Abstrak
Penelitian ini dilatar belakangi oleh kondisi pengamen jalanan yang rentan mengalami berbagai tekanan psikososial, seperti ketidakpastian pendapatan, stigma sosial, penolakan dari pengunjung, serta razia petugas, yang memengaruhi kondisi emosional dan kesejahteraan mereka. Fenomena observasi awal dan wawancara pendahuluan menunjukkan adanya indikasi kelelahan emosional, perasaan cemas, dan kecenderungan menghindari konflik ketika menghadapi perlakuan kurang menyenangkan di Jam Gadang Bukittinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk tekanan psikososial yang dialami pengamen jalanan dan mengidentifikasi strategi coping yang mereka gunakan dalam menghadapi tekanan tersebut di kawasan Jam Gadang Bukittinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Lokasi penelitian berada di kawasan Jam Gadang, Bukittinggi; informan utama terdiri dari 3 pengamen jalanan, sedangkan informan pendukung meliputi 2 anggota Satpol PP, 1 orang RT, dan 1 warga masyarakat. Teknik pengumpulan data meliputi observasi non-partisipan, wawancara semi-struktural serta analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan validitas data dijaga melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu . Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan psikososial yang dialami pengamen jalanan mencakup aspek emosional (sedih, cemas, sakit hati, lelah), sosial (stigma, penolakan), ekonomi (pendapatan tidak menentu), dan penyesuaian diri (perlu berpindah lokasi, adaptasi terhadap razia). Strategi coping yang digunakan pengamen meliputi emotion-focused coping (distancing, escape-avoidance, self-control, seeking social-emotional support, positive reappraisal, accepting responsibility) serta problem-focused coping (confrontive coping, planful problem solving). Pengamen menggunakan kombinasi kedua bentuk coping tersebut sesuai penilaian kognitif terhadap situasi: ketika situasi dinilai dapat dikendalikan mereka melakukan problem-focused coping, sedangkan untuk situasi yang sulit diubah mereka memilih strategi emotion-focused coping untuk meredakan tekanan emosional. Temuan di Jam Gadang Bukittinggi juga menunjukkan pentingnya dukungan sosial dari sesama pengamen, pedagang, dan sebagian masyarakat serta peran adaptif seperti berpindah lokasi dan beristirahat sementara sebagai mekanisme bertahan sehari-hari.