Abstrak
ABSTRAK Muhammad Ridho, NIM 4119009, Judul Skripsi: KOMPARASI ANTARA PENDAPAT WAHBAH AZ-ZUHAILI DAN BUYA HAMKA TERHADAP ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN (STUDI DALAM Q.S AL-ANBIYA:107). Program Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi 2023. Pada dasarnya manusia membutuhkan suatu sistem dalam mengatur suatu kehidupan. Agama Islam merupakan agama yang abadi sepanjang masa, yang bisa dibilang memiliki sifat universal, dinamis, dan kontekstual. Al-Qur’an memberikan kebahagiaan, ketenangan, kesejahteraan, kepada seluruh umat Islam dan petunjuk ke jalan yang benar. Islam sebagai agama merupakan Rahmtan Lil Alamin sebagai prinsip yang seharusnya dipegang dan diamalkan seluruh umatnya. Namun keberagaman pemahaman mengenai makna Islam Rahmatan Lil Alamin malah menjadikan tidak tersampaikannya makna yang dikehendaki dari prinsip tersebut. Penelitian ini termasuk kedalam jenis kepustakaan (library research) yang didalamnya fokus kepada penggalian dan penelusuran data dan literatur baik berupa kitab-kitab, buku-buku, jurnal, dan tulisan-tulisan yang berhubungan dengan tema penelitian ini. Jenis penelitian ini adalah metode kualitatif dan menggunakan metode muqqaran ( metode dengan menggandengkan, menyatukan, dan membandingkan). Dengan langkah-langkah yang digunakan penulis dalam penelitian ini, seperti yang dikemukakan Nasarudin dalam bukunya sebagai berikut: Pertama, membandingkan teks ayat-ayat yang memiliki kesamaan atau kemiripan redaksi dalam dua kasus atau lebih, dan juga yang memiliki redaksi berbeda bagi satu kasus yang sama. Kedua, membandingkan teks ayat-ayat Al-Qur’an dengan hadis yang pada lahirnya terlihat bertentangan. Ketiga, membandingkan teks Al-Qur’an dengan berbagai pendapat ulama tafsir dalam menafsirkan Al-Qur’an. Pendekatan penelitian yang penulis gunakan yakni kualitatif deskriptif. Agama Islam merupakan agama yang Rahmatan Lil Alamin yang dipahami sebagian kalangan ulama tafsir dalam Q.S Al-Anbiya[21]:107. Menurut mufasir Ahmad Mustafa al-Maraghi mengatakan bahwasannya Rasulullah Saw diutus untuk membawa ajaran yang berisikan kemaslahatan dunia dan juga akhirat, Buya Hamka didalam tafsirnya Al-Azhar menafsirkan Q.S Al-Anbiya:107 menurut Buya Hamka adalah risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw selain membawa rahmat bagi kaumnya, namun juga mengeluarkan mereka dari lingkungan yang sempit untuk hidup berkabilah menjadi suatu bangsa yang berperadaban serta menjadi rahmat bagi seluruh alam, Hamka juga meyakini risalah Nabi Muhammad dapat menuntun terbukanya akal manusia, dan kebebasan berpikir, dan Wahbah Az-Zuhaili didalam tafsirnya Al-Munir menjelaskan Rahmatan Lil Alamin terhadap Q.S Al-Anbiya[21]:107, mengatakan dan kami tidak mengutus kamu Muhammad dengan membawa syariat Al-Qur’an, petunjuk dan hukum-hukumnya melainkan agar menjadi rahmat bagi seluruh alam, baik bangsa jin dan manusia didunia dan akhirat, dan barangsiapa yang mengapresiasi rahmat tersebut, menerima dan mensyukurinya, ia akan mendapat kan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sedangkan barangsiapa yang mengingkari dan tidak mensyukurinya ia akan merugi dunia dan akhirat.