Abstrak
Suatu perusahaan atau instansi dalam menjalankan kegiatan operasionalnya tentu tidak terlepas dari keuntungan, kerugian serta risiko. Salah satu risiko nya yaitu kerusakan lingkungan. Green adalah tindakan penyelamat dan menjaga kerusakan lingkungan. Accounting adalah suatu proses pencatatan sampai pelaporan keuangan yang memasukkan biaya-biaya terkait pengelolaan dan pelestarian lingkungan. Biaya-biaya yang muncul dalam rangka pengelolaan lingkungan merupakan objek dari Green Accounting. Rumah Sakit Otak Dr. Drs. M.Hatta Bukittinggi merupakan objek yang dipilih sebagai rumah sakit yang diteliti karena Rumah Sakit Otak Dr. Drs. M.Hatta Bukittinggi juga sebagai penghasil limbah B3, baik yang berbentuk padat maupun berbentuk cair serta kegiatan operasionalnya dekat dengan kerusakan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan Green Accounting pada Rumah Sakit Otak Dr. Drs. M.Hatta Bukittinggi dan bertujuan untuk manganalisis kinerja keuangan Rumah Sakit Otak Dr. Drs. M.Hatta Bukittinggi terkait pengelolaan lingkungan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif. Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Teknis pengumpulan data yang dilakukan yaitu melalui wawancara, dokumentasi dan observasi. Wawancara dilakukan dengan penata akuntansi dan unit penyehatan lingkungan. Hasil data yang diperoleh dan wawancara yang dilakukan peneliti dapat mengetahui bagaimana penerapan green accounting di Rumah Sakit Otak Dr. Drs. M. Hatta Bukittinggi Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumah Sakit Otak Dr. Drs. M. Hatta Bukittinggi telah melaksanakan berbagai aktivitas pengelolaan lingkungan, seperti pengelolaan limbah padat dan limbah cair, serta telah mengeluarkan biaya yang berkaitan dengan aktivitas terkait lingkungan. Biaya lingkungan yang dikeluarkan Rumah Sakit Otak Dr. Drs. M.Hatta Bukittinggi sebesar 1,85% dari total biaya operasional namun, biaya-biaya lingkungan tersebut belum diklasifikasikan sesuai dengan teori Hansen & Mowen karena masih digabungkan dengan akun beban operasional lainnya sehingga belum disajikan secara khusus sebagai biaya lingkungan. Dari aspek perlakuan akuntansi, pengakuan dan pengukuran biaya lingkungan telah sesuai dengan ketentuan PSAK 57 karena biaya diakui sebagai beban. Akan tetapi, penyajian dan pengungkapan biaya lingkungan belum sepenuhnya mencerminkan penerapan green accounting karena belum disusun dalam laporan biaya lingkungan secara khusus. Dengan demikian, kinerja akuntansi lingkungan di Rumah Sakit Otak Dr. Drs. M. Hatta Bukittinggi dapat dinilai telah tepat pada aspek pengakuan dan pengukuran, tetapi belum optimal pada aspek klasifikasi, penyajian, dan pengungkapan biaya lingkungan.