Abstrak
ABSTRAK Skripsi ini dibuat oleh MUHAMMADRAIHAN, dengan berjudul FILSAFAT HIDUP BUYA HAMKA Prodi Aqidah Dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Bukittinggi. Filsafat adalah berpikir bebas, radikal, dan berada pada tataran makna. Bebas artinya tidak ada yang menghalangi kerja pikiran. Radikal, artinya berpikir mendalam sampai akar masalah, bahkan melewati batas-batas fisik atau di sebut metafisis. Adapun berpikir dalam tahap makna berarti menemukan makna terdalam dari sesuatu yang terkandung di dalamnya berupa kebenaran, keindahan maupun kebaikan. Filsafat bersifat universal, artinya pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban filsafat bersifat umum dan mengenai semua orang. Misalnya: Keadilan adalah keadaan seimbang antara hak dan kewajiban. Setiap orang selalu berusaha untuk mendapatkan keadilan. Filsafat hidup berkaitan dengan prinsip hidup semua orang mempunyai pegangan hidup, tujuan hidup, maupun filosofi hidup. Ada yang mempunyai tujuan hidup yang begitu kuat namun prinsip hidupnya lemah, namun ada yang mempunyai tujuan hidup yang lemah tapi memiliki prinsip hidup yang kuat. Dengan demikian, filsafat hidup mefokuskan atau mengarahkan pada kehidupan manusia. Yang dimana menekankan pada prinsip hidup. Jenis peneilitian yang digunakan adalah penelitian pustaka dengan mengambil sumber datanya dengan menelaah buku-buku Buya Hamka yang bersangkut dengan filsafat hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Filsafat Hidup Buya Hamka dengan menggunakan pendekatan filosofis yaitu penilitian secara radikal, sistematis dan mendalam terhadap pemikiran tokoh tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan Filsafat hidup menurut pemikiran Buya Hamka Kehidupan itu laksana tenunan yang bersambung menjadi kain. Sekalian makhluk dimuka bumi ini seakan-akan tidak kelihatan didalam tenunan ini, karena sangat kecil. Setelah waktu yang telah di laluinya, maka kehidupan itu pun berhenti pada suatu perhentian yang bernama “al-maut”. Yaitu berhentinya perjalanan darah yang mengandung oksigen mengelilingi badan bersama dengan sel yang kecil pun berhenti. Kematian itu datang tidaklah pula secepat kilat, tetapi berangsur-angsur, adakala seperti lampu dinding yang kehabisan minyak. Atau laksanasebuah negeri yang ditimpa kelaparan, penduduknya mati tetapi tidak sekaligus, melainkan hanya yang malemah dahulu, berturut-turut sampai yang lebih kuat menahan lapar.