Abstrak
Abdul Haris Setyawan, NIM 4119073 dengan judul Skripsi “Pernafsiran Kata Sijjin Dan ‘illiyyin (Studi Komparatif Tafsir Misbah Dan Tafsir Al - Azhar Hamka)” Program Studi Ilmu Al – Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan penafsiran terhadap kata sijjīn dan ‘illiyyīn dalam Al-Qur’an, Kedua istilah tersebut berkaitan dengan konsep pencatatan amal manusia dan balasan di akhirat yang memiliki dimensi linguistik, teologis, dan moral. Perbedaan pendekatan para mufassir dalam memahami kedua istilah tersebut menunjukkan adanya dinamika dalam kajian tafsir Al-Qur’an. Dalam konteks tafsir Nusantara, Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab dan Tafsir al-Azhar karya Hamka memiliki corak penafsiran yang berbeda, sehingga menarik untuk dikaji secara komparatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran kata sijjīn dan ‘illiyyīn dalam Tafsir al-Misbah dan Tafsir al-Azhar, serta mengidentifikasi persamaan dan perbedaan penafsiran kedua mufassir tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tafsir muqaran (komparatif), linguistik, teologis, dan kontekstual. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab dan Tafsir al-Azhar karya Hamka, sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari kitab tafsir, buku, jurnal, dan penelitian terdahulu yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, sedangkan teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif-komparatif dengan tahapan reduksi data, penyajian data, analisis komparatif, interpretasi data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa M. Quraish Shihab menafsirkan sijjīn sebagai simbol kehinaan dan keterpurukan moral akibat dosa, sedangkan ‘illiyyīn dipahami sebagai simbol kemuliaan dan ketinggian spiritual bagi orang-orang saleh. Sementara itu, Hamka menafsirkan sijjīn sebagai tempat atau catatan amal orang-orang durhaka yang menunjukkan kerendahan derajat, dan ‘illiyyīn sebagai tempat tinggi bagi catatan amal orang-orang beriman yang menunjukkan kemuliaan di sisi Allah. Persamaan keduanya terletak pada pemahaman bahwa kedua istilah tersebut berkaitan dengan pencatatan amal manusia dan balasan akhirat. Adapun perbedaannya terletak pada pendekatan penafsiran, di mana Quraish Shihab lebih menekankan aspek linguistik dan simbolik, sedangkan Hamka lebih menonjolkan aspek moral dan sosial kemasyarakatan.