Abstrak
Skripsi Berliana Ilham dengan judul “Analisis Tingkatan Dakwah Dalam Cerita Tari Puti Bungo Api Di Sanggar Mandugo Ombak Kota Payakumbuh”, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Tahun 2026. Latar belakang dari penelitian ini didasari oleh pentingnya dakwah sebagai upaya mengajak kepada kebaikan (amar ma'ruf) dan mencegah kemungkaran (nahi mungkar) yang tidak hanya dapat disampaikan melalui ceramah, tetapi juga melalui media seni pertunjukan. Salah satu karya seni yang memuat pesan dakwah adalah cerita Tari Puti Bungo Api di Sanggar Mandugo Ombak Kota Payakumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk dakwah yang ditampilkan dalam cerita Tari Puti Bungo Api serta menganalisis penerapan tingkatan dakwah berdasarkan konsep amar ma’ruf nahi mungkar yang dikemukakan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, yaitu bil yad, bil lisan, dan bil qalb. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas pendiri Sanggar Mandugo Ombak, anggota sanggar, dan masyarakat yang mengetahui cerita Tari Puti Bungo Api. Data dianalisis menggunakan teknik analisis data Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita Tari Puti Bungo Api memuat dua bentuk dakwah, yaitu dakwah bil lisan dan dakwah bil hal. Dakwah bil lisan direpresentasikan melalui nasihat tokoh Ayah kepada kelompok parewa agar meninggalkan perbuatan maksiat serta ajakan Puti Bungo Api setelah berhasil mengalahkan mereka. Dakwah bil hal tampak melalui keteladanan tokoh Ayah yang tetap istiqamah menyampaikan dakwah meskipun menghadapi penolakan. Adapun penerapan tingkatan dakwah menunjukkan bahwa ketiga tingkatan, yaitu bil lisan, bil yad, dan bil qalb, hadir dalam cerita, namun tidak muncul secara berurutan sebagaimana konsep teoritis. Bil lisan muncul melalui penyampaian nasihat, bil yad direpresentasikan melalui tindakan Puti Bungo Api melawan kemungkaran setelah upaya lisan tidak berhasil, sedangkan bil qalb tampak melalui sikap teguh tokoh Ayah dan Puti Bungo Api serta penolakan masyarakat terhadap kemungkaran dalam hati. Dengan demikian, cerita Tari Puti Bungo Api tidak hanya berfungsi sebagai karya seni pertunjukan, tetapi juga sebagai media dakwah yang merepresentasikan bentuk dan tingkatan dakwah dalam menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar.