Abstrak
Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh praktik pembacaan al-qur’an pada praktik peusijuek yaitu berupa tradisi peusijuek meminta perlindungan dari musibah. Tradisi peusijuek meminta perlindungan dari musibah tersebut dilakukan di Desa Geunteng Kabupaten Pidie Jaya Aceh. Sebenarnya terdapat banyak jenis peusijuek yang dilakukan oleh masyarakat Aceh. Seperti peusijuek meulangga, peusijuek pulang dan hendak pergi ketanah suci, peusijuek dara baro dan lintobaro (perkawinan), peusijuek sunat rasul (khitan), peusijuek peudong rumoh (membangun rumah), peusijuek kendaraan dan peusijuek ureung patah (orang yang kena musibah). Akan tetapi berbeda dengan semua jenis peusijuek tersebut, di Desa Geunteng terdapat satu Tradisi peusijuek yang mungkin jarang bahkan tidak sama sekali dilakukan oleh masyarakat yang berada di daerah lain di Aceh yaitu tradisi peusijuek meminta perlindungan dari musibah. Berangkat dari fenomena yang terjadi di desa Geunteng Kabupaten Pidie Jaya Aceh ini, sangat tertarik rasanya untuk meneliti atas fenomena yang terjadi dalam tradisi praktik peusijuek memita perlindungan dari musibah. Yaitu berupa bagaimana prosesi praktik tradisi peusijuek meminta perlindungan dari musibah dan bagaimana pemahaman masyarakat desa Geunteng terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca pada saat prosesi peusijuek. Metode penelitian yang digunakan ialah metode kualitatif deskriptif, yang mana dengan ini memberikan gambaran bagaimana prosesi praktik tradisi peusijuek meminta perlidungan dari musibah serta menjelaskan makna yang terkandung dalam tradisi peusijuek tersebut. Informan dalam penelitian ini ialah orang yang melakukan upcara tradisi peusijuek, tokoh adat, para teungku (ustdaz) yang paham akan tradisi peusijuek. Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian yaitu: pertama, prosesi upacara peusijuek meminta perlindugan dari musibah tersebut dilaksanakan ketika sesorang itu mengalami musibah yang berturut-turut seperti kecelakaan yang terus menerus, atau ia tertimpa penyakit yang berkepanjangan atau ia diguna-guna oleh seseorang. Upacara peusijuek harus dipimpin oleh tokoh adat dan para teungku/ummi (ustadz/ustadzah) yang paham akan tradisi peusijuek. Kedua, pemaknaan yang terkandung dalam tradisi peusijuek meminta perlindunga dari musibah yaitu untuk mengisyaratkan kepada manusia untuk senantiasa meminta perlindunga kepada Allah agar selalu dijauhui dari marabahaya/musibah dan diberi keselamatan olehnya. Kata Kunci: Tradisi, Peusijuek