Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan folklore Minangkabau sebagai materi membaca bahasa Inggris terhadap pemahaman membaca teks naratif siswa di SMPN 1 Bukittinggi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum terintegrasinya folklor Minangkabau secara sistematis dalam pembelajaran membaca bahasa Inggris, meskipun folklore tersebut berpotensi mengaktifkan skema budaya siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-eksperimen nonequivalent control group, melibatkan 56 siswa kelas VIII yang terbagi menjadi kelompok eksperimen (VIII G, n = 28), yang diajar menggunakan materi bacaan berbasis folklor Minangkabau, dan kelompok kontrol (VIII F, n = 28), yang diajar menggunakan materi bacaan konvensional. Data dikumpulkan melalui tes pemahaman membaca berbentuk pilihan ganda sebanyak 20 butir soal yang diberikan sebagai pre-test dan post-test, disusun berdasarkan enam tingkat pemahaman membaca yang dikemukakan oleh Day dan Park (2005). Karena data posttest kelompok eksperimen tidak memenuhi asumsi normalitas, pengujian hipotesis dilakukan menggunakan uji non-parametrik Mann-Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada pemahaman membaca kelompok eksperimen dari pre-test ke post-test (p = 0.018), serta perbedaan yang signifikan antara skor posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (p = 0.002, ukuran efek sedang r = 0.422), dengan kelompok eksperimen memperoleh mean rank yang lebih tinggi (35.32) dibandingkan kelompok kontrol (21.68). Temuan ini mendukung Schema Theory dan Culturally Responsive Teaching, yang menunjukkan bahwa materi bacaan yang familiar secara budaya memudahkan siswa dalam memahami teks. Namun, adanya perbedaan awal antara kedua kelompok mengindikasikan kemungkinan pengaruh regresi ke arah rata-rata terhadap hasil tersebut, sehingga temuan ini perlu diinterpretasikan dengan kehati-hatian yang tepat.