Abstrak
Penelitian ini di latar belakangi pemahaman umat muslim tidak mengenal ilmu tasawuf di dalam dunia pendidikan bisa di kategorikan sangat kurang. Susahnya umat muslim untuk membedakan perilaku yang baik dan buruk di dalam dunia tasawuf serta berdampak pada masyarakat. Seandainya Tasawuf tidak ada maka manusia cenderung stres, frustrasi, hingga penurunan martabat manusia serta mengancam eksistensi manusia itu sendiri. Dampak tidak memahami tasawuf dalam pembelajaran abad 21 akibatnya, tasawuf akan dibenci orang, bahkan bisa jadi dimuseumkan, karena tidak relevan kebutuhan dengan empiris masyarakat dan lembaga pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep pendidikan berbasis nilai tasawuf sangat penting bagi manusia sebab ajaran ini memperbaiki perilaku manusia menjadi perilaku yang baik. Mengajak masyarakat dan lembaga pendidikan mengetahui bahwa pentingnya menerapkan perilaku pendidikan berbasis nilai tasawuf bagi manusia. Mengetahui pendidikan berbasis nilai tasawuf salah satu pembelajaran yang memberi petunjuk dan pedomaan manusia abad 21 dalam menyelesaikan permasalahan pada di era zaman sekarang. Adapun metode jenis ini adalah penelitian kualitatif dan bersifat kepustakaan (Library Research), data yang dikumpulkan dan dianalisis seluruhnya berasal dari literatur maupun bahan dokumentasi lain seperti buku, jurnal, maupun literatur yang dapat dalam kepustakaan. Hasil Penelitian ini adalah menurut teori Abuddin Nata pendidikan berbasis nilai tasawuf yakni cara mendekati diri kepada Allah SWT serta menerapkan perilaku baik yang bisa diamalkan dan perbuatan buruk jauhi. Tujuan dari pendidikan berbasis nilai tasawuf memperbaiki perilaku manusia menjadi orang yang baik dan menjauhi perilaku yang buruk di pegang teguh oleh manusia. Hal ini di jelaskan mengajak manusia untuk kedamaian dan kebahagiaan, baik di dunia maupun akhirat dan juga memotivasi manusia untuk mengapai kebaikan dan kesempurnan. Perilaku yang diamalkan menurut Abuddin Nata pendidikan berbasis nilai tasawuf seperti: Al-Zuhud, Al-Taubah, Wara, Kefakiran, Sabar, Tawakal, Ridha, Khauf, Syukr (Syukur). Metode pendidikan berbasis nilai tasawuf ini yakni sejak kecil berlangsung kontiniu, keteladanan dan mengetahui kelebihan dan kekurangan pada seseorang. Profil peserta didik (insan kamil) dalam konsep pendidikan berbasis nilai tasawuf yakni membersihkan jiwa dari sifat yang tercela serta mengisi dengan berbagai sifat yang terpuji, hal itu semua dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Relevansinya pendidikan berbasis nilai tasawuf dalam pembelajaran abad 21 yaitu memungkinkan seorang mengembangkan segala kompetensi, sikap-sikap, bentuk-bentuk tingkah laku yang bernilai positif di dalam masyarakat tempat ia hidup atau di lingkungan sekitarnya. Dengan memberikan bimbingan, pengetahuan, pengalaman, keterampilan, menumbuhkan, dan mengembangkan bakat, minat, bakat dan cenderung tersebut dapat diaktualisasikan dalam kenyataan, sehingga dapat menolong dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa, umat, dan negara.