Douwes Dekker: Perlawanan Seorang Kontrolir Kelas II Terhadap Pemerintah Kolonial Belanda Tahun 1842-1844
ABSTRAK Skripsi atas nama Siti Rahmah, NIM. 4420012, Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukttinngi, dengan judul “Douwes Dekker: Perlawanan Seorang Kontrolir Kelas II Terhadap Kolonial Tahun 1842-1844”. Jenis peneilitian yang penulis gunakan adalah metode penelitian deskriptif naratif (kualitatif). Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah dengan empat tahapan yaitu: (1) Heuristik pengumpulan sumber, sumber primer yang dipakai berupa arsip yang terkait dengan judul penelitian. Sedangkan sumber sekunder buku, artikel, jurnal dan website yang terkait dengan Douwes Dekker. (2) kritik sumber (3) interprestasi dilakukan untuk memisahkan antara sumber yang bisa dipakai atau tidak,(4) historiografi, penulisan hasil penelitian kedalam bentuk skripsi dengan sistematika sesuai dengan buku panduan pedoman penulisan karya ilmiah prodi Sejarah Peradaban Islam. Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Hasil penelitian yang didapati berdasarkan sumber data didalam penulisan karya ilmiah skripsi ini berisi tentang, pertama Afdailing Natal yang saat ini menjadi kecamatan Natal dan bagian dari kabupaten mandailing natal, Sumatera Utara, wilayah ini memiliki sejerah perkembangan yang cukup menarik sejak masa kolonial terutama pada tahun 1842. Pada tahun 1842-1844, wilayah ini berada dibawah pengaruh administrasi Belanda yang mulai menancapkan kekuasaannya di wilayah pesisir pantai sumatera. Kedua Pada periode yang sama ditunjuklah seorang anak muda berdarah Belanda yang saat itu masih tergolong muda untuk menduduki jabatan sebagai seorang kontrolir kelas II yaitu Eduard Douwes Dekker atau biasa dikenal dengan nama samaran sebagai Multatuli. Sebagai seorang kontrolir kelas II, ia bertanggung jawab untuk mengawasi administrasi kolonial seperti perdagangan, perkebunan serta hubungan dengan masyarakat lokal. Ketiga, namun sejak Douwes Dekker menunjukkan sukap kritis terhdapa atasnnya terhadap praktik penindasan seperti ketidakadilan yang dilakukan terhadap masyarakat pribumi. Ketegangan terhadap para pejabat Belanda serta sikapnya yang membela penduduk pribumi membuat posisinya goyah. Akhirnya pada tahun 1844, Douwes Dekker diberhentikan dari jabatannya sebagai seorang kontrolir kelas II di Natal dan dikembalikan ke dataran tinggi Padang.