Abstrak
Ahmad Syukri, NIM. 4117.016, Judul Skripsi : “PEMAHAMAN MASYARAKAT NAGARI SUNGAI PUA TERHADAP TAHAYUL (STUDI LIVING QUR’AN SURAH AL-AN’AM AYAT 116)”. Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi 2021. Latar belakang peneliti dalam membahas masalah ini adalah, bahwa tahayul adalah segala sesuatu yang hanya berlandaskan pada khayalan belaka atau segala sesuatu tidak masuk akal dan tidak terbukti dalam dunia nyata, perihal tahayul pada dasarnya sudah muncul pada zaman Nabi Muhammad SAW, ketika itu masyarakat sangat minimnya ilmu pengetahuan dan mudah terpengaruh oleh keyakinan yang tidak benar. Tahayul tidak pernah diajarkan dalam agama Islam. Dalam memahami dari makna tahayul tersebut maka peneliti melihat fenomena yang terjadi di daerah Nagari Sungai Pua, bahwa masih banyak masyarakat yang menyakini kepercayaan tahayul. Anehnya, masyarakat Sungai Pua bisa dikatakan masyarakat yang tidak jauh dari ilmu pengetahuan tetapi masyarakat disana masih kental kepercayaannya terhadap tahayul. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif berstandar living Qur’an. Penelitian jenis ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yakni penelitian ini terfokus kepada kondisi alamiah masyarakat yang ada dilapangan, serta mencoba mendapatkan informasi dari para informan dalam memahami makna tahayul serta Qur’an surah al-An’am ayat 116. Yang menjadi informan dalam penelitian ada sepuluh informan yang terdiri dari 5 orang informan kunci dan 5 orang informan pendukung. Metode pengumpulan data terdiri dari metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dalam penelitian ini ada 3 point inti yang penulis dapatkan yakni. Pertama, masih adanya masyarakat yang meyakini tahayul dengan alasan bahwa tahayul itu suatu adat atau tradisi yang tujuannya positif. Kedua, ada sebahagian masyarakat yang masih ragu dalam memahami tahayul, dalam artian bahwa tahayul itu antara ada dan tiada. Ketiga, ada sebahagian masyarakat yang menolak tahyul karena tahayul dianggap menyesatkan manusia dari jalan Allah SWT.