Abstrak
ABSTRAK Skripsi ini di susun oleh “WINDA YULITA, NIM 4615012”, Program Studi Sosiologi Agama Fakulatas Ushuluddin Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Dengan judul “ TRADISI TOLAK BALA DI MEDAN NAN BAPANEH JORONG GUNUNG NAGARI TANJUNG ALAM KABUPATEN TANAH DATAR”, Penulis menulis judul skripsi ini yang melatar belakanginya adalah tolak bala di medan nan bapaneh yang dilakukan oleh nenek moyang terdahulu sudah menjadi tradisi oleh masyarakat Jorong Gunung sampai dengan sekarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk pelaksanaan tolak bala di medan nan bapaneh dan makna tolak bala di medan nan bapaneh Jorong Gunung. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yaitu penelitian yang datanya didapatkan langsung dari informan/ responden di lapangan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data yang penulis lakukan dengan wawancara dan dokumentasi, yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah informan kunci yaitu Dt. Bandaro Basa selaku tokoh agama ( khatib) di Jorong Gunung. Sedangkan informan pendu-kungnya yaitu Dt. Bandaro Bansu selaku tokoh adat ( niniak mamak) di Jorong Gunung, Ibuk Roslaini selaku dukun kampung di Jorong Gunung, Ibuk Dasmi selaku masyarakat Jorong Gunung. Epi Candra selaku Kepala Jorong Gunung. Analisis data menggunakanan alisis data Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman dengan langkah-langkah yaitu reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan atau verifikasi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan Bentuk pelaksanaan tradisi tolak bala di medan nan bapaneh Jorong Gunung Nagari Tanjung Alam Kabupaten Tanah Datar, diantaranya: Sebelum pelaksanaan ( perencanaan dan persiapan tolak bala di medan nan bapaneh), Saat pelaksanaan yang dilakukan adalah dengan menyembelih hewan ( disesuaikan dengan kondisi perekonomian masyarakat), datang ke medan nan bapaneh melakukan shalat ashar berjamaah jika masyarakat melakukan tolak bala pada musim kemarau siap shalat ashar dilanjutkan dengan shalat istiqo’, kemudian dilanjutkan dengan membaca surat yassin bersama, tahlil, pembacaan do’a tolak bala, pembacaan shalawat, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Selesai magrib kegiatan ini ditutup dengan berjalan atau berpawai keliling kampung dari medan nan bapaneh menuju batas kampung untuk menolak bala. Makna tradisi tolak bala di medan nan bapaneh adalah Mamintak ka nan buliah, bado’a di nan karamek supayo kampuang dijauahkan dari sagalo musibah, panyakik, baik itu pado manusia, tumbuh-tumbuhan, binatang dan lainya, kemarau panjang, angin kencang dan lainya, Sebagai pemberitahuan, Pewarisan tradisi, Perlindungan dari bala, Membangun keber-samaan antar masyarakat.