Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

COIL

3 karya publik ditemukan.

2025: 12022: 12017: 1

POLA INTERAKSI GURU DAN SISWA SEBAGAI PROSES PENINGKATAN KEDISIPLINAN SISWA DI PONDOK PESANTREN TERPADU DARUL ULUM MUDIK TAMPANG

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

COIL, NIM 21122008, “Pola Interaksi Guru Dan Siswa Sebagai Proses Peningkatan Kedisiplinan Siswa Di Pondok Pesantren Terpadu Darul Ulum Mudik Tampang.” Tesis. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena yang terjadi di Pondok Pesantren Terpadu Darul Ulum Mudik Tampang. Dalam lingkungan sekolah, permasalahan ketidakdisplinan siswa menjadi tantangan terbesar. Banyaknya siswa yang sering terlambat masuk kelas, melanggar peraturan sekolah, kurangmya tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas, hingga perilaku yang kurang menghormati guru dan teman. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pola interaksi siswa dan guru dalam meningkatkan kedispinan siswa di Pondok Pesantren Terpadu Darul Ulum Mudik Tampang, dan menjelaskan faktor pendukung dan penghambat interaksi guru dan siswa dalam peningkatkan kedisiplinan siswa di Pondok Pesantren Terpadu Darul Ulum Mudik Tampang, Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penggumpulan data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan kunci pada penelitian ini yaitu guru Fikih, sedangkan yang menjadi informan pendukung yaitu kepala yayasan Pondok Pesantren Darul Ulum Mudik Tampang dan siswa kelas VIII. Teknik analisis data yang peneliti lakukan yaitu reduksi data, penyajian data, dan verivikasi data. Untuk menjamin keabsahan dalam penelitian ini peneliti menggunakan ketekunan pengamatan dan triangulasi data. Hasil dari penelitian adalah pertama, pola interaksi guru dan siswa di Pondok Pesantren Ulum Mudik melibatkan beberapa pendekatan utama, yaitu: (1) Pola Keteladanan Islami dimana guru menjadi teladan dalam kedisiplinan melalui perilaku sehari-hari seperti ketepatan waktu, kedisiplinan dalam ibadah, dan interaksi sosial yang santun. (2) Pola Komunikasi Dialogis yaitu guru fikih berusaha membangun komunikasi dua arah dengan siswa melalui diskusi, nasihat personal, dan evaluasi rutin, meskipun belum maksimal. (3) Pola Pengawasan dan Bimbingan Personal dimana guru memberikan pengawasan ketat terhadap aktivitas siswa, disertai bimbingan personal untuk siswa yang menghadapi masalah disiplin. (4) Pola Reward dan Punishment dilakukan dengan penggunaan penghargaan bagi siswa yang berprestasi dan sanksi edukatif bagi siswa yang melanggar aturan menjadi bagian penting dalam pola interaksi ini. Kedua beberapa faktor yang mendukung keberhasilan dalam meningkatkan kedisiplinan siswa meliputi keteladanan guru, adanya komunikasi guru dan siswa yang terbuka, lingkungan pesantren yang mendukung, adanya kerjasama dengan orang tua, sedangkan faktor penghambat interaksi guru dan siswa dalam peningkatkan kedisiplinan siswa di Pondok Pesantren Terpadu Darul Ulum Mudik Tampang adalah komunikasi yang kurang efektif, ketidakkonsistenan dalam menegakkan aturan, serta rendahnya motivasi siswa.

Konsep ilmu menurut hamka dan implikasinya terhadap kurikulum pendidikan Islam

2022 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Kedudukan Pendidikan Islam dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting. Karena Pendidikan merupakan salah satu hak dasar manusia. Ilmu yang didapat alam proses pendidikan juga merupakan sebuah kebutuhan primer yang harus diperoleh setiap manusia. Dengan Pendidikan maka akan didapatnya ilmu dan dengan adanya ilmu maka kita akan di naikan derajat kita. Islam sangat memperhatikan ilmu pengetahuan, Karena dengan ilmu manusia bisa berkarya dan berprestasi. Selanjutnya dengan ilmu, ibadah seseorang menjadi sempurna. Islam mewajibkan umatnya mencari ilmu bukan sebatas ilmu agama, mempelajari ilmu pengetahuan apa saja yang membawa kemaslahatan dan berguna bagi manusia dalam hidup dan kehidupannya di dunia, selama tidak bertentangan dan merusak Akidah Islamiyah, maka diperbolehkan. Dalam pandangan Hamka Ilmu merupakan sarana yang dapat menunjang kemajuan dan kejayaan hidup manusia. Jenis penelitian ini adalah penelitian Library Reseacrh yang merupakan penelitian deskriptif. Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah Content analysis, yaitu mengeksplorasi Pandangan Hamka tentang konsep ilmu dan implikasinya terhadap kurikulum pendidikan Islam. Selanjutnya tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pandangan Hamka mengenai ilmu serta implikasinya terhadap kurikulum pendidikan Islam. Setelah dilakukan kajian yang mendalam, hasil penelitian menunjukkan bahwa Ilmu menurut Hamka bukan hanya untuk membantu manusia memperoleh penghidupan yang layak, melainkan lebih dari itu, dengan ilmu manusia akan mampu mengenal tuhannya, membentuk Akhlaknya, dan senantiasa berupaya mencari keridhaan Allah. Kurikulum pendidikan menurut Hamka harus mencakup seluruh ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan menjadi dasar bagi kemajuan dan kejayaan umat. Materi pendidikan yang dimuat dalam kurikulum pendidikan Islam menurut Hamka, sekurang-kurangnya terdiri dari: tauhid, tafsir, fiqih, hadits, nahwu, mantiq, bayan, sejarah, filsafat, kesusastraan, ilmu berhitung, ilmu bumi, ilmu falak, ilmu tubuh dan jiwa manusia, ilmu masyarakat, ilmu tumbuh-tumbuhan, ilmu pemerintahan, keterampilan memanah, berenang, dan berkuda, dan lain-lain.

Children's Literature in Translation

2017 · Book · Koleksi Perpustakaan

Children's classics from Alice in Wonderland to the works of Astrid Lindgren, Roald Dahl, J.K. Rowling and Philip Pullman are now generally recognized as literary achievements that from a translator's point of view are no less demanding than 'serious' (adult) literature. This volume attempts to explore the various challenges posed by the translation of children's literature and at the same time highlight some of the strategies that translators can and do follow when facing these challenges. A variety of translation theories and concepts are put to critical use, including Even-Zohar's polysystem theory, Toury's concept of norms, Venuti's views on foreignizing and domesticating translations and on the translator's (in)visibility, and Chesterman's prototypical approach. Topics include the ethics of translating for children, the importance of child(hood) images, the 'revelation' of the translator in prefaces, the role of translated children's books in the establishment of literary canons, the status of translations in the former East Germany; questions of taboo and censorship in the translation of adolescent novels, the collision of norms in different translations of a Swedish children's classic, the handling of 'cultural intertextuality' in the Spanish translations of contemporary British fantasy books, strategies for translating cultural markers such as juvenile expressions, functional shifts caused by different translation strategies dealing with character names, and complex translation strategies used in dealing with the dual audience in Hans Christian Andersen's fairy tales and in Salman Rushdie's Haroun and the Sea of Stories.