Abstrak
Skripsi ini berjudul “Strategi Komunikasi Kader Posyandu dalam Peningkatan Penyuluhan Keluarga Berencana di Koto Baru Payobasuang, Payakumbuh Timur”, disusun oleh Restu Shiva Aulia dengan NIM 4322049, Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana strategi komunikasi kader posyandu dalam peningkatan penyuluhan keluarga berencana berdasarkan teori Anwar Arifin menjelaskan empat langkah utama, yaitu memahami penonton, menyusun pesan, menentukan metode, dan memilih media.Teori ini dipilih karena mampu menjelaskan secara komprehensif tahapan-tahapan yang harus dilakukan dalam proses komunikasi agar pesan penyuluhan dapat diterima, dipahami, dan memengaruhi sikap maupun perilaku masyarakat untuk berpartisipasi dalam program Keluarga Berencana. Selain itu, keempat indikator tersebut relevan dengan peran kader Posyandu sebagai komunikator yang berinteraksi langsung dengan masyarakat dalam memberikan edukasi mengenai pentingnya program KB. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Lokasi penelitian berada di Posyandu Delima, Kelurahan Koto Baru Payobasuang, Kecamatan Payakumbuh Timur, Kota Payakumbuh. Informan penelitian terdiri atas kader Posyandu, bidan, dan masyarakat yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi mengenai strategi komunikasi kader Posyandu dalam meningkatkan penyuluhan Keluarga Berencana (KB). Analisis data dilakukan dengan menggunakan model Miles dan Huberman, yang terdiri dari tiga tahap yaitu mengurangi data, menyajikan data, dan mengambil kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi kader Posyandu dalam meningkatkan penyuluhan Keluarga Berencana telah dilaksanakan melalui empat tahapan strategi komunikasi menurut Anwar Arifin, yaitu mengenal khalayak, menyusun pesan, menetapkan metode, dan memilih media. Kader mengenali karakteristik masyarakat berdasarkan usia, tingkat pendidikan, pengalaman ber-KB, dan kebutuhan informasi. Pesan disusun menggunakan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, serta disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Metode yang digunakan didominasi oleh komunikasi tatap muka melalui kegiatan Posyandu, penyuluhan kelompok, dan kunjungan rumah sehingga memungkinkan terjadinya interaksi dua arah. Sementara itu, media yang digunakan berupa leaflet, buku KIA, alat peraga, serta media digital seperti WhatsApp untuk mendukung penyampaian informasi. Penerapan keempat strategi tersebut membantu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai program Keluarga Berencana, meskipun masih ditemukan beberapa kendala, seperti rendahnya partisipasi sebagian pasangan usia subur, keterbatasan waktu masyarakat, dan adanya persepsi negatif terhadap penggunaan alat kontrasepsi.