Abstrak
Skripsi dengan judul “Persepsi Masyarakat Terhadap Penggunaan Ayat Al-Qur’an Dalam Tradisi Minta Hujan Armarohimin (Studi Living Qur’an Nagari Taram Kabupaten Limapuluh Kota)” yang ditulis oleh Muhammad Farhan, NIM 4122023, Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD), Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Tradisi Armarohimin merupakan salah satu bentuk praktik Living Qur'an yang berkembang di masyarakat Nagari Taram, Kabupaten Lima Puluh Kota, sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan melalui pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an, zikir, dan doa. Tradisi ini lahir dari perpaduan nilai-nilai keislaman dengan budaya lokal yang masih dipertahankan hingga saat ini. Masyarakat meyakini bahwa pelaksanaan tradisi tersebut bukan merupakan bentuk ritual yang bersifat magis, melainkan sebagai wujud doa, istighfar, tawakal, dan penghambaan kepada Allah Swt. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik tradisi Armarohimin, mengidentifikasi ayat-ayat Al-Qur'an yang digunakan beserta pemaknaannya, serta mengkaji persepsi masyarakat terhadap penggunaan ayat-ayat Al-Qur'an dalam perspektif Living Qur'an. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Living Qur'an melalui penelitian lapangan (field research). Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan Angku Duo Puluh Satu, panungkek khatib, bundo kanduang, tokoh agama, dan masyarakat Nagari Taram, serta dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk mengungkap praktik tradisi Armarohimin, penggunaan ayat-ayat Al-Qur'an, serta persepsi masyarakat terhadap tradisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan, pertama, masyarakat memandang Tradisi Armarohimin sebagai bentuk ikhtiar spiritual yang sesuai dengan ajaran Islam dalam menghadapi musim kemarau. Ayat-ayat Al-Qur'an dipahami sebagai media doa, istighfar, dan tawakal kepada Allah Swt., bukan sebagai bacaan yang memiliki kekuatan magis. Kedua, pelaksanaan tradisi diawali dengan doa qunut, musyawarah, pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an, zikir, salawat, dan doa bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Ayat-ayat yang digunakan, seperti Q.S. Nuh [71]: 10–11, Q.S. Ibrahim [14]: 32, Q.S. Hud [11]: 3 dan 52, serta Q.S. Al-Baqarah [2]: 60, menunjukkan adanya resepsi fungsional, performatif, dan eksegetis terhadap Al-Qur'an sebagai bentuk aktualisasi nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan masyarakat. Ketiga, kebaruan penelitian ini terletak pada kajian mengenai persepsi masyarakat terhadap penggunaan ayat-ayat Al-Qur'an dalam Tradisi Armarohimin melalui perspektif Living Qur'an, yang belum banyak dibahas dalam penelitian-penelitian sebelumnya.