Abstrak
Skripsi ini berjudul: Pola Pembinaan Ibadah Anak Jalanan Oleh MUI Kota Bukittinggi, yang disusun oleh Rafki, NIM. 1114.018. Pembahasan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola pembinaan ibadah yang dilakukan oleh MUI Kota Bukittinggi dan halangan-halangan yang didapati MUI Kota Bukittinggi dalam membina ibadah anak jalanan. Hal yang melatarbelakangi penulis mengangkatkan masalah ini adalah karna MUI Bukittinggi telah melakukan pembinaan terhadap anak jalanan, namun di Bukittinggi masih banyak dijumpai anak-anak jalanan yang tidak perduli melaksanakan ibadah. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field reseach) dengan pendekatan deskriftif analisis yaitu menggambarkan sesuatu sesuai dengan fenomena yang ada. Dengan menggunakan pengamatan langsung atau observasi yang dilanjutkan dengan wawancara kepada narasumber dan kemudian menggunakan dokumentasi sebagai dokumen aktual dalam penyusunan penelitian ini. Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah menyusun data secara sistematis sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian dalam melakukan analisa data. Pola pembinaan ibadah yang dilakukan MUI Kota Bukittinggi terhadap anak jalanan adalah: Pertama Pola teori yaitu Penyampayan materi oleh MUI Kota Bukittinggi kepada anak jalanan yang sedang mengikuti acara pembinaan, materi yang disampaikan berkaitan dengan masalah keagamaan. Kedua Pola praktek yaitu Membimbing anak-anak jalanan untuk mempraktekkan tata cara beribadah yang telah disampaikan oleh pemateri. Ketiga Pola Pembiasaan yaitu mengajak anak jalanan untuk membiasakan melaksanakan ibadah agar kelak bisa terbiasa untuk melaksanakannya. Adapun yang jadi penghalang bagi MUI dalam melaksanakan pembinaan adalah: Pertama kurangnya dana, karna dana yang turun untuk acara pembinaan terbatas maka MUI Kota Bukittinggi hanya bisa membina beberapa orang anak jalanan saja, dan waktu pembinaannyapun sangat terbatas. Kedua kesulitn untuk mengumpulkan, anak jalanan sulit sekali untuk di kumpulkan untuk acara pembinaan ini karena anak jalanan beranggapan dalam acara pembinaan mereka tidak akan menghasilkan uang, oleh karena itu mereka lebih memilih untuk bekerja dari pada mengikuti acara pembinaan tersebut. Ketiga kesulitan memantau anak-anak saat mereka berada di lapangan, anggota MUI Kota Bukittinggi sibuk dengan tugas atau pekerjaan mereka masing-masing sehingga mereka tidak bisa memantau anak-anak jalanan secara langsung saat sedang berada di lapangan.