Abstrak
Tesis ini disusun oleh Marta Novika, NIM. 20124007, mahasiswaProgram Studi Magister Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek, Bukittinggi, dengan judul “Perbandingan Keterampilan Berpikir Kritis Menggunakan Model Activ Deep Learner Experience (ADLX) Introflex dan Model Inquiry Based Learning pada Pembelajaran PAI di SDIT Cahaya Hati”. Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya keterampilan berpikir kritis peserta didik di SDIT Cahaya Hati, termasuk dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), terutama dalam literasi baca soal HOTS, yang diduga dipengaruhi oleh penggunaan metode ajar yang belum bervariatif dan kemampuan memahami materi yang masih dangkal. Agar pembelajaran tidak monoton, guru harus menerapkan pendekatan pembelajaran kreatif yang dapat memicu motivasi intrinsik dan pemikiran nalar dengan menggunakan model pembelajaran ADLX INTROFLEX dan model Inquiry Based Learning. Penelitian ini dilandasi oleh teori berfikir kritis Ennis, desain pembelajaran ADLX INTROFLEX oleh Muhammad Bahgat, dan model Inquiry Based Learning oleh Brunner. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perbedaan dalam keterampilan berpikir kritis siswa yang belajar menggunakan model Active Deep Learner Experience (ADLX) INTROFLEX dan model Inquiry Based Learning (IBL). Penelitian ini melihat interaksi antara kedua variabel tersebut dan kemampuan awal siswa (tinggi dan rendah). Penelitian ini dilakukan secara kuantitatif dengan quasi eksperimen dan dirancang dengan faktorial. Populasi penelitian adalah semua peserta didik di SDIT Cahaya Hati Bukittinggi, dengan sampel eksperimen kelas VI Arrayyan menggunakan model IBL dan kelas VI Azzakah menggunakan model ADLX INTROFLEX. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Model ADLX INTROFLEX lebih efektif daripada model IBL pada siswa berkemampuan awal tinggi, dengan hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,049 lebih kecil dari 0,05. (2) Model ADLX INTRFLEX lebih efektif pada siswa berkemampuan awal rendah, dengan hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,032 lebih kecil dari 0,05. (3) Siswa berkemampuan awal rendah menunjukkan hasil yang signifikan, dengan hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,040 lebih kecil dari 0,05, dan (4) Tidak terdapat interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dengan kemampuan awal terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik, dengan hasil pengujian Two Way ANOVA menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,325 lebih besar dari 0,05. Studi ini menemukan bahwa model ADLX INTROFLEX secara konsisten lebih efektif dan unggul dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran PAI, baik untuk siswa dengan kemampuan awal rendah maupun tinggi. Keunggulannya terletak pada keterpaduan kurikulum Diknas dan kurikulum Terpadu dari JSIT, dengan tujuan capaian pembelajan SKL Dimensi Kelima SIT elemen cerdas dan bernalar kritis