbsp; ahli&nbsp;&nbsp; yang mengunakan pengukuran religiusitas dengan konsep taqwa yang terdiri dari&nbsp;&nbsp; dimensi pengetahuan, keyakinan, pelaksanaan&nbsp; dan konsekuensi<a href="#_ftn45" name="_ftnref45" title="">[45]</a>.</p> <p> Penelitian untuk menguji pengaruh religiusitas dalam kehidupan muslim&nbsp; telah banyak dilakukan. Beberapa&nbsp; negara dengan penduduk mayoritas muslim, seperti, Pakistan, Khazastan, Mesir dan Indonesia &nbsp;diuji bagaimana pengaruh religiusitas dalam kehidupan mereka. Untuk Indonesia temuan penelitian ini&nbsp; mengungkap bahwa muslim Indonesia mempunyai kesalehan ritual tinggi. &nbsp;Namun kesalehan ritual yang tinggi tidak sejalan dengan perilaku umat Islam di Indonesia. Muslim di Indonesia tidak mengaitkan ibadah &nbsp;dengan perilaku sosial mereka<a href="#_ftn46" name="_ftnref46" title="">[46]</a>. &nbsp;Secara spesifik, pengaruh religiusitas&nbsp; terhadap perilaku ekonomi dalam kehidupan muslim Indonesia telah diungkap. Ketaatan muslim Indonesia kepada&nbsp; ajaran agama yang dianut dan diyakini sangat&nbsp; baik. Namun dalam lapangan ekonomi, tepatnya perilaku&nbsp; memilih dan mengunakan jasa&nbsp; lembaga keuangan syariah &nbsp;&nbsp;&nbsp;untuk kebutuhan transaksi religiuistas tidak&nbsp; hadir.&nbsp; &nbsp;Ketaatan pada ajaran agama tidak memiliki efek sistematik pada perilaku konsumen muslim dalam mengunakan jasa lembaga keuangan syariah<a href="#_ftn47" name="_ftnref47" title="">[47]</a>. &nbsp;Penelitian berikutnya dengan membuat kluster muslim Indonesia&nbsp; tradisional dan komtemporer. Temuan penelitian ini&nbsp; menginformasikan bahwa &nbsp;religiusitas&nbsp; mempengaruhi&nbsp; pemiliha lembaga keuangan syariah untuk kelompok&nbsp; tradisional tetapi&nbsp; tidak mempengaruhi pada kelompok kontemporer<a href="#_ftn48" name="_ftnref48" title="">[48]</a>. &nbsp;&nbsp;</p> <p> Di berbagai negara lainnya ditemukan &nbsp;pengaruh religiusitas sebagai variabel independen terhadap perilaku konsumen. &nbsp;Penelitian&nbsp; yang dilaksanakan di Kepulauan Mauritus dengan 1.000 kepala rumah tangga menemukan&nbsp; bahwa&nbsp; religiusitas mempunyai pengaruh positif&nbsp; terhadap perilaku berbelanja konsumen dan juga perbedaan tingkat religiusitas diantara kepala rumah tangga membawa perbedaan perilaku berlanja. Di Pakistan penelitian dilaksanakan di kalangan mahasiswa di Universitas Islam International&nbsp;&nbsp; Pakistan. Penelitian ini&nbsp; menemukan&nbsp; religiusitas memiliki pengaruh positif terhadap keputusan membeli konsumen. Dalam penelitian tersebut&nbsp;&nbsp; dibandingkan&nbsp; pemeluk agama,&nbsp; Islam, Kristiani, Hindu dan Budha.&nbsp; Perbedaan agama membawa perbedaan&nbsp; pada&nbsp; gaya, orientasi berbelanja, sumber informasi dan pentingnya&nbsp; atribut.&nbsp; Pemeluk agama Islam menempatkan pentingnya&nbsp; atribut dalam berbelanja. Agama menjadi referensi dalam menentukan&nbsp; atribut<a href="#_ftn49" name="_ftnref49" title="">[49]</a>.&nbsp; Di Malaysia&nbsp; penelitian dengan mengunakan 226 sampel menemukan religiusitas memiliki pengaruh positif&nbsp; terhadap perilaku belanja konsumen<a href="#_ftn50" name="_ftnref50" title="">[50]</a>. Penelitian yang mengunakan jumlah sampel yang lebih besar yaitu 1.846 sampel yang dikelompokkan ke dalam 3 etnik; <em>Hispanic,&nbsp; Native America</em> dan <em>White </em>menemukan religiusitas memiliki pengaruh penting pada orientasi berbelanja<a href="#_ftn51" name="_ftnref51" title="">[51]</a>.&nbsp; Penelitian lain juga menemukan pengaruh religiusitas&nbsp; terhadap perilaku konsumen pada lapangan ritel dan pengaruh religiusitas&nbsp; terhadap gaya hidup konsumen dan bermuara&nbsp; pada perilaku memilih<a href="#_ftn52" name="_ftnref52" title="">[52]</a>.</p> <p> Religiusitas memiliki pengaruh pada keputusan berbelanja di hari Minggu di Amerika Serikat dan&nbsp; Selandia&nbsp; Baru<a href="#_ftn53" name="_ftnref53" title="">[53]</a>.&nbsp; Di Jepang ditemukan bahwa&nbsp; tidak terdapat perbedaan&nbsp; perilaku konsumen&nbsp; berbelanja&nbsp; antara kelompok orang&nbsp; yang shaleh&nbsp; dan kelompok yang biasa saja<a href="#_ftn54" name="_ftnref54" title="">[54]</a>. Perbedaan agama&nbsp; membawa perbedaan perilaku konsumen.&nbsp; Penelitian yang mengambil 370 responden Muslim Malaysia&nbsp; dan 320 responden Budha Tailand menemukan bahwa Muslim memiliki orientasi belanja dibanding dengan Budha. Atribut memiliki arting penting bagi konsumen&nbsp; Muslim. Jenis&nbsp; atribut yang dipilih adalah <em>brand</em> nasional&nbsp; yang dikenal baik. Sedangkan konsumen Budha lebih memiliki orientasi hedonis dan cenderung mendadak dalam&nbsp; berbelanja <a href="#_ftn55" name="_ftnref55" title="">[55]</a>.&nbsp;</p> <p> Berdasarkan penjelasan&nbsp;&nbsp; temuan penelitan di atas secara umum religiusitas memiliki&nbsp; pengaruh dalam kehidupan terhadap perilaku ekonomi. Dalam pemeluk agama itemukan religisiusitas memiliki pengaruh terhadap perilaku ekonomi dalam keputusan membeli, orientasi belanja, dan pembelian ulang suatu produk.&nbsp; Meskipun juga ada ditemukan religiusitas tidak mempengaruhi perilaku ekonomi.</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> 3.Metodologi</p> <p> Data penelitian ini diperoleh melalui survei dengan mengunakan kuesioner&nbsp; terstruktur yang disebarkan ke seluruh rumah tangga muslim terpilih di 2 lokasi penelitian yaitu di Jorong&nbsp; Pariangan di Nagari Pariangan, dan Jorong Tanjung Medan di Nagari Ulakan. Rumah&nbsp; Tangga yang dipilih mengacu kepada karateristik yang ditetapkan Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu seseorang&nbsp; atau beberapa orang&nbsp; yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik&nbsp; dan biasanya makan bersama dari satu dapur. Kuesioner diberikan kepada&nbsp; Kepala Rumah Tangga&nbsp; atau&nbsp; anggota&nbsp; keluarga yang mengetahui atau dianggap paling mengetahui kondisi rumah tangga tersebut.</p> <p> Pengukuran religiusitas yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan dua dimensi; &nbsp;<em>belief&nbsp; </em>yang mempresentasikan kepercayaan penuh individu kepada Tuhan sebagai pencipta alam semesta, kepercayaan kepada malaikat, rasul, kitab-kitab suci dan hari pembalasan. Dimensi berikutnya&nbsp; adalah <em>practice/conduct</em>&nbsp; yang dimanifestasikan melalui perilaku yang muncul dari pribadi yang memiliki kepercayaan tersebut.</p> <p> &nbsp;Lokasi penelitian dipilih dengan alasan dan pertimbangan&nbsp; historis dan budaya. Secara&nbsp; historis,&nbsp; Jorong Tanjung Medan adalah daerah sebagai daerah awal dan pernah menjadi pusat penyebaran ajaran Islam di Sumatera Barat dengan tokoh sentralnya Syekh Burhanuddin. Sedangkan Pariangan merupakan daerah asal adat Minangkabau dan sekaligus nagari pertama (<em>nagari tuo)</em> di Minangkabau Sumatera Barat. Ukuran sampel ditetapkan dengan mengunakan rumus&nbsp; slovin dengan nilai <em>e 0.05</em> dan untuk masing-masing lokasi &nbsp;ditetapkan dengan mengunakan<em> stratified random sampling</em>. &nbsp;&nbsp;Sampel di Jorong Pariangan&nbsp; Nagari Pariangan sebanyak, 197 rumah tangga dan di Jorong Tanjung Medan di Nagari Ulakan sebanyak 193 rumah&nbsp; tangga. Jumlah seluruh rumah tangga&nbsp; sampel adalah 390 rumah tangga.&nbsp; Kategori rumah tangga&nbsp;&nbsp; yang dipilih adalah rumah tangga muslim dan&nbsp; suku Minangkabau serta melakukan kegiatan produksi pertanian.&nbsp; Data yang terkumpul kemudian dianalisa&nbsp; dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif.&nbsp; Analisa&nbsp; deskriptif&nbsp; dilakukan&nbsp; dengan mengunakan&nbsp; frekuensi untuk menerangkan kondisi religiusitas rumah tangga Muslim. Pertanyaan yang diajukan kepada responden untuk mengetahui religiusitas dikelompokkan&nbsp; kepada aspek <em>belief</em> dan ritual. Aspek <em>belief</em> berkaitan dengan keyakinan tentang adanya pengawasan Tuhan setiap&nbsp; apa&nbsp; yang dilakukan oleh seorang muslim, dan keyakinan bahwa segala perbuatan seorang muslim dicatat oleh&nbsp; para malaikat-Nya dan dibalasi Tuhan di hari akhirat. Jawaban dan nilainya adalah <em>&ldquo;Yakin&rdquo; (1)&rdquo;, &ldquo;Tidak&nbsp; Yakin&rdquo; (2).</em> Untuk ritual ditanyakan pelaksanaan ajaran agama oleh seorang muslim dalam bidang ibadah wajib dan sunat. Ibadah wajib meliputi sholat,&nbsp;&nbsp; puasa, dan membayar zakat fitrah. Untuk ibadah sunat&nbsp; membaca kitab suci&nbsp; al-Quran. Bagi&nbsp; responden yang memberikan jawaban pelaksanaan yang sesuai dengan perintah dan anjurkan Allah diberi nilai 1 dan tidak sesuai bernilai 0.</p> <p> Semua&nbsp; data yang terkumpul ditabulasi dan diolah dengan program Stata dengan Model Regresi Probit. Keuntungan untuk menggunakan regresi probit adalah bahwa nilai-nilai yang diperoleh dari pencocokan model <em>(fitting)</em> langsung dapat diubah&nbsp; menjadi probabilitas dengan menggunakan nilai dari tabel normal standar. Dalam hal ini yang dibutuhkan hanya mencari nilai probabilitas terkait dengan skor <em>z</em> yang diperoleh dari model.</p> <p> &nbsp;</p> <p> 4.Temuan Penelitian dan Diskusi</p> <p> Untuk&nbsp; mengetahui religiusitas di aspek ritual, tiap responden diajukan pertanyaan tentang frekuensi pelaksanaan ibadah wajib&nbsp; sholat, puasa, dan zakat. Ditemukan dari 390 responden sebanyak 320 (82,05%)&nbsp; mereka menjawab melaksanakan sholat wajib 5 kali&nbsp; sehari dan kurang dari 5 kali sehari sebanyak 66 (16,92%)&nbsp; dan tidak pernah sebanyak&nbsp; 4 (1.02%).&nbsp; Untuk masing-masing lokasi penelitian diperoleh informasi bahwa di Ulakan sebagai daerah yang pernah menjadi pusat penyebaran Islam yang diduga&nbsp; agamis&nbsp; dibanding daerah lain di Sumatera Barat &nbsp;&nbsp;ternyata terdapat&nbsp; 3 (1,6%)&nbsp; tidak pernah mengerjakan sholat. Di Pariangan, &nbsp;responden yang menjawab melaksanakan sholat kurang&nbsp; dari lima kali&nbsp; sehari&nbsp; jumlahnya&nbsp; lebih banyak&nbsp; yaitu sebesar 44 (22,34%). Temuan ini menunjukkan adanya frekuensi yang berbeda di kalangan Muslim&nbsp; Minangkabau melaksanakan ibadah sholat wajib. Secara jelas dan tegas dapat disampaikan bahwa belum&nbsp; semua Muslim di Sumatera Barat melaksanakan sholat wajib sesuai&nbsp; dengan frekuensi yang dituntut agama. Masih terdapat Muslim di Sumatera&nbsp; Barat yang melaksanakan sholat wajib dengan tidak teratur meskipun diyakini itu adalah perintah agama dan Tuhan membalasi&nbsp; perbuatan meninggalkan sholat.</p> <p> Dalam pelaksanaan ibadah puasa&nbsp; di Bulan Ramadhan&nbsp; dan&nbsp; pembayaran zakat fitrah, &nbsp;temuan di lokasi penelitian menunjukkan bahwa yang melaksanakan ibadah puasa sebanyak&nbsp; 374 (95,89%)&nbsp; dan menunaikan zakat fitrah sebanyak 347&nbsp; (88,97%).&nbsp;&nbsp; Di Ulakan yang&nbsp;&nbsp; selalu&nbsp; melaksanakan ibadah puasa adalah sebesar 164 (84,97%) dan menunaikan zakat fitrah 180 (93,26%). Di Pariangan 182 (92.89%) melaksanakan ibadah puasa 183&nbsp; (94,30%),&nbsp; Melaksanakan kedua ibadah tersebut dengan jarang terbanyak&nbsp; di Ulakan&nbsp; sebanyak &nbsp;&nbsp;29&nbsp; (15,03%).</p> <p> Temuan ini menunjukkan bahwa ibadah puasa dan zakat dilaksanakan oleh&nbsp; Muslim di lokasi penelitian dengan ketat. Ha ini &nbsp;ditandai dengan jumlah persentase&nbsp; yang melaksanakan kedua ibadah itu cukup tinggi dan bahkan lebih ketat dari pelaksanaan&nbsp; ibadah sholat&nbsp; dan membaca al Quran. Namun tidak ditemui perbedaan&nbsp;&nbsp; yang&nbsp; tajam&nbsp; dalam&nbsp; pelaksanaan kedua ibadah wajib&nbsp; (sholat dan Zakat) &nbsp;itu di dua lokasi penelitian.&nbsp;&nbsp; Jumlah Muslim yang melaksanakan kedua&nbsp; ibadah wajib tersebut dalam rentangan&nbsp; 84,89% sampai dengan 98,48%.</p> <p> Perilaku produksi yang dimaksud&nbsp; dalam penelitian adalah perilaku dalam membayar&nbsp; upah. Kepada tiap responden&nbsp; ditanyakan status kegiatan produksi, Dengan melihat&nbsp; status&nbsp; dapat&nbsp; diketahui&nbsp; apakah kegiatan produksi dilakukan sendiri&nbsp; atau&nbsp; dibantu pekerja&nbsp; yang dibayar&nbsp; atau&nbsp; tidak dibayar&nbsp; atau sebagai pemilik modal. Penelitian ini menemukan bahwa status&nbsp; dalam berproduksi&nbsp; berusaha sendiri dengan jumlah 167 (42,82%)&nbsp; dibantu&nbsp; buruh tidak tetap/tidak&nbsp; dibayar sebesar 16 (9,61%), dibantu&nbsp; buruh tetap dan dibayar sebanyak 183 (48,20%),&nbsp; dibantu keluarga dan tidak&nbsp; dibayar sebanyak&nbsp; 10 (2,56%) dan sebagai pemilik modal, 9 (2,31%).&nbsp; Hal ini&nbsp;&nbsp; berarti dalam kegiatan produksi, responden&nbsp; yang melakukan sendiri merupakan kelompok&nbsp; paling banyak mengunakan jasa orang lain dan kepada mereka dibayarkan upah menempati urutan kedua. Kegiatan produksi&nbsp;&nbsp; yang dibantu&nbsp; buruh dan tidak dibayar merupakan status paling kecil.</p> <p> Islam menetapkan&nbsp; ketentuan bahwa pekerja&nbsp; sebelum&nbsp; bekerja&nbsp; diberitahu; tanggungjawab dan berapa upah dibayarkan. Pembayaran upah dilaksanakan dengan segera dan dalam setiap pembayaran upah dipertimbangkan &nbsp;kebutuhan pokok pekerja.&nbsp;&nbsp; Untuk&nbsp; melihat&nbsp; bagaimana perilaku&nbsp; responden yang mengunakan jasa orang lain/buruh, kepada mereka&nbsp; diajukan pertanyaan&nbsp; yang berkaitan dengan ketentuan Islam tentang ketenagakerjaan.&nbsp; Hasil menunjukkan bahwa terdapat 111 (59,04%)&nbsp;&nbsp; responden&nbsp; yang&nbsp; melakukan pembayaran upah dengan segera. Sebanyak 79&nbsp; (42,02%)&nbsp; responden yang selalu&nbsp; memberitahu&nbsp;&nbsp; pekerja berapa upah&nbsp; yang&nbsp; diterima.&nbsp; Terdapat 117 (62,23%) responden yang tidak pernah mempertimbangkan&nbsp; kebutuhan pokok pekerja&nbsp; dalam menetapkan jumlah upah yang akan&nbsp; diberikan&nbsp; kepada pekerja. Temuan ini&nbsp; membuktikan bahwa perilaku &nbsp;&nbsp;responden dalam mengunakan tenaga&nbsp; kerja&nbsp; sudah&nbsp; seperti yang ditentukan atau ditetapkan ajaran agama. Namun&nbsp; perilaku&nbsp; tersebut&nbsp; belum dijadikan hal&nbsp; yang rutin dan teratur dilakukan.</p> <p> &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Setelah mengetahui religiusitas&nbsp; dengan pendekatan kualitatif,&nbsp; penjelasan berikut akan menjawab&nbsp; pertanyaan apakah religiusitas tersebut memiliki pengaruh terhadap perilaku produksi dan jika ada,&nbsp; berapa&nbsp; besar pengaruh tersebut.&nbsp; Untuk keperluan itu &nbsp;peneliti memilih satu sub-variabel di masing-masing&nbsp; aspek <em>belief</em> dan&nbsp; ritual. Pemilihan ini didasari&nbsp; oleh pertimbangan sub-variabel yang dianggap paling penting&nbsp; dan dapat&nbsp; mewakili&nbsp; sub-variabel lainnya.</p> <p> Untuk <em>belief</em>&nbsp;&nbsp; yang diolah&nbsp;&nbsp; adalah&nbsp; keyakinan&nbsp; bahwa Tuhan Maha Melihat dan Mengawasi segala aktivitas serta untuk ritual diolah data yang berkaitan dengan&nbsp; frekuensi melaksanakan&nbsp; ibadah sholat wajib. Sedangkan untuk <em>dependent variabel </em>diolah data&nbsp; yang berkaitan perilaku dalam membayar upah sesuai waktu yang dijanjikan. Pengaruh&nbsp; masing-masing&nbsp; variabel&nbsp; dapat&nbsp; dilihat&nbsp; pada&nbsp; tabel 1</p> <p align="center"> &nbsp;</p> <p align="center"> Tabel &nbsp;Hasil&nbsp; Analisis Regresi Model Probit</p> <table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"> <tbody> <tr> <td style="width:158px;"> <p> Parameter</p> </td> <td style="width:85px;"> <p> B</p> </td> <td style="width:95px;"> <p> Std.Error</p> </td> <td style="width:125px;"> <p> Z statistics</p> </td> <td style="width:92px;"> <p> Probability</p> </td> </tr> <tr> <td style="width:158px;"> <p> Konstanta</p> </td> <td style="width:85px;"> <p> -0.104292</p> </td> <td style="width:95px;"> <p> 0.16054</p> </td> <td style="width:125px;"> <p> - 0.65</p> </td> <td style="width:92px;"> <p> 0.516</p> </td> </tr> <tr> <td style="width:158px;"> <p> Belief (X<sub>1</sub>)</p> </td> <td style="width:85px;"> <p> 0.1590182</p> </td> <td style="width:95px;"> <p> 0.12533</p> </td> <td style="width:125px;"> <p> &nbsp; 1.27</p> </td> <td style="width:92px;"> <p> 0.205</p> </td> </tr> <tr> <td style="width:158px;"> <p> Ritual (X<sub>2</sub>)&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p> </td> <td style="width:85px;"> <p> 0.1254844</p> </td> <td style="width:95px;"> <p> 0.16412</p> </td> <td style="width:125px;"> <p> &nbsp; 0.76</p> </td> <td style="width:92px;"> <p> 0.445</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p> Sumber: Data primer yang diolah&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dependent Var. (Y<sub>1</sub>):&nbsp; perilaku bayar upah</p> <p> *signifikan pada &alpha; = 5 %&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; X<sub>1 </sub>: Tuhan melihat segala aktivitas</p> <p> &nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;X<sub>2 </sub>: Frekuensi pelaksanaan ibadah sholat</p> <p> &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; wajib</p> <p> &nbsp;</p> <p> Data di tabel&nbsp; di atas&nbsp;&nbsp; menjelaskan&nbsp; bahwa variabel&nbsp; <em>belief </em>dan ritual tidak memiliki pengaruh&nbsp; signifikan&nbsp;&nbsp; terhadap perilaku membayar upah. Artinya, keyakinan bahwa&nbsp; Tuhan melihat segala&nbsp; aktivitas dan ibadah sholat&nbsp; yang dilaksanakan tidak membentuk dan mempengaruhi perilaku.&nbsp; Keyakinan hanya menjadi keyakinan semata. Begitu pula&nbsp; halnya dengan&nbsp; aspek&nbsp; ritual.&nbsp; Ibadah sholat yang&nbsp; dilakukan oleh Muslim tidak memiliki&nbsp; pengaruh dalam bentuk mendorong Muslim berperilaku sesuai yang&nbsp; dituntut &nbsp;&nbsp;ajaran agama. Perilaku sesuai&nbsp; dengan ajaran agama adalah membayar&nbsp; upah&nbsp; sesuai janji dan tepat waktu.&nbsp;&nbsp; Nilai-nilai&nbsp; keyakinan&nbsp; dan ritual tidak menjadi bagian <em>inhren</em> dalam perilaku&nbsp; produksi Muslim&nbsp; Minangkabau. Hasil uji regresi dengan&nbsp; Probit&nbsp;&nbsp; Model&nbsp; di atas menjelaskan kondisi bahwa keyakinan yang dianut dan ritual keagamaan yang selalu dilakukam secara&nbsp; rutin oleh Muslim Minangkabau tidak memiliki berpengaruh pada perilaku produksi. Keyakinan tidak tembus&nbsp; menjadi perilaku. Keyakinan dan praktik keagamaan Muslim&nbsp; Minangkabau Sumatera Barat belum memiliki kekuatan <em>(power)</em>&nbsp; membentuk dan mempengaruhi perilaku.</p> <p> Temuan penelitian ini menambahkan informasi&nbsp; temuan-temuan penelitan tentang religiusitas dan pengaruhnya &nbsp;dalam perilaku ekonomi. Meskipun penelitian sebelumya mengungkap bahwa&nbsp; &nbsp;religisiusitas memiliki pengaruh terhadap perilaku dalam keputusan membeli, orientasi belanja, dan pembelian ulang suatu produk namun kondisi tersebut&nbsp; tidak bisa digeneralisir.&nbsp; Penelitian ini menemukan hal berbeda dimana religiusitas tidak mempengaruhi dan membentuk perilaku ekonomi tepatnya perilaku produksi sekalipun religiusitas masyarakatnya baik. &nbsp;</p> <p> Peneliti terdahulu yang &nbsp;mengungkap bahwa muslim Indonesia mempunyai kesalehan ritual tinggi tapi kesalehan ritual yang tinggi tersebut tidak sejalan dengan perilaku Muslim di Indonesia. Mereka &nbsp;tidak mengaitkan ibadah &nbsp;dengan perilaku sosial.&nbsp; Temuan penelitian ini menguatkan apa yang telah diungkap oleh peneliti sebelumnya. Muslim Minangkabau sebagaimana ditemukan oleh peneliti terdahulu bahwa &nbsp;faktor&nbsp; agama&nbsp; tidak begitu penting sebagai pendorong mengunakan jasa lembaga keuangan syariah. Hal&nbsp; yang sama juga&nbsp; ditemukan dalam perilaku&nbsp; produksi muslim&nbsp; Minangkabau. &nbsp;Temuan penelitian ini menjelaskan&nbsp; bahwa Muslim Minangkabau menempatkan <em>belief</em> dan ritual lebih&nbsp; penting dibanding&nbsp; manisfestasi dalam tataran perilaku. &nbsp;Sehingga perilaku dan religiusitas tidak sejalan.</p> <p> &nbsp;</p> <p> 5. Kesimpulan</p> <p> Penelitian ini menemukan bahwa&nbsp; keyakinan yang dianut dan praktik keagamaan yang dilaksanakan &nbsp;oleh&nbsp; Muslim Minangkabau di Sumatera&nbsp; Barat&nbsp; tidak termanifetasi dalam perilaku ekonomi mereka.&nbsp; Keyakinan dan pelaksanaan ritual keagamaan &nbsp;merupakan hal yang terpisah dan berbeda dengan &nbsp;perilaku Muslim Minangkabau. Keyakinan dan ritual keagamaan&nbsp; tidak memiliki pengaruh terhadap perilaku Muslim Minangkabau&nbsp; dalam kegiatan produksi pertanian sebagai&nbsp; sektor&nbsp; dan profesi&nbsp; mayoritas masyarakat Minangkabau.</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <p> &nbsp;</p> <div> <br clear="all" /> <hr align="left" size="1" width="33%" /> <div id="ftn1"> <p> <a href="#_ftnref1" name="_ftn1" title="">[1]</a> Syarifuudin, Amir., &nbsp;<em>Pelaksanakaan Hukum Kewarisan Islam di Lingkungan Adat&nbsp; Minangkabau, </em></p> <p> (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hal. 163-170</p> </div> <div id="ftn2"> <p> <a href="#_ftnref2" name="_ftn2" title="">[2]</a>Nursyirwan, <em>Manusia Minangkabau Iduik Bajaso Mati Bapusako, Alam Takambang Jadi Guru, </em></p> <p> (Yogyakarta: Gre Publishing,2010), hal.27</p> </div> <div id="ftn3"> <p> <a href="#_ftnref3" name="_ftn3" title="">[3]</a> Syarifuddin, Amir., &nbsp;<em>Pelaksanakaan Hukum Kewarisan Islam di Lingkungan Adat&nbsp; Minangkabau, </em></p> <p> (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hal. 163-170</p> </div> <div id="ftn4"> <p> <a href="#_ftnref4" name="_ftn4" title="">[4]</a> Naim, Mucthar, 1975, Merantau, Minangkabau VolantaryMigration, University of Singgapore.,</p> <p> hal: 56</p> </div> <div id="ftn5"> <p> <a href="#_ftnref5" name="_ftn5" title="">[5]</a> Oki, Akira, 1972&cedil; Social Change in The West SumatranVillage: 1908-1945,</p> <p> http://hdl.handle.net/10086/16895. akses 21 Sept 2017</p> </div> <div id="ftn6"> <p> <a href="#_ftnref6" name="_ftn6" title="">[6]</a> Kahn, S. Joel, 1975.,<em>Minangkabau Social Formation</em> <em>Indonesia Peasant and The WorldEconomy, </em></p> <p> Cambridge Studies In Social Antrophology, hal: 37-56</p> </div> <div id="ftn7"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref7" name="_ftn7" title="">[7]</a> Effendi, N. (1999)., <em>Minangkabau Rural Market: Their System, Roles dan Function&nbsp; in </em></p> <p> <em>the&nbsp; Market Community of West Sumatera.</em> Universit&auml;t Bielefeld</p> </div> <div id="ftn8"> <p> <a href="#_ftnref8" name="_ftn8" title="">[8]</a> Karimi, Syafruddin., &nbsp;<em>Land Concentration and Rural Income&nbsp; Inequality in Indonesia, </em>Journal of Asian and Pacific&nbsp; Studies, No.3 hal.137-148</p> </div> <div id="ftn9"> <p> <a href="#_ftnref9" name="_ftn9" title="">[9]</a> BI dan Pusat Penelitian Universitas Andalas, 2001, <em>Preferensi Masyarakat Minangkabau </em></p> <p> <em>Terhadap BankSyariah</em><em>, </em>hal: 1-50<em>.</em></p> </div> <div id="ftn10"> <p> <a href="#_ftnref10" name="_ftn10" title="">[10]</a> Hesi&nbsp; Eka Puteri,dkk.,&nbsp; 2018., <em>Survey&nbsp; Preferensi&nbsp; dan&nbsp; Potensi&nbsp; Masyarakat Terhadap&nbsp; Bank </em></p> <p> <em>Syariah di Provinsi Sumatera&nbsp; Barat</em>, Laporan Penelitian Kelompok atas Kerjasama Bank nagari dengan Universitas Dharma&nbsp; Andalas</p> </div> <div id="ftn11"> <p> <a href="#_ftnref11" name="_ftn11" title="">[11]</a> M.Akram Khan,&nbsp; 1984, <em>Nature and need to Islamic Economic,</em> J. Rs islamic Economic. Vol.1</p> <p> No. 2 pp.51-55</p> </div> <div id="ftn12"> <p style="margin-left:7.1pt;"> <a href="#_ftnref12" name="_ftn12" title="">[12]</a>Kahf, Monzer. (ed.), <em>The&nbsp; Theory of Production, (</em>Malaysia: Longman Malaysia Sdn.Bhd,1992).</p> <p style="margin-left:7.1pt;"> ,hal:27</p> </div> <div id="ftn13"> <p> <a href="#_ftnref13" name="_ftn13" title="">[13]</a>Siddiqi, Muhammad Najetullah., <em>Islamic Producer Beharvior</em><em>, (</em>Logman&nbsp; Malaysia Sdn.Bh,1992),</p> <p> .hal: 130</p> </div> <div id="ftn14"> <p> <a href="#_ftnref14" name="_ftn14" title="">[14]</a>Manan. Muhammad Abdul, <em>Islamic Economy: Theory and Practice</em>. (England: Edward Arnold</p> <p> Limited,1993), hal 140</p> </div> <div id="ftn15"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref15" name="_ftn15" title="">[15]</a>Nurdiana, Ilfi., <em>Hadist-hadist&nbsp; Ekonomi</em>. (Malang: UIN Press, 2011). hal:56</p> </div> <div id="ftn16"> <p> <a href="#_ftnref16" name="_ftn16" title=""></a>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; [16]Manan. Muhammad Abdul, <em>Islamic Economy: Theory and Practice</em>. (England: Edward Arnold</p> <p> Limited, 1993). hal: 105</p> </div> <div id="ftn17"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref17" name="_ftn17" title="">[17]</a>Qhardawi, Yusuf&nbsp; <em>Norma Etika Ekonomi Islam</em>. (Jakarta: Gema Insani, 1997) hal:87</p> </div> <div id="ftn18"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref18" name="_ftn18" title="">[18]</a>Rahman, Afzalur,<em>Economic Doctrines of Islam (terj)</em>. (Jakarta: Dhana Bakti, 1995)., hal:97</p> </div> <div id="ftn19"> <p> <a href="#_ftnref19" name="_ftn19" title=""></a>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; [19]Manan. Muhammad Abdul, <em>Islamic Economy: Theory and Practice</em>. (England: Edward Arnold</p> <p> Limited,1993), hal: 92</p> </div> <div id="ftn20"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref20" name="_ftn20" title="">[20]</a>Diana, Ilfi , <em>Hadist-hadist Ekonomi</em>. (Malang: UIN Malang Press, 2011), hal:45</p> </div> <div id="ftn21"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref21" name="_ftn21" title="">[21]</a>Rahman, Afzalur, <em>Economic Doctrines of Islam (terj)</em>. (Jakarta: Dhana Bakti, 1995).,hal:121</p> </div> <div id="ftn22"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref22" name="_ftn22" title="">[22]</a>Bukhari, <em>Himpunan Hadist Shahih</em>. (Bandung: Mizan, 2000)., hal:324</p> </div> <div id="ftn23"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref23" name="_ftn23" title="">[23]</a>Basyir, Ahmad Azhar,&nbsp; <em>Refleksi Atas Persoalan Ke</em><em>i</em><em>slaman.</em>(Bandung: Mizan, 1996)., hal:157</p> </div> <div id="ftn24"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref24" name="_ftn24" title="">[24]</a>Delener, Nejdet. (1990)., <em>&nbsp;The Effects of </em>&nbsp;<em>Religious </em>&nbsp;<em>Factors on </em>&nbsp;<em>Perceived </em>&nbsp;<em>Risk in </em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>Durable </em>&nbsp;<em>Goods </em>&nbsp;<em>Purchase </em>&nbsp;<em>Decisions. </em>Journal of Consumer Marketing, hal: 27 - 38</p> </div> <div id="ftn25"> <p> <a href="#_ftnref25" name="_ftn25" title="">[25]</a> Burnett, John J and Stephen&nbsp;W.&nbsp;McDaniel, &nbsp;(1990).,&nbsp; <em>Consumer Religiuos and Retail Store </em></p> <p> <em>Evalution Criteria. </em>Journal the Academy of Marketing Science hal:84</p> </div> <div id="ftn26"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref26" name="_ftn26" title="">[26]</a> Shafranske, Edwar.P and Newton.H. Malony (1990)., &nbsp;C<em>linical </em><em>P</em><em>sychologists&#39; </em><em>R</em><em>eligious and </em><em>S</em><em>piritual </em><em>O</em><em>rientations</em> <em>&nbsp;and </em><em>T</em><em>heir </em><em>P</em><em>ractice of </em><em>P</em><em>sychotherapy.</em> Psychotherapy, hal: 72‐78</p> </div> <div id="ftn27"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref27" name="_ftn27" title="">[27]</a> Worthington, E. L. Jr. Wade,N.G, dkk &nbsp;(2003)., &nbsp;<em>The Religious Commitment Inventory-</em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>10: Development, </em>&nbsp;<em>Refinement and Validation of a Brief Scale for Research and </em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>Counseling. </em>Journal of Counseling Psychology, hal: 84-96</p> </div> <div id="ftn28"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref28" name="_ftn28" title="">[28]</a> Muctharam, F. N. (2002), <em>Mengembangkan Kreatifitas Dalam Perspektif Psikologi </em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>Islami .</em> Jogyakarta: Menara Jogyakarta, hal:67</p> </div> <div id="ftn29"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref29" name="_ftn29" title="">[29]</a> Pepinsky, Thomas B, (2013a)., <em>Development, Social Change and Islamic Finance in</em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>Contemporary Indonesia.</em> World Development, Vol.14, 157-167</p> </div> <div id="ftn30"> <p align="center" style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref30" name="_ftn30" title="">[30]</a> Vaos, David dan McAndrew Siobhan (2011).,&nbsp; <em>Measuring Religiosity Using Surveys.</em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> Question Bank, hal:1-15</p> </div> <div id="ftn31"> <p align="center" style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref31" name="_ftn31" title="">[31]</a> Khairin, H. (2010)., <em>&nbsp;Measuring Religiosity in Consumer Research from Islamic</em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>Perspective</em> . International Journal of Marketing Studies, hal:166-179</p> </div> <div id="ftn32"> <p align="center" style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref32" name="_ftn32" title="">[32]</a> Bergan, Anne, and&nbsp; &nbsp;<a href="http://www.tandfonline.com/author/McConatha%2C+Jasmin+Tahmeseb">Jasmin Tahmeseb McConatha&nbsp;</a>(2001)., &nbsp;<em>Religiosity and Life</em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>Satisfaction.</em> Activities, Adaptation, hal: 23-34</p> </div> <div id="ftn33"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref33" name="_ftn33" title="">[33]</a> Usman, Hardius. (2015)., <em>Hubungan Religiusitas Dan Pemilihan Bank Islam Dengan</em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>Memperhitungkan Peran Norma Religius, Trust, Importance of Bank Attributes.</em> Jakarta:</p> <p style="margin-left:36.0pt;"> Disertasi pada FE UI</p> </div> <div id="ftn34"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref34" name="_ftn34" title="">[34]</a> Bergan, Anne, and&nbsp; &nbsp;<a href="http://www.tandfonline.com/author/McConatha%2C+Jasmin+Tahmeseb">Jasmin Tahmeseb McConatha&nbsp;</a>(2001)., &nbsp;<em>Religiosity and Life</em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>Satisfaction.</em> Activities, Adaptation, 23-34</p> </div> <div id="ftn35"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref35" name="_ftn35" title="">[35]</a> Allport, G. and Ross., (1967)., &nbsp;<em>Personal Religious Orientation and Prejudice</em>. Journal</p> <p style="margin-left:36.0pt;"> of Personality and Social Psychology, 32-443</p> </div> <div id="ftn36"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref36" name="_ftn36" title="">[36]</a> Sood, James dan Nasu, Yukio. (1995)., &nbsp;<em>Religiosity and Nationality: An Exploratory</em></p> <p align="center" style="margin-left:36.0pt;"> <em>Study of </em><em>T</em><em>heir </em><em>E</em><em>ffect on </em><em>C</em><em>oncumer </em><em>B</em><em>ehavior in Japan</em>. Journal of Business Research, 1-4</p> </div> <div id="ftn37"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref37" name="_ftn37" title="">[37]</a> Lenski. G. (1961)., <em>Religious Factor.</em> New York: Doubleday</p> </div> <div id="ftn38"> <p> <a href="#_ftnref38" name="_ftn38" title="">[38]</a>Stark, Rodney and Charles Young Glock, &nbsp;(1965)., <em>Religion and Society in Social</em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>Tension.</em> USA: Rand McNAlly and Company</p> </div> <div id="ftn39"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref39" name="_ftn39" title="">[39]</a> Youssef, Marriam Abou W. K. (2011)., &nbsp;<em>Measuring Islamic-Driven Buyer Behavioral </em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>Implication: A Propose Market Minded Religiosity Scale.</em> Journal of America</p> <p style="margin-left:36.0pt;"> Science, 788-801</p> </div> <div id="ftn40"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref40" name="_ftn40" title="">[40]</a> Taai, N. M. (1985).,&nbsp; <em>Religious Behavior Scale.</em> &nbsp;Kuwait: Arrobyaan Publishing</p> </div> <div id="ftn41"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref41" name="_ftn41" title="">[41]</a> Alsanie, S. I. (1989),&nbsp; <em>Relationship</em> &nbsp;<em>B</em><em>etween</em> &nbsp;<em>L</em><em>evel of Religiosity and Criminal </em></p> <p> <em>Behavior.</em>, Saudi Arabia.: Imam Ibn Suad Islamic University</p> </div> <div id="ftn42"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref42" name="_ftn42" title="">[42]</a> Usman, Hardius. (2015)., <em>Hubungan Religiusitas Dan Pemilihan Bank Islam Dengan </em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>Memperhitungkan Peran Norma Religius, Trust, Importance of Bank Attributes.</em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> Jakarta: Disertasi pada FE UI</p> </div> <div id="ftn43"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref43" name="_ftn43" title="">[43]</a> Krauss.et.al. (2005)., &nbsp;<em>The Muslim Religiosity-Personality Inventory : Towards </em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>Understanding Difference in the Islamic Religiosity among t</em><em>he M</em><em>alaysia </em><em>Y</em><em>outh</em>.</p> <p style="margin-left:36.0pt;"> Pertanika J Soc.Sci &amp; Hum, 173-186</p> </div> <div id="ftn44"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref44" name="_ftn44" title="">[44]</a> Tiliouine, H. B. (2009)., &nbsp;<em>An Exploratory Study of Religiosity, Meaning in Life and </em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>Subjective Wellbeing in Muslim Students from Algeria,.</em> Applied Research</p> <p style="margin-left:36.0pt;"> Quality Life, 109-127</p> </div> <div id="ftn45"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref45" name="_ftn45" title="">[45]</a> Shamsuddin, Q.M.I (1992)., &nbsp;<em>Dimensions of Muslim Religiosity: Measurement </em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>Considerations. </em>&nbsp;Zafar &nbsp;Afaq Anshari (ed)., <em>Qur&rsquo;anic Concepts of Human Psyche</em> (pp. 99-</p> <p style="margin-left:36.0pt;"> 114. ). Islamabad: Institute of Islamic and Culture</p> </div> <div id="ftn46"> <p> <a href="#_ftnref46" name="_ftn46" title="">[46]</a> <a href="https://search.proquest.com/indexinglinkhandler/sng/au/Riaz+Hassan/$N;jsessionid=1F5637450432EFB326BE1241CD1620F9.i-07308255e850debea" title="Click to search for more items by this author">Hassan</a>, Riaz., <em>On Being Religious: Patterns of Religious Commitment in Muslim Societies . </em><a href="https://search.proquest.com/pubidlinkhandler/sng/pubtitle/The+Muslim+World/$N/36539/OpenView/216432602/$B/85254A3CE94E4289PQ/1;jsessionid=1F5637450432EFB326BE1241CD1620F9.i-07308255e850debea" title="Click to search for more items from this journal"><em>The &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Muslim &nbsp;&nbsp;&nbsp;World</em></a>; Hartford<a href="https://search.proquest.com/indexingvolumeissuelinkhandler/36539/The+Muslim+World/02007Y07Y01$23Jul+2007$3b++Vol.+97+$283$29/97/3;jsessionid=1F5637450432EFB326BE1241CD1620F9.i-07308255e850debea" title="Click to search for more items from this issue">&nbsp;Vol.&nbsp;97,&nbsp;Iss.&nbsp;3,&nbsp;</a> (Jul 2007): 437-478.</p> </div> <div id="ftn47"> <p> <a href="#_ftnref47" name="_ftn47" title="">[47]</a> Pepinski, B.Thomas,&nbsp; Development, Social Change, and Islamic Finance in Contemporary</p> <p> Indonesia, World Developmet, Vol. 41, pp. 157&ndash;167, 2013</p> </div> <div id="ftn48"> <p> <a href="#_ftnref48" name="_ftn48" title="">[48]</a> <a href="https://www.emeraldinsight.com/author/Usman%2C+Hardius">Hardius Usman</a>, <a href="https://www.emeraldinsight.com/author/Tjiptoherijanto%2C+Prijono">Prijono Tjiptoherijanto</a>, <a href="https://www.emeraldinsight.com/author/Balqiah%2C+Tengku+Ezni">Tengku Ezni Balqiah</a>, <a href="https://www.emeraldinsight.com/author/Agung%2C+I+Gusti+Ngurah">I. Gusti Ngurah Agung</a>, (2017) &nbsp;&nbsp;<em>The role of religious norms, trust, importance of attributes and information sources in the relationship between religiosity and selection of the Islamic bank</em>, Journal of Islamic Marketing, Vol. 8 Issue: 2, pp.158-186, <a href="https://doi.org/10.1108/JIMA-01-2015-0004">https://doi.org/10.1108/JIMA-01-2015-0004</a></p> </div> <div id="ftn49"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref49" name="_ftn49" title="">[49]</a> Rehman, Ateeq ur. (2003)., <em>&nbsp;The Relationship Between Religiosity and New Product</em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>Adoption</em>. Journal of Islamic Marketing, 63-69</p> </div> <div id="ftn50"> <p> <a href="#_ftnref50" name="_ftn50" title="">[50]</a> Mokhlis, S, <em>The </em><em>E</em><em>ffect of </em><em>R</em><em>eligiosity on </em><em>S</em><em>hopping </em><em>O</em><em>rientasi: An Exporatory Study in Malaysia. </em></p> <p> Journal American Academi Business,(2006),hal:64-74</p> </div> <div id="ftn51"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref51" name="_ftn51" title="">[51]</a> Gehrt, S. S. (1996)., <em>&nbsp;Hispanic and Nature America Adolescent: An Exploratory </em><em>S</em><em>tudy of </em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>T</em><em>heir </em><em>A</em><em>pproach to </em><em>S</em><em>hopping. </em>Journal of Retailing , 107-324</p> </div> <div id="ftn52"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref52" name="_ftn52" title="">[52]</a> Wilkes, Robert . E.Jhon J Bunett., Roy D Howell., &nbsp;(1986)., &nbsp;<em>On the Meaning and </em></p> <p> <em>Measurement of Religiosity in Consumer Research</em>. Journal of the Academy of Marketing</p> <p style="margin-left:36.0pt;"> Science, 47-56</p> </div> <div id="ftn53"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref53" name="_ftn53" title="">[53]</a> Schiffman, L.G, dkk (1988)., &nbsp;<em>Family Decision Making: The Impact of Religious Factors&#39; </em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>in 1988</em>. AMA Educators&#39; Cenference (pp. 80-83). Chicago: America Marketing</p> <p style="margin-left:36.0pt;"> Assosiation</p> </div> <div id="ftn54"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref54" name="_ftn54" title="">[54]</a> Sood, James dan Nasu, Yukio. (1995)., &nbsp;<em>Religiosity and Nationality: An Exploratory </em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>Study of </em><em>T</em><em>heir </em><em>E</em><em>ffect on </em><em>C</em><em>oncumer </em><em>B</em><em>ehavior in Japan</em>. Journal of Business Research, 1-4</p> </div> <div id="ftn55"> <p style="margin-left:36.0pt;"> <a href="#_ftnref55" name="_ftn55" title="">[55]</a> Kamaruddin, A. (2007)., &nbsp;<em>Religiousity and Shopping Orinetation: A Comparative Study </em></p> <p style="margin-left:36.0pt;"> <em>of Malaysia and Thailand Consumer</em>. &nbsp;Journal of Global Business Management Vol. 3</p> <p style="margin-left:36.0pt;"> No. 2</p> <p> &nbsp;</p> </div> </div> <p> &nbsp;</p>

10 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ResearchOpen AccessPDF tersedia

Examining the Contribution of Transformational Leadership Style and Affective Commitment to Organizational Citizenship Behavior (OCB)

2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian

<p> Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan transformasional<br /> terhadap komitmen afektif, gaya kepemimpinan transformasional terhadap perilaku kewargaan<br /> organisasional, komitmen afektif terhadap perilaku kewargaan organisasional, dan gaya<br /> kepemimpinan transformasional terhadap perilaku kewargaan organisasional yang dimediasi<br /> oleh komitmen afektif pada karyawan Bank Muamalat Indonesia Cabang Padang.</p>

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ResearchOpen AccessMetadata saja

Examining the Contribution of Transformational Leadership Style and Affective Commitment to Organizational Citizenship Behavior (OCB)

2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian

<p style="text-align: justify;"> <span class="markedContent" id="page3R_mcid41"><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 167.233px; top: 806.317px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(1.02414);">Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan transformasional</span><br role="presentation" /> <span dir="ltr" role="presentation" style="left: 167.233px; top: 826.917px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.972613);">terhadap komitmen afektif, gaya kepemimpinan transformasional terhadap perilaku kewargaan</span><br role="presentation" /> <span dir="ltr" role="presentation" style="left: 167.233px; top: 847.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.942601);">organisasional,</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 271.469px; top: 847.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 284.386px; top: 847.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.975553);">komitmen</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 357.195px; top: 847.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 369.965px; top: 847.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.939664);">afektif</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 415.1px; top: 847.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 428.127px; top: 847.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.975331);">terhadap</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 489.914px; top: 847.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 502.905px; top: 847.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.939224);">perilaku</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 559.54px; top: 847.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 572.273px; top: 847.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.937044);">kewargaan</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 646.627px; top: 847.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 659.617px; top: 847.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.942102);">organisasional,</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 763.798px; top: 847.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 776.752px; top: 847.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.977947);">dan</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 802.733px; top: 847.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 815.723px; top: 847.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.883094);">gaya</span><br role="presentation" /> <span dir="ltr" role="presentation" style="left: 167.233px; top: 868.317px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.996637);">kepemimpinan transformasional terhadap perilaku kewargaan organisasional yang dimediasi</span><br role="presentation" /> <span dir="ltr" role="presentation" style="left: 167.233px; top: 888.917px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.964619);">oleh komitmen afektif pada karyawan Bank Muamalat Indonesia Cabang Padang. Penelitian ini</span><br role="presentation" /> <span dir="ltr" role="presentation" style="left: 167.233px; top: 909.517px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.999477);">dilakukan di Bank Muamalat Indonesia Cabang Padang, dengan sampel dalam penelitian ini</span><br role="presentation" /> <span dir="ltr" role="presentation" style="left: 167.233px; top: 930.117px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.999794);">berjumlah 60 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan teknik analisis data</span><br role="presentation" /> <span dir="ltr" role="presentation" style="left: 167.233px; top: 950.717px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.968292);">dalam penelitian ini yaitu analisa deskriptif dan uji analisis regresi.</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 644.327px; top: 950.717px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 650.917px; top: 950.717px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.962993);">Hasil analisis menunjukkan</span><br role="presentation" /> <span dir="ltr" role="presentation" style="left: 167.233px; top: 971.367px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(1.02919);">bahwa terdapat pengaruh yang signifikan gaya kepemimpinan transformasional</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 769.447px; top: 971.367px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 784.967px; top: 971.367px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.978526);">terhadap</span><br role="presentation" /> <span dir="ltr" role="presentation" style="left: 167.233px; top: 991.967px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.978512);">komitmen</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 240.263px; top: 991.967px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 255.811px; top: 991.967px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.930604);">afektif,</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 304.792px; top: 991.967px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 320.34px; top: 991.967px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.883094);">gaya</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 351.013px; top: 991.967px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 366.524px; top: 991.967px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.965706);">kepemimpinan</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 472.14px; top: 991.967px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 487.706px; top: 991.967px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.963583);">transformasional</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 606.901px; top: 991.967px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 622.413px; top: 991.967px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.978526);">terhadap</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 684.402px; top: 991.967px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 700.317px; top: 991.967px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.935867);">perilaku</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 756.749px; top: 991.967px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 772.279px; top: 991.967px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.937044);">kewargaan</span><br role="presentation" /> <span dir="ltr" role="presentation" style="left: 167.233px; top: 1012.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.942601);">organisasional,</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 271.469px; top: 1012.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 288.433px; top: 1012.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.975307);">komitmen</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 361.224px; top: 1012.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 373.423px; top: 1012.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.939664);">afektif</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 418.558px; top: 1012.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 430.978px; top: 1012.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.978526);">terhadap</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 492.968px; top: 1012.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 505.369px; top: 1012.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.935867);">perilaku</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 561.802px; top: 1012.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 574.13px; top: 1012.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.937044);">kewargaan</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 648.485px; top: 1012.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 660.886px; top: 1012.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.943933);">organisasional,</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 765.269px; top: 1012.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 777.432px; top: 1012.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.977947);">dan</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 803.413px; top: 1012.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 815.814px; top: 1012.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.883094);">gaya</span><br role="presentation" /> <span dir="ltr" role="presentation" style="left: 167.233px; top: 1033.37px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.996637);">kepemimpinan transformasional terhadap perilaku kewargaan organisasional yang dimediasi</span><br role="presentation" /> <span dir="ltr" role="presentation" style="left: 167.233px; top: 1053.97px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(1.03872);">oleh komitmen afektif pada karyawan bank muamalat indonesia cabang padang. Temuan</span><br role="presentation" /> <span dir="ltr" role="presentation" style="left: 167.233px; top: 1074.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.947807);">penelitian</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 236.013px; top: 1074.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 252.407px; top: 1074.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.971647);">berkontribusi</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 347.774px; top: 1074.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 364.15px; top: 1074.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.965205);">pada</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 397.675px; top: 1074.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 413.922px; top: 1074.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.965897);">pengembangan</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 521.507px; top: 1074.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 537.901px; top: 1074.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.976655);">sumber</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 590.82px; top: 1074.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 607.251px; top: 1074.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.911701);">daya</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 638.917px; top: 1074.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 655.22px; top: 1074.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.9534);">manusia</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 713.695px; top: 1074.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 729.979px; top: 1074.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.936361);">sehingga</span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 791.233px; top: 1074.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif;"> </span><span dir="ltr" role="presentation" style="left: 807.535px; top: 1074.57px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.974254);">dapat</span><br role="presentation" /> <span dir="ltr" role="presentation" style="left: 167.233px; top: 1094.97px; font-size: 18.4px; font-family: serif; transform: scaleX(0.948457);">meningkatkan kinerja karyawan perusahaan.</span></span></p>

11 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Analisis Theory Of Planned Behavior (TPB) Terhadap Keputusan Masyarakat Kamang Mudiak Menjadi Nasabah Simpanan Tamara ( Studi Kasus Pada Koperasi Konsumen Syariah BMT Agam Madani Nagari Kamang Mudiak Lamo)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keputusan masyarakat menjadi nasabah Simpanan Tamara berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB) yang meliputi sikap (attitude toward behavior), norma subjektif (subjective norm), dan persepsi kontrol perilaku (perceived bevavioral control). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan masyarakat untuk memilih Simpanan Tamara pada Koperasi Konsumen Syariah BMT Agam Madani Nagari Kamang Mudiak Lamo didasarkan pada berbagai pertimbangan. Masyarakat mempertimbangkan manfaat yang diperoleh dari produk Simpanan Tamara, dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar, serta kemudahan dan keyakinan dalam menggunakan produk tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa keputusan masyarakat untuk menjadi nasabah dapat dipahami melalui tiga komponen dalam Theory of Planned Behavior (TPB), yaitu attitude toward behavior, subjective norm, dan perceived behavioral control. Ketiga komponen tersebut saling melengkapi dalam proses pengambilan keputusan, sehingga masyarakat memiliki keyakinan untuk memilih Simpanan Tamara sebagai produk simpanan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi mereka.

7 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Analisis Pengaruh Green Financial Literacy (GFL) Lembaga Keuangan Syariah Terhadap Keputusan Pelaku Usaha Kecil dalam Mengambil Pembiayaan Ramah Lingkungan (Studi Kasus Pasar Sarilamak, Kec. Harau)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Analisis Pengaruh Green Financial Literacy (GFL) Lembaga Keuangan Syariah Terhadap Keputusan Pelaku Usaha Kecil Dalam Mengambil Pembiayaan Ramah Lingkungan (Studi Kasus Pasar Sarilamak, Kec. Harau)” oleh Melinza Tania NIM. 3322151 Program Studi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam dengan dosen pembimbing Yenty Astarie Dewi, S.E, M.M. Penelitian ini di latarbelakangi oleh rendahnya adopsi pembiayaan hijau di Pasar Sarilamak hanya kurang dari 2% (5 dari 300 pelaku usaha kecil) meskipun jumlah pelaku usaha terus meningkat, diduga karena lemahnya literasi keuangan hijau. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Green Financial Literacy (GFL) Lembaga keuangan Syariah terhadap keputusan pelaku usaha kecil dalam mengambil pembiayaan ramah lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif asosiatif kausal dan teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling sebanyak 75 responden. Jenis data yang digunakan data primer (kuesioner) dan data sekunder (data dari pengelola pasar, website OJK). Teknik analisis meliputi uji instrumen, uji asumsi klasik, uji regresi linear sederhana dan uji hipotesis menggunakan aplikasi SPSS versi 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Green Financial Literacy (GFL) Lembaga Keuangan Syariah berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pelaku usaha kecil dalam mengambil pembiayaan ramah lingkungan dengan nilai koefisien 12,009 dan tingkat signifikan 0,000 0,05.

12 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

PENGARUH KONSELING BEHAVIORISTIK TERHADAP ACADEMIC HARDINESS SISWA MAN 2 BUKITTINGGI

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya academic hardiness sebagian siswa di MAN 2 Bukittinggi. Kondisi tersebut terlihat dari kurangnya ketahanan siswa dalam menghadapi tekanan akademik, mudah menyerah ketika mengalami kesulitan belajar, kurang mampu mengontrol perilaku dalam menghadapi tantangan akademik, serta rendahnya komitmen dalam menyelesaikan tugas sekolah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan academic hardiness siswa adalah melalui konseling kelompok dengan pendekatan behavioristik. Konseling kelompok memberikan kesempatan kepada siswa untuk membahas permasalahan akademik dalam suasana kelompok, sedangkan pendekatan behavioristik digunakan untuk membantu siswa mengidentifikasi, mengubah, dan mempertahankan perilaku belajar yang lebih adaptif melalui pemberian penguatan dan latihan perilaku. Penelitin ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis Pre Eksperimen Design, dengan model One Group Pretest dan Posttest. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 75 siswa di kelas X MAN 2 Bukittinggi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive samping, sampel penelitian ini sebanyak 8 siswa. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu kuisioner academic hardiness yang dikembangkan oleh penulis. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon renk test dengan bantuan SPSS versi 26. Hasil penelitian yang diolah menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa, nilai Asymp sig 2-tailed diperoleh nilai sebesar 0,012 yang berarti lebih kecil dari 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa layanan konseling behavioristik berpengaruh terhadap academic hardiness siswa di MAN 2 Bukittinggi.

4 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Pengaruh Perceived Usefulneess, Perceived Ease Of Use, Perceived Donor Effectiveness Terhadap Niat Wakaf Melalui Uang Dengan Religiosity Sebagai Variabel Moderasi Di Badan Wakaf Al Quran

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Tesis ini disusun oleh Eli Febrian, NIM 30124015 Program Studi S2 Ekonomi Syariah, UIN Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi, dengan judul Pengaruh Perceived Usefulneess, Perceived Ease Of Use, Perceived Donor Effectiveness Terhadap Niat Wakaf Melalui Uang Dengan Religiosity Sebagai Variabel Moderasi Di Badan Wakaf Al Quran Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, dan Perceived Donor Effectiveness terhadap niat wakaf melalui uang, serta menguji peran Religiosity sebagai variabel moderasi pada Badan Wakaf Al-Quran (BWA). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya realisasi penghimpunan wakaf uang di Indonesia meskipun memiliki potensi yang sangat besar, sehingga diperlukan pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi niat masyarakat dalam berwakaf melalui platform digital. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksplanatori. Populasi penelitian adalah masyarakat yang pernah atau memiliki pengetahuan mengenai wakaf melalui uang pada Badan Wakaf Al-Quran. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 260 orang. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner menggunakan skala Likert dan dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perceived Ease of Use berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat wakaf melalui uang, demikian pula Perceived Donor Effectiveness berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat wakaf melalui uang. Sebaliknya, Perceived Usefulness tidak berpengaruh signifikan terhadap niat wakaf melalui uang. Selain itu, Religiosity tidak mampu memoderasi pengaruh Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, maupun Perceived Donor Effectiveness terhadap niat wakaf melalui uang. Model penelitian memiliki tingkat kelayakan yang baik dengan nilai Goodness of Fit (GoF) sebesar 0,722 yang menunjukkan kategori large fit, sehingga model mampu menjelaskan hubungan antarvariabel secara baik. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa peningkatan niat masyarakat untuk berwakaf melalui uang lebih dipengaruhi oleh kemudahan penggunaan layanan digital dan keyakinan bahwa wakaf yang diberikan memberikan manfaat nyata bagi penerima. Oleh karena itu, Badan Wakaf Al-Quran perlu meningkatkan kualitas layanan digital, transparansi pengelolaan dana, serta penyampaian informasi mengenai dampak wakaf agar dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam wakaf melalui uang.

5 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Strategi Guru PAI Dalam Meningkatkan Keefektifan Pembelajaran Melalui Identifikasi Keadaan Siswa (Entry Behavior) di SMPN 25 Kerinci

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Abel Yolanda IM. 2122215. Skripsi “Strategi Guru PAI Dalam Meningkatkan Keefektifan Pembelajaran Melalui Identifikasi Keadaan Siswa (Entry Behavior) di SMPN 25 Kerinci” Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi 2026 M/1447 H. Salah satu faktor penting yang memengaruhi keaktifan siswa dalam pembelajaran adalah pengenalan keadaan awal siswa atau entry behavior. Temuan peneliti menunjukan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam masih belum optimal. Sebagian siswa cenderung pasif, kurang berani bertanya, serta belum menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran. Kurangnya variasi media dan metode pembelajaran yang digunakan guru juga menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya keaktifan siswa. Tujuan penelitian dalam skripsi ini Adalah untuk mengetahui strategi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam meningkatkan keaktifan pembelajaran melalui identifikasi keadaan siswa (entry behavior) di kelas VII SMP Negeri 25 Kerinci, dan mengetahui faktor penghambat serta pendukung dalam penerapan strategi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini Adalah kualitatif. Adapun tempat dalam penelitian ini, SMP Negeri 25 Kerinci. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data terdiri dari guru PAI, siswa kelas VII, serta pihak terkait di lingkungan sekolah. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diuji dengan teknik triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi guru PAI dalam meningkatkan keaktifan pembelajaran melalui identifikasi kondisi awal siswa dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu mengadakan diskusi singkat sebelum pembelajaran inti untuk mengetahui pemahaman awal siswa, menerapkan metode pembelajaran aktif seperti tanya jawab dan diskusi kelompok untuk mendorong partisipasi siswa, serta menyesuaikan metode pembelajaran dengan tingkat pemahaman siswa. Adapun faktor pendukung meliputi motivasi belajar siswa, penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi, suasana kelas yang kondusif, serta ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai. Sementara itu, faktor penghambat meliputi perbedaan kemampuan awal siswa, keterbatasan waktu pembelajaran, rendahnya kepercayaan diri sebagian siswa, serta jumlah siswa yang cukup banyak dalam satu kelas. Hal ini juga sejalan dengan nilai filosofis dalam Q.S. An-Nahl ayat 43 yang mendorong peserta didik untuk aktif bertanya serta Q.S. Al-Baqarah ayat 286 yang menegaskan bahwa pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu. Kata Kunci: Strategi Guru PAI, Keaktifan Siswa, Entry Behavior

6 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Pemaknaan Financial Behavior Dan Risk Tolerance Dalam Pengambilan Keputusan Investasi Karyawan Bank Muamalat KC Padang Pada Instrumen Keuangan Syariah

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi dengan judul Pemaknaan Financial Behavior Dan Risk Tolerance Pada Pengambilan Keputusan Karyawan Bank Muamalat KC Padang Di Instrumen Keuangan Syariah yang disusun oleh Febriza Rahmayani, NIM 3322329, skripsi mahasiswa Program Studi S1 Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negri (UIN) Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi. Dengan Dosen Pembimbing Dr. Bapak Baginda Parsaulian, SE, ME. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kegiatan ekonomi, terutama investasi, memainkan peran penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat di berbagai tingkatan. Namun praktik ini diperusahaan perbankan di indonesia, seperti Bank Muamalat Indonesia KC Padang, dan didasari oleh karyawan Bank Muamalat KC Padang yang memaknai financial behavior dan risk toleranc dalam pengambilan keputusan investasi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pemaknaan financial behavior dan risk toleranc dalam proses pengambilan keputusan investasi karyawan Bank Muamalat KC Padang pada instrumen keuangan syariah. financial behavior dipahami sebagai kebiasaan individu dalam mengelola keuangan dalam kehidupansehari-hari, sedangkan risk toleranc mendefinisikan kemampuan individu dalam menghadapi resiko. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan metode penelitian lapangan. Informan dipilih purposive dari karyawan Bank Muamalat KC Padang yang memiliki pengalaman, pemahaman terhdapa investasi syariah. teknik ini dilakukan dengan pengumpulan data yaitu wawancara yang mendalam, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan model Miles dan Huberman dengan memperhatikan Langkah- langkah sebagai berikut: reduksi data, klasifikasi data, penarikan kesimpulan, Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwasannya financial behavior dimaknai sebagai pengelolaan keuangan yang disiplin, terencana, dan bertanggung jawab sesuai prinsip syariah, seperti penyusunan anggaran, pengendalian pengeluaran, serta penyisihan dana untuk tabungan dan investasi. Sedangkan risk toleranc dipahami sebagai kesiapan menghadapi potensi kerugian meskipun investasi dilakukan secara syariah. proses pengambilan keputusan investasi berlangsung secara rasioanl melalui pemahaman produk, pencarian informasi, pertimbangan resiko, tujuan keuangan, serta pengaruh lingkungan kerja. Nilai syariah, perilaku keuangan, dan toleransi resiko saling berinteraksi dalam membentuk keputusan investasi karyawan.

4 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

AN ANALYSIS OF STUDENTS’ CHEATING BEHAVIOR IN DOING ENGLISH ASSESSMENT AT THE 8TH GRADE OF SMPN 1 TIGO NAGARI

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Cheating has become a widespread issue in schools. Cheating is frequently problem in the classroom. The researcher found several problems such as; students cheating because they had difficulty understanding the material, the students were asked for answers from their peers, whispering during exams, and even covering their faces with question sheets to look for help. This research was used the descriptive quantitative, utilized a questionnaire as an instrument. The population in this research were eight grade of SMPN 1 Tigo Nagari, the total of the population was 185 students. The sample were in the seven classes with total 46 students. In determined the sample, researcher used simple random sampling. The researcher distributed questionnaire randomly to each sample, then colected the data. Afterward, researcher identified the respondents’ answer and analyzed the data through the three steps suggepreparation, tabulation and application of appropriate data. The finding of this research showed that overall there is 46.3% of students engaging in cheating. Based on results of the data questionnaire, the three factors supposed by Asrifan has been proven as a contributing cause of students’ enggagement in cheating behavior in SMPN 1 Tigo Nagari. This factors includes; situational factors, individual factors, and teachers factors. Futhermore, of the three factors, the dominant factors causing students’ cheating behavior in doing English assessment was teacher factors, with the highest average percentage of 62.3%. It can be concluded that almost half of the eighth-grade students cheated during the English assessment in SMPN 1 Tigo Nagari.

7 dilihat · 6 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Faktor-Faktor Penentu Penggunaan BSI Mobile Menggunakan Model Unified Theory Of Acceptance And Use Technology 2 (UTAUT 2) (Studi Kasus Pada Nasabah Bank Syariah Indonesia Wilayah Bukittinggi)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi dengan judul “Faktor-Faktor Penentu Penggunaan Bsi Mobile Menggunakan Model Unified Theory Of Acceptance And Use Technology 2 (UTAUT 2) (Studi Kasus Pada Nasabah Bank Syariah Indonesia Wilayah Bukittinggi)”. Disusun oleh Della Suhanda Putri nim 3321027 Program Studi S1 Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syech M.Djamil Djambek Bukittinggi. Perkembangan teknologi informasi yang pesat mendorong transformasi digital di berbagai sektor, termasuk perbankan. Bank Syariah Indonesia (BSI) merespons tren ini dengan menghadirkan layanan BSI Mobile sebagai bentuk digitalisasi perbankan syariah. Namun, dari total 19,2 juta nasabah BSI, hanya sekitar 6,3 juta yang tercatat menggunakan layanan mobile banking tersebut. Rendahnya tingkat adopsi ini menunjukkan perlunya pemahaman lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan BSI Mobile. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor penentu penggunaan BSI Mobile dengan menggunakan model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT2), yang terdiri dari variabel Performance Expectancy, Effort Expectancy, Social Influence, Facilitating Conditions, Hedonic Motivation, Price Value, dan Habit, serta dua variabel dependen yaitu Behavioral Intention dan Behavioral Usage. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan metode survei terhadap 100 responden pengguna BSI Mobile di wilayah Bukittinggi. Teknik analisis data menggunakan Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa performance expentancy, social influence, habit berpengaruh signifikan terhadap behavioral intention yang pada gilirannya berpengaruh secara signifikan terhadap behavioral usage untuk menggunakan BSI Mobile. Sementara untuk Facilitating condition dan habit berpengaruh secara signifikan terhadap behavioral usage. Untuk effort expentancy, facilitating conditions, hedonic motivation, price value tidak berpengaruh secara signifikan terhadap behavioral intention dan behavioral usage. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pihak perbankan dalam meningkatkan strategi digitalisasi layanan yang lebih efektif dan efisien, khususnya pada perbankan syariah.

9 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Pengaruh Konseling Kelompok dengan Teknik Behavior Contract Terhadap Gejala-gejala Kecanduan Smartphone Siswa di SMP Negeri 1 Palupuh

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Nur Aini, 2620051: “Pengaruh Konseling Kelompok dengan Teknik Behavior Contract Terhadap Gejala-gejala Kecanduan Smartphone Siswa di SMP Negeri 1 Palupuh”. Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, 2024. Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan fenomena yang ada di SMP Negeri 1 Palupuh yang menunjukkan bahwasanya siswa mengalami gejala-gejala kecanduan smartphone. Peneliti berfokus kepada siswa SMP karena pada masa ini memasuki usia remaja yang merupakan peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada masa ini anak-anak akan mempelajari pola perilaku dan berubahnya minat, maka tidak jarang masa ini anak-anak kurang mampu dalam mengendalikan dirinya dari sesuatu yang inggin mereka ketahui. Keingintahuan yang tinggi, menjadikan para remaja terus mencoba berbagai fitur smartphone yang ada, sehingga penggunaan smartphone semakin meningkat. Dengan berbagai fitur yang ada di dalam smartphone tersebut jika siswa tidak dapat mengendalikan diri maka siswa akan mengalami kecanduan smartphone. Maka berdasarkan permasalahan yang ada dilapangan peneliti akan melaksanakan konseling kelompok dengan teknik behavior contract terhadap gejala-gejala kecanduan smartphone yang dialami oleh siswa supaya gejala tersebut tidak menjadi semakin parah yang akan menganggu keseharian siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perngaruh konseling kelompok dengan teknik behavior contract terhadap gejala-gejala kecanduan smartphone siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pre-eksperimen dengan desain penelitian one group pre-test dan post-test Design. Populasi pada penelitian ini sebanyak 21 siswa dan sampel penelitian sebanyak 8 orang. Teknik yang dipakai dalam pengambilan sampel yaitu dengan teknik purposive sampling, yang diaman pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu. Sampel pada penelitian ini adalah siswa yang menhalami gejala-gejala kecanduan smartphone.. Teknik dalam pengumpulan data pada penelitian ini yaitu skala likert. Setelah dikumpulkan maka akan di uji dnegan uji Wilcoxon signed rank test dengan bantuan Statistical Product And Service Solutions (SPSS) versi 26. Hasil penelitian dari nilai Wilcoxon (Z) yang menunjukkan adanya perbedaan antara pre-test dan post-test. Hasil perhitungan Wilcoxon nilai Ztabel sebesar -2,524b. Berdasarkan ketentuan yang berlaku hasil asymp sig (2-tailed) sebesar 0,012 yang berarti lebih kecil a (a=0,05) yang berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Dari hasil perhitungan uji Wilcoxon dapat disimpulkan bahwa terdapat penurunan gejala-gejaka kecanduan smartphone siswa di SMP Negeri 1 Palupuh setelah diberikan konseling kelompok dengan teknik behavior contract.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail