The 1st International Conference on Humanities, Arts, and Social Science
Pembangunan pendidikan modern di Aceh pada masa kolonial memiliki motif kuat untuk mengubah mentalitas masyarakatnya. Tujuannya adalah pemerintah Hindia-Belanda ingin mengubah sistem pendidikan tradisional menjadi sistem pendidikan modern untuk mengubah pola pikir masyarakat Aceh agar mendukung kolonialisme. Artikel ini berupaya merekonstruksi sejarah pembangunan pendidikan modern di Aceh pada masa kolonial dan perjuangan para guru pribumi melalui analisis terhadap surat kabar Oetoesan Goeroe. Surat kabar tersebut adalah organ resmi dari PGGA (Perkoempoelan Goeroe-goeroe Gouvernement Atjeh) yang memuat berita-berita tentang pembangunan pendidikan Aceh dalam kurun 1926–1930. Metode yang digunakan adalah metode sejarah dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis model Teun A. van Dijk dan pendekatan Historiographical CDA. Hasil riset menunjukkan bahwa pemerintah kolonial Belanda awalnya memiliki ekspektasi terlalu besar untuk mewujudkan pasifikasi Aceh melalui sektor pendidikan namun kenyataannya justru tidak begitu serius memberikan solusi atas berbagai hambatan. Guru-guru pribumi yang awalnya mengemban misi mulia untuk membangun pendidikan di Aceh justru terjebak dalam situasi serba sulit. Mayoritas guru-guru pribumi kala itu berasal dari luar Aceh. Mereka harus mengabdi di desa-desa dengan kesejahteraan yang mengkhawatirkan, fasilitas yang tidak memadai, pemerintah kolonial yang kurang responsif dan solutif, resistensi penduduk yang anti-Belanda, hingga kesulitan dalam penyesuaian bahasa lokal.