Abstrak
ABSTRAK Skripsi yang berjdul “Analisis Manajemen Pemasaran Ikan Laut Segar di Nagari Air Bangis, Kec. Sungai Beremas, Kab. Pasaman Barat” di susun oleh Anita Septia, Nim 3215.181.” skripsi mahasiswa dari fakultas ekonomi dan bisnis Islam (FEBI). Latar belakang penulis memilih judul ini adalah terjadinya masalah didalam manajemen pemasaran ikan laut segar yaitu sering terjadinya fluktuasi harga yang disebabkan oleh faktor musiman ataupun tekanan harga oleh para pedagang pengumpul serta penekakan harga yang terlalu tinggi tehadap nelayan yang menyebabkan nelayan selalu berada pada angka kemiskinan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana manajemen pemasaran ikan laut segar di Nagari Air Bangis, Kec. Sungai Beremas, Kab. Pasaman Barat. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian lapangan (field research) dan penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, yang menghasilkan data deskriptif dan tertulis dengan informasi dari lembaga yang terlibat dalam objek penelitian. Dalam tekhnik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis yaitu dengan observasi dan wawancara kepada pihak pengelola TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Hasil dari penelitian menemukan bahwa manajemen pemasaran ikan laut segar di TPI Sungai Beremas dikelola oleh pihak TPI itu sendiri, yaitu: perencanaan yang fungsinya secara umum yaitu untuk memperkecil suatu resiko yang dihadapi oleh pedagang maupun nelayan di TPI Air Bangis. Pengorganisasian meliputi tugas dan tanggung jawab dari masing-masing struktur organisasi, yang berfungsi untuk menjamin kelancaran aktivitas di TPI Air Bangis. Begitu juga dengan penggerakan yang fungsinya menjalankan kegiatan atau pekerjaan dari masing-masing tugas yang telah di berikan. Serta pengawasan yang fungsinya yaitu untuk menjaga agar perencanaan berjalan sesuai dengan fungsinya. Namun dalam penetapan harga, pihak TPI tidak terlibat langsung. Pihak TPI hanya memfasilitasi para pedagang yang ada di TPI. Harga diserahkan langsung kepada pasar berdasarkan kekuatan permintaan dan penawaran, sehingga hal ini menjadi peluang bagi pedagang pengumpul untuk memanipulasi harga, yang menyebabkan nelayan selalu berada dalam angka kemiskinan.