Abstrak
ABSTRAK Nama: Saripuddin Napitupulu, Nim: 4119066 Skripsi ini berjudul “PENAFSIRAN KATA ISTAWA DALAM ALQUR’AN PERSPEKTIF TAFSIR AL-KASYSYAF DAN TAFSIR AL-MUNIR” maksud penelitian ini ialah membandingkan satu kata dengan menggunakan dua pendapat mufassir. Perdebatan tentang istawa atau Allah bersemayam di atas ‘Arsy masih menjadi perdebatan dikalangan umat Islam, dalam hal ini terbukti dengan adanya perdebatan dikalangan Ahlussunna Wa al-Jama’ah, Salafi dan Mu’tazilah.Dalam al-Qur’an penjelasan tentang istawa ditemukan dibanyak tempat, hal ini membuktikan pembahasan istawa sangat mendasar. (1) Bagaimana penafsiran dalam tafsir al-Kasysyaf dan tafsir al-Munir atas Istawa? (2) Bagaimana perbedaan dan persamaan diantara kedua mufassir dalam menafsirkan kata Istawa? Kata mutasyabihat merupakan bentuk mu’annats dari kata mutasyabih dan berasal dari awalan kata syabaha-yusyabihu-tasyibiyatan yang artinya kemiripan, keasrian, dan kesamaan (al-Tamatsul) Menurut secara bahasa istawa memiliki awalan kata (sin, waw dan ya’), kata istawa yang berasal dari kata sawiya-yaswii yang bermakna tegak dan lurus. Penelitian ini, merupakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research), yaitu sebuah rangkaian pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakna literatur buku, naskah, dan dokumen. menggunakan metode Muqarran (a) Membandingkan teks ayat-ayat yang memiliki kesamaan atau kemiripan redaksi dalam dua kasus atau lebih, dan juga yang memiliki redaksi berbeda bagi satu kasus yang sama. (b) Membandingkan teks ayat-ayat al-Qur’an dengan hadis yang pada lahirnya terlihat bertentangan satu dia antara keduanya. (c). Membandingkan teks al-Qur’an dengan berbagai pendapat ulama tafsir dalam menafsirkan al-Qur’an. Hasil penelitian ini pada akhirnya memberikan jawaban, pada surat al-Baqarah ayat 29 al-Zamakhsyari menafsirkan istawa الاعتدال والاستقامة “Seimbang dan berdiri tegag lurus”dan Wahbah al-Zuhaili menafsirkan istawa الارتفاع والعلو على شيئ “berkedudukan tinggi di atas sesuatu.” Pada surat Thahah ayat 5 al-Zamakhsyari menafsirkan istawa, يردف الملك (Yuraddifu al-Mulk) “menduduki dan Menguasai” Wahbah al-Zuhaili menafsirkan استولى عليه (Istawla ‘Alaihi) “ Menguasai atas-Nya”. Pada surat yang lain dalam QS. Al-A’raaf [7] ayat 54, QS. Yunus [10]: 3, QS. Al-Ra’d [13]:2, QS. Al-Furqan [25]: 59, QS. Al-Sajadah [32]: 4, Qs. al-Hadid [57]: 4 kedua mufassir menafsirkan hal yang sama seperti pada kedua surat di atas.