Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

1 hasil
Subjek: Tradisi Nazar
DaftarKartu
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Sinkretisme Keagamaan dalam Tradisi Nazar di Makam Keramat Tukji Nagari Sialang Gaung Dharmasraya Sumatera Barat

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tesis ini berjudul "Sinkretisme Keagamaan dalam Tradisi Nazar di Makam Keramat Tukji Nagari Sialang Gaung Dharmasraya Sumatera Barat", disusun oleh Tommy Hardi Putra NIM 40124005, Program Studi Magister Aqidah dan Filsafat Islam, FUAD, UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi 2026. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realitas keberagamaan masyarakat Nagari Sialang Gaung yang tidak terlepas dari tradisi nazar di Makam Keramat Tukji dalam kerangka Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Praktik ini menjadi medan perdebatan teologis antara kelompok tradisionalis yang akomodatif terhadap budaya lokal dan kelompok puritan yang menolaknya sebagai bid'ah dan potensi syirik. Rumusan masalah meliputi: bagaimana pola dan bentuk sinkretisme keagamaan dalam tradisi nazar? bagaimana konstruksi makna religius, spiritual, dan simbolik yang dipahami masyarakat? serta bagaimana implikasi sosial-budayanya terhadap kohesi sosial, sistem nilai keagamaan, dan keberlanjutan tradisi? Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode etnografi. Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipan dan non-partisipan, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Analisis data menggunakan model interaktif Miles Huberman Saldana. Informan terdiri atas codiak pandai, tokoh adat (ninik mamak), ulama, peziarah, dan masyarakat sekitar Makam Tukji di Nagari Sialang Gaung, Kecamatan Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, sinkretisme termanifestasi dalam lima bentuk saling terkait: struktural (legitimasi ABS-SBK), ritual (percampuran doa Islam dan kenduri lokal), simbolik (ukiran Minangkabau, kemenyan, air doa), ideologis (perdebatan tawassul, tauhid, bid'ah), serta sosial-budaya (solidaritas melalui kenduri). Kedua, konstruksi makna berlangsung pada tiga level: individu (harapan, ketenangan batin, negosiasi tradisi dan keraguan teologis), kolektif (lieu de mémoire, solidaritas sosial, identitas nagari), dan simbolik (makam sebagai kedekatan dengan Tuhan, nazar sebagai harapan dan ikhtiar, sedekah sebagai syukur dan solidaritas, kekeramatan Tukji sebagai identitas kolektif, ziarah sebagai penghubung masa lalu-kini). Ketiga, implikasi sosial-budaya bersifat ganda: memperkuat kohesi sosial, solidaritas mekanis (Durkheim), dan redistribusi ekonomi, namun menimbulkan ketegangan antar-generasi akibat perbedaan pandangan keagamaan. Secara teologis, tradisi ini berada di area abu-abu karena klaim maslahah-nya kondisional; sah jika pemahaman masyarakat tetap dalam koridor tauhid (memohon kepada Allah melalui Tukji), namun gugur jika bergeser pada keyakinan bahwa Tukji-lah yang mengabulkan. Diperlukan edukasi berkelanjutan dan pemurnian niat (tajdīd al-niyyah) agar tradisi tetap berada di atas rel tauhid.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail