Abstrak
Peningkatan aktivitas manusia telah menyebabkan eksploitasi SDA yang semakin tinggi dan meningkatkan emisi GRK yang berdampak pada kerusakan lingkungan yang salah satunya berasal dari pengelolaan sampah yang belum optimal. Di Kota Bukittinggi lebih dari 97% sampah berasal dari kegiatan ekonomi, tidak adanya TPA dan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah masih rendah menyebabkan pengelolaan sampah kurang optimal. Green economy menjadi salah satu pendekatan pembangunan berkelanjutan yang bertujuan mewujudkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi prinsip green economy dalam program pengelolaan lingkungan hidup di Kota Bukittinggi, menganalisis implementasinya dalam perspektif ekonomi Islam berdasarkan nilai Khalifah dan Maslahah, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong dan menghambat penerapannya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan triangulasi data model Miles-Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi prinsip green economy di Kota Bukittinggi telah dilaksanakan melalui berbagai program yang berwawasan lingkungan Penerapannya nilai Khalifah sebagai wujud tanggung jawab manusia dalam menjaga dan melestarikan lingkungan serta nilai Maslahah sebagai upaya mewujudkan kemaslahatan bersama melalui peningkatan kualitas lingkungan, kesehatan, manfaat sosial, manfaat ekonomi, dan kenyamanan masyarakat. Faktor pendorong implementasi meliputi komitmen pemerintah daerah, ketersediaan sarana dan prasarana, serta keterlibatan komunitas dan masyarakat. Adapun faktor penghambatnya meliputi keterbatasan anggaran, sarana dan prasarana, tenaga kerja, rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah, serta belum optimalnya kerja sama antar pemangku kepentingan. Dengan demikian, implementasi prinsip green economy di Kota Bukittinggi telah berjalan dengan cukup baik, namun masih memerlukan peningkatan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan agar tujuan pembangunan berkelanjutan dapat tercapai secara optimal.