Abstrak
Muhammad Naril, NIM 4120074, Judul Skripsi: Pembacaan Ayat-ayat Al- Qur’an Pada Tradisi Tolak Bala (Studi Living Qur’an di Korong Pauh Manih Nagari Koto Dalam Selatan Kabupaten Padang Pariaman) Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tasir Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukiktinggi 2025. Penelitian ini di latar belakangi dengan adanya praktik budaya yang berkembang di masyarakat Korong Pauh Manih, Nagari Koto Dalam Selatan, Kabupaten Padang Pariaman. berupa pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an memegang peranan penting yaitu istighosoh untuk meminta pertolongan kepada Allah dari berbagai bencana dan malapetaka. Fenomena tersebut menggambarkan bagaimana Al-Qur’an tidak hanya dipahami sebagai teks suci, tetapi juga dijalankan secara hidup dan nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, Studi ini bertujuan untuk mengatahui proses Pembacaan ayat Al-Qur’an pada Tradisi Tolak Bala Korong Pauh Manih Nagari Koto Dalam Selatan Kabupaten Padang Pariaman dan untuk mengatahui pemahaman masyarakat Korong Pauh Manih Nagari Koto Dalam Selatan Kecamatan Padang Sago Kabupaten Padang Pariaman Terhadap Tradisi Tolak Bala, sebagai manifestasi implementasi nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal yang melahirkan harmoni sosial. Metode penelitian yang di gunakan pada penelitian ini adalah metode Living Qur’an. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Dengan menggunakan pendekatan kualititatif, dengan Teori presepsi (pemahaman) Alex Sobur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembacaan Ayatayat Al-Qur’an dalam tradisi tolak bala seperti membaca ayat Al-Fatihah, duo ayat terakhir surah Al-Baqarah, Ayat Kursi, Al-Ikhlas, An-Naas, dan Al-Falaq, sebagai bentuk kita bertakwa kepada Allah dalam menyebutkan meminta pertolongan kepada Allah (Istighosoh) dengan berzikir menyebut nama-nama Allah agar dijauhkan bala, bencana alam dan dilindungi segala marabahaya, Tradisi ini mencerminkan integrasi nilai-nilai Qur’ani dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, sekaligus menjadi media pendidikan keagamaan yang terus dipertahankan secara turun-temurun. Dengan demikian, pembacaan ayat Al-Qur’an dalam tradisi ini memperkuat identitas keagamaan sekaligus memperkaya keberagaman budaya lokal.