ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Pemikiran Muhammad Syafi’i Antonio tentang Bagi Hasil dan Implementasinya di Perbankan Syariah (Studi Kasus di Bank Mandiri Syariah Kantor Cabang Bukittinggi)” yang ditulis oleh FAHMI, NIM: 1216.014, Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Skripsi ini ditulis karena yang menjadi latar belakang masalah dari hasil observasi penulis di Bank Mandiri Syariah Kantor Cabang Bukittinggi dimana praktik mudharabah di Bank Mandiri Syariah ini terdapat perbedaan implementasi dengan pemikiran Muhammad Syafi’i Antonio. Dimana menurut Muhammad Syafi’i Antonio akad mudharabah terbagi kepada dua macam yaitu mudharabah mutlaqah dan mudharabah muqayyadah. Mudharabah mutlaqah adalah akad kerja sama dimana nasabah tidak dibatasi dengan jenis usaha, waktu usaha dan tempat. Adapun mudharabah muqayyadah adalah akad kerja sama dimana sumber dana khusus dengan menyalurkan yang khusus dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh shahibul mall. Sedangkan implementasi akad mudharabah yang terjadi di Bank Mandiri Syariah pada produk pendanaan dimana nasabah (shahibul mall) dibatasi dalam pemberian modal dalam produk pendanaan. Berdasarkan kejadian ini penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pemikiran Muhammad Syafi’i Antonio tentang bagi hasil dan bagaimana implementasinya di perbankan syariah dimana kejadiannya di Bank Mandiri Syariah Kantor Cabang Bukittinggi. Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dan metode lapangan (field research). Motode penelitian perpustakaan ini penulis mengumpulkan data dari buku-buku yang berkaitan dengan masalah yang penulis teliti. Sedangkan metode lapangan (field research) ini untuk mendapatkan data yang dibutuhkan penulis turun langsung ke lapangan untuk melakukan wawancara dengan staff di Bank Mandiri Syariah Kantor Cabang Bukittinggi. Dari hasil penelitian yang penulis lakukan dapat disimpulkan bahwa prinsip bagi hasil di perbankan syariah menurut Muhammad Syafi’i Antonio dapat dilakukan dalam 4 akad, tetapi yang sering dipakai di dalam perbankan hanya akad mudharabah dan akad musyarakah sedangkan untuk akad muzara’ah dan musaqah di pergunakan khusus untuk pembiayaan pertanian. Di Bank Mandiri Syariah Kantor Cabang Bukittinggi akad bagi hasil memakai dua produk yaitu produk pendanaan dan produk pembiayaan. Dimana implementasi pada produk pembiayaan akad musyarakah di Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Bukittinggi telah sesuai dengan pendapat Muhammad Syafi’i Antonio. karena menurut Muhammad Syafi’i Antonio dalam praktek akad musyarakah sama-sama memberikan modal dan dalam pembagian keuntungan dibagi sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati. Adapun implementasi akad mudharabah pada produk pembiayaan belum sesuai dengan pendapat Muhammad Syafi’i Antonio, karena kedudukan akadnya belum pasti. Sedangkan pada implementasi produk pendanaan akad mudharabah di Bank Mandiri Syariah kantor Cabang Bukittinggi menggunakan belum sesuai, karena ada perjanjian yang mengikat shahibul mall
ResearchOpen AccessPDF tersedia
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
<p style="margin-left:54.0pt;">
</p>
<p>
</p>
ResearchOpen AccessMetadata saja
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
<p>
<img alt="" height="300px" src="https://e-campus.iainbukittinggi.ac.id/h/ecampus/tDhJZ2yVvEl9iduz6JrhDUWdZ0ngk9Tq.PNG" /></p>
ResearchOpen AccessPDF tersedia
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
penelitian ini berjudul : "Pengaruh Imaratul Masjid [ Mushalla] [ Terhadap Akhlak al Karimah[ kepribadian ] Masyarakat Palatan Gaduik Til Kamang Gaduik"
ResearchOpen AccessMetadata saja
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
kultum atau pengajian merupakan suatu cara bentuk yang sangat besar dalam rangka mengawal keagamaan sevitas akademik di kampus Masjid Ulul Albab UIN SMDD, judul yang saya sampaikan adalah tujuh yang mendapat perlingungan di akhirat kelak, diantaranaya adalah pemimpin yang adil, pemudu yang tumbuh dalam keta'atan, seseorang yang hatinya terpaut di masjid keluar dsn datang kembali , seseorang yang berteman karena allah bertemudan berpisah karena Allah, seseorang yang berzikir lalu menangis dan berlinang air matanya, seseorang yang dirayu oleh wanita yang cantik dan punya harta laulu laki- laki itu mengatakan saya takut pada Allah Set dan seseorang yang bersedekah tidak tahu tangan kirinya apa yang disedekahkan tangan kananya
ResearchOpen AccessPDF tersedia
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
This study describes the domination of local custom and religion behind the tradition of Osong Kapali among Sungai Patai community in Tanah Datar, Minangkabau, Indonesia during the decease of Datuak (the leader of ethnic group). It employs a qualitative method with observation, interviews, and documentation as research instruments. It revealed, for people, that the majesty of datuak is reflected on not only the time he receive the tittle but also the time he passes away. This ceremony is intended to honor the dead datuak. The tradition begins with baretong (planning), mangkaji adaik (discussing the tradition), mancabiak kain kafan (tearing the shroud), osong kapali (putting on the traditional fabric), marocak (spreading the coin along the way to Datuak grave), pidato alam (welcoming speech), and manigo ari (praying after the funeral procession). It contains values within, such as the leader’s majesty, datuak wisdom, and symbols of broad and clean thought. In addition, it holds sharia, educational, and social values. Osong kapali tradition is a combination of custom and religion represented in the ceremonial sequences which agree with the ideology of sarak basandi kitabullah, the Quran-based tradition.
Penelitian ini mendeskripsikan dominasi adat dan agama pada tradisi Osong Kapali yang dilakukan oleh masyarakat Nagari Sungai Patai kabupaten Tanah
264 Values Behind Osong Kapali Ceremony
el Harakah Jurnal Budaya Islam Vol. 24 No. 2, 2022
Datar di Minangkabau Indonesia ketika seorang datuak meninggal dunia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai instrumen penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi masyarakat kebesaran seorang Datuak tidak hanya tergambar pada upacara pengangkatan gelar namun juga pada saat seorang datuak tersebut tutup usia. Upacara adat ini bertujuan untuk penghormatan kepada seorang datuak yang meninggal. Upacara Osong Kapali dimulai dengan baretong (Perencanaan), mangkaji adaik (mendiskusikan adat), mancabiak kain kafan (merobek kain kafan), Osong Kapali, pemasangan kain adaik (Pemasangan kain adat), maroncak (Menyebar koin sepanjang perjalanan ke kuburan Datuak), pidato alam (Pidato), dan manigo hari (berdoa setelah upacara pemakaman). Terdapat nilai nilai seperti kebesaran seorang pemimpin, kebijaksanaan seorang datuak dan symbol pemikiran yang luas dan bersih. Selain itu terdapat nilai teologi yakni nilai syari’ah, pendidikan dan sosial. Osong Kapali ini merupakan kombinasi antara adat dan agama yang terlihat dari rangkaian pelaksanaannya sesuai dengan filosofi adat ”sarak basandi kitabullah”.
ResearchOpen AccessMetadata saja
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
This study describes the domination of local custom and religion behind the tradition of Osong Kapali among Sungai Patai community in Tanah Datar, Minangkabau, Indonesia during the decease of Datuak (the leader of ethnic group). It employs a qualitative method with observation, interviews, and documentation as research instruments. It revealed, for people, that the majesty of datuak is reflected on not only the time he receive the tittle but also the time he passes away. This ceremony is intended to honor the dead datuak. The tradition begins with baretong (planning), mangkaji adaik (discussing the tradition), mancabiak kain kafan (tearing the shroud), osong kapali (putting on the traditional fabric), marocak (spreading the coin along the way to Datuak grave), pidato alam (welcoming speech), and manigo ari (praying after the funeral procession). It contains values within, such as the leader’s majesty, datuak wisdom, and symbols of broad and clean thought. In addition, it holds sharia, educational, and social values. Osong kapali tradition is a combination of custom and religion represented in the ceremonial sequences which agree with the ideology of sarak basandi kitabullah, the Quran-based tradition.
Penelitian ini mendeskripsikan dominasi adat dan agama pada tradisi Osong Kapali yang dilakukan oleh masyarakat Nagari Sungai Patai kabupaten Tanah
264 Values Behind Osong Kapali Ceremony
el Harakah Jurnal Budaya Islam Vol. 24 No. 2, 2022
Datar di Minangkabau Indonesia ketika seorang datuak meninggal dunia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai instrumen penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi masyarakat kebesaran seorang Datuak tidak hanya tergambar pada upacara pengangkatan gelar namun juga pada saat seorang datuak tersebut tutup usia. Upacara adat ini bertujuan untuk penghormatan kepada seorang datuak yang meninggal. Upacara Osong Kapali dimulai dengan baretong (Perencanaan), mangkaji adaik (mendiskusikan adat), mancabiak kain kafan (merobek kain kafan), Osong Kapali, pemasangan kain adaik (Pemasangan kain adat), maroncak (Menyebar koin sepanjang perjalanan ke kuburan Datuak), pidato alam (Pidato), dan manigo hari (berdoa setelah upacara pemakaman). Terdapat nilai nilai seperti kebesaran seorang pemimpin, kebijaksanaan seorang datuak dan symbol pemikiran yang luas dan bersih. Selain itu terdapat nilai teologi yakni nilai syari’ah, pendidikan dan sosial. Osong Kapali ini merupakan kombinasi antara adat dan agama yang terlihat dari rangkaian pelaksanaannya sesuai dengan filosofi adat ”sarak basandi kitabullah”.
ResearchOpen AccessMetadata saja
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
This study describes the domination of local custom and religion behind the tradition of Osong Kapali among Sungai Patai community in Tanah Datar, Minangkabau, Indonesia during the decease of Datuak (the leader of ethnic group). It employs a qualitative method with observation, interviews, and documentation as research instruments. It revealed, for people, that the majesty of datuak is reflected on not only the time he receive the tittle but also the time he passes away. This ceremony is intended to honor the dead datuak. The tradition begins with baretong (planning), mangkaji adaik (discussing the tradition), mancabiak kain kafan (tearing the shroud), osong kapali (putting on the traditional fabric), marocak (spreading the coin along the way to Datuak grave), pidato alam (welcoming speech), and manigo ari (praying after the funeral procession). It contains values within, such as the leader’s majesty, datuak wisdom, and symbols of broad and clean thought. In addition, it holds sharia, educational, and social values. Osong kapali tradition is a combination of custom and religion represented in the ceremonial sequences which agree with the ideology of sarak basandi kitabullah, the Quran-based tradition.
Penelitian ini mendeskripsikan dominasi adat dan agama pada tradisi Osong Kapali yang dilakukan oleh masyarakat Nagari Sungai Patai kabupaten Tanah
264 Values Behind Osong Kapali Ceremony
el Harakah Jurnal Budaya Islam Vol. 24 No. 2, 2022
Datar di Minangkabau Indonesia ketika seorang datuak meninggal dunia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai instrumen penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi masyarakat kebesaran seorang Datuak tidak hanya tergambar pada upacara pengangkatan gelar namun juga pada saat seorang datuak tersebut tutup usia. Upacara adat ini bertujuan untuk penghormatan kepada seorang datuak yang meninggal. Upacara Osong Kapali dimulai dengan baretong (Perencanaan), mangkaji adaik (mendiskusikan adat), mancabiak kain kafan (merobek kain kafan), Osong Kapali, pemasangan kain adaik (Pemasangan kain adat), maroncak (Menyebar koin sepanjang perjalanan ke kuburan Datuak), pidato alam (Pidato), dan manigo hari (berdoa setelah upacara pemakaman). Terdapat nilai nilai seperti kebesaran seorang pemimpin, kebijaksanaan seorang datuak dan symbol pemikiran yang luas dan bersih. Selain itu terdapat nilai teologi yakni nilai syari’ah, pendidikan dan sosial. Osong Kapali ini merupakan kombinasi antara adat dan agama yang terlihat dari rangkaian pelaksanaannya sesuai dengan filosofi adat ”sarak basandi kitabullah”.
ResearchOpen AccessMetadata saja
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
This study describes the domination of local custom and religion behind the tradition of Osong Kapali among Sungai Patai community in Tanah Datar, Minangkabau, Indonesia during the decease of Datuak (the leader of ethnic group). It employs a qualitative method with observation, interviews, and documentation as research instruments. It revealed, for people, that the majesty of datuak is reflected on not only the time he receive the tittle but also the time he passes away. This ceremony is intended to honor the dead datuak. The tradition begins with baretong (planning), mangkaji adaik (discussing the tradition), mancabiak kain kafan (tearing the shroud), osong kapali (putting on the traditional fabric), marocak (spreading the coin along the way to Datuak grave), pidato alam (welcoming speech), and manigo ari (praying after the funeral procession). It contains values within, such as the leader’s majesty, datuak wisdom, and symbols of broad and clean thought. In addition, it holds sharia, educational, and social values. Osong kapali tradition is a combination of custom and religion represented in the ceremonial sequences which agree with the ideology of sarak basandi kitabullah, the Quran-based tradition.
Penelitian ini mendeskripsikan dominasi adat dan agama pada tradisi Osong Kapali yang dilakukan oleh masyarakat Nagari Sungai Patai kabupaten Tanah
264 Values Behind Osong Kapali Ceremony
el Harakah Jurnal Budaya Islam Vol. 24 No. 2, 2022
Datar di Minangkabau Indonesia ketika seorang datuak meninggal dunia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai instrumen penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi masyarakat kebesaran seorang Datuak tidak hanya tergambar pada upacara pengangkatan gelar namun juga pada saat seorang datuak tersebut tutup usia. Upacara adat ini bertujuan untuk penghormatan kepada seorang datuak yang meninggal. Upacara Osong Kapali dimulai dengan baretong (Perencanaan), mangkaji adaik (mendiskusikan adat), mancabiak kain kafan (merobek kain kafan), Osong Kapali, pemasangan kain adaik (Pemasangan kain adat), maroncak (Menyebar koin sepanjang perjalanan ke kuburan Datuak), pidato alam (Pidato), dan manigo hari (berdoa setelah upacara pemakaman). Terdapat nilai nilai seperti kebesaran seorang pemimpin, kebijaksanaan seorang datuak dan symbol pemikiran yang luas dan bersih. Selain itu terdapat nilai teologi yakni nilai syari’ah, pendidikan dan sosial. Osong Kapali ini merupakan kombinasi antara adat dan agama yang terlihat dari rangkaian pelaksanaannya sesuai dengan filosofi adat ”sarak basandi kitabullah”.
ResearchOpen AccessMetadata saja
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
This study describes the domination of local custom and religion behind the tradition of Osong Kapali among Sungai Patai community in Tanah Datar, Minangkabau, Indonesia during the decease of Datuak (the leader of ethnic group). It employs a qualitative method with observation, interviews, and documentation as research instruments. It revealed, for people, that the majesty of datuak is reflected on not only the time he receive the tittle but also the time he passes away. This ceremony is intended to honor the dead datuak. The tradition begins with baretong (planning), mangkaji adaik (discussing the tradition), mancabiak kain kafan (tearing the shroud), osong kapali (putting on the traditional fabric), marocak (spreading the coin along the way to Datuak grave), pidato alam (welcoming speech), and manigo ari (praying after the funeral procession). It contains values within, such as the leader’s majesty, datuak wisdom, and symbols of broad and clean thought. In addition, it holds sharia, educational, and social values. Osong kapali tradition is a combination of custom and religion represented in the ceremonial sequences which agree with the ideology of sarak basandi kitabullah, the Quran-based tradition.
Penelitian ini mendeskripsikan dominasi adat dan agama pada tradisi Osong Kapali yang dilakukan oleh masyarakat Nagari Sungai Patai kabupaten Tanah
264 Values Behind Osong Kapali Ceremony
el Harakah Jurnal Budaya Islam Vol. 24 No. 2, 2022
Datar di Minangkabau Indonesia ketika seorang datuak meninggal dunia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai instrumen penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi masyarakat kebesaran seorang Datuak tidak hanya tergambar pada upacara pengangkatan gelar namun juga pada saat seorang datuak tersebut tutup usia. Upacara adat ini bertujuan untuk penghormatan kepada seorang datuak yang meninggal. Upacara Osong Kapali dimulai dengan baretong (Perencanaan), mangkaji adaik (mendiskusikan adat), mancabiak kain kafan (merobek kain kafan), Osong Kapali, pemasangan kain adaik (Pemasangan kain adat), maroncak (Menyebar koin sepanjang perjalanan ke kuburan Datuak), pidato alam (Pidato), dan manigo hari (berdoa setelah upacara pemakaman). Terdapat nilai nilai seperti kebesaran seorang pemimpin, kebijaksanaan seorang datuak dan symbol pemikiran yang luas dan bersih. Selain itu terdapat nilai teologi yakni nilai syari’ah, pendidikan dan sosial. Osong Kapali ini merupakan kombinasi antara adat dan agama yang terlihat dari rangkaian pelaksanaannya sesuai dengan filosofi adat ”sarak basandi kitabullah”.
ResearchOpen AccessPDF tersedia
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
<p>
<span style="font-family: arial; font-weight: 700;">Memberikan Ceramah Pengajian Pada Bulan Ramadhan tanggal 29 April 2022 di Mushalla Nur Rahman jorong PSB palatan Gadut tilatang Kamang pembukaan ; dimulai ceramah dengan Tahmid kepada Allah SWT dan Salawat kepada NAbi SAW diringi dengan doa untuk jamaah dan kaum muslimin isi;3 macam yang harus dilaksanakan setelah ramadhan 1.selalu isitiqomah dalam beribadah dan beramal soleh 2.mengerjakan ibadah dan amal soleh hal2 yang akan membawa kepada pengampunan dosa dan menambah pahala 3.selalu melaksanakan muhasabah intropeksi diri terhadap kesalahan dalam kehidupan</span></p>
ResearchOpen AccessMetadata saja
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
<p>
<img alt="" height="300px" src="https://e-campus.iainbukittinggi.ac.id/h/ecampus/tDhJZ2yVvEl9iduz6JrhDUWdZ0ngk9Tq.PNG" /></p>
ResearchOpen AccessMetadata saja
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
<p>
<img alt="" height="300px" src="https://e-campus.iainbukittinggi.ac.id/h/ecampus/tDhJZ2yVvEl9iduz6JrhDUWdZ0ngk9Tq.PNG" /></p>
ResearchOpen Access3 berkas tersedia
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
menjadi Ketua Muhammadiyah Ranting Gaduik Til Kamang Kab Agam dari 17 s/d 2020
ResearchOpen AccessMetadata saja
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
<p>
KKN mahasiswa sangat penting terselenggaranya,hal ini di latar belakangi oleh perlunya mahasiswa mempraktekan ilmunya dan belajar dengan dunia nyata,adakalanya amtara teori dan fakta berbeda,kadang kala antara harapan dan kenyataan berbeda, untuk itulah manusia diperintahkan melaksanakan KKN, dan dari sini mahsiswa banyak belajar, bahkan mahasiswa menghasilkan sebuah karya penelitian yang menjadi sebuah buku dan menghasilkan Haki,dengan tulisan ilmiyah mereka itu menjadi khazanah ke ilmuan yang penting dari hasil KKn mahasiswa ,yang saya bimbing</p>
ResearchOpen AccessMetadata saja
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
materi pendalaman Fiqih perlu dilakukan bagi kalangan guru PAI di tingkat sekolah dasar. karena perobahan masyarakat pada era digital ini sangat mempengaruhi sikap masyarakat terutama bagi anak anak SD. dengna materi pendalaman fiqih ini perlu di ajarkan kemablai materi Muqaran mazhab, sebab terjadi perbedaan , cara menghadapi perbedaan dan maqasid csyariah alkhamsah dan mutagayitrat dan musbat. dengan materi ini bisa menjawab tantangan di era moderent di gital ini
ResearchOpen AccessMetadata saja
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
Memberikan Ceramah Pengajian Pada Bulan Ramadhan tanggal 29 April 2022 di Mushalla Nur Rahman jorong PSB palatan Gadut tilatang Kamang
pembukaan ; dimulai ceramah dengan Tahmid kepada Allah SWT dan Salawat kepada NAbi SAW diringi dengan doa untuk jamaah dan kaum muslimin
isi;3 macam yang harus dilaksanakan setelah ramadhan
1.selalu isitiqomah dalam beribadah dan beramal soleh
2.mengerjakan ibadah dan amal soleh hal2 yang akan membawa kepada pengampunan dosa dan menambah pahala
3.selalu melaksanakan muhasabah intropeksi diri terhadap kesalahan dalam kehidupan
ResearchOpen AccessPDF tersedia
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
Imam Nawawī [1] adalah salah seorang ulama mazhab Syāfi’ī yang cukup terkenal dalam dunia keilmuan Islam.Sampai Saat Ini, kitab-kitab karyanya masih menjadi referensi dan rujukan utama para ulama di dunia Islam,terutama di kalangan ulama Syāfi’iyah. Diantara Buku-buku Nawawi yang terkenal dan masih menjadi bahan kajian di berbagai madrasah, pesantren dan majelis ilmu di tanah air dan mancanegara hingga dewasa ini adalah; Raudat al Thālibīn wa ‘Umdat al Muftīn, Majmū’ Syarh al Muhazzab,Riyādh al shālihīn,Al Minhāj al-‘Abidin,al Arba’un al Nawawi, Syarhuan An Nawawi ‘ala Muslim, Adab al Fatwa wal Mufti wal Mustafti dan lain sebagainya.Di samping kesohor sebagai intelektual yang alim dan penulis yang produktif, Nawawi juga dikenal sebagai seorang mufti. Tampil Menjawab dan menetapkan hukum di berbagai persoalan yang muncul dan berkembang dalam masyarakat. Sehingga tidak mengherankan Kalau dengan multi-talenta dan berbagai kepiawaian yang dimilikinya,sosok Nawawi muncul sebagai tokoh ulama yang dijuluki sebagai imam Syafi’i yang kedua.Kendatipun dikenal sebagai ulama bermazhab Syafi'i ,bahkan sebagai “Syafi’i yang kedua”, ternyata tidak semua pendapat dan fatwa Nawawi selalu sama dan sejalan dengan pendapat imam Syafi’i dan ulama Syafi'iyah lainnya.Karena, ditemukan sejumlah fatwa dan pendapat Nawawi yang berbeda dari pendapat ulama Syafi’iyah pada umumnya. Bahkan ditemukan pula fatwa dan pendapat Nawawi yang berbeda dari pendapat imam Syafi’i sendiri.
________________________________________[
ResearchOpen AccessMetadata saja
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
penelitian ini mendeskripsikan dominasi adat dan agamapada tradisi Osong kapaliyang dilakukan masysrarakat Nagari Sungai PataiKabupaten Tanah Datar di minang kabau Indonesia, Ketika Datuak meninggal dunia.penelitian ini menggunakan metode kualitatif, melalui wawacara dan dokumentasi sebagai dokument penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi masyarakatkebesaran seorang Datuak tidak hanya tergambar pada upacarapengakuan gelar,namun juga pada sa'at seorang datuak tersebut tutup usia.Upacara Datuak ini adalah penghormatan kepada seorang Datuak meninggal. Upacara Osong kapali dimulai dengan baretong,( perencanaan ),mengkaji adaik ( mendiskusikan adaik )mancabiak kain kafan,( merobek kain kafan )Osong kafali, pemasangan kain adaik , meroncak (memasang kain sepanjang jalan kekuburan Datuak )pidato alam ( pidato), manigo hari ( berdoa setelah upacara pemakaman kematian ). terdapat nilai- nilai kebesaran seorang pemimpin, kebijaksanaan seorang Datuak dan symbul pemikiran seorang yang bersih dan luas.selain itu terdapat nilai seorang teologivyakni nilai syari'ah, pendidikan sosial. osong kapali ini merupakan kombinasi antara adat dan agamayang terlihat dari rangkaianpelaksanaanya sesuai dengan filosofi adat "sarak basandi kitabullah "
ResearchOpen Access1 berkas tersedia
2026•Hasil Penelitian dan Pengabdian
<ol>
<li>
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penyebab terjadinya perbedaan pendapat antara jumhur ulama dengan ulama hanafiyah dalam menetapkan sanksi hukum pidana bagi orang yang meninggalakn shalat dengan sengaja.</li>
<li>
Kemudian untuk mengetahui istinbat hukum yang digunakan oleh jumhur ulama dalam menetapkan hukum mati bagi orang meninggalkan shalat dengan sengaja.</li>
<li>
Adapun kegunaan penelitian ini adalah untuk laporan BKD tahun akademik 2021/2022 semester ganjil</li>
</ol>