Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

AHMAD SYUKRI

5 karya publik ditemukan.

2025: 12023: 12021: 12018: 12016: 1

BAJAPUIK DALAM TRADISI PERKAWINAN DI MINANG KABAU PERSPEKTIF MASLAHAH MURSALAH DAN HUBUNGAN DENGAN TEORI INTERAKSIONISME GEOGE HEARBERT MEAD (Studi Di Nagari Kayutanam Kecamatan 2x11 Kayutanam Kabupaten Padang Pariaman)

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tradisi bajapuik ialah tradisi yang mengisyaratkan adanya uang jemputan yang harus diberikan kepada pihak laki-laki oleh pihak perempuan yang dilakukan pada saat adat sebelum menikah yakni pada saat peminangan, tradisi bajapuik hanya terjadi di Pariaman saja dan tidak terdapat di kanagarian Minangkabau lainnya. Dalam pandangan Masyarakat tradisi ini berbeda dengan apa yang disyariatkan oleh hukum Islam, namun hal ini belum tentu dilarang dan bertentangan dengan hukum Islam. Tradisi ini banyak mengandung nilai-nilai positif dan memberikan banyak manfaat terhadap Masyarakat yang menganut sistem matrilineal. Tujuan penelitian ini, untuk menjabarkan alasan masyarakat Nagari Kayu Tanam Kecamatan 2 X 11 Kabupaten Padang Pariaman mempraktikan tradisi bajapuik dalam upacara pernikahan dan menganalisis tinjauan maslahah mursalah dan analisis teori teori interaksionisme George Hearbert Mead terhadap praktik tradisi bajapuik perkawinan Minangkabau. Jenis penelitian ini yaitu penelitian empiris kualitatif dengan pendekatan sosiologi. Adapun sumber datanya adalah sumber data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data dengan wawancara, dokumentasi. Metode pengolahan data adalah pemeriksaan ulang, kategorisasi, mengecek keabsahan data, analisi, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, pelaksanaan tradisi bajapuik masih bertahan sampai sekarang. Lelaki Pariaman berhak mendapatkan uang jemputan terlepas dari status sosial dan status kebangsawanan yang disandangnya, sepertitukang kayu dan sebagainya dengan uang jemputan yang setara dengan profesinya, jumlah uang jemputan yang diterima beragam sesuai kesepakatan kedua belah pihak Kedua, tradisi bajapuik sudah relevan dengan maslahah mursalah yakni memberikan banyak manfaat kepada keluarga-keluaga yang melaksanakannya dengan tetap menjalankan nilai-nilai Islam dan tidak bertentangan dengan nash dan ijma’ kemudian memiliki makna saling menghargai itulah yang menjadi dasar tradisi ini. Ketiga, timbul juga akibat dari simbol yang dibuat oleh masyarakat tersebut yakni: Memicu fakta bahwa adanya persaingan di kalangan keluarga laki-laki untuk mendapatkan jumlah uang jemputan yang semakin tinggi. timbul juga istilah tradisi “membeli laki-laki” atau biasa juga disebut dengan istilah “pemberian mahar kepada laki-laki”. Kata Kunci: Bajapuik, Maslahah Mursalah, Interaksionisme Simbolik.

Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Blended Learning Dengan Menggunakan Media Pembelajaran Moodle Pada Hasil Belajar TIK di SMA Negeri 1 Barumun

2023 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masalah yang terjadi pada saat pandemi covid-19 yang menyerang Indonesia dan Negara lainnya, dimana sistem kegiatan belajar mengajar (KBM) berubah menjadi pembelajaran daring (online). Semua sekolah-sekolah dialihkan menjadi belajar dari rumah selama periode covid-19 oleh pemerintah demi upaya mencegah penyebaran dan penularan covid-19. Sehingga sekolah menggunakan media pembelajaran moodle. Moodle adalah media yang digunakan di SMAN 1 Barumun selama pembelajaran online. Media ini dimaksud sebagai pembelajaran alternatif saat belajar dirumah dan mempermudah siswa dan guru untuk mempelajari materi yang di bagikan. Terlepas dari itu belum lagi masalah-masalah yang muncul saat adanya gangguan internet dan pemkaian kuota yang banyak dan kurangnya minat belajar siswa dalam proses pembelajaran. Tujuan penelitian yang hendak dicapai yaitu untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran berbasis blended learning menggunakan moodle terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Barumun tahun ajaran 2020/2021 di pokok bahasan Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan Adobe Photoshop. Responded atau sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas MIA 1 dan MIA 2. Dengan jenis penelitian eksperimen dengan desain penelitian True Experimental Design dan jenis penelitian yang digunakan Posttest-only Control Group Design. Teknik dalam pengambilan sampel adalah Purposive Sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel yang dipertimbangkan peneliti ketika mengambil sampel. Dalam pengujian data ini disusun menggunakan SPSS v.25. Rata-rata hasil belajar siswa di kelas eksperimen (XI MIA 2) adalah 92.32 dan rata-rata kelas kontrol (XI MIA 1) adalah 59.48. Karena analisis statistic yang menyatakan bahwa Nilai t Hitung pada tabel 4.15 adalah 8.078 dan nilai tabel dengan derajat N-2 (50-2=48) nilai dk (0,05) = 2.021. Jadi, t Hitung ≥ t Tabel (8.078 ≥ 2.021) yang menunjukkan bahwa hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Moodle terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran TIK siswa yang menggunakan media pembelajaran moodle lebih baik dari siswa yang tidak menggunakan media pembelajaran moodle dengan metode pembelajaran konvensional. Jadi, hasil belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol terdapat perbedaan hasil tes yang cukup signifikan hasil belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran TIK di SMAN 1 Barumun antara menggunakan media pembelajaran Moodle dengan yang tidak menggunakan media pembelajaran Moodle.

PEMAHAMAN MASYARAKAT NAGARI SUNGAI PUA TERHADAP TAHAYUL (STUDI LIVING QUR'AN SURAH AL-AN'AM AYAT 116)

2021 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Ahmad Syukri, NIM. 4117.016, Judul Skripsi : “PEMAHAMAN MASYARAKAT NAGARI SUNGAI PUA TERHADAP TAHAYUL (STUDI LIVING QUR’AN SURAH AL-AN’AM AYAT 116)”. Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi 2021. Latar belakang peneliti dalam membahas masalah ini adalah, bahwa tahayul adalah segala sesuatu yang hanya berlandaskan pada khayalan belaka atau segala sesuatu tidak masuk akal dan tidak terbukti dalam dunia nyata, perihal tahayul pada dasarnya sudah muncul pada zaman Nabi Muhammad SAW, ketika itu masyarakat sangat minimnya ilmu pengetahuan dan mudah terpengaruh oleh keyakinan yang tidak benar. Tahayul tidak pernah diajarkan dalam agama Islam. Dalam memahami dari makna tahayul tersebut maka peneliti melihat fenomena yang terjadi di daerah Nagari Sungai Pua, bahwa masih banyak masyarakat yang menyakini kepercayaan tahayul. Anehnya, masyarakat Sungai Pua bisa dikatakan masyarakat yang tidak jauh dari ilmu pengetahuan tetapi masyarakat disana masih kental kepercayaannya terhadap tahayul. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif berstandar living Qur’an. Penelitian jenis ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yakni penelitian ini terfokus kepada kondisi alamiah masyarakat yang ada dilapangan, serta mencoba mendapatkan informasi dari para informan dalam memahami makna tahayul serta Qur’an surah al-An’am ayat 116. Yang menjadi informan dalam penelitian ada sepuluh informan yang terdiri dari 5 orang informan kunci dan 5 orang informan pendukung. Metode pengumpulan data terdiri dari metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dalam penelitian ini ada 3 point inti yang penulis dapatkan yakni. Pertama, masih adanya masyarakat yang meyakini tahayul dengan alasan bahwa tahayul itu suatu adat atau tradisi yang tujuannya positif. Kedua, ada sebahagian masyarakat yang masih ragu dalam memahami tahayul, dalam artian bahwa tahayul itu antara ada dan tiada. Ketiga, ada sebahagian masyarakat yang menolak tahyul karena tahayul dianggap menyesatkan manusia dari jalan Allah SWT.

Pengangkatan Camat Di Tinjau Dari Peraturan Perundang-Undangan Dan Politik Islam

2018 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Skripsi ini berjudul “PENGANGKATAN CAMAT DITINJAU DARI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DAN POLITIK ISLAM” Ditulis Oleh Ahmad Syukri, NIM. 1313.001, Jurusan Hukum Ketatanegaraan, Fakultas Syari’ah IAIN Bukittinggi. Adapun yang penulis maksud dalam penulisan ini adalah bagaimana pandangan fikih siyasah terhadap pengangkatan Camat di Indonesia. Penulisan skripsi ini dilatarbelakangi oleh pemilihan umum yang dilaksanakan negara Indonesia pada pelaksanaannya memilih aparatur negara secara langsung mulai dari pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden, pemilihan umum anggota legislatif, pemilihan umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, pemilihan umum Kepala Desa dipilih atau diangkat secara demokrasi namun tidak bagi Kepala Camat di setiap kecamatan yang dipilih atau diangkat oleh Bupati/Wali kota. Perbedaan yang mendasar mengenai empat aperatur negara ini dengan fungsi dan peran yang sama terlihat dari cara pemilihan setra pengangkatannya yang mana dalam Pasal 18 UUD 45 ayat 4 menyebutkan : Gubernur, Bupati dan Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintahan daerah provinsi, kabupaten dan kota dipilih secara demokrasi. Artinya pengangkatan dan pemilihan diserahkan kepada masyarakat dengan jalan PEMILU bagi Presiden dan PILKADA bagi Kepala Daerah, namun berbeda dengan Camat yang di angkat oleh Bupati atas usulan Sekretaris Bupati. Kenapa adanya perbedaan pada Kepala Camat? Adapun yang menjadi perumusan masalah dalam tulisan ini adalah : “Bagaimana pengangkatan Camat menurut Perundang-undangan? Dan bagaimana pengangkatan Camat menurut perspektif politik Islam? Untuk membahas lebih lanjut tentang pengangkatan Camat menurut peraturan Perundang-undangan dan politik Islam penulis melakukan penelitian kepustakaan (library reseach) dengan cara mengumpulkan data-data yang relevan, yang berhubungan dengan penelitian ini. Kemudian data yang penulis peroleh, penulis olah dengan menggunakan pendekatan deskriptif analitis. Setelah penulis melakukan penelitian, penulis berkesimpulan bahwa : Pertama, Pengangkatan Camat menurut peraturan Perundang-undngan adalah bahwa Camat bukanlah Kepala Daerah melainkan delegatif yang artinya perangkat kecamatan atau kepala kecamatan dalam hal pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan wewenang Bupati/Walikota untuk menangani urusan otonomi daerah. Kedua pengangkatan Camat menurut politik Islam boleh dan tidak bertentangan dengan dengan syariat Islam atau aturan-aturan yang telah ditetapkan karena dalam Islam Camat dikategorikan sebagai Wazir, Wazir adalah perpanjangan tangan dari Kepala Negara, Khalifah atau Imam yang melimpahkan sebagian kebijakan dan kewenangannya kepada Wazir yang sesuai dengan Al-Qur’an surat Thaha ayat 29-31 yang artinya “dan jadikanlah untukku seorang Wazir dari keluargaku. Teguhkanlah kekuatanku dengan dia, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku”