Abstrak
<ol style="list-style-type:upper-alpha;"> <li> <strong>Pendahuluan</strong></li> </ol> <p> Banyak orang mungkin belum mengenal cara berfikir ini, karena terlalu sedikit pembahasan ahli yang berbicara tentang cara berfikir seperti ini, sehingga istilah berfikir terbalik (<em>inverse thinking</em>) tidak terlalu populer di tengah masyarakat, meskipun tanpa disadari, terkadang kita pernah menggunakannya tanpa sengaja, karena pola berfikirnya yang sebenarnya sederhana, hanya membalikkan pola fikir yang sudah ada menjadi pola fikir sebaliknya untuk mendapatkan jalan keluar (solusi) terhadap permasalahan secara lebih kreatif.</p> <p> Di banyak referensi menyebutkan bahwa Edgar Rubin (1915) adalah orang yang meletakkan dasar-dasar berfikir terbalik ini. Edgar Rubin menciptakan sebuah gambar vas bunga atau ada juga yang menyebut dengan gambar piala, berwarna hitam-putih, saat gambar tersebut dilihat dari dimensi hitam maka akan terlihat seperti gambar vas/piala, dan bila dilihat dari dimensi putih, maka akan ditemukan gambar dua wajah yang saling berhadapan. Sehingga kemudian nama Edgar Rubin lebih terkenal dengan sebutan Rubin Vase.</p> <p align="center"> <img height="222" src="file:///C:/Users/SUPRIADI/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.png" width="227" /></p> <p align="center"> Gambar: Rubin’s vase dikutip dari google.com</p> <p> Albert Rothenberg, seorang ilmuan Denmark yang konsens pada bidang penelitian proses kreatif, sangat tertarik dengan ide Rubin dan kemudian mengembangkan pemikiran Rubin ini lebih lanjut, kesimpulan risetnya mengungkap bahwa praktik berfikir terbalik ini disebutnya dengan “proses berfikir Janusian”. Istilah Janusian diambilnya dari nama dewa Romawi “Janus” yang memiliki dua wajah yang menghadap ke arah yang berbeda. Menurutnya berfikir terbalik akan memberikan solusi yang lebih kreatif dalam penyelesaian masalah kehidupan, karena didasarkan pada banyak perspektif yang mungkin mempengaruhi atau mungkin diakibatkan oleh pengambilan suatu keputusan dengan memposisikan diri pada objek keputusan itu sendiri.</p> <p> Baik Rubin dan Rothenberg atau ahli lain yang juga terdeteksi telah menggunakan pola berfikir terbalik ini dalam teori-teori mereka seperti Enstein, William Stern, Hilda Taba, Covey, Arden atau Ira Lathief pengarang buku <em>Normal is Boring </em>(2012), memiliki paradigma yang sama dalam memandang permasalahan, bahwa setiap persoalan layak dilihat dari dimensi jauh di baliknya, dengan pandangan membalikkan kenyataan dan bila dimensi ini dimanfaatkan akan menjadi potensi besar dalam penyelesaian masalah, pemimpin yang baik tentunya tidak akan melewatkan sudut pandang unik ini dan akan menemukan hal-hal yang tak terduga dari pemanfaatan dimensi luar biasa ini, sehingga jalan keluar dari sebuah permasalah organisasi yang diperoleh akan lebih tepat dan kreatif.</p> <p> Terkadang sebagai pemegang kekuasaan, <em>top maneger</em>, atau pemimpin sebuah instansi, kerap kali bersikukuh bahwa sudut pandang yang selama ini digunakan dalam perspektif diri sendiri sudah benar tanpa mau membuka mata untuk mencoba sudut pandang yang berbeda atau sudut pandang berfikir terbalik ini, sehingga kerap kali keputusan pemimpin menghasilkan dimensi “mata pisau” yang tajam sebelah, dianggap menguntungkan diri sendiri dan kredibiltas jabatannya, sementara di mata bawahan keputusan tersebut sangat tidak menyenangkan, keputusan yang semestinya menjadi keputusan yang populis terbebas dari belenggu perspektif kepentingan diri sendiri dan golongan, kemudian akhirnya terkungkung dengan perseptif pribadi yang sempit dan tidak berpihak pada khalayak.</p> <p> </p> <ol style="list-style-type:upper-alpha;"> <li value="2"> <strong>Konsep Dasar Berfikir Terbalik</strong></li> </ol> <p> Secara sederhana berfikir terbalik dapat diartikan dengan proses berfikir atau proses menganalisa dengan menggunakan pendekatan yang dibalik. Ia merupakan strategi berpikir berlawanan dengan tujuan sebagai uji pabrik atau uji publik dari sebuah keputusan, untuk menerima kondisi saat ini dan untuk mencari upaya perbaikan yang bersifat terobosan. Ia akan memicu otak manusia bekerja keras dan akan memicu manusia untuk lebih kreatif dan berprestasi pada tataran tidak lazim karena bersifat baru. (http://bappeda.jabarprov.go.id/)</p> <p> Berfikir terbalik merupakan salah satu bagian dari proses berfikir kreatif, dengan berfikir terbalik, manusia sebenarnya tak lagi berfokus pada beban dari suatu masalah, akan tetapi berupaya menemukan solusi tanpa menyadari bahwa kita sedang mencari solusi.</p> <p> Berfikir terbalik idealnya berawal dari perubahan <em>mindset</em>, karena hal yang paling rumit pada manusia adalah merubah kebiasaan yang selama ini dilakukan, upaya <em>out of the box</em> perlu segera dilakukan oleh pemimpin agar pengambilan keputusan menggunakan berfikir terbalik dapat dilakukan, hal kedua adalah berfikir terbalik membutuhkan latihan dan pembiasaan, agar kemampuan berfikir terbalik terus terlatih dan tidak cendrung kembali kepada pola berfikir linier, dan ketiga dibutuhkan komitmen untuk tetap <em>move on</em> dari berfikir linier.</p> <p> Berkenaan dengan langkah-langkah proses berfikir terbalik, sebenarnya sangat sederhana, karena langkah-langkahnya adalah dengan membalikkan pola berfikir linier kepada langkah-langkah berfikir terbalik, untuk kemudian mengambil keputusan berdasarkan Analisa kondisi non linier untuk kemudian membalikkannya menjadi solusi dan keputusan.</p> <p> </p> <ol style="list-style-type:upper-alpha;"> <li value="3"> <strong>Implikasi Berfikir Terbalik dalam Menyelesaikan Persoalan Sampah</strong></li> </ol> <p> Sejatinya pola berfikir terbalik ini dapat diimplikasikan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk masalah sampah. Sampah merupakan persoalan yang dialami oleh setiap kota, hampir semua kota di dunia pastilah mengalami masalah sampah, namun banyak negara telah berhasil keluar dari persoalan sampah, dengan melahirkan solusi dan teknologi tepat guna dan bisa jadi solusi tersebut adalah buah dari pendekatan berfikir terbalik ini dalam analisisnya.</p> <p> Bagaimana tidak, sampah yang dari sisi berfikir linier dianggap sesuatu yang kotor, menjijikkan dan bau, namun bila diproses melalui berfikir terbalik akan menjadi sesuatu yang tidak bau, jauh dari kata jijik, bermanfaat dan bernilai ekonomi tinggi ketika sudah diolah menjadi kompos atau bahan daur ulang. Hal ini membuktikan bahwa proses berfikir terbalik sudah berhasil diimplementasikan.</p> <p> Fenomena yang terjadi di berbagai daerah Sumatera Barat adalah banyaknya masyarakat yang masih “membuang sampah sembarangan”, apalagi di kawasan daerah pinggiran kota, sepanjang bantaran sungai atau jembatan yang lenggang dan jauh dari pemukiman, maka tempat itu menjadi lahan strategis untuk “membuang sampah”. Tumpukan sampah yang menggunung dan tidak pernah diurus menimbulkan bau busuk, penyakit dan mengganggu keindahan.</p> <p> Berbagai upaya mungkin telah dilakukan pemerintah, baik dengan membuat sejumlah Perda dengan ancaman denda, dan massif membuat spanduk larangan di tempat yang berpotensi menjadi tempat pembuangan sampah “Dilarang Buang Sampah Di sini” atau bahkan diiringi dengan doa “Ya Allah miskinkanlah se miskin-miskinnya orang yang buang sampah di sini” seakan-akan Allah bias diaturnya, atau ada spanduk yang lagi trend saat ini, menepatkan kata “Daerah ini diawasi CCTV, Jangan buang sampah di sini” dan berbagai bentuk tulisan larangan yang kadang mengikutkan nama binatang najis berat di dalamnya.</p> <p> Kalau diamati dengan seksama, hampir semuanya (baik perda, denda maupun spanduk tadi), seakan-akan tidak efektif sama sekali dalam merubah “kebiasan” masyarakat dan yang lebih lucunya, justru masyarakat menumpuk sampah persis di dekat tulisan itu sendiri, seakan-akan mereka berkata “peduli amat sama doanya, emangnya doanya makbul” atau CCTVnya “code” aja, peduli amat” atau “mau gimana lagi, bingung entah dibuang kemana” dan sebagainya…..</p> <p> Dalam pandangan linier, pemerintah (dalam perspekstif mereka) mungkin menganggap bahwa masyarakat begitu bebal, sulit diajari, masyarakat tidak tahu kebersihan, masyarakat perlu diedukasi, masyarakat tidak patuh aturan, pembangkang atau tak patuh tunjuk ajar dan sebaganya. Dalam perspektif pemerintah seperti ini tentunya benar, bila dilihat dari kaca mata pemerintah yang berfikir linier.</p> <p> Namun belum sepenuhnya benar, bila pemerintah menggunakan pola berfikir terbalik, ketika berfikir terbalik dilakukan, maka adagium “membuang sampah sembarangan” akan menjadi tidak sembarangan lagi ketika di tempat itu disediakan bak sampah yang secara periodik dikosongkan dan diangkut, pemerintah juga harus berfikir ngapaian harus mendoakan yang jelek untuk masyarakat, toh kalau benar-benar terkabul dan rakyat benar-benar miskin, justru akan jadi beban negara, apa lagi menggunakan nama salah satu binatang najis besar untuk melarang seseorang, bukankah menggelari orang saja dengan gelaran buruk, sudah tidak dibenarkan dalam ajaran agama kita.</p> <p> Jika berfikir terbalik ini diikuti dengan pengadaan sarana sampah dan manajemen pengelolaan sampah dengan maksimal, saya yakin segala persoalan yang berhubungan dengan sampah akan hilang dengan sendirinya, sehingga rakyat betul-betul merasakan efek positif pajak yang mereka keluarkan. Pemerintah harus peka dimana ada tumpukan sampah berarti ada “demokrasi” yang “tersumbat” dan harus diselesaikan, bukan dimarahi, disumpahi dan didoakan agar celaka, dalam kaca mata terbalik rakyat tentunya mereka menuntut hak mereka sebagai rakyat yang taat pajak.</p> <p> Terakhir dengan berfikir terbalik ini, tentunya pemerintah selalu memposisikan diri sebagai rakyat, jangan sampai rakyat beranggapan, pemimpin hanya melakukan proses berfikir terbalik dan memposisikan diri sebagai rakyat hanya saat menyanyikan lagu janji kampanye dulu, namun ketika kursi kekuasaan itu sudah berada di tangan mereka, justru berfikir terbalik itu dalam bentuk yang berbeda dan pemimpin tidak lagi memposisikan diri di posisi menjadi rakyat, padahal dulu mereka juga rakyat dan saat jadi rakyat dulu, entah seberapa pula mereka melakukan hal yang mirip atau lebih buruk.</p> <p> Agaknya hal ini perlu disadari oleh semua baik pemimpin dan begitu pula dengan rakyat, berfikir terbalik, ibarat kontrol yang mesti digunakan bersama secara timbal-balik, rakyatpun juga harus menggunakan pola berfikir terbalik tersebut terhadap pemimpin mereka, bila sudah saling bersinergi, apapun permasalah yang dihadapi akan sangat mudah diselesaikan dengan pola berfikir terbalik ini, semoga..! (dari berbagai sumber)</p> <p> </p>