Abstrak
Perilaku bullying di lingkungan Pendidikan merupakan permasalahan yang tidak hanya berdampak pada kondisi emosional peserta didik, tetapi juga mempengaruhi perkembangan akhlak, kepercayaan diri, dan stabilitas psikologis mereka. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membentuk karakter melalui pendekatan spiritual, salah satunya melalui penguatan nilai-nilai tasawuf. Pondok Pesantren Ashhabul Yamin menjadi salah satu lembaga yang menekankan pengembangan akhlak melalui pembelajaran tasawuf, sehingga menarik untuk diteliti bagaimana proses tersebut berkontribusi dalam mencegah perilaku bullying. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: (1) nilai-nilai tasawuf apa saja yang diterapkan di Pondok Pesantren Ashhabul Yamin dalam mencegah perilaku bullying, dan (2) bagaimana proses internalisasi nilai-nilai tasawuf di Pondok Pesantren Ashhabul Yamin dapat mempengaruhi pencegahan bullying dikalangan santri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap ustadz pengampu tasawuf, pembina asrama, kepala sekolah, santri, dan staf pendukung; serta dilengkapi observasi lapangan dan dokumentasi kegiatan pesantren. Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Ashhabul Yamin menerapkan empat nilai utama tasawuf sabr, mujahadah dan pengendalian diri, rahmah, dan tawadhu’yang berperan besar dalam mencegah perilaku bullying. Nilai-nilai tersebut tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga dibiasakan melalui kegiatan ibadah, interaksi sosial, serta keteladanan para ustadz. Proses internalisasi berlangsung dalam tiga tahap: transformasi nilai (penyampaian konsep), transaksi nilai (pembiasaan dan keteladanan), dan transinternalisasi (melekatnya nilai dalam kepribadian santri). Internalisasi nilai tasawuf terbukti menurunkan intensitas konflik, meningkatkan empati, menumbuhkan kemampuan pengendalian diri, serta menciptakan budaya pesantren yang lebih harmonis dan bebas dari perilaku bullying. Walaupun masih terdapat beberapa tantangan pada santri baru.