Lewati ke konten utama
Beranda / Publikasi / Thesis
ThesisOpen AccessTerbit 2026Versi 1

Representasi Hambatan Komunikasi Antarbudaya dalam Narasi Legenda Rakyat Kuburan Duo di Pasaman Timur: Analisis Teori Laray M. Barna

Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir•Komunikasi dan Penyiaran Islam•6 dilihat · 5 unduhan

Abstrak

Arif Rahman Hakim (2026). Representasi Hambatan Komunikasi Antarbudaya dalam Narasi Legenda Rakyat “Kuburan Duo” di Pasaman Timur: Analisis Teori LaRay M. Barna. Skripsi, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Pembimbing: Muhamad Fajri, S.Sos.I., M.Sos. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya cerita rakyat sebagai media komunikasi budaya dan penyampai pesan sosial di tengah masyarakat multietnis. Di Pasaman Timur, Sumatera Barat, berkembang sebuah tradisi lisan yaitu legenda “Kuburan Duo” yang mengisahkan pertikaian tragis hingga tewasnya dua pemburu dari etnis Minangkabau dan Mandailing. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk hambatan komunikasi antarbudaya yang terjadi antartokoh berdasarkan perspektif LaRay M. Barna, serta menganalisis bagaimana hambatan tersebut memicu kesalahpahaman dan konflik fisik dalam alur cerita legenda tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus, pendekatan folklor, naratif, dan rekonstruksi teks. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan kunci (tokoh adat Nagari Panti Utara, niniak mamak, dan ketua pemuda di Kampung Suka Damai, Kecamatan Panti), sedangkan data sekunder dihimpun dari dokumentasi literatur, artikel, dan media audiovisual terkait. Objek formal penelitian ini difokuskan pada hambatan komunikasi antarbudaya dan konflik antartokoh Minangkabau dan Mandailing. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data naratif, dan penarikan kesimpulan dengan uji keabsahan data melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertikaian dalam legenda Kuburan Duo dipicu oleh akumulasi empat bentuk batu sandungan (stumbling blocks) komunikasi antarbudaya LaRay M. Barna, yaitu: (1) Hambatan Perbedaan Bahasa, berupa kesalahpahaman fonetis yang fatal ketika kata "Olo" (iya/setuju dalam bahasa Mandailing) didengar sebagai "Gilo" (gila) oleh pemburu Minang, serta seruan kesakitan "Mancit" (sakit) yang diinterpretasikan sebagai "Mancik" (tikus); (2) Hambatan Kecenderungan Menilai (Tendency to Evaluate), di mana tokoh Minang secara spontan dan etnosentris menilai ucapan lawan sebagai bentuk penghinaan tanpa melakukan klarifikasi; (3) Hambatan Prasangka (Preconceptions), berupa persepsi selektif dan rasa curiga atas perebutan hewan buruan di kawasan rimba; serta (4) Hambatan Kecemasan dan Ketegangan Emosional (High Anxiety), di mana tingginya emosi dan stres fisik melumpuhkan kapasitas persepsi komunikator untuk membaca isyarat nonverbal dan rasa sakit lawan bicaranya. Akumulasi hambatan ini mengeskalasi miskomunikasi verbal menjadi pertarungan fisik yang merenggut nyawa kedua tokoh. Legenda ini pada akhirnya berfungsi sebagai sarana pendidikan sosial dan peringatan moral akan pentingnya kehati-hatian, penundaan penilaian (suspension of judgment), serta dialog terbuka dalam interaksi masyarakat multikultural.

Kata kunci

Kata Kunci: Hambatan Komunikasi Antarbudaya, Legenda Kuburan Duo, LaRay M. Barna, Konflik Budaya, Pasaman Timur.

Informasi bibliografis

Versi dan riwayat publik

  1. Versi 1Representasi Hambatan Komunikasi Antarbudaya dalam Narasi Legenda Rakyat Kuburan Duo di Pasaman Timur: Analisis Teori Laray M. Barna2026 · oai:ais:skripsi:21703