Abstrak
Penelitian ini mengkaji sejarah, faktor penghambat, dan strategi Ikatan Keluarga Koto Tuo Jakarta Raya (IKKJR) dalam menjembatani kesenjangan pemahaman budaya antara generasi tua dan generasi muda. IKKJR merupakan organisasi sosial kemasyarakatan perantau Minangkabau yang berpusat di Jakarta, berakar dari tradisi kekeluargaan warga Kampung Koto Tuo yang mulai merantau ke Jakarta sejak tahun 1950-an dan secara resmi terorganisir sejak tahun 1957. Sebagai organisasi perantau, IKKJR seharusnya berfungsi sebagai benteng pelindung budaya dan jembatan antar generasi, namun dalam kenyataannya masih belum optimal dalam menjalankan peran tersebut. Studi ini mempergunakan metode penelitian sejarah yang mencakup empat tahapan: heuristik, verifikasi, interpretasi, serta historiografi, dengan pendekatan sosio-historis serta teori generasi Karl Mannheim sebagai kerangka analisis. Sumber primer meliputi Anggaran Dasar, Laporan Pertanggungjawaban, dan wawancara langsung dengan para pengurus dan mantan ketua IKKJR. Hasil penelitian menunjukkan sejarah terbentuknya dan perkembangan IKKJR. Faktor-faktor yang menyebabkan belum optimalnya fungsi IKKJR meliputi: kurangnya pemahaman adat di kalangan generasi muda, kesenjangan antar generasi tua dan generasi muda, pengaruh modernisasi, serta lingkungan multikultural dan asimilasi budaya. Strategi yang digunakan: mengadakan ceramah dan penyuluhan adat secara berkala, memanfaatkan kegiatan kesenian dan hiburan sebagai media pendekatan budaya, pelibatan generasi muda dalam kepanitiaan dan kegiatan organisasi, serta penguatan hubungan kekeluargaan melalui pertemuan rutin. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesenjangan generasi di IKKJR merupakan konsekuensi alami transformasi kelembagaan menuju sistem modern. Keberlanjutan organisasi bergantung pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai adat Minangkabau dengan tuntutan profesionalisme tata kelola modern.