Abstrak
Penelitian ini mengkaji klaim kebenaran tunggal dalam wacana keagamaan melalui kerangka dekonstruksi Jacques Derrida sebagaimana termuat dalam buku Dekonstruksi Spiritual: Merayakan Ragam Wajah Spiritual. Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) berpendekatan filosofis-hermeneutis, penelitian ini menganalisis tiga konsep inti Derrida différance, jejak (trace), dan suplemen (supplement) sebagai alat pembongkar absolutisme tafsir keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, klaim kebenaran tunggal dalam agama beroperasi melalui mekanisme logosentrisme, metafisika kehadiran, dan oposisi biner yang secara epistemologis tidak dapat dipertahankan; kedua, différance mengungkap bahwa makna teks keagamaan tidak pernah hadir secara penuh dan selalu terbuka bagi pluralitas penafsiran; ketiga, fanatisme, ekstremisme, dan radikalisme keagamaan memiliki akar epistemologis pada klaim akses eksklusif terhadap kebenaran ilahi. Dekonstruksi Derrida menawarkan alternatif berupa kerendahan hati epistemologis bukan relativisme sebagai fondasi dialog keagamaan yang lebih adil dan transformatif, khususnya dalam konteks pluralisme keagamaan di Indonesia.