Abstrak
ABSTRAK Muhammad Ilham, NIM. 4115011, Judul Skripsi : “METODE DAKWAH DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF TAFSIR AL-MISBAH”. Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Bukittinggi 2019. Penetian ini didasari bahwa metode dakwah sangat berpengaruh dan diperlukan oleh para da’i atau pendakwah untuk menghadapi mad’u yang latar belakang dan status sosialnya berbeda-beda, karena itu dibutuhkan berbagai macam cara atau metode serta hal-hal pendukung lainnya yang memungkinkan untuk mendorong dan mewujudkan keinginan dan harapan yang ingin dicapai dalam berdakwah. Dizaman sekarang cukup banyak da’i atau penceramah yang melakukan kegiatan dakwah dengan berbagai cara atau metode untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Jenis penelitian ini ialah penelitian Library Research (penelitian kepustakaan) yaitu menjadikan bahan pustaka sebagai sumber data utama yang dimaksudkan untuk menggali teori-teori dan konsep-konsep yang telah di tentukan oleh para ahli terlebih dahulu. Data dalam penelitian ini adalah Kitab Tafsir al-Misbah dan buku-buku pendukung lainnya. Hasil Penelitian ini menurut Muhammad Quraish Shihab pada al-Qur’an surat an-Nahl ayat 125 mengajarkan bahwa metode-metode dakwah yang relevan, yang memakai tiga macam metode. Metode Hikmah yakni berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka, terhadap kaum awam diperintahkan untuk menerapkan Metode Mau’izhah yakni memberikan nasehat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan tarap pengetahuan mereka yang sederhana. Metode Mujadalah yakni perdebatan dengan cara yang terbaik, yaitu dengan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan dan umpatan. metode hikmah adalah berdakwah melalui ilmu pengetahuan, kecakapan memilih materi dakwah yang sesuai dengan kemampuan audiens atau mad’u, pandai memilih bahasa sehingga mad’u tidak merasa berat dalam menerima Islam bahkan mereka laksanakan dalam kehidupannya. Metode mau’izhah hasanah adalah nasihat yang baik harus bisa menembus hati manusia dengan lembut dan diserap oleh hati nurani dengan halus. Bukan dengan bentakan dan kekerasan tanpa ada maksud yang jelas, begitu pula tidak dengan cara membeberkan kesalahan-kesalahan yang kadang terjadi tanpa di sadari atau lantaran ingin bermaksud baik. Karena kelembutan dalam memberi nasehat akan lebih banyak menunjukan hati yang bingung menjinakan hati yang benci dan memberikan banyak kebaikan ketimbang bentakan, gertakan, dan celaan. Metode mujadalah adalah melakukan dakwah dengan debat/bantahan secara terbuka sehingga bantahan atas tanggapan para mad’u dapat diterimanya dengan senang hati, tanpa menimbulkan kesan yang tidak baik bagi para pendakwah jika terdapat tanggapan balik, maka jawabannya harus dengan menggunakan argumentasi yang logis dan jelas, sehinnga antara kedua yang sedang bermujadalah/jidal sampai pada suatu kebenaran tanpa menimbulkan kebencian dan permusuhan.