Abstrak
ABSTRAK Tesis ini berjudul: Tradisi Peringatan Maulid di Nagari Batagak Perspektif ‘Urf, ditulis oleh Hendri Zola Effendi, NIM : 10123028 Program Studi Hukum Islam (HI) Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech. M.Djamil Djambek Bukittinggi tahun 2025 M / 1447 H. Motivasi penulis untuk meneliti di latar belakangi oleh adanya tradisi masyarakat nagari Batagak melakukan peringatan maulid setiap tahun yang cara pelaksanaannya berbeda dengan peringatan maulid di nagari-nagari yang berdekatan dengan nagari Batagak. Dalam perayaan Maulid yang di laksanakan di nagari Batagak masyarakat sekitar menyiapkan sejumlah makanan popular disebut dengan jamba yang kemudian dimakan bersama-sama di dalam masjid secara berkelompok. Prosesi tradisi peringatan maulid tersebut di awali dengan membacakan kitab Barzanji, dan ditutup dengan makan bersama di dalam masjid tanpa adanya acara taushiyah atau tabliqh akbar. Dalam kajian hukum Islam tradisi masyarakat itu disebut ‘uruf dan ia tergolong salah satu metode penetapan hukum Islam. Dalam prakteknya tidak semua ‘uruf dapat diterima sebagai hujah, ‘Uruf yang diterima disebut dengan shahih dan yang tolak disebut denegan fasid. Penelitian ini fokusnya untuk menemukan apakah tradisi maulid di nagari Batagak ini termasuk kategori ‘uruf shahih atau ‘uruf fasid. Penelitian ini termasuk riset lapangan (Field Reseach) bersifat kualitatif. Sumber data penelitian ini menggunakan sumber primer dan sekunder. Sumber primer dalam penelitian ini obsevasi dan wawancara. Sumber sekunder adalah kitab/buku, jurnal dan artikel yang relevan dengan penelitian ini. Sedangkan tekhnik analisa data menggunakan tekhnik analisa data kualitatif, yaitu; Induktif, deduktif dan komparatif. Hasil dari penelitian ini dapat kemukakan sebagai berikut: Pertama, tradisi ini di mulai dengan mempersiapkan sejumlah makanan (jamba) yang akan dibawa ke masjid dan mushalla. Selanjutnya di dalam masjid dan musalla tokoh agama dan masyrakat membaca tahlil dan kitab Berzanji. Terakhir seluruh masyarakat makan-makan bersama di dalam masjid tanpa ada tausiah dan tabliqh akbar. Kedua, Tradisi peringatan maulid yang di laksanakan di Nagari Batagak bila ditinjau dari perspektif ‘uruf belum sepenuhnya sesuai dengan ‘uruf shahih dengan pertimbangan terdapat nilai-nilai positif dari tradisi ini, seperti terlihatnya syi’ar Islam dan ikatan sosial keagamaan. Meskipun demikian kekurangannya adalah tidak tercapainya tujuan dari maulid itu itu sendiri, tidak memelihara kesucian masjid, dan ada unsur-unsur pemborosan dalam menyiapkan jamba, dan terakhir memberatkan sebagian masyarakat. Sehubungan dengan itu perlu dilakukan beberapa koreksian tradisi maulid di nagari Batagak agar sesuai dengan essensi dari maulid itu sendiri.