Lewati ke konten utama
Beranda / Publikasi / Thesis
ThesisOpen AccessTerbit 2025Versi 1

Studi Hadis Tentang Larangan Laki-Laki Safar Sendirian

Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir•Ilmu Hadis•9 dilihat · 3 unduhan

Abstrak

Pada saat sekarang ini, berpergian atau safar merupakan suatu kebutuhan misalnya : menuntut ilmu, perjalanan untuk umroh dan haji, silaturrahmi, menjenguk saudara yang sakit dan sebagainya. Safar adalah berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan menempuh perjalanan minimal 89 km atau dengan waktu satu hari satu malam, dua hari dua malam atau tiga hari tiga malam. Islam menganjurkan untuk melakukan safar baik bagi laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi dalam melakukan safar terdapat larangan untuk tidak safar sendirian atau hanya berdua saja sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Hakim. Hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim tersebut secara umum melarang safar sendirian baik bagi laki-laki maupun perempuan, padahal laki-laki dinilai lebih bisa menjaga diri dibandingkan perempuan pada kondisi saat itu. Adanya hadis larangan terhadap laki-laki menjadi penting diteliti dari segi validitas dan pemahamannya. Penelitian ini merupakan penelitian library research, menggunakan metode tahlili guna mengetahui arti perkata dari hadis secara mendalam. Pemahaman terhadap hadis dilakukan dengan pendekatan tekstual dan kontekstual hadits dengan melihat asbabul wurud hadisnya serta dipahami dengan berbagai aspek yang terkandung di dalamnya secara rinci. Hasil dari penelitian ini dapat diketahui bahwa hadis ini kuantitasnya tergolong kepada hadis ahad dalam bentuk hadits gharib, karena hanya diriwayatkan oleh satu orang sahabat saja yaitu Abdullah bin Amr, adapun dari segi kualitasnya hadis ini tergolong hadis hasan. Larangan safar sendirian dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim yang memiliki arti:“seorang yang berpergian sendiri adalah (seperti) setan, dua orang yang berpergian adalah (seperti) setan, dan bertiga adalah jamaah yang berpergian”. Illat dari larangan pada hadis ditunjukkan oleh konteks historis dan sosiologis ketika hadis muncul. Dimana pada saat itu melakukan perjalanan sendirian dapat mengancam keselamatan diri dan harta. Kondisi alam di gurun dan situasi yang belum relatif aman untuk melakukan perjalanan jauh atau safar menjadi alasan adanya pensifatannya dengan syaithan. Yang menunjukkan perbuatan tersebut akan memberikan gangguan atau ancaman bagi diri dan harta seperti halnya syaithan. Hadis ini bersifat situasional terkait pada illat yang ada pada hadits. jika illat atau alasan larangan dimungkinkan tidak akan terjadi dan dapat diprediksi perjalanan yang dilakukan aman dan tidak memudharatkan maka perjalanan bagi laki-laki atau perempuan boleh saja dilakukan sendirian.

Kata kunci

Hadis, Larangan dan Safar Senditian

Informasi bibliografis

Versi dan riwayat publik

  1. Versi 1Studi Hadis Tentang Larangan Laki-Laki Safar Sendirian2025 · oai:ais:skripsi:17206

Publikasi terkait