Lewati ke konten utama
Beranda / Publikasi / Thesis
ThesisOpen AccessTerbit 2026Versi 1

Konsep Tadharru’ Dalam Al-Qur’an (Analisis Terhadap Penafsiran Sayyid Quthb pada Tafsir Fi Zhilalil Qur’an)

Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir•Ilmu Al Qur'an dan Tafsir•3 dilihat · 4 unduhan

Abstrak

ABSTRAK Fatimah Azzahra, NIM 4122012, judul skripsi: “Konsep Tadharru’ Dalam Al-Qur’an (Analisis Terhadap Penafsiran Sayyid Quthb pada Tafsir Fi Zhilalil Qur’an)”. Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah UIN Sjech Djamil Djambek Bukittinggi 2025. Pengaruh materialisme dan individualisme modern mendorong manusia menonjolkan kelebihan diri sehingga sikap rendah hati dalam beribadah semakin terpinggirkan dan ketergantungan kepada Allah kian memudar. Dalam konteks ini, tadharru’ menjadi ajaran spiritual yang urgen karena menegaskan kerendahan hati dan kepasrahan total kepada Allah, terutama saat menghadapi ujian dan kesulitan hidup. Meskipun sering disandingkan dengan kata tawadhu’, khusyu’, dan khudu’ dalam kerangka tazkiyatun nafsi, tadharru’ kerap dipahami secara umum dan disamakan dengan konsep-konsep tersebut, padahal tadharru’ memiliki penekanan makna tersendiri. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang lebih mendalam agar konsep tadharru’ dapat dipahami secara tepat dan ditempatkan secara proporsional dalam spiritualitas Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat library research (pustaka). Adapun sumber utama yang digunakan dalam penelitian ini yakni kitab Tafsir Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb, sedangkan pendekatan penelitian ini menggunakan tematik ayat perspektif ‘Abd al-Hayy al-Farmawi. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa kata tadharru’ disebutkan sebanyak enam kali dalam Al-Qur’an. Sayyid Quthb membagi pemahaman tadharru’ ke dalam dua aspek pokok, yaitu sebagai sikap sekaligus tata cara berdo’a yang diridhai Allah yang tercermin dalam kerendahan hati, ketundukan jiwa, serta do’a yang disampaikan dengan lembut karena kesadaran akan kedekatan-Nya dan juga sebagai sarana spiritual untuk kembali mendekat kepada Allah, terutama ketika menghadapi ujian dan musibah, dengan menggantungkan harapan sepenuhnya kepada pertolongan-Nya serta mengakui keterbatasan diri sebagai hamba. Gagasan Sayyid Quthb tentang tadharru’ memiliki relevansi yang kuat dalam menjawab tantangan umat Islam masa kini, yakni sebagai penangkal sikap sombong dan riya’ di tengah budaya eksposur diri, sebagai dasar etika dalam menyikapi musibah dengan kesabaran dan ketundukan tanpa menyalahkan takdir, serta sebagai fondasi ketahanan mental dan spiritual agar manusia tidak terjerumus dalam keputusasaan saat menghadapi tekanan hidup. Dengan demikian, tadharru’ tidak hanya dipahami sebagai praktik ibadah, tetapi juga sebagai nilai spiritual yang membentuk kepribadian Muslim agar senantiasa ikhlas, teguh, dan berserah diri kepada Allah dalam setiap keadaan.

Kata kunci

Kata Kunci: Al-Qur’an, Sayyid Quthb, Tadharru’, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an

Informasi bibliografis

Versi dan riwayat publik

  1. Versi 1Konsep Tadharru’ Dalam Al-Qur’an (Analisis Terhadap Penafsiran Sayyid Quthb pada Tafsir Fi Zhilalil Qur’an)2026 · oai:ais:skripsi:19169

Publikasi terkait