Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

6 hasil
Subjek: Bukit Gombak
DaftarKartu
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Pandangan Masyarakat Terhadap Pengobatan Spiritual Dengan Menggunakan Ayat-Ayat Al-Qur’an (Studi Kasus Jorong Bukit Gombak Nagari Padang Laweh Kabupaten Sijunjung)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji praktik pengobatan spiritual berbasis ayat Al-Qur’an yang dilakukan oleh Ustadz Darwen Afrizal dan Ustadz Ridwan di Jorong Bukit Gombak, Nagari Padang Laweh, Kabupaten Sijunjung. Metode ini telah lama menjadi pilihan masyarakat, terutama untuk menangani gangguan yang diyakini bersifat nonfisik. Penelitian bertujuan menggambarkan proses penggunaan ayat Al-Qur’an dalam pengobatan serta menelaah pandangan masyarakat terhadap praktik tersebut.Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi sebagai sumber data utama. Proses analisis dilakukan melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ustadz Darwen meruqyah pasien secara langsung dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an seperti Al-Fatihah, Ayat Kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, serta menganjurkan zikir dan mandi air ruqyah. Sementara itu, Ustadz Ridwan lebih berfokus pada penggunaan air yang telah dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk diminum dan mandi. Kedua metode dinilai sesuai syariat dan bebas dari unsur kesyirikan. Masyarakat menanggapinya secara positif karena dianggap membawa ketenangan, membantu pemulihan fisik maupun nonfisik, serta tidak menimbulkan beban biaya. Penelitian menyimpulkan bahwa pengobatan spiritual berbasis ayat Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai metode penyembuhan alternatif, tetapi juga memperkuat nilai religius masyarakat Bukit Gombak. Kata Kunci: Persepsi Masyarakat, Pengobatan Tradisional, Ayat-Ayat Al-Qur’an, Ruqyah, Living Qur’an Pendahuluan Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang mengandung mukjizat yang diturunkan kepada Rasul atau Baginda Rasulullah SAW dengan perantara malaikat Jibril. Menurut M.Quraish Shihab, Al-Qur’an secara harfiah berarti bacaan yang sempurna, ia merupakan suatu nama pilihan Allah yang tepat, karena tidak ada suatu bacaan pun sejak manusia mengenal baca tulis selama lima ribu tahun lalu yang menyaingi Al-Qur’an, karena memiliki bacaan yang sempurna dan mulia. Al-Qur’an sebagai wahyu pertama yang dipandang begitu bernilai, Al-Qur’an dengan tingkatan kesakralannya itu telah menghadirkan pemahaman yang luas. Pemahaman ini bisa dicari berdasarkan sejumlah peristiwa yang berkembang dalam konteks masyarakat, dan konteks tersebut terlihat begitu terikat dengan tanda-tanda empiris, seperti manusia yang menerima suatu kebenaran atau siap menolak berbagai macam jenis kebohongan. Allah SWT memberikan kepada makhluknya sakit dan sehat, karena keduanya merupakan qodrat ilahi yang sudah ditetapkan sejak di lauhil mahfudz kemudian diturunkan ke dunia bersamaan dengan dihembuskannya ruh seorang anak ke rahim ibu. Allah SWT menakdirkan kepada setiap makhluknya dengan tujuan yang mulia dan positif, keadaan sakit adalah sebagai peringatan kepada manusia dari Allah SWT Sang Pencipta, yang Maha kuasa untuk memberikan kesembuhan, yang bisa menciptakan segala sesuatu termasuk menakdirkan sakit atas hamba-Nya (manusia) yang sehat. Fenomena yang terjadi dimasyarakat baik bersumber dari mitos maupun data, secara umum menunjukan kemanjuran Al-Qur’an sebagai obat memang telah dibuktikan oleh orang banyak. Banyak diantara masyarakat muslim ketika mendapatkan ujian berupa penyakit yang tidak kunjung mendapatkan kesembuhan meskipun telah mengkonsumsi obat dari medis. Namun, setelah melakukan praktek pengobatan menggunakan wasillah bacaan-bacaan ayat Al-Qur’an kemudian mendapatkan kesembuhan berkat rahmat dan ampunan Allah Sang Maha mengetahui keadaan makhluk-Nya, yaitu melalui bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an penyakit mereka dapat sembuh sebab ikhtiar mengharap keberkahan Al-Qur’an. Bilamana ia (ayat Al-Qur’an) di bacakan atas orang yang menderita penyakit, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan memberikan kesembuhan. Al-Qur’an akan menjadi obat dan rahmat bagi manusia yang mau mengamalkannya, membaca ayat-ayatnya agar mendapatkan kesembuhan dengan penuh keyakinan mengharapkan kesembuhan dari Allah SWT. Shalafus Sholeh juga telah melakukan praktik pengobatan dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan: “barang siapa yang penyakitnya tidak dapat disembuhkan dengan Al-Qur’an, Maka tiada lagi kesembuhan untuknya.” Sejauh pengamatan penulis, banyak sekali bukti-bukti yang menyatakan bahwa Al-Qur’an benar-benar dapat menjadi ikhtiar dalam menyembuhkan berbagai penyakit manusia. Allah SWT berfirman: وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا Artinya: ”Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yng menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra’: 82). Ayat-ayat Al-Qur’an yang tertulis di atas, mejnadi dasar penegtahuan bahwa Al-Qur’an benar-benar berfungsi sebagai rahmat dan penawar (obat). Dalam praktiknya, bukanlah suatu perkara yang aneh dan mengherankan, karena Al-Qur’an merupakan firman Allah dan kebatilan tidak pernah sekalipun menyentuhnya, menandakan bahwa sakit bagi seseorang dianggap sebagai kemudharatan dapat diantisipasi dengan pembacaan ayat-ayat-Nya. Sejarah yang membahas bahwa, Nabi Muhammad SAW dan sahabat pernah menyembuhkan orang sakit dengan membaca Surah Al-Fatihah. Meskipun secara teks Surah Al-Fatihah tidak ada kaitannya dengan soal penyakit, akan tetapi mungkin hanyalah sebagai konteks ayat yang memberikan pengaruh secara lahir maupun bathin kepada manusia. Kaitan dengan hal ini, dalam melaksanakan penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai sarana pengobatan dalam kesembuhan penyakit sehingga dalam sebuah daerah pada masyarakat Bukit Gombak menjadi peran penting untuk media berinteraksi lebih dekat dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an dapat hidup dan menjadi dasar praktik kegiatan yang dibutuhkan serta tetap hidup dalam kebutuhan masyarakat atau dikenal dengan Living Qur’an. Realitasnya, fenomena penggunaan Al-Qur’an di kalangan masyarakat sebagai apresiasi dan respon masyarakat luas sangatlah banyak. Begitu juga fungsinya, mulai dari pemahaman dan pendalaman maknanya, ataupun memakainya sebagai ibadah serta ritual. Bahkan ada pula yang menganggap Al-Qur’an mendatangkan kekuatan magic, pengobatan, dan lainnya. Praktek-praktek tersebut banyak beranekaragam, hal ini disebabkan oleh sudut pandang dari masyarakat itu berbeda-beda dalam memahami nash. Pengobatan yang sering digunakan masyarakat adalah pengobatan tradisional setelah pengobatan medis. Salah satu adalah masyarakat di Jorong Bukit Gombak, walaupun banyak yang berobat non medis, tetapi banyak juga yang pergi berobat medis dahulu, atau bisa dilihat dari penyakit yang di derita pasien tersebut. Pengobatan tradisional yang menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an ini lebih banyak digunakan masyarakat Jorong Bukit Gombak untuk mengobati penyakit yang tidak bisa di obati oleh medis. Walaupun memiliki tujuan yang sama yaitu untuk penyembuhan, akan tetapi sakit yang ada didiri manusia tidak hanya sekedar fisik yang melemah melainkan ada gangguan dari makhluk ghoib. Apabila penyakit seseorang itu oleh makhluk ghaib pihak rumah sakit tidak akan menemukan obatnya, tetapi pengobatan tradisional yang menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an ini bisa untuk mengobati pasien yang menderita sakit tersebut seperti sakit karena diguna-guna. Pada observasi awal di Jorong Bukit Gombak pengobatan ayat-ayat Al-Qur’an memang sudah menjadi pengobatan yang sangat dikenal di jorong ini , pengobatan pertama dari Ustadz Darwen Afrizal menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Beliau dalam mengobati pasien bukan hanya mengobati sakit fisik saja, akan tetapi juga rohani yakni mengajak pasien maupunn keluarga pasien untuk selalu berdzikir kepada Allah SWT. Kedua Ustadz Ridwan menggunakan cara praktis dalam pengobatan di Jorong Bukit Gombak dengan cara memandikan dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dalam prosedur memandikan tersebut pertama membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kemudian setelah memandikan akan diberikan 1 botol air minum yang telah ayat-ayat Al-Qur’an untuk di minum. Sebagaimana penjelasan diatas, penulis merumuskan maslah yakni: 1. Bagaimana Proses Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur’an dalam Pengobatan Tradisional di Jorong Bukit Gombak ? 2. Bagaimana Pandangan Masyarakat di Jorong Bukit Gombak terhadap Pengobatan Tradisional yang Menggunakan Ayat- Ayat Al-Qur’an? Berdasarkan pada rumusan masalah, maka tujuan dari tujuan dari ditulisnya penelitian ini adalah: 1. Analisis terhadap Proses Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur’an yang digunakan dalam Pengobatan Spiritual yang dilakukan Ustadz Darwen dan Ustadz Ridwan di Jorong Bukit Gombak. 2. Analisis Pandangan Masyarakat di Jorong Bukit Gombak tentang Pengobatan Tradisional yang Menggunakan Ayat-Ayat Al-Qur’an. Adapun metodologi dalam penelitian ini yakni: 1. Jenis Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan jenis penelitian lapangan. Analisis yang dilakukan adalah analisi deskriptif, dimana peneliti mengungkapkan data dan fakta secara ilmiah. Dalam pengobatan tersebut menggabungkan tiga cara yaitu: wawancara, observasi dan penelitian dokumen yang menjadi bagian dari data yang saling melengkapi sehingga dapat di deskripsikan. Setelah itu, Peneliti menafsirkan hasil dari penggabungan dari tiga sumber data di atas menjadi sebuah narasi deskriptif kualitatif yang diuraikan kedalam bahasa sederhana sehingga mudah dimengerti, karena penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif maka peneliti cukup menggambarkan realitas yang ada, kemudian dari data yang terkumpulkan dijelaskan apa adanya untuk memperoleh suatu kesimpulan. 2. Sumber Data Dua jenis data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh lansgung dari subjek penelitian, dalam hal ini peneliti memperoleh data atau informasi langsung dari sumber yang akan di teliti peneliti yaitu Ustad Drawen dan Ustad Ridwan dengan menggunakan instrumen-instrumen yang telah ditetapkan. Pada penelitian ini jawaban data primer diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sedangkan data sekunder seperti buku, karya ilmiah (artikel/ jurnal) dan dokumen lainnya yang dapat menjadi penujang serta menjelaskan secara lengkap data pada penelitian. 3. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini terdiri dari Observasi, Wawancara, Survey Lapangan. Observasi ini berkaitan dengan ruang, tempat, pelaku, kegiatan, benda-benda, waktu, tujuan dan aspek psikologis. Tidak semua hal yang saya amati, karena adanya keterbatasan, hanya hal-hal yang terkait dengan data yang diperlukan. Metode wawancara merupakan proses tanya jawab dalam penelitian secara tatap muka​langsung dengan Ustadz Darwen Afrizal dan Ustadz Ridwan, masyarakat, dan pasien yang pernah berobat di tempat beliau. Dan untuk survey lapangan peneliti langsung menemui Ustadz Darwen Afrizal dan dan Ustadz Ridwan, juga menemui masyarakat dan pasien yang pernah berobat tempat beliau. 4. Teknik Analisis Data yang Digunakan Dalam menganalisis data yang peneliti peroleh selama proses pengumpulan data, peneliti melakukan tiga tahapan, Pertama, tahap reduksi data, pada tahap ini peneliti melakukan proses penyeleksian, pemfokuskan dan abstraksi data yang berhubungan dengan pelaksanaan pemgobatan tradisional menggunakan ayat- ayat Al-Qur’an diJorong Bukit Gombak sebagaimana yang dibutuhkan penulis dari hasil catatan lapangan. Kedua, display data atau penyajian data, pada tahap ini peneliti melakukan organisasi data, mengaitkan hubungan- hubungan tertentu antara data yang satu dengan yang lainnya. Ketiga, proses verifikasi, pada tahap ini peneliti melakukan penafsiran (interprestasi) terhadap data yang sudah peneliti peroleh dan sudah dilakukan reduksi dan penyajian, sehingga data yang sudah memiliki makna dengan cara membandingkan, pencatatan tema-tema dan pola- pola, pengelompokan melihat kasus dan melihat hasil wawancara dengan informan dan observasi. Pengobatan Spiritual Tradisional ​Istilah ‘pengobatan tradisional’ di dunia pada dasarnya telah mengalami perkembangan. Dalam 30 tahun terakhir, berbagai istilah telah digunakan untuk cara-cara pengobatan yang berkembang ditengah masyarakat. WHO menyebutnya sebagai traditional medicine atau pengobatan tradisional, para ilmuwan lebih menyukai istilah traditional healing. WHO menyatakan bahwa pengobatan tradisional adalah ilmu dan seni pengobatan berdasarkan himpunan dari pengetahuan dan pengalaman praktek. Pengetahuan dan pengalaman praktek tersebut ada yang dapat diterangkan secara ilmiah dan ada yang tidak. Namun pengobatan tradisional juga harus melalui tahapan-tahapan seperti melakukan diagnosis dan pengobatan terhadap ketidak-seimbangan fisik, mental, ataupun social. Pengobatan Tradisional adalah sistem pranata sosial yang mana harus di pelajari seperti halnya mempelajari pranata sosial umumnya. Cara pengobatan tradisional adalah rasional yang dilihat pada kepercayaan yang ada baik mengenai sebab dan akibat. Setelah berkembang sampai sekarang, terutama dalam berbagai bidang kesehatan yang luas, serta konsep kesehatan yang bersifat internasional dan bermacam-macam kepentingan pengetahuan praktis maupun teoritis yang mengkaji pengobatan non-Barat yang semakin kelihatan. Di Indonesia pengobatan Tradisional sudah banyak yang digunakan dan dipraktikan, pengobatan tradisional tambah berkembang dengat pesat di kalangan masyarakat walaupun hanya sebatas rumah tangga dan masyarakat. Kepercayaan ini muncul sehubung dengan penyembuhan penyakit, dengan begitu peranan penyembuhan menjad penting. Hal yang menjadi poin penting sekarang adalah perubahan yang terjadi di masyarakat yaitu penyembuhan dukun berubah menjadi pengobatan alternatif. Maka dari itu, metode penyembuhan seperti ini di sebut juga pengobatan tradisional, dalam pengobatan tradisional ada beberapa perubahan dalam penyebutannya, akan tetapi dalam praktiknya masih sama mengguakan cara lama. Pada kenyataanya hal tersebut tidak dapat di pungkiri bahwa, pada dasarnya masyarakat indonesia memiliki pandangan bahwa penyakit yang datang disebabkan oleh makhluk halus atau penyakiti fisik. Penyakit yang di sebabkan oleh makhluk halus akan berbeda pengobatannya dengan penyakit fisik. Jika disebabkan oleh makhluk halus maka pengobatannya dilakukan dengan mantra, jampi-jampi dan berbagai ramuan, sedangkan penyakit fisik maka pengobatannya menggunakan obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan atau menggunakan keduanya. Model Pengobatan Spiritual dalam Islam Bekam Bekam adalah pengobatan yang mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui permukaan kulit. Bekam dalam bahasa Arab di sebut dengan “Hijamah”, bekam sudah dikenal dari ribuan tahun sebelum masehi. Hijamah menurut bahasa ungkapan tentang mengisap darah atau mengeluarkan darah dari permukaan kulit, yang di tampung oleh gelas Mihjamah, yang menyebabkan penarikan darah di sana, dan pada permukaan kulit di lakukan penyayatan dengan pisau bedah untuk mengeluarkan darah. Bekam tidak boleh sembarang di lakukan pada ilmu kedokteran Islam, bekam ini boleh di lakukan apabila ada pembekuan atau pnyumbatan pada pembuluh darah, karena bekam ini berfungsi untuk mengeluarkan darah kotor yang ada di dalam tubuh. Tentang berbekam,disebutkan di dalam Ash-Shahihain, dari hadist Thawus, dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Muhammad SAW. Pernah untuk meminta di bekam dan diberi upah kepada siapa yang membekam beliau. Keuntungan berbekam ini sangat banyak, berbekam bisa lebih banyak mengeluarkan darah di bandingkan dengan cara mengopersi bagian tubuh. Abu Nu’aim menyebutkan di dalam kitab Ath-Thibbun-Nabawy sebuah hadist marfu yaitu: “Hendaklah kalian bebekam di bagian tengah tengkuk, guna untuk bisa menyembuhkan lima macam penyakit. Satu diantaranya penyakit kusta. Dalam hadist lain disebutkan, dapat menyembuhkan tujuh puluh dua penyakit.” Ruqyah ​Dari sisi etomologi, ruqyah berarti permohonan perlindungan, atau ayat-ayat, dzikir-dzikir dan doa-doa yang dibacakan kepada orang yang sakit. Sedangkan menurut terminologi syariat, ruqyah berarti bacaan-bacaan untuk pengobatan yang syar‟i (berdasarkan nash-nash yang pasti dan shahih yang terdapat dalam Al Qur‟an dan As Sunnah) sesuai dengan ketentuan-ketentuan serta tata cara yang telah disepakati oleh ulama. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin - menjelaskan:” Ruqyah dinamakan (juga) dengan Azaa‟im karena orang yang membacanya meyakininya, serta lahir pada dirinya kekuatan penolakan (terhadap penyakit/bahaya) ketika membacanya”. Pengobatan terapi ruqyah adalah sebagai pengobatan tradisional, yang mengobati dan menyembuhkan suatu penyakit mental, spiritual, moral maupun fisik dengan melalui bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Do’a mengandung kekuatan spiritual yang dapat membangkitkan rasa percaya diri dan optimis yang keduanya merupakan hal yang mendasar bagi penyembuhan suatu penyakit. Melakukan terapi ruqyah secara teratur banyak mengandung aspek psikologis di dalamnya. Bahkan tidak hanya sebagai amal ibadah, akan tetapi ruqyah juga menjadi obat dan penawar bagi seseorang yang gelisah jiwanya dan tidak sehat secara mental. Wahbah al-Zuhaili mendefinisikan bahwa ruqyah adalah seseorang mengobati orang sakit dengan berdoa memohon kebaikan dan kesehatannya. Dalam Kesempatan lain, Sayyid Sabiq menambahkan bahwa ruqyah yang disyariatkan adalah ruqyah yang dilakukan dengan cara berdoa, berdzikir kepada Allah, menggunakan bahasa Arab yang bisa dipahami maknanya dan tidak mengandung unsur kesyirikan Dalam Hadist Abu Sa’id Al-Khudri RA tentang Ruqyah dengan menggunakan Al-Fatihah yang pernah di lakukan oleh sahabat, sangat terlihat pengaruh dari surah Al-Fatihah tersbut pada penyakit yang di derita oleh pemimpin kampung. Sehingga surah Al-Fatihah itu bisa menghilangkan penyakit, seakan-akan penyakit yang di derita pemimpim kampug itu tidak pernah ada sebelumnya. Pengobatan seperti ini adalah pengobatan yang paling mudah dan ringan, apabila seseorang melakukan pengobatan ruqyah dengan surah Al-Fatihah secara bagus, ia akan mendapatkan kesembuhan yang mengagumkan. Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu berkata: “Aku pernah tinggal di Makkah beberapa waktu dalam keadaan sakit, dan aku tidak menemukan tabib maupun obat. Aku pun mengobati diriku sendiri dengan Al-Fatihah yang membacanya berulang kali pada segelas air Zam-Zam lalu meminumnya, sehingga aku melihat pada pengobatan itu ada pengaruh yang mengagumkan. Setelah itu aku ceritakan kepada orang yang menderita penyakit, mereka juga melakukan penggobatan menggunakan surah Al-Fatihah dan kebanyakan dari mereka sempuh dengan cepat. Demikian penjelasan dan persaksian Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu terhadap pengobatan dengan surah Al-Fatihah. Dalam psikoterapi ruqyah diartikan sebagai proses pengobatan dan penyembuhan suatu penyakit, apakah mental, spiritual, moral maupun fisik dengan melalui bimbingan al-Qur’an dan al-Sunnah. Dengan makna yang sederhana, psikoterapi ruqyah berarti suatu terapi penyembuhan dari penyakit fisik maupun gangguan kejiwaan dengan psikoterapi dan konseling Islami dan juga menggunakan bacaan ayat-ayat al-Qur’an dan doa-doa Rasulullah saw. Ayat – Ayat Tentang Pengobatan Diceritakan dari Syekh Abdul Qasim Al Qusyairi, bahwa anakanya pernah menderita sakit keras. Ia berkata ” sakit yang di derita anakku yang tak kunjung mendapatkan kesembuhan menjadi beban berat bagiku. Pada suatu malam aku bermimpi melihat Nabi SAW, akupun mengadukan kepada beliau dan kemudian beliau bersabda” Bagaimana kamu ini, bukankah di dalam Al Qur’an terdapat ayat ayat syifa ”. Seketika aku langsung terbangun dan mencari ayat- ayat t syifa dalam Al Qur’an, yaitu : 1. Surat At Taubah 14 ​​​​ قَاتِلُوْهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللّٰهُ بِاَيْدِيْكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُوْرَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِيْنَۙ ​ Artinya: Perangilah mereka! Niscaya Allah akan mengazab mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu, menghinakan mereka, dan memenangkan kamu atas mereka, serta melegakan hati kaum mukmin. 2. Surat Yunus 57 ​​​ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ Artinya: Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi sesuatu (penyakit) yang terdapat dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin. 3. Surat An Nahl 69 ثُمَّ كُلِيْ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسْلُكِيْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًاۗ يَخْرُجُ مِنْۢ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ ۖفِيْهِ شِفَاۤءٌ لِّلنَّاسِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ​Artinya: Kemudian, makanlah (wahai lebah) dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan-jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perutnya itu keluar minuman (madu) yang beraneka warnanya. Di dalamnya terdapat obat bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. 4. Surat Al Isra 82 ​​​وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا Artinya: Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian. 5. Asy Syu’ara 80-81 ​​​​​وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ۙ وَالَّذِيْ يُمِيْتُنِيْ ثُمَّ يُحْيِيْنِ ۙ Artinya: Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku. (Dia) yang akan mematikanku, kemudian menghidupkanku (kembali). 6. Surat Fushshilat 44 وَلَوْ جَعَلْنٰهُ قُرْاٰنًا اَعْجَمِيًّا لَّقَالُوْا لَوْلَا فُصِّلَتْ اٰيٰتُهٗ ۗ ءَاَ۬عْجَمِيٌّ وَّعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هُدًى وَّشِفَاۤءٌ ۗوَالَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَقْرٌ وَّهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًىۗ اُولٰۤىِٕكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَّكَانٍۢ بَعِيْدٍ ࣖ ٤٤ Artinya: Seandainya Kami menjadikannya (Al-Qur’an) bacaan dalam bahasa selain Arab, niscaya mereka akan mengatakan, “Mengapa ayat-ayatnya tidak dijelaskan (dengan bahasa yang kami pahami)?” Apakah patut (Al-Qur’an) dalam bahasa selain bahasa Arab, sedangkan (rasul adalah) orang Arab? Katakanlah (Nabi Muhammad), “Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman, sedangkan orang-orang yang tidak beriman, pada telinga mereka ada penyumbat dan mereka buta terhadapnya (Al-Qur’an). Teori Tentang Persepsi Dalam Kajian Living Qur’an. Teori tentang Persepsi ​Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh pengindraan, yaitu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indra atau bisa disebut proses sensoris. Namun proses itu tidak berhenti begitu saja, melainkan stimulus tersebut diteruskan dan proses selanjutnya disebut proses persepsi. Proses tersebut mencakup pengindraan setelah informasi diterima oleh alat indra, informasi tersebut diolah dan diinterpretasikan menjadi sebuah persepsi yang sempurna. ​Menurut Stanton sebagaimana yang dikutip dalam buku prilaku konsumen yang di tulis oleh nugroho : “ Persepsi dapat di definisikan sebagai makna yang kita pertalikan berdasarkan pengalaman masa lalu dan stimulus (rangsangan-rangsangan) yang kita terima melalui panca indra (pengelihatan, pendengaran, perasa, dll). ​Menurut kamus besar bahasa Indonesia, persepsi adalah tanggapan, penerimaan langsung dari suatu serapan, atau merupakan proses seseoarang mengetahui beberapa hal melalui panca indranya. ​Philip kottler memberikan definisi persepsi sebagai proses seorang individu memilih, mengorganisasikan dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran yang memiliki arti. ​Persepsi disini tidak hanya tergantung pada hal fisik, tetapi juga berhubungan dengan lingkungan sekitar dan keadaan individu tersebut. Sedangkan dalam proses memperoleh atau menerima informasi tersebut adalah juga berasal dari objek lingkungan. Suatu rangsangan dipandang sebagaikejadian-kejadian yang ada di dalam lingkungan eksternal individu yang ditangkap dengan menggunakan alat sel syaraf yang selanjutnya akan terjadi proses pengolahan sensasi. Ketika sejumlah sensasi masuk ke dalam struktur yang lebih dalam dari sistem susunan syaraf, maka sensasi inilah yang disebut sebagai persepsi. ​Persepsi dapat juga di defenisikan sebagai pola pikir manusia setiap hari, sebagai dorongan jiwa dan akal seseorang pada produktivitas lingkungan di sekitarnya. kata lain respon yang ada di diri seseorang akan melahirkan persepsi. ​​Pada persepsi ada proses interes individu dan keterkaitan untuk mengetahui semua yang terdapat diluar dirinya, tentang semua kejadian yang menimbulkan pada gerakan otak seseorang yang mengesani melalui pemahaman dan penafsiran yang subjektif pada objek-objek yang bersangkutan. Oleh karena itu, bantuan indera sangat mempengaruhi pada seseorang saat mempersepsikan sesuatu. Pengertian Living Qur’an ​Living Qur’an adalah gabungan antara dua kata yang berbeda, yaitu living yang berarti hidup dan Qur’an yang berarti kitab suci umat Islam. Kata living Qur’an itu tren yang berasal dari bahasa Inggris ”Live” yang berarti hidup, aktif dan yang hidup. Kata kerja yang berarti hidup tersebut mendapatkan bubuhan –ing di akhirnya yang di sebut dengan present participle dalam bahasa Ingrris. Kata kerja “live” yang di akhirnya terdapat –ing bisa di posisikan dalam bentuk present participle yang berguna untuk adjektif, maka bisa berubah fungsi dari kata kerja menjadi kata benda benda adjektif. Akhiran –ing ini berfungsi sebagai adjektif dalam bentuk present participle yaitu “the living Qur’an” (Al-Qur’an yang hidup). ​Pengertian living Qur’an menurut M. Mansur ialah bahwa living Qur’an ini pada dasarnya berawal dari fenomena Qur’an in Everyday Life, yaitu fungsi dan makna Al-Qur’an yang nyata di pahami dan di alami oleh masyarakat muslim. ​Terdapat pada buku “Ilmu Living Qur’an Hadist” yang di tulis oleh Ahmad Ubaydi Hasbillah living Qur’an secara terminologis ialah hasil dari kajian-kajian, diskusi, seminar, survei pustaka buku, jurnal tentang living Qur’an tersebut. Mendefenisikan bahwa living Qur’an ini sebagai bentuk upaya dalam mendapatkan suatu ilmu yang kokoh dan meyakinkan dari suatu budaya, praktik, tradisi, ritual, pemikiran atau perilaku masyarakat yang terinspirasi dari ayat Al-Qur’an. Ada juga pengertian yang lain tentang living Qur’an oleh Ahmad Ubaydi Hasbillah pada buku yang sama ialah ilmu mengilmiahkan fenomena-fenomena atau gejala-gejala tentang Al-Qur’an yang terdapat pada kehidupan masyarakat. ​Heddy Shri Ahisma Putra juga menyebutkan makna dari living Qur’an tersebut, Pertama, terdapat pada Nabi Muhammad SAW yang sesungguhnya, di tanya pada Siti Aisyah tentang perilaku Beliau dan Siti Aisyah menjawab perilaku beliau sama dengan Al-Qur’an, Nabi Muhammad itu adalah Al-Qur’an yang hidup atau di sebut dengan living Qur’an itu sendiri. Kedua, terdapat pada masyarakat yang di kehidupan sehari-harinya menggunakan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup mereka. Mereka menjalankan kehidupan apa yang di tentukan oleh Al-Qur’an dan menjauhi semua larangan-Nya, jadi masyarakat itu seperti “Al-Qur’an yang hidup”. Ketiga, living Qur’an itu bukan hanya sebagai kitab saja, akan tetapi “kitab yang hidup” yang ada pada kehidupan sehari-hari. Menurut Muhammad Yusuf, berpendapat bahwa respon sosial terhadap Al-Qur’an yang berkaitan dengan living Qur’an. Seperti masyarakat menjadikan Al-Qur’an sebagai ilmu yang keramat dan sebagai petunjuk yang sangat sakral. ​Living Qur’an juga dapat dimaknai dengan gejala yang nampak di masyarakat berupa pola-pola perilaku yang bersumber maupun respon sebagai pemaknaan terhadap nilai-nilai Qur’ani. Bentuk respon masyarakat terhadap teks Al-Qur’an adalah resepsi masyarakat terhadap teks Al-Qur’an tertentu dan hasil penafsiran tertentu. Sementara itu, resepsi sosial terhadap hasil penafsiran terjelma dan dilembagakannya dalam bentuk penafsiran tertentu dalam masyarakat, baik dalam skala besar maupun kecil. Teks Al-Qur’an yang hidup di masyarakat itulah yang disebut the living Qur’an, sementara penerapan hasil penafsiran tertentu dalam masyarakat dapat disebut dengan the living tafsir. ​Dengan adanya living Qur’ani ini sebagai bentuk Al-Qur’an yang di pahami oleh masyarakat secara kontekstual. Sehingga living Qur’an ini ialah bentuk kajian dalam penelitian ilmiah terdapat berbagai peristiwa sosial yang terkait dengan adanya Al-Qur’an di kalangan masyarakat. ​Living Qur’an ini membahas tentang Al-Qur’an oleh masyarakat dari fenomena yang nyata pada gejala-gejala sosial. Jadi living Qur’an ini masih kajian tentang Al-Qur’an tapi sumber datanya di ambil dari fenomena sosial atau fenomena alamiah. Akan tetapi apabila kajian living Qur’an ini menjadikan wahyu sebagai sumber data, maka tidak bisa disebut dengan living Qur’an akan tetap di sebut dengan kajian akidah, teologi, syariah ataupun Al-Qur’an murni. Living Qur’an dalam Sejarah ​Lahirnya cabang-cabang ilmu Al-Qur’an ini, satu hal yang perlu di catat, yaitu ada sebagian ataupun semuanya yang berakar pada probrem-problem teks pada Al-Qur’an. Cabang dari ilmu Al-Qur’an ini ada yang terkonsentrasi kepada aspek internal teks dan ada yang terkonsentrasi pada eksternal teks, contoh nya asbabul nuzul dan tarikh Al-Qur’an yang menyangkut pada penulisan, penghimpunan, dan penerjemahannya. Tapi praktek tertentu yang berbentuk pada penarikan Al-Qur’an ke dalam kepentingan praktis dalam kehidupan masyarakat di luar aspek tekstualnya nampak tidak menarik studi Qu’ran klasik. ​Menurut sejarahnya living Qur’an ini sudah ada dari zaman Nabi Muhammad SAW, bisa kita lihat pada praktek Ruqyah, yaitu melakukan pengobatan diri sendiri ataupun orang lain yang terkena penyakit dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Ada suatu riwayat mengatakan, Nabi Muhammad SAW pernah mengobati peyakit dengan ruqyah menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an yaitu surah Al-Fatihah dan juga pernah menolak sihir dengan surah Al-Falaq dan An-Nas. ​Pertama kalinya yang pernah melakukan kajian living Qur’an ini secara ilmiah yaitu para sahabat, para sahabat ini sangat memahami ajaran agama dari apa yang mereka lihat dan apa yang mereka alami sendiri pada masa Nabi. Mereka sealalu bertanya tentang hal itu kepada Nabi, setelah itu mereka laporkan dan di jadikan sebagai hadist fi’il. Metode yang di gunakan oleh sahabat sama dengan metode pengamatan terlibat dan wawancara yang mendalam atau interview guna untuk mengumpulkan data pada penelitian lapangan. Para sahabat aktif dan langsung terlibat pada suatu kajian dan kegiatan sehari-hari bersama Nabi Muhammad SAW. ​Para sahabat melakukan living Qur’an dengan cara mengamati saat Nabi Muhammad SAW memakai cincin, dan para sahabat juga memakai cincin. Saat Nabi Muhammad SAW melepaskan cincinnya, para sahabat juga melepaskan cincinnya. Ada juga ketetapan Nabi Muhammad SAW menimbulkan perbedaan yaitu dalam melaksanakan tayamum pada saat di perjalanan dan para sahabat menanyakan itu. Nabi Muhammad SAW memerintahkan tidak ada yang Shalat Ahsar di perjalan kecuali telah sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Saat di tengah perjalanan ada beberapa sahabat yang berbeda pendapat tetap melaksanakan Shalat dan ada yang tidak melaksanakan Shalat sesuai perintah Nabi Muhammad SAW. Sahabat mempertanyakan mana yang lebih baik dari perbuatan mereka, dan Nabi menjawabnya dengan bijak. Ketetapan Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan cincin dan kegiatan tayamum bisa di pahami dalam bentuk living Qur’an karena contoh dari perbuatan Nabi adalah living Qur’an. ​Dari keterangan di atas, living Qur’an itu telah ada semenjak zaman Nabi Muhammad SAW dan sahabat. Tetapi living Qur’an itu belum berbentuk sebagai kajian keilmuan. Tapi hanya sebagai sejarah dari living Qur’an bahwa telah ada sejak zaman Nabi dan sahabat. Living Qur’an ini mejadi objek kajian semenjak pemerhati studi Al-Qur’an non Muslim melihat bahwa ada banyak hal yang menarik dari Al-Qur’an pada kehidupan umat Islam sebagai fenomena sosial, contohnya, membaca Al-Qur’an di tempat tertentu, menuliskan sebagian ayat Al-Qur’an di tempat tertentu, dan beberapa ayat Al-Qur’an yang di jadikan untuk pengobatan, dan do’a-do’a di kehidupan umat Islam. Hasil dan Pembahasan A. Proses Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur’an dalam Pengobatan Tradisional di Jorong Bukit Gombak. Pengobatan dengan media Al-Qur’an telah menjadi suatu alternative pengobatan bagi masyarakat dijorong Bukit Gombak, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung. Dalam pelaksanaannya sebagian masyarakat melakukan pengobatan ini setelah menjalani pengobatan medis. Dijorong Bukit Gombak ini pengobatannya tidak sembarangan dalam mempergunakan ayat ayat Al-Qur’an, merujuk ke masalah- masalah masyarakat pada umumnya banyak yang mengira pengobatan alternatif itu adalah pengobatan syirik yang menggunakan mantra-mantra atau ilmu ghaib yang bersekutu dengan jin. Dijorong Bukit Gombak ini tidak menggunakan mantra atau bacaan-bacaan yang mengandung sifat-sifat kesyirikan, bahkan dijorong Bukit Gombak ini murni menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an dan do’a-do’a yang ma’tsur. Dijorong Bukit Gombak ini terdapat dua orang tokoh agama yang sangat dihormati oleh masyarakat setempat karena kemampuan mereka dalam melakukan pengobatan spiritual berbasis ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kedua tokoh tersebut adalah Ustadz Darwen Afrizal dan Ustadz Ridwan, yang masing-masing memiliki pendekatan tersendiri dalam metode penyembuhan namun tetap berpegang teguh pada ajaran Islam. Dalam praktiknya Ustadz Darwen akan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an secara langsung kepada pasien yang datang kepadanya. Bacaan yang dilafalkan bukan hanya sekadar lantunan biasa, melainkan merupakan rangkaian ayat-ayat pilihan yang diyakini memiliki kekuatan spiritual untuk mengusir gangguan jin, sihir, ataupun penyakit-penyakit yang tidak dapat dijelaskan secara medis. Bacaan tersebut dilakukan dengan niat yang kuat, penuh keikhlasan, serta dalam kondisi yang sesuai dengan tuntunan syariah. Selama proses ruqyah, pasien dianjurkan untuk tetap memperbanyak doa dan dzikir sebagai bentuk usaha batin. Apabila setelah dilakukan beberapa kali ruqyah pasien belum juga menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, maka Ustadz Darwen akan menyarankan agar pasien menjalani terapi lanjutan berupa mandi spiritual. Air yang digunakan untuk mandi ini sebelumnya telah dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an dengan penuh kekhusyukan. Prosesi mandi ini juga mengikuti adab-adab dan tata cara sesuai dengan syariat Islam, dengan harapan agar penyakit yang bersumber dari gangguan nonfisik dapat benar-benar tersingkirkan dari tubuh dan jiwa pasien. Sedangkan Ustadz Ridwan memiliki metode yang sedikit berbeda namun tetap berakar pada penggunaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dalam proses pengobatannya, pasien yang datang akan diminta membawa atau membeli sebotol air mineral, biasanya berupa air kemasan Aqua. Air tersebut kemudian dijadikan media bacaan Al-Qur’an oleh Ustadz Ridwan. Ia akan membacakan ayat-ayat tertentu dari Al-Qur’an yang diyakini dapat membawa keberkahan dan kesembuhan, disertai dengan dzikir dan doa-doa yang dipanjatkan bersama pasien. Proses ini bukan hanya sekadar ritual bacaan, namun juga menjadi bentuk pendekatan spiritual yang mendalam antara pasien dengan Sang Pencipta. Setelah pembacaan selesai, air tersebut diberikan kepada pasien untuk diminum secara bertahap hingga habis. Terapi ini biasanya dilakukan secara berkelanjutan selama beberapa hari, dan selama masa tersebut pasien dianjurkan untuk tetap menjaga kesucian diri, memperbanyak ibadah, serta menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi keberkahan pengobatan. Apabila setelah tiga hari berturut-turut menjalani terapi minum air ruqyah kondisi pasien belum juga menunjukkan kemajuan atau kesembuhan, maka Ustadz Ridwan akan menganjurkan untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, yakni terapi mandi. Air untuk mandi ini pun diproses dengan cara yang sama, yakni dengan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an secara khusus oleh Ustadz Ridwan. Terapi mandi ini dipercaya memiliki daya pembersihan spiritual yang lebih kuat dan menjadi bentuk penyucian lahir dan batin agar tubuh kembali harmonis dan bebas dari gangguan. ​Masyarakat dijorong Bukit Gombak sangat mempercayai metode pengobatan yang dilakukan oleh kedua ustadz tersebut karena selain berlandaskan pada ajaran agama Islam, juga telah terbukti memberikan manfaat dan kesembuhan bagi banyak orang. Selain itu, metode ini dianggap sebagai bentuk ikhtiar yang tidak hanya mengandalkan aspek medis semata, melainkan juga menyentuh dimensi spiritual yang sering kali terlupakan. Pengobatan dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an bukan sekadar pengobatan, melainkan bentuk penyucian diri dan penguatan hubungan spiritual antara manusia dengan Allah SWT. Ketika akan melakukan proses pengobatan, kondisi yang dialami pasien dan praktisi haruslah saling mendukung, yakni antara keduanya harus memiliki kesamaan tujuan, kerjasama dan saling percaya. Menurut pemaparan Ustadz Darwen Afrizal dan Ustadz Ridwan dapat disimpulkan bahwa untuk keberhasilan proses pengobatan dengan pasien harus ini maka pasien harus menunjukkan sikap ikhlas dengan pemberian Allah yang berupa penyakit, kemudian mengintrospeksi diri dengan meminta ampunan kepada Allah agar dosa-dosa yang pernah dilakukan bisa diampuni sehingga menjadi penyebab Allah mengizinkan sakit yang diderita bisa dihilangkan. Proses melakukan pengobatan ini, mengharuskan kondisi seorang praktisi dan pasien dalam berikut ini : 1. Keadaan suci dari hadas, baik itu hadas kecil maupu hadas besar karena mengingat bacaan yang digunakan adalah bersumber dari Al-Qur’an. 2. Harus berniat ikhlas karena Allah untuk membantu sesama tanpa memikirkan berapa nilai imbalan yang diberikan pasien. 3. Mengharap kesembuhan pasien dengan keutamaan dari ayat-ayat yang dibacakan. 4. Menyandarkan kesembuhan hanya kepada Allah, karena Allah yang mampu memberikan kesembuhan kepada pasien. Setelah keempat keadaan yang wajib bagi pasien sudah ada didalam diri pasien, maka dimulai dengan mengatur posisi pengobatan antara pasien dan Ustadznya. Berikut Tata cara/metode pengobatan Ustadz Darwen Afrizal: 1. Bersuci dan Berpakaian Sopan. Sebelum memulai proses ruqyah, pasien diwajibkan untuk dalam keadaan bersuci, baik dari hadas kecil maupun besar. 2. Beristigfar (Memohon Ampunan kepada Allah). Langkah selanjutnya adalah membaca istigfar, yaitu memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukan. 3. Berpasrah Diri kepada Allah SWT. Pasien diharuskan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, meyakini bahwa hanya Allah yang mampu menyembuhkan segala penyakit, baik fisik, mental, maupun gangguan makhluk halus seperti jin dan sihir. 4. Pasien yang Bukan Mahram Wajib Menggunakan Perantara (Tidak Langsung Menyentuh Kulit). Hal ini dilakukan untuk menjaga kehormatan dan menghindari fitnah. 5. Menghadap Kiblat dalam Keadaan Berbaring. Ketika akan diruqyah, pasien diarahkan untuk berbaring menghadap kiblat. Menghadap kiblat adalah adab dalam berdoa dan ibadah dalam Islam. 6. Melepaskan Azimat atau Jimat Sebelum Diruqyah. Sebelum memulai pembacaan ruqyah, pasien wajib melepaskan dan menyerahkan segala bentuk azimat, jimat, atau benda-benda bertuah yang diyakini memiliki kekuatan gaib. ikhtiar kepada Allah semata. 7. Jika Penyakit Biasa, Dibacakan Ayat-ayat Umum (Tiga Qul). Jika pasien mengalami penyakit ringan atau umum, seperti sakit kepala, gelisah, atau perasaan tidak nyaman, maka ruqyah dilakukan dengan membacakan surat-surat pendek yang dikenal sebagai "Tiga Qul", yaitu: Surah Al-Ikhlas, Surah Al-Falaq, dan Surah An-Naas. Surat-surat ini memiliki kandungan yang sangat kuat untuk perlindungan diri dari gangguan makhluk halus dan penyakit. 8. Jika Terkena Sihir, Dibacakan Surah Al-Baqarah Ayat 1–2. Jika pasien dicurigai terkena gangguan sihir, maka salah satu ayat yang dibacakan adalah Surah Al-Baqarah ayat 1–2, karena surah ini memiliki keutamaan dalam mengusir setan dan membatalkan sihir. Rasulullah SAW bersabda bahwa rumah yang dibacakan Surah Al-Baqarah tidak akan dimasuki setan. 9. Jika Terkena Penyakit Lain, Dibacakan Ayat-ayat Al-Qur’an Terkait. Untuk jenis penyakit lainnya, terutama yang disebabkan oleh gangguan jin, stres berat, atau masalah kejiwaan, Ustadz Darwen membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan dengan kondisi pasien. Setiap ayat dipilih berdasarkan jenis gangguan, dan biasanya ditambah dengan doa-doa dari hadis shahih. Pendekatan ini bersifat fleksibel, tergantung diagnosis spiritual yang beliau lakukan terhadap pasien. 10. Posisi Pasien Saat Diruqyah Bebas, Tergantung Kenyamanan. Walaupun idealnya pasien berbaring menghadap kiblat, namun Ustadz Darwen membolehkan posisi lain sesuai kenyamanan pasien, seperti duduk atau bahkan berdiri, tergantung situasi. 11. Pasien Dianjurkan untuk Dimandikan Saat Diobati (Waktu Fajr/Subuh). Sebagai pelengkap terapi, Ustadz Darwen menganjurkan agar pasien dimandikan sebelum atau selama proses pengobatan, khususnya di waktu fajr (sebelum matahari terbit). Secara keseluruhan, metode ini menekankan kepasrahan kepada Allah, penguatan akidah, dan pemurnian dari unsur syirik, sehingga pasien tidak hanya sembuh secara jasmani, tetapi juga diperkuat secara ruhani. Sedangkan tata cara pengobatan dari Ustadz Ridwan yaitu sebagai berikut : 1. Konsultasi Awal a. Pasien atau keluarga pasien datang langsung ke tempat Ustadz Ridwan untuk menyampaikan keluhan atau gejala yang dialami. b. Ustadz akan menanyakan secara rinci kondisi fisik dan psikis pasien, serta latar belakang peristiwa yang dialami (misalnya: mimpi buruk, gangguan tidur, rasa gelisah, sakit tanpa sebab medis, dll). c. Ustadz Ridwan akan memastikan bahwa pasien siap secara niat dan batin untuk menjalani pengobatan dengan cara-cara syar’i. 2. Arahan Membawa Air Minum a. Setelah konsultasi, Ustadz Ridwan meminta pasien untuk membawa atau membeli satu botol air mineral (biasanya air dalam kemasan seperti Aqua). b. Air ini akan menjadi media utama dalam proses pengobatan. 3. Pembacaan Ayat-ayat Al-Qur’an a. Ustadz Ridwan akan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an secara langsung ke botol air yang telah dibawa oleh pasien. b. Beberapa ayat yang biasa dibacakan antara lain: Surah Al-Fatihah, Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255), Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, beberapa ayat syifa (penyembuhan) seperti QS. At-Taubah: 14, Yunus: 57, dan lainnya. c. Selama pembacaan, proses dilakukan dengan khidmat, penuh kekhusyukan, serta disertai dengan dzikir dan doa-doa memohon kesembuhan dari Allah SWT. d. Kadang disertai dzikir bersama atau pasien diminta untuk turut membaca doa dan istighfar. 4. Instruksi Pemakaian Air Ruqyah a. Setelah proses pembacaan selesai, air diberikan kembali kepada pasien dengan instruksi: • Air tersebut harus diminum setiap hari, dibagi dalam 3–4 kali minum, dan dihabiskan dalam waktu 3 hari, Saat meminum air, pasien dianjurkan untuk membaca Basmallah dan niat memohon kesembuhan dari Allah SWT, dan pasien dianjurkan menjaga wudhu, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, dan menjauhi hal-hal yang dapat mengundang gangguan gangguan. 5. Monitoring dan Evaluasi a. Setelah 3 hari pengobatan dengan air ruqyah, pasien diharapkan kembali ke Ustadz Ridwan untuk menyampaikan perkembangan kondisi. b. Jika kondisi pasien menunjukkan perbaikan (fisik lebih segar, tidur nyenyak, tidak gelisah), maka pengobatan bisa dilanjutkan dengan air ruqyah tambahan atau cukup sampai di situ. c. Namun, jika setelah 3 hari tidak ada kemajuan atau gejala semakin berat, maka Ustadz Ridwan akan menyarankan tahap lanjutan berupa mandi dengan air ruqyah (pemandian ruqyah). Setelah tiga hari berturut-turut menjalani terapi minum air ruqyah kondisi pasien belum juga menunjukkan kemajuan atau kesembuhan, maka Ustadz Ridwan akan menganjurkan untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, yakni terapi mandi. Berikut tata caranya : 1. Langkah Pertama, Membacakan Ayat-Ayat Al-Qur’an ke Air dalam Ember. Air ini tidak sekadar air biasa, melainkan akan diubah menjadi air yang memiliki kekuatan spiritual. Caranya adalah dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an ke dalamnya. Ayat-ayat yang direkomendasikan adalah ayat-ayat syifa (penyembuhan), seperti Surah Al-Fatihah yang merupakan induk dari segala surat, Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255) untuk perlindungan, serta Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas yang berfungsi sebagai benteng perlindungan dari gangguan. 2. Langkah kedua, Menyiram Bahu dengan Air. Prosesi mandi dimulai dengan menyiram bahu secara perlahan. Tindakan ini bukan sekadar membasahi tubuh, tetapi merupakan langkah awal untuk melembutkan tubuh dan membuka aliran energi di bagian atas. 3. Langkah ketiga, Menyiram Kepala dengan Air. Setelah bahu, siramkan air dengan lembut ke kepala. Kepala adalah pusat kesadaran, pikiran, dan spiritualitas. Di sinilah sering kali stres, kecemasan, dan energi negatif menumpuk. 4. Menyiram dari Bahu Kanan ke Kaki, siramkan air dari bahu kanan secara menyeluruh hingga ke telapak kaki. Dalam tradisi Islam, sisi kanan identik dengan kekuatan positif dan semangat. 5. Menyiram dari Bahu Kiri ke Kaki, Setelah sisi kanan, siramkan air dari bahu kiri hingga ke kaki. Sisi kiri tubuh melambangkan aspek kelembutan dan ketenangan. Dengan menyiram sisi ini, tujuannya adalah untuk menyeimbangkan energi di dalam tubuh. Proses pembersihan ini memastikan harmoni antara kekuatan dan ketenangan dalam diri. 6. Mengurut dari Kepala ke Lengan, lakukan pengurutan perlahan dengan tangan dari kepala ke arah lengan. 7. Pengurutan dengan gerakan dari kening ke arah punggung. Gerakan ini sangat penting untuk mengalirkan ketegangan dan beban yang sering tersimpan di area kepala dan punggung. 8. Menyiram dan Mengurut Badan Sebelah Kanan, siramkan air ke bagian kanan tubuh, lalu lakukan pengurutan mulai dari urat punggung hingga ujung jari tangan. Urat punggung dianggap sebagai pusat distribusi energi dan saraf. Pengurutan di sepanjang jalur ini sangat penting untuk relaksasi, stimulasi energi, dan pembersihan yang lebih mendalam di sisi kanan tubuh. 9. Mengurut dari bagian kanan atas tubuh ke bawah hingga ke kaki atau jari-jari kaki. Pengulangan ini bertujuan untuk menyempurnakan proses pembersihan di sisi kanan tubuh, memastikan setiap energi negatif benar-benar dikeluarkan hingga ke ujung tubuh. 10. Menyiram dan Mengurut Badan Sebelah Kiri, Lakukan langkah yang sama seperti pada poin 8, tetapi di bagian kiri tubuh. Siram dan urutkan dari urat punggung sampai ujung jari tangan. Ini adalah bagian integral dari proses penyeimbangan energi tubuh, memastikan kedua sisi tubuh mendapatkan perlakuan yang seimbang untuk mencapai keharmonisan energi secara keseluruhan. 11. Mengurut Lagi Bagian Kiri Sampai Kaki, Ulangi proses pengurutan dari bagian kiri atas tubuh hingga ke bawah, sampai ke kaki atau jari-jari tangan. Langkah ini memastikan pembersihan total dari energi-energi yang mengganggu di sisi kiri tubuh. 12. Menyiram Kepala sampai Punggung dan Mengurut. Siramkan air dari kepala hingga ke punggung, lalu urutkan kembali ke bahu, punggung, dan pangkal paha. Gerakan ini menandai fase akhir dari pembersihan fisik, berfokus pada pusat-pusat energi utama di area punggung dan paha yang sering menampung ketegangan. Pengurutan ini membantu melonggarkan sisa-sisa energi negatif. 13. Menyiram dari Kepala ke Punggung. Ulangi siraman air dari kepala ke punggung sebagai penguatan proses sebelumnya. 14. Menyiram Badan Kanan Sampai Kaki. Kembali menyiram seluruh bagian kanan tubuh hingga ke kaki. Langkah ini dilakukan untuk menguatkan efek penyembuhan dan pembersihan yang telah dilakukan pada bagian kanan tubuh, memastikan sisi kanan benar-benar bersih dan siap menerima energi positif. 15. Menyiram Badan Kiri Sampai Kaki. Lakukan hal yang serupa di bagian kiri tubuh, memastikan seluruh tubuh telah tersiram air yang sudah diberkahi. Ini adalah siraman terakhir yang menutup proses pembersihan fisik secara menyeluruh. 16. Doa dan Pembacaan Spiritual di Bagian Tubuh. Langkah terakhir adalah pembacaan doa dan ayat penyembuhan. Ini adalah penutup spiritual yang menghubungkan usaha fisik dengan harapan pada kesembuhan dari Allah SWT. Pertama, bacakan Al-Fatihah ke kepala, bahu kanan, dan bahu kiri. Kemudian, bacakan hadis Nabi yang merupakan doa syifa: "Ya Allah, ya Tuhannya manusia, sembuhkanlah hambamu karena Engkaulah yang dapat menyembuhkan. Tiada yang dapat menyembuhkan kecuali kesembuhan dari-Mu, sembuh yang menghilangkan sakit (sebutkan sakitnya) dan menghilangkan seluruh penyakit. Aamiin ya Allah 3x, ya Rabbal 'Alamin." Lanjutkan dengan membaca: "Walahaula walakuata illa billa hil 'ali yul 'azim" yang artinya "Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Mahatinggi lagi Mahaagung." Setiap langkah dari proses ini tidak hanya bertujuan untuk menyembuhkan secara jasmani, tetapi juga sebagai sarana tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), menyeimbangkan energi tubuh, dan memperkuat keimanan. Air yang telah dibacakan ayat-ayat suci berfungsi sebagai media berkah, dan semua gerakan serta doa yang dilakukan mengandung makna simbolis dan spiritual yang mendalam. Setiap tahapan dalam mandi pengobatan ini mengandung nilai simbolik dan spiritual: Dan Air sebagai media pembersih bukan hanya jasmani, tetapi juga ruhani. Pengurutan sebagai sarana pelepasan beban batin dan penyelarasan energi tubuh, doa dan dzikir sebagai bentuk penyerahan total kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Zat Yang Maha Penyembuh. B. Pandangan Masyarakat Jorong Bukit Gombak terhadap Pengobatan Tradisional yang Menggunakan Ayat- Ayat Al-Qur’an. ​​Menurut mayoritas masyarakat didesa jorong Bukit Gombak, menggunakan ayat-ayat al-Qur’an sebagai pengobatan ini cukup bagus. Hal tersebut juga dapat mereka yakini memberikan kesembuhan terhadap rasa sakit yang di derita para warga, dan tentunya atas izin Allah SWT. ​Praktik pengobatan tradisional dijorong Bukit Gombak umumnya dilakukan oleh tokoh agama yang membaca ayat-ayat Al-Qur’an tertentu, seperti Surah Al-Fatihah, Ayat Kursi, dan Surah Al-Ikhlas, sebagai bentuk doa penyembuhan. Media yang digunakan dapat berupa air putih, atau ramuan herbal. Proses ini sering kali disertai dengan ritual tertentu yang telah diwariskan secara turun-temurun. Sebagian besar masyarakat Jorong Bukit Gombak memiliki persepsi positif terhadap pengobatan ini. Mereka meyakini bahwa ayat-ayat Al-Qur’an memiliki kekuatan penyembuhan yang dapat membantu mengatasi penyakit, terutama yang tidak dapat dijelaskan secara medis. Kepercayaan ini diperkuat oleh pengalaman pribadi dan cerita dari sesama warga yang merasa sembuh setelah menjalani pengobatan tersebut. Namun, terdapat juga sebagian dari masyarakat yang mulai mempertanyakan efektivitas pengobatan ini, terutama generasi muda yang lebih terpapar pada pendidikan formal dan informasi medis modern. Mereka cenderung melihat pengobatan tradisional sebagai pelengkap, bukan sebagai metode utama dalam mengatasi penyakit. Warga sudah sangat terbiasa atau sudah sangat lumrah jika mendengar tentang pengobatan al-Qur’an, karna warga di Jorong Bukit Gombak hampir sama dengan desa-desa lain yang dimana jika desa tetangga atau desa yang jauh jaraknya dari Jorong Bukit Gombak masih lebih banyak menggunakan pengobatan konvensional. ​Ada beberapa faktor penyebab dipilihnya pengobatan al-Qur’an dibandingkan pengobatan konvensial atau modern yaitu : 1. Faktor Agama Masyarakat Jorong Bukit Gombak meyakini bahwa ayat-ayat Al-Qur’an memiliki kekuatan penyembuhan. Keyakinan ini didasarkan pada pemahaman bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah yang mengandung petunjuk dan rahmat bagi umat manusia. Praktik pengobatan ini sering kali dilakukan oleh tokoh agama atau individu yang dianggap memiliki pengetahuan mendalam tentang Al-Qur’an. Al-Qur’an selain sebagai mukjizat al-Qur’an juga hadir sebagai asy-syifa yaitu penyembuh atau obat. Yang dimana semua kalimat didalam al-Qur’an bisa menjadi penawar bagi semua penyakit yang diderita para masyarakat umum, dan khususnya di Jorong Bukit Gombak. Terlebih penyakit yang diderita pasien itu sinkron dengan ayat al-Qur’an yang dibacakan, maka lebih cepat reaksinya dan sangat manjur. Dan itu tentunya dengan izin Allah SWT. Penggunaan pengobatan Al-Qur’an ini juga tidak menggunakan media-media yang aneh-aneh bahkan pengobatan al-Qur’an ini media yang di gunakan sangat-sangat alamiah seperti yang sudah dianjurkan oleh agama. Seperti halnya madu, minyak kelapa sawit, daun, akar pohon, air putih, dan lain sebagainya. Seperti yang kita ketahui bersama dalam hadist yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasulullah SAW melarang umatnya berobat dengan obat-obatan yang kotor. Suatu ketika, seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang menggunakan khamer (arak) sebagai obat. Dan Rasulullah menjawab “Khamer itu bukan obat, tetapi penyakit.” 2. Faktor Tradisi Pengobatan al-Qur’an menjadi pilihan bagi masyarakat Jorong Bukit Gombak karena hal ini merupakan tradisi yang telah turun temurun yang diwariskan oleh generasi selanjutnya. Pengobatan al-Qur’an ini sudah ada sebelum pengobatan Konvesial (modern) ada, pengobatan al-Qur’an ini sudah ada pada zaman dahulu sehingga pengobatan al-Qur’an ini masih digunakan dalam penyembuhan suatu penyakit khususnya Jorong Bukit Gombak. Sebagian besar masyarakat Jorong Bukit Gombak memandang pengobatan tradisional berbasis ayat-ayat Al-Qur’an sebagai bagian integral dari tradisi yang harus dilestarikan. Mereka percaya bahwa praktik ini tidak hanya menyembuhkan penyakit fisik, tetapi juga memberikan ketenangan batin dan spiritual. Namun, terdapat juga generasi muda yang mulai mempertanyakan efektivitas metode ini dan lebih memilih pengobatan medis modern. Meskipun demikian, mereka tetap menghargai nilai-nilai tradisi yang terkandung dalam praktik tersebut. Maka dapat disimpulkan Pengobatan tradisional yang menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an dijorong Bukit Gombak merupakan cerminan dari integrasi antara adat dan agama dalam budaya Minangkabau. Praktik ini tidak hanya bisa berfungsi sebagai metode penyembuhan, tetapi juga sebagai sarana pelestarian nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat. Meskipun menghadapi tantangan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial, pengobatan tradisional ini tetap bertahan sebagai bagian dari identitas budaya yang kaya dan kompleks. 3. Faktor Finansial Dijorong Bukit Gombak, pengobatan tradisional yang memanfaatkan ayat-ayat Al-Qur’an masih menjadi pilihan utama bagi sebagian masyarakat. Hal ini tidak hanya didasarkan pada kepercayaan spiritual, tetapi juga pertimbangan finansial. Pengobatan modern sering kali memerlukan biaya yang tinggi, sementara pengobatan tradisional dianggap lebih terjangkau. Pengobatan tradisional berbasis ayat-ayat Al-Qur’an umumnya tidak mematok tarif tetap. Sebagian besar praktisi menerima imbalan secara sukarela dari pasien, sesuai dengan kemampuan dan keikhlasan mereka. Hal ini berbeda dengan pengobatan modern yang memiliki struktur biaya yang jelas dan sering kali memberatkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Masyarakat berpendapat bahwa pengobatan al-Qur’an lebih murah dari rumah sakit, selain itu cara pembayaranya juga tidak memberatkan karena masyarakat yang melakukan pengobatan tidak harus membayar uang muka. Jika ditinjau dari klasifikasi pasien yang datang ke tempat pengobatan tradisional atau pengobatan al-Qur’an ini mayoritas pekerjaanya buruh kasar, sopir, tani, sehingga wajar factor ekonomi yang menentukan dalam memilih tempat pengobatan. Disamping itu, pembayaran tidak hanya dilakukan dengan uang. Pembayaran untuk biaya pengobatan dapat juga dilakukan dengan cara lain yakni dengan cara memberikan barang sebagai pengganti uang seperti beras, gula, minyak, kelapa, dan lain sebagainya secara seiklasnya saja . Dapat disimpulkan faktor finansial memainkan peran penting dalam persepsi masyarakat Jorong Bukit Gombak terhadap pengobatan tradisional berbasis ayat-ayat Al-Qur’an. Karna keterjangkauan biaya, fleksibilitas imbalan, dan kesesuaian dengan nilai-nilai lokal menjadikan praktik ini tetap relevan dan dipercaya oleh masyarakat setempat. Kesimpulan ​Berdasarkan penelusuran dan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: 1. Proses Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur’an dalam Pengobatan Tradisional dilakukan oleh Ustadz Darwen Afrizal dan Ustadz Ridwan di Jorong Bukit Gombak sepenuhnya berlandaskan pada ruqyah syar’iyyah, tanpa unsur kesyirikan. Ustadz Darwen menggunakan metode ruqyah langsung dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an seperti Al-Fatihah, Ayat Kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas kepada pasien, disertai dengan anjuran berzikir dan mandi menggunakan air ruqyah. Sementara itu, Ustadz Ridwan menggunakan metode pemberian air minum yang telah dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an, dan jika diperlukan dilanjutkan dengan terapi mandi. Keduanya menekankan pentingnya kondisi spiritual pasien selama proses pengobatan. 2. Persepsi Masyarakat terhadap Pengobatan Tradisional dengan Ayat-Ayat Al-Qur’an memiliki pandangan yang sangat positif terhadap praktik pengobatan ini. Mereka meyakini bahwa pengobatan dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an tidak hanya mampu menyembuhkan penyakit fisik, tetapi juga penyakit rohani atau gangguan yang bersifat nonmedis seperti gangguan makhluk halus. Pengobatan ini dianggap sebagai bentuk ikhtiar religius yang memperkuat keimanan serta kedekatan spiritual dengan Allah SWT. Oleh karena itu, metode ini diterima dengan baik dan dipercaya oleh masyarakat sebagai alternatif yang aman dan sesuai dengan ajaran Islam.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail