Abstrak
Pengembangan pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skill (HOTS) merupakan program yang dikembangkan sebagai upaya kementerian pendidikan dan kebudayaan melalui direktorat jenderal guru dan tenaga kependidikan (Ditjen GTK) dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan meningkatkan kualitas khususnya pada mata pelajaran akidah akhlak, guru aqidah akhlak telah menerapkan model pembelajaran problem based learning (PBL) atau model pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang berfokus kepada peserta didik atau student centre, namun kondisi factual masih menggunakan model konvensional, karena model tersebut paling mudah digunakan dalam penyampaian materi, oleh karena itu walaupun sudah diamanatkan oleh kepala madrasah untuk menerapkan higher order thinking skill (HOTS) dengan model pembelajaran yang variatif tetapi guru masih terpengaruh oleh model konvensional. Pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran yang belum dilakukan dengan baik menyebabkan siswa belum mampu mengembangkan kemampuan spiritual, social, pengetahuan dan keterampilan. Selain itu guru sebagai pemberi informasi cenderung mendominasi kegiatan pembelajaran di kelas sehingga tidak terjadi hubungan timbal balik antara guru dan siswa yang berimplikasi terhadap kualitas pembelajaran dalam proses pembelajaran. Desain penelitian ini menggunakan jenis penelitian yang termasuk kategori penelitian lapangan (field research). dilihat secara kualitatif dari data input, proses, output. Penelitian ini dilakukan di MTsN 1 Lima Puluh Kota. dari bulan Februari sampai Juni 2020. Cara pengumpulan data diperoleh dengan wawancara mendalam pada 5 orang informan, dan focus group discussion terhadap 30 orang siswa. Sedangkan validasi data dilakukan dengan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan higher order thinking skill (HOTS) dengan model pembelajaran problem based learning (PBL) khususnya pada mata pelajaran aqidah akhlak masih belum sesuai dengan harapan ataupun ketentuan yang diberikan oleh pemerintah pusat. dilihat dari segi input (dana, SDM, sarana) yang ada di MTsN 1 Lima Puluh Kota secara umum telah ada dan tersedia namun belum memenuhi kebutuhan di lapangan, dari segi proses pelaksanaan hanya berdasarkan KTSP dan buku pedoman pelaksanaan program, anggaran program yang masih minim. Dalam pelaksanaan kegiatan ini masih terkendala dana sarana dan waktu sehingga optimalisasi kegiatan yang di harapkan sesuai petunjuk yang di berikan oleh pemerintah belum sampai pada tujuannya. Sedangkan dalam output perangkat pembelajaran telah tersedia dan nilai peserta didik sebagian besar rata rata nilai diatas KKM madrasah. Berdasarkan hasil penelitian disarankan MTsN 1 Lima Puluh Kota agar dapat memfasilitasi sarana dan prasarana madrasah, melakukan sosialisi tentang model pembelajaran kepada siswa. Serta peningkatan monitoring dan evaluasi yang berkelanjutan, sehingga target pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan kebutuhan.