Abstrak
Nelayan tradisional di Pesisir Pantai Kabupaten Padang Pariaman menjadi fokus pengamatan dalam Rencana Pengabdian Masyarakat Berbasis Action Research ini. Fenomena masyarakat pesisir di Indonesia masih didominasi oleh nelayan tradisional sebagai pelaku perikanannya. (Arif Satria, 2015) Adapun beberapa karakteristik masyarakat pesisir dapat dilihat dari: Pertama, sistem pengetahuan. Sistem pengetahuan masyarakat pesisir biasanya didapat melalui orang tua mereka yang berdasarkan pengalaman empiris, seperti mengetahui arah arus aliran laut hingga mengetahui arah mata angin. Kedua, sistem kepercayaan. Secara teologis masyarakat pesisir masih mempercayai bahwa laut mempunyai kekuatan magis sehingga membutuhkan perlakuan khusus. Sebagian besar dari mereka masih menggunakan perahu tradisional. Dari data dinas kelautan dan perikanan per tahun 2017 masalah yang dihadapi oleh masyarakat nelayan di Sumatera Barat yaitu kemiskinan yang berimbas pada kerusakan ekosistem laut. Kabupaten Padang Pariaman memiliki potensi Sumber Daya Alam laut dan sosial budaya yang dapat dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakatnya, namun terbatasnya akses terhadap teknologi dan sumber informasi potensi tersebut tidak dimanfaatkan secara optimal. Sebagian besar masyarakat pesisir Kabupaten Padang Pariaman adalah nelayan. Menjadi nelayan sampai saat ini belum memberikan kemapanan secara sosial ekonomi. Nelayan di Jorong Tiram berada pada posisi sosial yang rendah sehingga mengakibatkan mereka masih terpuruk dalam kemiskinan. Masyarakat pesisir Kabupaten Padang Pariaman yang masih belum sejahtera juga disebakan oleh kondisi Alam yang mengharuskan mereka memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan tangkas menyikapi perubahan. Badan penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data frekuensi bencana di Indonesia tahun 2020, BNPB mencatat sebanyak 75 kali bencana di sepanjang pesisir Sumatera Barat.