Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

SUPRIADI

50 karya publik ditemukan.

2025: 32024: 12023: 12022: 12021: 22019: 12018: 42017: 22016: 25

Universitas Islam Negeri Syekh Sulaiman Arrasuli (Sebuah Ide: Antara tantangan dan Peluang)

2026 · Research · Hasil Penelitian dan Pengabdian

<p> Kebesaran dan keterkenalan nama Maulana Syekh Sulaiman Ar-Rasuli atau Inyiak Candung, sudah tidak diragukan lagi dan telah menyebar ke seluruh pelosok negeri bahkan tersohor hingga ke beberapa negara tetangga. Sepak terjang, kharimatik dan kedalaman ilmunya telah sukses mengembangkan pendidikan Islam khususnya di Sumatera Barat, meskipun saat itu kondisi bangsa masih di bawah kekuasaan penjajah, prestasi inilah yang kemudian membuat namanya kian dikenal masyarakat Indonesia sebagai pejuang pendidikan Islam.&nbsp;</p>

E-CONSULT: MODEL BIMBINGAN SKRIPSI ONLINE IAIN BUKITTINGGI DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

2026 · Research · Hasil Penelitian dan Pengabdian

<p> 1.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Untuk mengetahui seberapa besar efektifitas buku model mampu menyelesaikan permasalahan pembimbingan skripsi berdasarkan tujuan bimbingan.</p> <p> 2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Untuk mengetahui seberapa besar efektifitas buku pedoman penulisan skripsi mampu menyelesaikan permasalahan pembimbingan skripsi berdasarkan tujuan bimbingan.</p> <p> 3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Untuk mengetahui seberapa besar efektifitas aplikasi <em>e-Consult</em> mampu menyelesaikan permasalahan pembimbingan skripsi berdasarkan tujuan bimbingan.</p> <p> 4.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Untuk mengetahui seberapa besar efektifitas buku panduan pengguna (user guide) <em>e-Consult</em> mampu menyelesaikan permasalahan pembimbingan skripsi berdasarkan tujuan bimbingan.</p>

OUTCOME BASED EDUCATION (OBE) DAN IMPLEMENTASINYA PADA RPS, PEMBELAJARAN DAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DIGITAL BAGI PRODI DAN DOSEN STIEBI AL-AZHAR BUKITTINGGI

2026 · Research · Hasil Penelitian dan Pengabdian

<p> <img alt="" height="300px" src="https://ecampus.uinbukittinggi.ac.id/ecampus/AmbilLampiran?d=GtiiN14zpdJfSmRPd3YTbLsIH6DfGieG7LYKXwM9UeHD7OGPbD1N9XKwFK7NdUw35kJhCnqd4rSLYXeYld5cY8SBhchZ0lOfDNoJu7R9bXzhdcUPrZDf%2BmbLalhP5JD0neqRYQ73cP%2Bpn4TzM%2BEBn2lydxU9SmPGtDDxdV6lKtvsxKegqg%2BzNw%3D%3D" /></p>

DPL KKN

2026 · Research · Hasil Penelitian dan Pengabdian

KKN Tahun 2021 berbasis artikel, diharapkan menghasilkan artikel ilmiah tentang pengabdian berbasis prodi

Puasa dalam Pembuktian Ilmiah

2026 · Research · Hasil Penelitian dan Pengabdian

<p> Membuat artikel opini yang diterbitkan di koran lokal Sumatera Barat</p>

OUTCOME BASED EDUCATION (OBE) DAN IMPLEMENTASINYA PADA RPS, PEMBELAJARAN DAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR DIGITAL BAGI PRODI DAN DOSEN STIEBI AL-AZHAR BUKITTINGGI

2026 · Research · Hasil Penelitian dan Pengabdian

<p> <img alt="" height="300px" src="https://ecampus.uinbukittinggi.ac.id/ecampus/AmbilLampiran?d=GtiiN14zpdJfSmRPd3YTbLsIH6DfGieG7LYKXwM9UeHD7OGPbD1N9XKwFK7NdUw35kJhCnqd4rSLYXeYld5cY8SBhchZ0lOfDNoJu7R9bXzhdcUPrZDf%2BmbLalhP5JD0neqRYQ73cP%2Bpn4TzM%2BEBn2lydxU9SmPGtDDxdV6lKtvsxKegqg%2BzNw%3D%3D" /></p>

BERFIKIR TERBALIK UNTUK PERSOALAN SAMPAH

2026 · Research · Hasil Penelitian dan Pengabdian

<ol style="list-style-type:upper-alpha;"> <li> <strong>Pendahuluan</strong></li> </ol> <p> Banyak orang mungkin belum mengenal cara berfikir ini, karena terlalu sedikit pembahasan ahli yang berbicara tentang cara berfikir seperti ini, sehingga istilah berfikir terbalik (<em>inverse thinking</em>) tidak terlalu populer di tengah masyarakat, meskipun tanpa disadari,&nbsp; terkadang kita pernah menggunakannya tanpa sengaja, karena pola berfikirnya yang sebenarnya sederhana, hanya membalikkan pola fikir yang sudah ada menjadi pola fikir sebaliknya untuk mendapatkan jalan keluar (solusi) terhadap permasalahan secara lebih kreatif.</p> <p> Di banyak referensi menyebutkan bahwa Edgar Rubin (1915) adalah orang yang meletakkan dasar-dasar berfikir terbalik ini. Edgar Rubin menciptakan sebuah gambar vas bunga atau ada juga yang menyebut dengan gambar piala, berwarna hitam-putih, saat gambar tersebut dilihat dari dimensi hitam maka akan terlihat seperti gambar vas/piala, dan bila dilihat dari dimensi putih, maka akan ditemukan gambar dua wajah yang saling berhadapan. Sehingga kemudian nama Edgar Rubin lebih terkenal dengan sebutan Rubin Vase.</p> <p align="center"> <img height="222" src="file:///C:/Users/SUPRIADI/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.png" width="227" /></p> <p align="center"> Gambar: Rubin&rsquo;s vase dikutip dari google.com</p> <p> Albert Rothenberg, seorang ilmuan Denmark yang konsens pada bidang penelitian proses kreatif, sangat tertarik dengan ide Rubin dan kemudian mengembangkan pemikiran Rubin ini lebih lanjut, kesimpulan risetnya mengungkap bahwa praktik berfikir terbalik ini disebutnya dengan &ldquo;proses berfikir Janusian&rdquo;. Istilah Janusian diambilnya dari nama dewa Romawi &ldquo;Janus&rdquo; yang memiliki dua wajah yang menghadap ke arah yang berbeda. Menurutnya berfikir terbalik akan memberikan solusi yang lebih kreatif dalam penyelesaian masalah kehidupan, karena didasarkan pada banyak perspektif yang mungkin mempengaruhi atau mungkin diakibatkan oleh pengambilan suatu keputusan dengan memposisikan diri pada objek keputusan itu sendiri.</p> <p> Baik Rubin dan Rothenberg atau ahli lain yang juga terdeteksi telah menggunakan pola berfikir terbalik ini dalam teori-teori mereka seperti Enstein, William Stern, Hilda Taba, Covey, Arden atau Ira Lathief pengarang buku <em>Normal is Boring </em>(2012), memiliki paradigma yang sama dalam memandang permasalahan, bahwa setiap persoalan layak dilihat dari dimensi jauh di baliknya, dengan pandangan membalikkan kenyataan dan bila dimensi ini dimanfaatkan akan menjadi potensi besar dalam penyelesaian masalah, pemimpin yang baik tentunya tidak akan melewatkan sudut pandang unik ini dan akan menemukan hal-hal yang tak terduga dari pemanfaatan dimensi luar biasa ini, sehingga jalan keluar dari sebuah permasalah organisasi yang diperoleh akan lebih tepat dan kreatif.</p> <p> Terkadang sebagai pemegang kekuasaan, <em>top maneger</em>, atau pemimpin sebuah instansi, kerap kali bersikukuh bahwa sudut pandang yang selama ini digunakan dalam perspektif diri sendiri sudah benar tanpa mau membuka mata untuk mencoba sudut pandang yang berbeda atau sudut pandang berfikir terbalik ini, sehingga kerap kali keputusan pemimpin menghasilkan dimensi &ldquo;mata pisau&rdquo; yang tajam sebelah, dianggap menguntungkan diri sendiri dan kredibiltas jabatannya, sementara di mata bawahan keputusan tersebut sangat tidak menyenangkan, keputusan yang semestinya menjadi keputusan yang populis terbebas dari belenggu perspektif kepentingan diri sendiri dan golongan, kemudian akhirnya terkungkung dengan perseptif pribadi yang sempit dan tidak berpihak pada khalayak.</p> <p> &nbsp;</p> <ol style="list-style-type:upper-alpha;"> <li value="2"> <strong>Konsep Dasar Berfikir Terbalik</strong></li> </ol> <p> Secara sederhana berfikir terbalik dapat diartikan dengan proses berfikir atau proses menganalisa dengan menggunakan pendekatan yang dibalik. Ia merupakan strategi berpikir berlawanan dengan tujuan sebagai uji pabrik atau uji publik dari sebuah keputusan, untuk menerima kondisi saat ini dan untuk mencari upaya perbaikan yang bersifat terobosan. Ia akan memicu otak manusia bekerja keras dan akan memicu manusia untuk lebih kreatif dan berprestasi pada tataran tidak lazim karena bersifat baru. (http://bappeda.jabarprov.go.id/)</p> <p> Berfikir terbalik merupakan salah satu bagian dari proses berfikir kreatif, dengan berfikir terbalik, manusia sebenarnya tak lagi berfokus pada beban dari suatu masalah, akan tetapi berupaya menemukan solusi tanpa menyadari bahwa kita sedang mencari solusi.</p> <p> Berfikir terbalik idealnya berawal dari perubahan <em>mindset</em>, karena hal yang paling rumit pada manusia adalah merubah kebiasaan yang selama ini dilakukan, upaya <em>out of the box</em> perlu segera dilakukan oleh pemimpin agar pengambilan keputusan menggunakan berfikir terbalik dapat dilakukan, hal kedua adalah berfikir terbalik membutuhkan latihan dan pembiasaan, agar kemampuan berfikir terbalik terus terlatih dan tidak cendrung kembali kepada pola berfikir linier, dan ketiga dibutuhkan komitmen untuk tetap <em>move on</em> dari berfikir linier.</p> <p> Berkenaan dengan langkah-langkah proses berfikir terbalik, sebenarnya sangat sederhana, karena langkah-langkahnya adalah dengan membalikkan pola berfikir linier kepada langkah-langkah berfikir terbalik, untuk kemudian mengambil keputusan berdasarkan Analisa kondisi non linier untuk kemudian membalikkannya menjadi solusi dan keputusan.</p> <p> &nbsp;</p> <ol style="list-style-type:upper-alpha;"> <li value="3"> <strong>Implikasi Berfikir Terbalik dalam Menyelesaikan Persoalan Sampah</strong></li> </ol> <p> Sejatinya pola berfikir terbalik ini dapat diimplikasikan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk masalah sampah. Sampah merupakan persoalan yang dialami oleh setiap kota, hampir semua kota di dunia pastilah mengalami masalah sampah, namun banyak negara telah berhasil keluar dari persoalan sampah, dengan melahirkan solusi dan teknologi tepat guna dan bisa jadi solusi tersebut adalah buah dari pendekatan berfikir terbalik ini dalam analisisnya.</p> <p> Bagaimana tidak, sampah yang dari sisi berfikir linier dianggap sesuatu yang kotor, menjijikkan dan bau, namun bila diproses melalui berfikir terbalik akan menjadi sesuatu yang tidak bau, jauh dari kata jijik, bermanfaat dan bernilai ekonomi tinggi ketika sudah diolah menjadi kompos atau bahan daur ulang. Hal ini membuktikan bahwa proses berfikir terbalik sudah berhasil diimplementasikan.</p> <p> Fenomena yang terjadi di berbagai daerah Sumatera Barat adalah banyaknya masyarakat yang masih &ldquo;membuang sampah sembarangan&rdquo;, apalagi di kawasan daerah pinggiran kota, sepanjang bantaran sungai atau jembatan yang lenggang dan jauh dari pemukiman, maka tempat itu menjadi lahan strategis untuk &ldquo;membuang sampah&rdquo;. Tumpukan sampah yang menggunung dan tidak pernah diurus menimbulkan bau busuk, penyakit dan mengganggu keindahan.</p> <p> Berbagai upaya mungkin telah dilakukan pemerintah, baik dengan membuat sejumlah Perda dengan ancaman denda, &nbsp;dan massif membuat spanduk larangan di tempat yang berpotensi menjadi tempat pembuangan sampah &ldquo;Dilarang Buang Sampah Di sini&rdquo; atau bahkan diiringi dengan doa &ldquo;Ya Allah miskinkanlah se miskin-miskinnya orang yang buang sampah di sini&rdquo; seakan-akan Allah bias diaturnya, atau ada spanduk yang lagi trend saat ini, menepatkan kata &ldquo;Daerah ini diawasi CCTV, Jangan buang sampah di sini&rdquo; dan berbagai bentuk tulisan larangan yang kadang mengikutkan nama binatang najis berat di dalamnya.</p> <p> Kalau diamati dengan seksama, hampir semuanya (baik perda, denda maupun spanduk tadi), seakan-akan tidak efektif sama sekali dalam merubah &ldquo;kebiasan&rdquo; masyarakat dan yang lebih lucunya, justru masyarakat menumpuk sampah persis di dekat tulisan itu sendiri, seakan-akan mereka berkata &ldquo;peduli amat sama doanya, emangnya doanya makbul&rdquo; atau CCTVnya &ldquo;code&rdquo; aja, peduli amat&rdquo; atau &ldquo;mau gimana lagi, bingung entah dibuang kemana&rdquo; dan sebagainya&hellip;..</p> <p> Dalam pandangan linier, pemerintah (dalam perspekstif mereka) mungkin menganggap bahwa masyarakat begitu bebal, sulit diajari, masyarakat tidak tahu kebersihan, masyarakat perlu diedukasi, masyarakat tidak patuh aturan, pembangkang atau tak patuh tunjuk ajar dan sebaganya. Dalam perspektif pemerintah seperti ini tentunya benar, bila dilihat dari kaca mata pemerintah yang berfikir linier.</p> <p> Namun belum sepenuhnya benar, bila pemerintah menggunakan pola berfikir terbalik, ketika berfikir terbalik dilakukan, maka adagium &ldquo;membuang sampah sembarangan&rdquo; akan menjadi tidak sembarangan lagi ketika di tempat itu disediakan bak sampah yang secara periodik dikosongkan dan diangkut, pemerintah juga harus berfikir ngapaian harus mendoakan yang jelek untuk masyarakat, toh kalau benar-benar terkabul dan rakyat benar-benar miskin, justru akan jadi beban negara, apa lagi menggunakan nama salah satu binatang najis besar untuk melarang seseorang, bukankah menggelari orang saja dengan gelaran buruk, sudah tidak dibenarkan dalam ajaran agama kita.</p> <p> Jika berfikir terbalik ini diikuti dengan pengadaan sarana sampah dan manajemen pengelolaan sampah dengan maksimal, saya yakin segala persoalan yang berhubungan dengan sampah akan hilang dengan sendirinya, sehingga rakyat betul-betul merasakan efek positif pajak yang mereka keluarkan. Pemerintah harus peka dimana ada tumpukan sampah berarti ada &ldquo;demokrasi&rdquo; yang &ldquo;tersumbat&rdquo; dan harus diselesaikan, bukan dimarahi, disumpahi dan didoakan agar celaka, dalam kaca mata terbalik rakyat tentunya mereka menuntut hak mereka sebagai rakyat yang taat pajak.</p> <p> Terakhir dengan berfikir terbalik ini, tentunya pemerintah selalu memposisikan diri sebagai rakyat, jangan sampai rakyat beranggapan, pemimpin hanya melakukan proses berfikir terbalik dan memposisikan diri sebagai rakyat hanya saat menyanyikan lagu janji kampanye dulu, namun ketika kursi kekuasaan itu sudah berada di tangan mereka, justru berfikir terbalik itu dalam bentuk yang berbeda dan pemimpin tidak lagi memposisikan diri di posisi menjadi rakyat, padahal dulu mereka juga rakyat dan saat jadi rakyat dulu, entah seberapa pula mereka melakukan hal yang mirip atau lebih buruk.</p> <p> Agaknya hal ini perlu disadari oleh semua baik pemimpin dan begitu pula dengan rakyat, berfikir terbalik, ibarat kontrol yang mesti digunakan bersama secara timbal-balik, rakyatpun juga harus menggunakan pola berfikir terbalik tersebut terhadap pemimpin mereka, bila sudah saling bersinergi, apapun permasalah yang dihadapi akan sangat mudah diselesaikan dengan pola berfikir terbalik ini, semoga..! (dari berbagai sumber)</p> <p> &nbsp;</p>

Konsep Harga Dalam Ekonomi Islam

2021 · Book · Koleksi Perpustakaan

Konsep Harga Dalam Ekonomi Islam PENULIS: Supriadi, S.E.I., M.E.I ISBN: 978-602-443-550-9 Penerbit : Guepedia Publisher Ukuran : 14 x 21 cm Tebal : 121 halaman Sinopsis: Harga merupakan instrumen penting dalam jual beli, ketika harga yang ditawarkan itu wajar dan sesuai dengan mekanisme pasar serta aturan yang berlaku maka akan terjadi keadilan harga. Namun, jika harga itu ditetapkan dengan cara batil yang dimasuki unsur-unsur politik, syahwat mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, maka yang akan terjadi adalah ketidakadilan harga. Di dalam pasar sempurna, harga dipengaruhi oleh permintaan (demand) dan penawaran (suplay) antara penjual dan pembeli. Pembeli memberikan permintaan atas sifat barang yang akan dibeli, sedangkan penjual menawarkan nilai barang yang akan dijual. Pertukaran antara nilai keduanya adalah suatu keseimbangan harga (equilibrium). Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa harga yang setara adalah harga yang dibentuk oleh kekuatan pasar yang menggambarkan atas kekuatan dan penawaran. Beliau menggambarkan bahwa jika penduduk menjual barang secara normal (al-wajh al-ma’ruf) tanpa menggunakan cara-cara yang tidak adil kemudian harga tersebut meningkat karena pengaruh kelangkaan barang (yakni kelangkaan suplay) atau dikarenakan jumlah penduduk (yakni peningkatan demand), kenaikan harga tersebut merupakan kehendak Allah SWT. Dalam kasus ini memaksa penjual untuk menjual barang-barang mereka pada harga tertentu adalah pemaksaan yang salah (ikrah bi ghairi haq). Buku ini ditulis untuk menambah referensi terkait dengan konsep jual beli dalam Islam dan dasar hukumnya, konsep harga dalam ekonomi Islam, penetapan harga dalam sistem ekonomi Islam, penetapan harga yang adil menurut pandangan ulama dan konsep keadilan harga perspektif ekonomi Islam. Email : guepedia@gmail•com WA di 081287602508 Happy shopping & reading Enjoy your day, guys

Evalauasi Program Tahfiz Al Qur'an dengn Model CIPP di SMP IT Al Kahfi Pasaman Barat

2021 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Program yang telah dirancang dan dijalankan tentu harus dikaji ulang kembali dengan salah satu cara untuk mengetahui apakah program itu berhasil dengan baik atau tidak. Evaluasi pada suatu program untuk menghasilkan informasi yang baik dan tepat dalam memberikan tindak lanjut/ perbaikan pada program dimasa yang akan datang merupakan urgensi dari evaluasi itu sendiri. Program Tahfidzul Qur’an di SMPIT Al-Kahfi Kabupaten Pasaman Barat yang telah berjalan sejak 2017 belum pernah di adakan evaluasi, oleh sebab itu perlu diadakan evaluasi demi mengetahui informasi yang baik dan tepat dalam memberikan tindak lanjut/ perbaikan pada program dimasa yang akan datang. Penelitian ini menggunakan Metode kuantitatif deskriptif, dengan menggunakan pendekatan model evaluasi Context, Input, Process, dan Product (CIPP). Populasi penelitian ini berjumlah 215 yang terdiri 102 orang siswa, 102 orang tua/wali siswa yang mengikuti Program Tahfidzul Qur’an dan pemegang kebijakan (Kepala (SMPIT) Alkahfi Kabupaten Pasaman Barat, Wakil Kepala kesiswaan, Wakil Kepala kurikulum dan Pembina tahfidzul Qur’an) 11 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah jenis Probability Sampling berupa Simple Random Sampling (sampel acak sederhana), jumlah Sampel penelitian ini adalah sebanyak 153 orang yang terdiri dari siswa 71 orang, orang tua siswa 71, 11 orang pemegang kebijakan yaitu 1 orang kepala, 2 orang waka dan 8 orang Pembina tahfidz. Sumber Data dalam penelitian ini adalah Kepala SMPIT Al-Kahfi Kabupaten Pasaman Barat, waka kesiswaan, waka kurikulum, pembina program, peserta didik, dan orangtua/wali. Teknik yang dipakai dalam Pengambilan data diperoleh adalah dengan menggunakan angket. Hasil penelitian menunjukan bahwa evaluasi program tahfidzul Qur’an ditinjau dari CIPP dikatakan sangat baik dengan hasil rata-rata 4,44. Adapun rincian hasil penelitian perkomponen yaitu, komponen konteks memiliki rata-rata 4,39, angka ini berada pada kategori sangat baik. Komponen evaluasi input yang menunjukkan hasil rata-rata 4,57, angka ini berada pada kategori sangat baik. Komponen evaluasi proses memiliki rata-rata 4,29 yang berada pada kategori sangat baik, dan Komponen produk memiliki rata-rata 4,51 yang berada pada kategori sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa program tahfidzul Qur’an dapat dilanjutkan pelaksanaannya dengan perbaikan pada beberapa bagian dalam komponen konteks, input, proses, dan produk. Saran juga diberikan penulis kepada pihak sekolah guna untuk memperbaiki komponen yang mendapatkan hasil minimal.