Abstrak
Kehadiran anak menjadi salah satu tujuan utama disyari’atkannya perkawinan. Selain untuk regenarasi bisa diartikan sebagai upaya melestarikan gen manusia, alat reproduksi, dan regenerasi dari masa ke masa. Selain itu berkah do’a anak-anak yang saleh kelak sepeniggalnya. Tapi, tidak semua pasangan memiliki keturunan. Ada sebagian mengalami infertilitas atau ganguan kesuburan. Sehingga tidak memiliki keturunan menimbulkan kerisuan dan persepsi negative terhadap pasangan. Skripsi ini ditulis, karena terdapat di Nagari Ophir Kecamatan Luhak Nan Duo Kabupaten Pasaman Barat terdapat 3 (tiga) orang yang sudah lama menjalin hubungan rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak bahkan ada yang sampai berpuluh-puluh tahun akan tetapi keluarganya tetap sakinah mawaddah warahmah. Berdasarkan hal ini, maka penulis ingin mengetahui secara khusus tentang upaya yang dilakukan oleh keluarga infertilitas untuk menjadikan keluarga meraka keluarga yang sakinah serta bentuk keluarga sakinah yang dapat diwujudkan oleh keluarga infertilitas di Nagari Ophir. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu data yang didapatkan melalui informasi dari informan, yang berasal dari wawancara dan dokumentasi. Informan kunci (Key Informant) dalam penelitian ini adalah keluarga infertilitas yang ada. sedangkan informan biasa (Key Informant) adalah penyuluh agama di Kantor Urusan Agama Kec. Luhak Nan Duo dan walinagari dan masyarakat setempat. Di samping itu penulis juga menggunakan buku-buku yang berkaitan dengan keluarga infertilitas. Adapun dalam menganalisis data, penulis menggunakan metode analisis kualitatif yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, upaya yang dilakukan oleh Keluarga di Nagari Ophir Kecamatan Luhak Nan Duo Kabupaten Pasaman Barat yang mengalami infertilitas untuk tetap menjadikan rumah tangga mereka keluarga yang sakinah adalah agar saling pengertian dan menghargai, saling percaya, saling mencintai dan menyayangi, dan dilandasi dengan ilmu agama yang kuat, serta selalu musyawarah dan saling terbuka jika ada keluhan dan masalah untuk dicari jalan keluar bersama-sama. Dan juga bentuk keluarga sakinah dapat diwujudkan oleh pasangan infertilitas dengan fokus pada ketahanan emosional dan spiritual dengan cara mendengar ceramah dan juga mengikuti pengajian, keterbukaan komunikasi antara suami dan istri, mencari alternatif dengan cara berobat dan konsultasi kedokter, kegiatan sosial dengan cara menyibukkan diri ikut kegiatan masyaraka, pendidikan, dan penerimaan takdir. Semua ini sudah dilakukan oleh ketiga keluarga infertilitas di Nagari Ophir tersebut. hanya saja jika di tanya apakah mereka ada keinginan untuk mempunyai anak, dan yang peneliti temui mereka sangat berkeinginan punya anak. Namun, untuk berpikir mengadopsi anak mereka belum ada berkeinginan untuk hal tersebut sampai saat ini.