Analisis Semiotika Dalam Tradisi Mangalap Tondi Di Kecamatan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan
Skripsi ini berjudul “Analisis Semiotika Dalam Tradisi Mangalap Tondi Di Kecamatan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan” yang dituliskan oleh Sumayya dengan NIM 4322005, merupakan mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negri Syejch M. Djamil Djambek Bukittinggi. Tradisi mangalap tondi merupakan salah satu praktik budaya masyarakat Batak Angkola yang bertujuan untuk memanggil dan mengembalikan tondi atau semangat hidup seseorang yang diyakini terpisah dari tubuh akibat peristiwa tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik yang terkandung dalam tradisi mangalap tondi, khususnya pada unsur benda, ucapan, dan tindakan ritual, dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes yang meliputi makna denotasi, konotasi, dan mitos. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan informan yang memahami dan terlibat dalam tradisi mangalap tondi, serta dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis secara interpretatif menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes untuk mengungkap makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung dalam unsur ritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap unsur dalam ritual mangalap tondi memiliki makna yang saling berkaitan. Secara denotasi, unsur-unsur ritual dipahami sebagai tindakan, ucapan, dan benda yang digunakan dalam prosesi pemanggilan tondi. Secara konotasi, unsur-unsur tersebut dimaknai sebagai simbol kasih sayang, tanggung jawab keluarga, pembersihan, serta upaya pemulihan kondisi fisik dan batin individu yang diritualkan. Sementara itu, pada tataran mitos, tradisi mangalap tondi merepresentasikan keyakinan masyarakat Batak Angkola terhadap hubungan antara manusia dan alam gaib, serta pentingnya menjaga keseimbangan spiritual agar kehidupan tetap harmonis. Tradisi mangalap tondi tidak hanya berfungsi sebagai praktik adat, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya dan sarana pewarisan nilai-nilai spiritual, sosial, dan kultural masyarakat Batak Angkola. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya serta memperkuat ikatan kekeluargaan di tengah perkembangan zaman.