Abstrak
Artificial Intelligence (AI) semakin menjadi bagian dari praktik mengajar guru, namun peran spesifiknya dalam perencanaan pembelajaran, tantangan yang dihadapi guru, serta persepsi guru terhadap kegunaan dan kemudahan penggunaannya masih belum banyak dikaji di kalangan guru bahasa Inggris SMP di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi peran AI dalam mendukung perencanaan pembelajaran guru bahasa Inggris SMP, tantangan yang dihadapi guru dalam menggunakan AI, serta persepsi guru terhadap AI dari segi kegunaan dan kemudahan penggunaan yang dirasakan, dengan merujuk pada kerangka sintesis peran AI, hambatan orde pertama dan kedua dari Ertmer (1999), serta Technology Acceptance Model (Davis, 1989). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tiga guru bahasa Inggris SMP Negeri 1 Bukittinggi sebagai informan, dipilih melalui convenience sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan analisis dokumen berupa riwayat percakapan guru dengan AI, lalu dianalisis menggunakan thematic analysis enam fase Braun dan Clarke (2006), menghasilkan 84 kutipan data terkode yang dikelompokkan menjadi 11 kode dan enam tema utama. Hasil penelitian menunjukkan AI menjalankan empat peran yang saling berkaitan generator ide, perancah struktural, penyempurna konten, dan mitra reflektif dengan guru secara konsisten memperlakukan saran AI sebagai usulan yang perlu dievaluasi, bukan diterima begitu saja. Tantangan meliputi batasan generasi konten dari platform, pelatihan yang informal, serta dukungan institusional yang kuat namun jarang diformalkan, di samping hambatan internal yang bervariasi terkait kepercayaan diri dan kekhawatiran privasi data. Persepsi terhadap kegunaan dan kemudahan penggunaan secara umum positif, meski satu guru membedakan AI yang sekadar membantu dari yang benar-benar bermanfaat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa AI telah menjadi dukungan multifungsi yang bermakna dalam perencanaan pembelajaran, namun integrasinya tetap dimediasi guru, dibentuk oleh kepercayaan diri dan keyakinan individu sama besarnya dengan kapabilitas teknis alat tersebut.