Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

21 hasil
Subjek: Batak
DaftarKartu
ResearchOpen AccessPDF tersedia

Hambatan Komunikasi Antarbudaya Dalam Menjalin Kerukunan Antar Etnis (Masyarakat Batak Toba Dan Masyarakat Minangkabau Di Nagari Panti Kabupaten Pasaman)

2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian

<p> Menjawab pertanyaan penelitian tentang Hambatan Komunikasi Antarbudaya Dalam Menjalin Kerukunan Antar Etnis (Masyarakat Batak Toba Dan Masyarakat Minangkabau Di Nagari Panti Kabupaten Pasaman)</p>

8 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Bagian Harta Waris Anak Laki-Laki yang Belum Menikah Adat Batak Angkola Muslim dalam Perspektif ‘Urf di Kecamatan Halongonan

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tesis ini berjudul “Bagian Harta Waris Anak Laki-Laki Yang Belum Menikah Adat Batak Angkola Muslim Dalam Perspektif ‘Urf Di Kecamatan Halongonan” oleh Taufiq Hidayat Siregar, Nim 10123014 mahasiswa Program Studi Hukum Islam, Pascasarjana, Universitas Islam Negeri Sjech Djamil Djambek Bukittinggi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya praktik pembagian harta waris pada masyarakat Batak Angkola Muslim di Kecamatan Halongonan yang yang membedakan bagian harta waris bagi anak laki-laki yang belum menikah dengan kisaran senilai panghorjaon (biaya menikah) sebelum harta tersebut dibagikan kepada seluruh ahli waris. Praktik ini merupakan tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun dan dipandang sebagai bentuk alasan tanggung jawab orang tua terhadap anak laki-lakinya. Dalam ketentuan tersebut tentu menimbulkan pertanyaan mengenai kesesuaiannya dengan hukum kewarisan Islam, sehingga perlu dikaji melalui perspektif 'urf sebagai salah satu metode dalam hukum Islam. Jenis penelitian ini menggunakan metode Deskriptif Kualitatif. Deskriptif kualitatif adalah suatu jenis pendekatan dalam penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan dan memahami suatu praktik secara mendalam berdasarkan data, seperti: Dokumentasi, Observasi, Wawancara langsung dengan masyarakat yang sudah melakukan praktik pembagian harta waris bagi anak laki-laki yang belum menikah, Hatobangon (tokoh adat di Kecamatan Halongonan), dan tokoh agama di Kecamatan Halongonan karena metode ini menurut penulis cocok dan relevan dengan objek penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan praktik pembagian harta waris anak laki-laki yang belum menikah dilakukan atas dasar kesepakatan keluarga dan telah menjadi kebiasaan masyarakat Batak Angkola muslim di Kecamatan Halongonan. Tradisi tersebut bertujuan untuk memenuhi tanggung jawab orang tua terhadap anak laki-laki serta menjaga keharmonisan keluarga. Ditinjau dari perspektif 'urf, praktik tersebut belum sesuai dengan hukum Islam dikarenakan dua faktor : Pertama, dari segi ashhabul furud (bagian yang telah ditentukan untuk ahli waris). Yaitu bertambahnya bagian anak laki-laki yang belum menikah dari bagian yang sudah ditentukan dengan minimal uang pestanya kelak ia menikah dari harta waris yang sudah ditinggalkan. Kedua, batalnya ‘urf sebagai landasan hukum bagi adat Batak Angkola muslim di Kecamatan Halongonan dalam pembagian waris bagian anak laki-laki yang belum menikah. Yaitu yang mana kita pandang kebiasaan adat ini sebelumnya dikatakan dipenelitian sudah menjadi adat, artinya aturan yang harus kita jalankan dan dipandang sudah menjadi keadialan sosial masyarakat akan tetapi batal sebagai (‘urf sahih) dikarenakan bertetangan dengan syariat yaitu membatalkan yang wajib dalam hukum waris Islam jatuh pada 'asabah bi al-Gair, (bagian anak perempuan dan anak laki-laki) artinya bertambahnya bagian dari bagian yang sudah ditentukan (ashhabul furudh/furud muqaddaroh) hukum Islam.

5 dilihat · 4 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Analisis Semiotika Dalam Tradisi Mangalap Tondi Di Kecamatan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Analisis Semiotika Dalam Tradisi Mangalap Tondi Di Kecamatan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan” yang dituliskan oleh Sumayya dengan NIM 4322005, merupakan mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negri Syejch M. Djamil Djambek Bukittinggi. Tradisi mangalap tondi merupakan salah satu praktik budaya masyarakat Batak Angkola yang bertujuan untuk memanggil dan mengembalikan tondi atau semangat hidup seseorang yang diyakini terpisah dari tubuh akibat peristiwa tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik yang terkandung dalam tradisi mangalap tondi, khususnya pada unsur benda, ucapan, dan tindakan ritual, dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes yang meliputi makna denotasi, konotasi, dan mitos. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan informan yang memahami dan terlibat dalam tradisi mangalap tondi, serta dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis secara interpretatif menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes untuk mengungkap makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung dalam unsur ritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap unsur dalam ritual mangalap tondi memiliki makna yang saling berkaitan. Secara denotasi, unsur-unsur ritual dipahami sebagai tindakan, ucapan, dan benda yang digunakan dalam prosesi pemanggilan tondi. Secara konotasi, unsur-unsur tersebut dimaknai sebagai simbol kasih sayang, tanggung jawab keluarga, pembersihan, serta upaya pemulihan kondisi fisik dan batin individu yang diritualkan. Sementara itu, pada tataran mitos, tradisi mangalap tondi merepresentasikan keyakinan masyarakat Batak Angkola terhadap hubungan antara manusia dan alam gaib, serta pentingnya menjaga keseimbangan spiritual agar kehidupan tetap harmonis. Tradisi mangalap tondi tidak hanya berfungsi sebagai praktik adat, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya dan sarana pewarisan nilai-nilai spiritual, sosial, dan kultural masyarakat Batak Angkola. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya serta memperkuat ikatan kekeluargaan di tengah perkembangan zaman.

2 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Integrasi Sosial pada Masyarakat Suku Batak dan Minang di Cengkeh Kenagarian Panti Kecamatan Panti Kabupaten Pasaman

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian skripsi ini dilatarbelakangi oleh ketidak adanya kesolidaritasan yang di tunjukkan oleh masyarakat Cengkeh yang berada di Kenagarian Panti oleh sebab itu dibutuhkan integrasi sosial supaya menyatukan individu dan kelompok yang berbeda menjadi satu. Tujuan dari penelitian ini untuk menyatukan masyarakat Suku Batak dan Suku Minang yang saling berbeda pendapat dan pemikiran. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif kualitatif, informan dalam penelitian ini terdiri dari tujuh(7) orang yang terdiri dari Wali Nagari, Sekretaris Nagari, Kepala Jorong dan 4 orang warga Cengkeh. Untuk metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi untuk metode analisis data dilakukan dengan penyajian data, reduksi data, dan penarikan kesimpulan sedangkan teknik keabsahan data yaitu pengolahan data, dan teknik triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses integrasi sosial terbagi menjadi tiga bentuk yaitu pertama integrasi dalam bermasyarakat yang menjelaskan proses-proses interaksi dalam kehidupan sehari-hari, kedua integrasi sosial dalam kegiatan keagamaan yang menjelaskan ketoleransian dalm beragama, dan yang ketiga integrasi sosial dalam kegiatan adat yaitu proses-proses interaksi dalam kegiatan keadatan.

12 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Pola Komunikasi Antar Budaya Masyarakat Minangkabau Dengan Masyarakat Batak di Nagari Biaro Gadang Kabupaten Agam

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “ Pola Komunikasi Antar Budaya Masyarakat Minangkabau Dengan Masyarakat Batak di Nagari Biaro Gadang Kabupaten Agam” disusun oleh Resti Emilia dengan NIM 4319063, Program Studi Komunikasi Dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin Adab Dan Dakwah, Universitas Islam Negri Syech Muhammad Djamil Djambek Bukittinggi. Agam memiliki ragam perbedaan di masyarakan baik itu ras, agama, budaya, suku dan lain sebagainya. Termasuk beberapa budaya suku yang ada di kenagarian Biaro Gadang, disana terdapat beberapa suku baik itu diantaranya, suku Minangkabau, suku Batak,suku Jawa . Masyarakat suku Miang dan Masyarakat suku Batak memiliki beberapa perbedaan , seperti perbedaan dalam penggunaan bahasa, dan perbedaan nilai dan norma-norma dalam budaya. Perbedaan seperti ini dapat mempengaruhi cara dari kedua budaya ini berkominikasi, seperti kesalah pahaman dan konflik antar keduanya. Namun Namun Peneliti menemukan adanya kolaborasi dan beradaptasi dengan cara komunikasi yang efektif untuk membangu pemahaman yang sama antara kedua budaya ini. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian dengan pendekatan Kualitatif deskriptif, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode pengamatan (observasi), wawancara (interview) dan dokumentasi yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan dan kemudian di dokumentasikan secara pribadi dalam gambar dan foto. Hasil Penelitian dapat disimpulkan , pertama bagaimana pola komunikasi antar budaya masyarakat minangkabau dan masyarakat Batak, dilihat dari segi pola komunikasi silkular, adanya proses komunikasi yang berketerusan karena adanya unpan balik anatara masyarakat Miangkabau dan masyarakat Batak.Kemundian dilihat dari pola komunikasi primer yang mana adanya proses penyampaian informasi Kedua Hambatan komunikasi antarbudaya Minangkabau dan Batak.

3 dilihat · 1 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Alur Komunikasi Penetapan Sinamot Adat Batak Toba dalam Pernikahan di Kecamatan Dolok Sanggul Kabupaten Humbang Hasundutan

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji proses atau alur komunikasi penetapan Sinamot Adat Batak Toba dalam pernikahan di kecamatan Dolok Sanggul Kabupaten Humbang Hasundutan. Penelitian bertujuan untuk menganalisis tahap-tahap komunikasi dalam penentuan sinamot, yaitu harta atau uang yang diserahkan pihak mempelai pria kepada keluarga mempelai wanita sebagai bagian dari tradisi pernikahan adat Batak Toba. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Setelah data terkumpul, peneliti melakukan analisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Alur komunikasi penetapan Sinamot terdiri dari beberapa tahap, yaitu Martandang (kunjungan awal), Marhusip (negosiasi awal), Patuahon Hata (pembicaraan serius), Marhata Sinamot (penyepakatan Sinamot), dan Pelaksanaan Sinamot (upacara adat).

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Peran Tradisi Marpege-Pege dalam Meningkatkan Modal Sosial Pada Pernikahan Adat Batak Angkola di Desa Sialogo Kecamatan Angkola Barat Kabupaten Tapanuli Selatan

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Peran Tradisi Marpege-pege dalam Meningkatkan Modal Sosial pada Pernikahan Adat Batak Angkola di Desa Sialogo Kecamatan Angkola Barat Kabupaten Tapanuli Selatan” yang disusun oleh Nurhalimah Nasution NIM 4620037 Program Studi Sosiologi Agama (SA), Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD), Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Penelitian ini dilatarbelakangi karena besarnya tuhor atau mahar dan biaya pernikahan adat Batak Angkola, sehingga ada sebuah tradisi yang digunakan masyarakat untuk membantu meringankan biaya tersebut. Adapun fokus penelitian adalah (1) tradisi marpege-pege dalam pernikahan adat Batak Angkola di Sialogo Kecamatan Angkola Barat (2) peran tradisi marpege-pege dalam peningkatan modal sosial di Sialogo Kecamatan Angkola Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati bagaimana peran tradisi Marpege-pege dalam meningkatkan modal sosial pada pernikahan adat Batak Angkola di desa Sialogo Kecamatan Angkola Barat Kabupaten Tapanuli Selatan. Metode penelitian yang digunakan merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif kualitatif, menganalisis dengan menggunakan teori fungsionalisme struktural Robert K. Merton. Informan dalam penelitian ini terdiri dari masyarakat desa Sialogo. Untuk metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi, metode analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Sedangkan teknik keabsahan data dengan perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, dan triangulasi. Hasil penelitian menemukan bahwa Pertama, Marpege-pege adalah suatu acara mangumpulkon hepeng (mengumpulkan uang) oleh keluarga pengantin pria guna membantu proses pernikahan. Tahap-tahapnya yaitu, Manyapai Boru, Marpege-pege, dan Pataru Tuhor. Kedua, peran tradisi Marpege-pege (1) Meningkatkan modal sosial dalam hal berupa solidaritas dan kekompakan masyarakat dalam tolong-menolong. (2) Meningkatkan modal ekonomi masyarakat Desa Sialogo dalam pernikahan adat Batak Angkola, yakni dalam membantu meringankan beban biaya pihak laki-laki yang akan menikah termasuk Tuhor (Mahar). (3) Modal budaya dalam tradisi Marpege-pege adalah jenis modal budaya terkandung. Dimana dalam tradisi Marpege-pege ini masyarakat Desa Sialogo mempertahankan warisan budaya leluhur, dapat diartikan budaya dari leluhur mereka masih dijalankan sampai sekarang.

4 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Hambatan Komunikasi Antarbudaya dalam Menjalin Kerukunan Antar Etnis ( Masyarakat Batak Toba dan masyarakat Minangkabau di Nagari Panti Kabupaten Pasaman)

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Skripsi ini atas nama Aprida Yanti, NIM 4318071, yang berjudul “Hambatan Komunikasi Antarbudaya Dalam Menjalin Kerukunan Antar Etnis (Masyarakat Batak Toba Dan Masyarakat Minangkabau Di Nagari Panti Kabupaten Pasaman)” , Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi, 2022. Penelitian ini dilatarbelakangi bahwa masyarakat memiliki identitas dan kebudayaan tersendiri yang sangat unik, yang mana masyarakat Batak Toba dan masyarakat Minangkabau cenderung menggunakan bahasa masing-masing pada saat berkomunikasi sehingga sebagian masyarakat Batal Toba dan masyarakat Minangkabau sulit memahami bahasa masing-masing sehingga menimbulkan berbagai hambatan mulai dari hambatan bahasa, hambatan stereotype, serta hambatan jarak sosial. Jenis penelitan ini merupakan penelitian yang bersifat lapangan dengan pendekatan kualitatif yaitu mengungkap, melihat, menggambarkan apa adanya tentang suatu keadaan. Dalam penelitian ini penulis menggambarkan hambatan komunikasi antarbudaya dalam menjalin kerukunan antar etnis pada masyarakat Batak Toba dan masyarakat Minangkabau di Nagari Panti, Kabupaten Pasaman. Adapun teknik yang dilakukan dalam mengumpulkan data penulis menggunakan teknik observasi dan wawancara dengan informasi yang berkaitan dengan hambatan komunikasi antarbudaya masyarakat Batak Toba dan masyarakat Minangkabau. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hambatan komunikasi antarbudaya dalam menjalin kerukunan antar etnis masyarakat Batak Toba dan masyarakat Minangkabau di Nagari Panti, Kabupaten Pasaman sudah cukup baik, akan tetapi masih terdapat hambatan komunikasi anatarbudaya diantaranya bahasa yakni adanya kesalahpahaman dalam mengartikan sebuah pesan akibat bahasa yang digunakan, stereotype yakni masih banyaknya masyarakat Batak Toba menilai buruk masyarakat Minangkabau begitu jga sebaliknya masyarakat Minangkabau menilai buruk masyarakat Batak Toba, serta jarak sosial yakni perasaan untuk memisahkan seseorang atau kelompok tertentu berdasarkan tingkat penerimaan seseorang terhadap orang lain seperti kesediaan setiap anggota masing-masing etnis menerima etnis lain menjadikan sebagai pasangan hidup, teman satu pemukiman, rekan seorganisasi. Kata kunci : Hambatan Komunikasi Antarbudaya, Masyarakat Batak Toba Dan Masyarakat Minangkabau

7 dilihat · 4 unduhanSitasiDetail