Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

SAFRUDIN

4 karya publik ditemukan.

2026: 12019: 12018: 12017: 1

POLITIK PENDIDIKAN ISLAM DI SUMATERA BARAT PRIODE 2009-2019 (STUDI KEBIJAKAN SMA NEGERI BERASRAMA SUMBAR)

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis politik pendidikan Islam dalam kebijakan pendirian dan implementasi SMA Negeri Berasrama Sumatera Barat periode 2009–2019. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh problem struktural pendidikan menengah umum, yaitu terbatasnya waktu pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan pembinaan karakter, masih kuatnya dikotomi antara ilmu umum dan agama, serta keterbatasan kebijakan sekolah dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam secara sistemik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kebijakan. Analisis dilakukan melalui perspektif politik pendidikan Michael W. Apple dan Antonio Gramsci, teori kebijakan publik, serta konsep Islamisasi epistemologis M. Sirozi dengan dukungan paradigma emansipatoris Paulo Freire. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi pada SMA Negeri Berasrama di Sumatera Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan SMA Berasrama Sumbar merupakan terobosan strategis dalam era desentralisasi pendidikan. Sekolah ini menjadi pionir nasional sebagai sekolah negeri berbentuk boarding yang didanai murni melalui APBD provinsi. Secara substantif, kebijakan ini berhasil mengintegrasikan keunggulan akademik dan pembinaan karakter Islami secara sistemik, bergerak melampaui Islamisasi simbolik menuju integrasi epistemologis keilmuan Islam. Namun demikian, keberlanjutan model ini memerlukan penguatan regulatif yang lebih komprehensif serta penyiapan sumber daya manusia yang sesuai dengan karakteristik pendidikan boarding. Penelitian ini menawarkan sintesis antara teori politik pendidikan Barat dan paradigma Islamisasi pendidikan, sehingga memperkaya kajian politik pendidikan Islam serta menghadirkan model kebijakan pendidikan daerah berbasis nilai dan transformasi moral.

Pendidikan Seks Perspektif Terapi Sufistik Bagi LGBT

2017 · Book · Koleksi Perpustakaan

Di awal tahun 2016 Lesbian, Gay, Bisekual dan Transgender (LGBT) kembali mencuat dikampanyekan di Indonesia semenjak artis kondang Indra Bekti dan Syaiful Jamil tertuduh melakukan kekerasan seksual sesama jenis. Tampilnya kaum LGBT, yang semula lebih dikesankan sebagai bentuk aktivitas seksual secara tertutup dan rahasia kini dipopulerkan di Indonesia. Ketertutupan perilaku seksual tersebut disebabkan kaum LGBT ditengah masyarakat masih dianggap minoritas dan kerap kali memperoleh perlakuan diskriminatif baik dalam lingkungan keluarga, agama, masyarakat serta berbagai sudut kehidupan lainnya. Sikap diskriminatif ini diterima dengan berbagai bentuk pelecehan, cemoohan, penghinaan, bahkan kekerasan dari lingkungan sekitarnya baik kekerasan yang bersifat fisik dan mental sebagai akibat mereka menjalani hidup penuh dengan perbedaan khususnya orientasi seksual yang tidak sesuai fitrah manusia pada umumnya. Stigma negatif terhadap LGBT, selanjutnya disebut Same-Seks Atraction (SSA) pada akhirnya mendorong sebagian besar dari mereka cenderung menutupi orientasi seksualnya. Seperti pada kasus seorang pria SSA yang menikahi seorang perempuan tunarungu atau tunanetra semata-mata hanya untuk menutupi orientasi seksual dirinya. Semua itu dilakukan agar tetap memperoleh status terhormat dalam kehidupan masyarakat. Namun pada akhirnya pria tersebut tetap berhubungan dengan kekasih prianya dan melakukan banyak kekerasan psikologis pada istrinya yang cacat fisik tersebut. Secara akumulatif kaum SSA dalam setiap tahunnya semakin bertambah banyak. Berdasarkan hasil survey Kementerian Kesehatan di 13 kota di Indonesia yang dilakukan semenjak tahun 2009 hingga 2013, tercatat pria yang bercinta dengan sesama jenis meningkat drastis yakni dari 7% menjadi 12,8%. Sehingga dari data tersebut kaum SSA mengalami kenaikan secara total sejumlah 83%. Dalam survei tersebut, jumlah laki-laki yang melakukan seks dengan laki-laki juga meningkat dari 5,3 % menjadi 12,4 % atau sekitar 134 persen.[4] Seiring dengan peningkatan jumlah kaum SSA serta komunitas yang menaunginya menjadikan kaum SSA semenjak level usia pelajar SMP, SMA, mahasiswa hingga kaum dewasa berani tampil secara percaya diri diberbagai media informasi. Tampilnya komunitas ini bukan sekedar menunjukan jati diri dan orientasi seks yang berbeda dengan manusia pada umumnya secara utuh. Namun tampilnya kaum SSA di tanah air secara menyeluruh ingin memperoleh kesamaan hak sebagai warga negara sekaligus menuntut pemerintah untuk mengakui sekaligus melegalkan perkawinan sesama jenis. Tuntutan tersebut disebabkan anggapan mereka bahwa orientasi seks yang berbeda menjadi bagian dari hak asasi manusia (HAM) dan tercatat lebih dari 20 negara di dunia telah mengesahkan pernikahan sejenis ini. Bahkan di negeri Paman Sam tepatnya 4 Juli 2015 menjadi perayaan kemerdekaan dan kemenangan bagi kaum SSA atas disyahkannya pernikahan sejenis. Pasalnya, 26 Juni sebelumnya Supreme Court Amerika Serikat memutuskan bahwa perkawinan sejenis telah disyahkan oleh konstitusi Amerika sebagaimana disampaikan Hakim Agung Kennedy: they ask for equal dignity in the eyes of the law, the constitution grants them that rights. Lahirnya pengesahan tersebut tentunya disambut gembira ria oleh ribuan kaum SSA.