Abstrak
Raisa Hamida Fetri, NIM 4122036, Judul Skripsi “Etika Dakwah dan Humanisme dalam Q.S ‘Abasa Perspektif Risalah Al-Qaul Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an dan Relevansinya dengan Dakwah Kontemporer” Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Universitas Islam Negeri Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi 2026 Fenomena dakwah kontemporer yang cenderung pragmatis, elitis, dan eksklusif, di mana para dai lebih memprioritaskan kalangan berpengaruh atau konten yang mudah viral, sementara kelompok lemah seperti difabel dan miskin sering terabaikan. Padahal, al-Qur’an telah memberikan teguran dalam Q.S ‘Abasa yang mengajarkan bahwa seorang dai tidak boleh membeda-bedakan audiens berdasarkan status sosial, kekayaan, atau kemampuan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk: menjelaskan penafsiran Q.S ‘Abasa tentang etika dakwah dan humanisme dalam Risalah al-Qaul al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an karya Sulaiman ar-Rasuli, mengidentifikasi prinsip-prinsip etika dakwah dan nilai-nilai humanisme dalam Q.S ‘Abasa, serta mengkaji relevansi prinsip-prinsip tersebut terhadap dakwah kontemporer. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Sumber data primer adalah kitab Risalah al-Qaul al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an karya Sulaiman ar-Rasuli, sedangkan sumber data sekunder berupa buku, jurnal, skripsi, dan literatur kepustakaan lainnya yang relevan. Metode yang digunakan adalah tafsir tahlili (analitis) dengan pendekatan deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Sulaiman ar-Rasuli terhadap Q.S ‘Abasa ayat 1 sampai 10 menekankan bahwa teguran Allah SWT kepada Rasulullah Saw mengandung pesan etis yang mendalam bagi setiap pelaku dakwah. Dari penafsiran tersebut ditemukan empat prinsip etika dakwah, yaitu larangan diskriminasi dalam dakwah (musawah), penghargaan yang setara terhadap setiap mad’u, kehati-hatian dan kecermatan dalam mengambil keputusan dakwah, serta larangan berprasangka negatif terhadap orang lain. Nilai-nilai humanisme yang terkandung meliputi karamah insaniyyah (kemuliaan manusia), musawah (persamaan derajat), ‘adl (keadilan), dan rahmah (kasih sayang). Prinsip-prinsip ini memiliki relevansi yang signifikan dengan berbagai fenomena dakwah kontemporer seperti dakwah elitis, dakwah instan di ruang digital, stigmatisasi kelompok rentan, serta urgensi dakwah inklusif dan ramah disabilitas.