Abstrak
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik shamanisme serta mengkaji peran Sikerei dalam pelestarian lingkungan di Desa Matotonan, Kepulauan Mentawai, melalui perspektif filsafat. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin terancamnya keberlanjutan pengetahuan ekologis tradisional akibat modernisasi, perubahan sosial, serta berkurangnya jumlah Sikerei yang masih aktif mewariskan pengetahuan ekologis kepada generasi berikutnya. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat Mentawai masih mempertahankan sistem kepercayaan Arat Sabulungan yang memandang alam sebagai entitas sakral sehingga melahirkan hubungan yang harmonis antara manusia dan lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian etnografi-filosofis. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap Sikerei, tokoh adat, serta masyarakat Desa Matotonan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi dengan menggunakan triangulasi sumber, metode, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik shamanisme yang dijalankan oleh Sikerei tidak hanya berfungsi sebagai sistem penyembuhan tradisional, tetapi juga sebagai mekanisme pelestarian lingkungan melalui penerapan aturan adat, ritual, pantangan, serta pengelolaan sumber daya alam yang berorientasi pada keseimbangan ekologis. Pengetahuan ekologis yang dimiliki Sikerei diperoleh melalui pengalaman empiris, pengamatan terhadap alam, serta proses pewarisan secara turun-temurun yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat adat. Dari perspektif filsafat, praktik tersebut mengandung dimensi epistemologis berupa sistem pengetahuan lokal yang bersumber dari pengalaman dan spiritualitas, dimensi ontologis yang memandang manusia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari alam, serta dimensi aksiologis yang menempatkan pelestarian lingkungan sebagai nilai moral dan tanggung jawab bersama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan ekologis Sikerei merupakan bentuk kearifan lokal yang memiliki kontribusi penting dalam pengembangan paradigma konservasi lingkungan yang berkelanjutan, berbasis budaya, dan menghargai nilai-nilai masyarakat adat. Kata Kunci: Shamanisme, Sikerei, Pengetahuan Ekologis, Pelestarian Lingkungan, Arat Sabulungan, Mentawai.